Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
91. Menyelidiki


__ADS_3

____


Happy Reading...


___________________


Rumah sakit...


Bukan hanya pusing memikirkan bagaimana Rico menangani semua kebutuhan keluarganya, saat ini Rico juga memikirkan apa yang sebenarnya terjadilah dengan Rayyan juga Ari di masa lalu.


Hanya kilas-kilasan saja yang datang di kepala Rico, semuanya belum jelas. Masih sangat ngambang, tapi Rico tau itu bukan hanya cuplikan yang tidak baik, benar ada masalah yang pelik di antara mereka berdua.


Rico yang terdiam diri di kursi terlihat jelas oleh Susan, kini Susan datang menghampiri Rico karena sangat penasaran. Susan duduk dalam sebelah Rico menyentuh bahunya dan berhasil mengejutkannya.


"Bun, " Seketika Rico menoleh, dilihat lah Susan yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Ada apa Kak, apa yang kamu pikirkan, cerita sama Bunda." Ucap Susan.


"Tidak ada apa-apa kok, Bun. Rico hanya lelah saja seharian beres-beres di Resto." jawab Rico.


"Bagaimana sekarang? Apa sudah bisa di tempati lagi untuk jualan? " Tanya Susan.


"Belum, Bun. Mungkin satu minggu lagi baru bisa, soalnya masih banyak yang harus di benahi."


Susan tau, bukan hanya resto saja yang Rico pikirkan tapi ada hal lain yang Rico sembunyikan darinya. Jika Susan bertanya pun belum tentu Rico akan menceritakannya, karena Rico bukan tipe yang mudah cerita meskipun itu dengan orang tuanya sendiri. Rico lebih sering menyembunyikan semua masalahnya, entah masalah ringan ataupun berat dia jarang-jarang menceritakannya dengan siapapun.


"Kalau lelah lebih baik kamu istirahat, kamu harus selalu jaga kesehatan Nak. Ada kalanya kamu bekerja dan ada kalanya kamu mengistirahatkan semuanya. "


"Iya, Bun." Jawab Rico.


Rico berdiri, dia berpindah di tikar yang selalu buat tidur oleh Susan, tubuh Rico yang terasa sangat sakit harus di rebahkan sekarang juga. Meskipun tetap saja tidak akan membuatnya sembuh karena tempatnya sanga keras, tapi tak masalah untuk Rico.


Sementara Susan giliran yang duduk menunggu Marno sekarang, keadaan suaminya sudah lebih baik mungkin satu atau dua hari sudah di perbolehkan untuk pulang.


_____


Malam semakin larut, tapi Aisyah baru saja menginjakkan kakinya di markas Mawar berduri. Langkahnya semakin besar cepat dia sudah tidak sabar ingin menemui Jon.


Ruang yang terdapat jajaran layar besar di sanalah yang menjadi tujuan Aisyah, bukan karena ingin menemui Jon saja, tapi Aisyah ingin melihat sendiri apa yang Jon katakan.


Sampailah Aisyah di ruangan yang sangat besar itu, layar-layar besar terus memperlihatkan keadaan kota di tengah malam ini.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pak Jon," sapa Aisyah.


"Wa'alaikumsalam, Nona. " Jon membungkuk di hadapan Aisyah, meskipun Aisyah berkali-kali melarang Jon melakukan itu namun tetap saja dia melakukannya.


Mata Aisyah langsung tertuju satu persatu di semua layar, tangannya menyentuh benda ajaib itu yang seketika memutar kembali di saat Resto Nusantara terbakar.


Rekaman di jeda oleh Aisyah saat dia menemukan rekaman saat dua orang keluar dari Resto Nusantara dengan jerigen kosong di tangannya, satunya melemparkan jerigen ke semak-semak sementara yang satu menyalakan korek api dan melemparkannya ke dalam, dan seketika si jago merah langsung berkobar.


"Laporan apa yang mau pak Jon katakan padaku?" Tanya Aisyah namun tetap fokus ke arah layar.


"Hanya ini yang saya dapatkan, Nona. Selebihnya belum ada, penyelidikan ini seperti jalan buntu yang tidak ada jalan lain, Nona."


Jon menyerahkan sebuah amplop coklat pada Aisyah, dengan cepat Aisyah menerimanya juga langsung membuatnya.


"Bukan ini yang saya minta, Pak Jon! Saya menginginkan berita yang nyata, " Geram Aisyah, "Kalau hanya sekedar foto seperti ini tidak usah di beri tau saya juga sudah melihatnya! "


"Maaf, Nona." Jon menunduk menyesal.


Aisyah kembali memutar rekaman yang ada di layar, rekaman terus mengikuti kemana dua orang itu pergi, hingga akhirnya mereka berhenti di salah satu perusahaan yang sudah lama berdiri namun tidak terlalu besar.


"Kenapa dia datang ke sana?" Bingung Aisyah.


"Orang itu? Dia...? " Pekik Aisyah saat melihat ada satu orang yang keluar dari sana dengan di kawal dua orang berseragam hitam.


___


Beda dengan Aisyah, kini Shelvia tengah pulang ke rumah orang tuanya. Bukan karena Shelvia merindukan mereka saja tapi ada hal lain yang ingin dia tanyakan pada Mamanya.


Sudah lama Shelvia tidak pulang pasti ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk kedua orang tuanya, bahkan sudah seperti sebuah kejutan karena biasanya Shelvia tak mau pulang meskipun sudah di bujuk berkali-kali.


Makanan kesukaan Shelvia sudah tertata rapi di atas meja makan semua sudah di persiapkan oleh Airin.


Satu persatu Shelvia menuruni anak tangga setelah dia dari kamar untuk bersih-bersih diri. Langkahnya langsung tertuju pada Airin yang kini tengah menata ulang semua menu makan malam.


"Udah selesai, Ma? " Tanya Shelvia.


"Sudah, tinggal nunggu papa setelah itu kita makan bersama." Jawab Airin dengan wajah yang berbinar.


"Malam sayang! " Sapa David yang juga baru turun tangga, David langsung menghampiri Shelvia merengkuh kepalanya seraya memberikan kecupan yang penuh kerinduan untuk anak gadisnya. "Uhh,, kangennya.. "


"Shelvia juga kangen sama Papa." Shelvia meringis memandangi David.

__ADS_1


"Makin cantik aja nih anak Papa, ya jelaslah makin cantik, kalau tidak pasti Kak Iqbal nya nggak akan nguber mulu, iya nggak...?" Mata David berkedip genit menggoda Shelvia.


"Kak Iqbal, Siapa? Kok nggak kenalin juga sama Mama! " Protes Airin.


"Apa sih papa ini?" Ketus Shelvia, "Kak Iqbal itu hanya temen kok, Ma. Bukan siapa-siapa, Papa aja yang suka lebih-lebihin! "


"Oh begitu, tapi meski hanya temen boleh lah kenalin sama Mama, siapa tau Mama cocok dan kelak bisa jadi mantu Mama. " Goda Airin.


"Aaaa..., Mama! "


"Hehehe..., sudah sudah sekarang makan." Airin begitu tulaten mengambilkan makan untuk David juga Shelvia, setelah itu dia mengambil untuk dirinya sendiri tentunya.


"Ma, Nama kenal sama pengusaha yang namanya Ari Setyawan, nggak? " Tanya Shelvia memecah keheningan.


"Ari Setyawan? Kayaknya pernah dengar, emang kenapa? " tanya balik Airin.


"Apa dia pernah ada masalah dengan om Rayyan? Kok tadi Shelvia lihat kayak ada permusuhan begitu di antara mereka berdua."


"𝘈𝘳𝘪 𝘚𝘦𝘵𝘺𝘢𝘸𝘢𝘯? 𝘈𝘱𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘪𝘵𝘶? " Airin termenung.


"Ma, apa Mama memikirkan sesuatu? " Melihat Airin yang langsung terdiam membuat Shelvia bertanya, dia juga langsung menyimpulkan mungkin memang benar pernah ada masalah di antara mereka.


"Shelvia sayang, itu urusan mereka. Jadi kamu tidak usah ikut campur ya, tidak baik kalau mengusik urusan orang lain."


"Tapi, Ma? "


"Mama mu benar Shelvia, meskipun Om Rayyan itu Om kamu tapi bukan berarti kamu harus mengetahui semuanya, semua orang punya masa lalu begitu juga dengan Om kamu. Dan kamu jangan ikut campur, oke. Yang terpenting sekarang yang harus kamu pikirkan adalah, bagaimana caranya kamu ajak kak Iqbal pulang dan kenalin sama Mama, bukan begitu, Ma? "


"Hemm..., Papa ada ada saja."Airin tersenyum geli.


"Apa sih, Pa!! "


"Hahaha..., sudah sudah! Sekarang makan yang benar. "


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘔𝘢𝘮𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱-𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘖𝘮 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢? " Batin Shelvia.


___


Bersambung...


____________

__ADS_1


__ADS_2