
____
Happy Reading...
_________________
Karena panggilan dari Marco, Farel pulang untuk sementara waktu tak lama mungkin hanya beberapa jam saja setelah Marco mengatakan apa tujuannya dia akan kembali lagi ke pesantren untuk menjalankan tugasnya.
Farel sudah ada di depan rumah, dia baru saja turun dari mobilnya yang dia parkir manis di pelataran yang sangat luas.
"Selamat datang Mas Farel,"sapa salah satu penjaga.
" Terima kasih, Pak. Pa kabar, Pak?"tanya Farel.
"Alhamdulillah baik, Mas."
"Apa kak Marco ada? "
"Ada, Mas. Pak Marco sudah menunggu Mas Farel." Terangnya.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya masuk dulu." Pamit Farel.
Penjaga itu mengangguk sementara Farel tersenyum sekejap sebelum dia benar-benar pergi dari sana untuk mendatangi Marco. Entah apa yang akan di katakan oleh Marco padanya.
"Assalamu'alaikum.. " Sapa Farel setelah masuk di rumah yang sangat besar itu, dia belum melihat Marco di sana hanya melihat kakak iparnya saja yang tengah bermain dengan putri kecilnya.
Nara menoleh menghentikan aktivitasnya, "Wa'alaikumsalam, eh Farel kamu sudah datang. Duduk sini, biar Kakak panggilin kakak kamu." Nara langsung beranjak meninggalkan Farel yang melangkah menuju ruang tengah di mana Nara tadi berada, menghampiri putri kecil itu yang begitu menggemaskan.
"Baik Kak, " Jawabnya.
Farel duduk di dekat anak kecil itu mengangkat tubuh nya dan memangku nya dengan dengan begitu senang. "Assalamu'alaikum, Ara. "
"Wa'alaikumsalam, Om. Om kenapa lama sekali tidak main kesini dengan Ara? Apa Ara nakal?" Celetuk gadis kecil berusia empat tahun itu.
"Tidak sayang, Ara tidak nakal. Maaf ya, Om lagi sibuk jadi nggak bisa main deh dengan Ara."
"Beneran kan? Ara nggak nakal kan? "
Wajah yang begitu menggemaskan membuat Farel begitu tak tahan untuk menoel pipi gadis mungil itu. "Beneran sayangnya Om Farel."
"Ahh.., geli Om! "
Disaat Farel dan juga Ara terus bergurau Marco datang, laki-laki gagah itu datang tidak dengan tangan kosong ada beberapa berkas yang dia bawa. Marco duduk di sana menaruh berkas itu di hadapan Farel.
"Ara sayang, main dengan mbak dulu ya. Papa mau ngobrol dulu dengan Om Farel, " ucap Marco dengan begitu lembut.
"Baik, Pa. " Ara langsung turun dari pangkuan Farel, "nanti main lagi dengan Ara ya, Om. "
"Iya sayang." Jawab Farel tangannya mengelus puncak kepala Ara dengan begitu gemas.
Setelah Ara benar-benar pergi baru Marco berbicara dengan Farel, dan mengatakan apa maksudnya mengundang Farel untuk datang.
"Farel, itu semua adalah berkas-berkas perusahaan dan juga Rumah yang menjadi hak mu. Mulai sekarang Kakak mau kamu sendiri yang mengurusnya. Kakak mau kamu lebih tanggung jawab dengan apa yang menjadi milik kamu, bukannya kakak tidak mau membantumu lagi, tapi ini sudah saatnya kamu bergerak untuk kelangsungan perusahaan mu sendiri."
Farel mulai melihat satu persatu dari seminggu berkas itu, dari surat rumah, perusahaan, dan beberapa usaha lainnya yang sangat bernilai, bahkan jika di uang kan akan sampai hingga beberapa triliunan.
"Tapi, Kak? Farel tidak terbiasa mengelola perusahaan besar seperti ini," ucap Farel yang lagi-lagi ingin menolak.
"Tidak, Farel. Kamu tidak akan terbiasa jika kamu tidak pernah mencobanya, kamu harus belajar mulai dari sekarang, ini juga untuk masa depanmu, kakak tau kamu bisa saja cukup dengan menjalani hidup yang seperti sekarang, tapi apa kamu hanya mau menerima pemberian kakak saja? Kamu sudah dewasa, Farel. Mungkin sebentar lagi kamu akan menikah dan berkeluarga dan setelah itu kamu harus memikul tanggung jawab yang sangat besar. "Ucap Marco yang terus menasehati.
__ADS_1
Farel menghela nafas panjang, benar juga apa yang Marco katakan. Semakin tambah umur maka tanggung jawab nya akan semakin bertambah besar.
" Hufff..., kapan Farel harus memulainya?" tanya Farel yang akhirnya pasrah.
"Besok, setelah dari kampus kamu harus datang ke perusahaan, kakak akan mengalihkan semua kepengurusan kepadamu, sekaligus mengenalkan mu pada para karyawan sebagai pemimpin yang baru. "
"Baiklah, Farel akan datang besok." jawab Farel yang akhirnya pasrah dan menerima semua keputusan yang di ambil oleh Marco.
Marco mereka sangat lega, akhirnya tanggung jawabnya sudah selesai. Sekarang dia hanya tinggal fokus dengan apa yang dia punya, dia tidak harus mengelola hal yang bukan miliknya.
"Setelah ini lihatlah rumahmu, jika ada yang perlu di benahi jakarta di benahi sebelum kamu akan menempatinya, " ucap Marco.
"Tapi, do sana ada Mang irul yang selalu menjaganya, jadi kamu temukan dia dan bicaralah dengannya."
"Aku akan menemui nanti."
Harta yang begitu melimpah ruah dari peninggalan kedua orang tuanya sudah di bagi rata untuk Farel dan juga Marco, karena anaknya adalah laki-laki makan harus di bagi rata, dari perusahaan, beberapa usaha, rumah, dan juga aset rumah sakit yang juga sangat besar. Semuanya benar-benar adil tak ada berat sebelah meskipun hanya satu Sen saja.
____
Sesampainya di rumah, Shelvia langsung mencari keberadaan Aisyah, dia ingin sekali memberi tau apa yang terjadi dengan ayahnya Rico. Meskipun tidak sekarang Aisyah bisa menjenguknya tapi mungkin besok kan? Setelah dia pulang dari kampus.
Shelvia sudah berkeliling semua penjuru bahkan kamar Aisyah juga sudah dia datangi namun tetap saja dia belum bisa menemukannya.
Di tengah perjalanan Shelvia terpaksa bertanya dengan salah satu santri ya siapa tau dia mengetahui keberadaan Aisyah sekarang.
"Hem,, maaf. Kamu tau di mana Kak Aisyah nggak?" tanya Shelvia.
Sejenak Santri itu terdiam namun terlihat dia tengah berfikir, "Oh..., sepertinya tadi kak Aisyah pergi ke kamar Oma." jawab santri itu.
Shelvia mengangguk senang, akhirnya dia akan segera menemukan Aisyah. "Terima kasih ya. Assalamu'alaikum.. " Shelvia langsung pergi setelah itu.
Sementara di dalam Aisyah tengah memijat lengan Tasya dengan begitu pelan, akhir-akhir ini keadaan sungguh kacau balau membuat Tasya sedikit tak enak badan karena terus berfikir.
"Gimana, Oma? Pijitan Aisyah enak nggak?" tanya Aisyah.
Dengan mata terpejam dan tubuhnya berkali-kali terhuyung ke samping kini Tasya sangat menikmati setiap pijatan yang di berikan oleh Aisyah, ternyata tangan Aisyah sangat enak juga jika harus memijat.
"Ini sangat enak, Syah, " puji Tasya.
"Alhamdulillah..., Hem..? Oma, cerita dong disaat oma pertama kali bertemu dengan Opa?"
"Buat apa? "
"Ya, Aisyah kan ingin dengar Oma! Seberapa romantisnya Oma dan Opa saat pertama kali bertemu. Ayo dong, Oma." Aisyah benar-benar berharap bahwa Tasya akan menceritakan kenangan di mana Tasya dan Fahmi pertama bertemu dulu.
"Hen..., dulu Oma itu sangat bar-bar. Saat itu Oma sudah menjabat sebagai CEO perusahaan, Oma juga sudah menjabat sebagai Dokter dan kepala dokter di Natas Hospital, Oma juga menjadi ketua dari Geng Hantu, tapi semua itu masih kurang untuk Oma. Oma masih mencoba mencari kesibukan dan akhirnya Oma menjadi mahasiswi di tempat Opa kamu mengajar. "
"Terus? "
"Saat pertama kali Oma masuk, saat itu juga Oma bertemu dengan Opa.........
......... "
"Semua Tasya ceritakan pada Aisyah, sesekali Aisyah dan Tasya tersenyum saat ada cerita yang sangat lucu, apalagi saat Tasya terlambat masuk dan di minta Fahmi untuk keluar dan tak di perbolehkan mengikuti kuliah.
" Hahaha...! Ternyata Opa galak juga ya, Oma. "
"Bukan galak, tapi dia tegas. "
__ADS_1
" Cie cie..., Oma... " Seketika Tasya dan Aisyah menoleh saat Shelvia datang dan langsung menggoda Tasya.
"Kamu, Vi, sini. "
"Iya, Oma." Shelvia langsung duduk di satu sisi, Shelvia langsung memijat lengan Tasya tangan satunya. "Gimana, Oma? Pijitan Shelvia enak kan?"
"Lumayan, kalian berdua memang sama-sama berbakat."
"Siapa dulu Omanya, Oma Anastasya! Hehehe.." Kompak Shelvia dan juga Aisyah.
Di saat keduanya masih asik memijat Tasya, Tasya malah menguap, mungkin karena keenakan di pijat menjadikannya ngantuk.
"Oma mau tidur? " tanya Aisyah.
"Sepertinya Oma memang mengantuk. "
"Ya sudah, Oma tidur gih. Kami tidak akan menggangu Oma istirahat."
"Ya sudah, kalian juga istirahat ya." Tasya langsung merebahkan tubuhnya dengan bantuan Aisyah juga Shelvia.
Keduanya bersamaan mencium pipi Tasya dengan bersamaan, Shelvia sebelah kiri dan Aisyah sebelah kanan. "Selamat istirahat, Oma."
"Iya, sayang. Terima kasih." Ucap Tasya.
Selimut Aisyah dan Shelvia naikan untuk menyelimuti Tasya, setelah benar-benar aman dan benar keduanya baru keluar. Mereka begitu pelan menutup pintu karena saat itu Tasya langsung pura-pura menutup mata nya.
Tasya kembali membuka mata, memandang pintu yang sudah tertutup rapat. "Semoga Allah memberikan kebahagiaan untuk kalian, untuk semua cucu-cucu Oma, aminn. " Doa Tasya sungguh-sungguh.
__
Shelvia juga Aisyah berjalan berdampingan, langkahnya pelan namun pasti menuju kamar Aisyah.
"Syah, ada berita yang tidak enak."
Seketika Aisyah berhenti lalu memandang Shelvia. "Berita apa? "
"Ayah kak Rico? Ayah kak Rico masuk rumah sakit, ada penyumbatan dalam jantungnya, sampai sekarang ayah kak Rico belum juga sadar."
"Astaghfirullah, sejak kapan? "
"Baru tadi sih, tapi setau ku kalau berhubungan dengan jantung akan membutuhkan biaya yang banyak deh, terus..., "
Raut wajah Aisyah langsung berubah, padahal Shelvia belum juga selesai menuntaskan kata-katanya. Matanya sudah memerah dan mulai di genangi dengan air yang sudah ingin tumpah.
"Kak, bagaimana jika bang Rico...? " Setetes demi setetes air mata Aisyah keluar dia sangat takut.
"Kamu yang sabar ya, Allah pasti menyiapkan takdir yang terbaik untukmu dan juga Kak Rico."
"Tapi Kak.. "
Shelvia merengkuh tubuh lunglai milik Aisyah, Shelvia ikutan sedih, kenapa semua ini selalu saja terjadi.
"Sudah, jangan nangis di sini jangan sampai Om Rayyan melihatnya, kalau sampai itu terjadi semuanya akan menjadi lebih buruk."
Shelvia merangkul Aisyah, menuntunnya berjalan dengan cepat hingga sampai di kamar Aisyah.
___
Bersambung...
__ADS_1
_______________