
Mata Rico masih saja tertutup, dia hanya menggeliat saja meskipun sedari tadi sudah ada panggilan sang Tuhan di pagi hari.
Karena terlalu memikirkan Aisyah sehingga membuat Rico sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak. Rico baru bisa memejamkan matanya setelah jam tiga dini hari.
" ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR...!!
Terdengar lagi suara azan di masjid yang ada di samping rumah Rico. Rico mulai mengerjapkan matanya malas. Mengusap-usap matanya dengan pelan. " Astaghfirullah, udah subuh aja. Padahal baru saja mataku bisa terpejam. " ucapnya dengan mata yang masih enggan untuk terbuka.
Rico turun dari ranjang nya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu di sana. Meskipun Rico tidak banyak akan ilmu agama namun satu yang Rico tau, dia mempunyai kewajiban kepada Tuhannya yaitu mengerjakan perintahnya yaitu sholat lima waktu.
Sepuluh menit Rico bergelut di kamar mandi dia keluar dari sana, mengambil sarung, kopyah dan sajadah yang akan dia kenakan untuk menghadap Tuhannya.
" Allahu akbar.. " Dengan begitu khusuk Rico menghadapkan diri dan berpasrah pada Tuhannya. Menjalankan sholat lima waktu sebagaimana semestinya dan seharusnya.
Selesai dalam sholat Rico tak akan pernah melupakan akan setiap doa yang selalu dia panjatkan di setiap hari nya. Tak banyak yang dia minta, hanya kebahagiaan untuk Aisyah lah yang selalu ada di setiap keinginan nya.
" Ya Allah, jika suatu saat aku kehilangan harapan dan tujuan ku, Berikanlah kepadaku keyakinan bahwa Takdir-Mu lebih baik dari semua yang aku inginkan dan aku impikan." ucap Rico dengan menengadahkan kedua tangan nya seraya memohon. " Amin"
Rico mengusapkan kedua tangan ke wajahnya, Rico kembali bersujud hingga beberapa menit entah apa yang menjadi harapan nya sekarang.
Di tempat yang berbeda, Aisyah masih setia mengurung diri di dalam kamar nya, Aisyah juga sama, dia tengah berada di atas sajadah dengan mukena yang menutupi semua aurat nya.
Air mata Aisyah menetes di telapak tangan yang tengah menengadah dalam doa nya. " Apa yang harus Aisyah lakukan, Ya Allah " Aisyah semakin terisak, tak mampu melanjutkan doa yang dia ingin kan.
Aisyah menghentikan doanya, menghapus air mata dan ambruk, meringkuk di atas sajadah. Air mata terus saja mengalir dengan sesuka nya dan Aisyah pun membiarkan nya begitu saja.
" aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh seperti ini " Aisyah menyapu wajah nya dengan kasar menggunakan tangan nya. beranjak dan melepaskan mukenanya dengan cepat, melipat nya lalu menaruh nya di atas nakas.
" Semua yang akan terjadi, semua adalah kehendak-Nya. Dan aku tidak boleh hanya menangis dengan semua ini. Ini bukanlah Aisyah, Aisyah adalah gadis yang kuat dia tidak akan menangis hanya kerena masalah seperti ini, " Aisyah menyambar hijab nya, memakainya dan juga mengambil tas punggung nya yang berwarna hitam.
Aisyah melangkah keluar dari kediaman nya, tak ada satu pun orang yang tau kalau Aisyah kini telah pergi dari rumah. Aisyah mengambil ponsel yang ada di sakunya. Ponsel yang lama dia tinggalkan dan kini dia pakai kembali.
" Assalamu'alaikum Pak Jon. Bisa jemput Aisyah sekarang? " ucap Aisyah menegaskan.
Aisyah pun buru-buru memasukkan ponsel nya lagi setelah mendapat jawaban dari orang yang dia hubungi tadi. Aisyah melangkah lebih jauh berharap tak akan ada satupun yang mengetahui kemana dia akan pergi.
Mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan Aisyah, Aisyah pun langsung masuk ke sana setelah memastikan bahwa yang ada di dalam adalah orang yang dia panggil tadi. " jalan, Pak Jon. " pinta Aisyah.
" Baik Nona. " Laki-laki berbaju hitam bertubuh kekar itu pun langsung melajukan mobil nya setelah mendapatkan perintah dari Aisyah. " kita akan kemana, Nona.? "
" Ke tempat dimana preman-preman itu berada. Aku menginginkan barang-barang ku kembali " jawab Aisyah dengan dingin.
" baik. " jawab Jon patuh.
____________
" Kenapa ustadz begitu gelisah? apa yang sebenarnya anda pikirkan. " tanya Faisal.
__ADS_1
Faisal dan juga Farel tengah pulang dari masjid setelah menjalankan sholat berjamaah dan juga mengajar ngaji di sana. Dengan tangan membawa sajadah mereka masing-masing keduanya terus melangkah namun dengan pelan.
" sa-saya? "
" Hm? "
" Tadi malam saya mendengar Aisyah terus menangis. Apakah dia baik-baik saja? apakah ada masalah yang sedang terjadi padanya? " tanya Farel.
Tadi malam tanpa sengaja Farel mendengar saat Aisyah terus menangis di malam hari. Farel yang sedang melintas di belakang pendopo dimana kamar Aisyah berada. Farel tidak tau pasti masalah apa yang tengah menimpa Aisyah, apa karena perjodohannya? hanya satu pertanyaan itulah yang selalu datang di otak Farel, namun berkali-kali Farel menepis nya.
Faisal terdiam sejenak, " coba nanti saya tanyakan padanya?" jawab Faisal.
" Terima kasih ustadz " ucap Farel seraya mengembangkan senyum.
" sudah waktunya ustadz bersiap, Ustadz harus ke kampus kan hari ini? " tanya Faisal dan Farel hanya mengangguk.
" Saya permisi, ustadz " pamit Farel. " Assalamu'alaikum.! "
" Wa'alaikumsalam "
Faisal pun bergegas ke pendopo dia sangat penasaran dengan apa yang tadi di katakan oleh Farel, Faisal ingin memastikan nya sendiri apa yang terjadi pada adiknya itu.
Faisal masuk di pendopo dan sudah langsung di sambut oleh Rayyan yang tengah minum teh di ruang tengah di temani oleh Fikri, sedangkan Keisha dan Adiba tengah di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka. " Assalamu'alaikum, Pa, paman. " sapa Faisal.
" Wa'alaikumsalam, " jawab keduanya bersamaan.
" Dek, apa semua ini tidak terlalu cepat? apa kamu tidak mau mendengarkan jawaban dari Aisyah dulu sebelum semuanya terlaksana? Mas hanya tidak mau kalau sampai ke depan nya akan terjadi masalah " ucap Fikri.
" semuanya akan tetap terjadi, Mas. Aku sangat percaya dengan Farel, Dia akan bisa menerima dan akan menjaga Aisyah. "
" tapi dengan Aisyah sendiri? apakah dia benar-benar menerima Farel dan perjodohan ini? " tanya Fikri yang benar-benar sangat khawatir.
" Aku yakin, Mas. Aisyah akan... " ucapan Rayyan terhenti saat Faisal kembali dari kamar Aisyah sembari berteriak.
" Pa! Aisyah nggak ada di kamar? dia kemana? " tanya Faisal.
" Nggak ada!! mana mungkin? " Rayyan tersentak berdiri dengan cepat dan menatap Faisal dengan tajam. " bagaimana bisa! dari tadi malam dia sama sekali tidak keluar! "
"Ini yang saya takutkan, Dek! " seru Fikri.
" Apa! Aisyah nggak ada di kamar? " Keisha yang baru keluar dari dapur dengan piring yang ada di tangan nya pun terkejut. " Aisyah di mana, Pa! "
" Aku juga nggak tau, Ma.! " semuanya begitu panik. " aku akan perintahkan orang untuk mencarinya, anak itu benar-benar membuat ku darah tinggi! "'marah Rayyan.
" Sabar, Dek. "
" tidak, Mas! kalau dia selalu seperti ini, bukan hanya tunangan dalam lima hari ini, tapi dia akan langsung menikah dengan Farel. " seru Rayyan kekeuh.
__ADS_1
____________
" Pagi, Bunda. Pagi, Ayah. " Rico bergabung duduk di meja makan bersama orang tuanya yang sudah menunggu untuk sarapan.
Kedua orang tua Rico mengernyit melihat keadaan Rico yang begitu malas bahkan terdapat kantung mata yang terlihat dengan sangat jelas. " kamu begadang lagi karena game? " tanya Marno Ayah Rico.
" bener itu, Ric? " selidik Susan.
" apa sih, Bun! Rico bukan begadang karena game tapi Rico benar-benar tidak bisa tidur?"
" kenapa? apa yang kamu pikirkan hingga kamu tidak bisa tidur?" saut Marno mendahului Susan.
Rico masih enggan untuk menjawab, Rico lebih memilih mengambil sarapan nasi goreng beserta telor dadar juga kerupuk dan langsung menyuapkan pada mulutnya.
Susan dan Marno hanya menghela nafas mereka tak mau lagi mengusik lebih dalam masalah apa yang di alami Rico karena mereka takut Rico akan menghentikan sarapan nya nanti.
" pelan-pelan Rico. " ucap Susan menegur Rico yang melihat makan nya dia percepat. " jangan sampai tersedak. "
" Pagi Om, pagi tante, pagi kak Rico! "
Seketika semua menoleh ke sumber suara. " Eh Felisha, sini nak! " Susan begitu berbinar dengan kedatangan Felisha, gadis itu sepertinya sudah berhasil mengambil hati Susan untuk saat ini.
Felisha mengayunkan kaki dengan cepat dan bergabung duduk di sebelah Rico begitu saja karena kebetulan kursi nya hanya ada empat di sana. " Kak Rico, Felisha nebeng ya ke kampus nya! " ucap Felisha.
Rico mengunyah dengan malas, mod nya hilang begitu saja begitu juga dengan keinginan makan nya. " maaf, Feli. Aku mau jalan kaki " jawab Rico datar.
" Ya sudah kalau begitu, Feli juga akan ikut jalan kaki. Kan sekalian kita bisa jalan-jalan berdua. " semangat Feli.
" uh.... kalian berdua itu memang cocok. kayaknya kalian berjodoh deh " ucap Susan.
Rico beranjak dengan cepat, menyalami kedua orang tuanya tanpa kata lagu kecuali hanya salam saja. " Assalamu'alaikum " Rico pun pergi.
Susan dan Marno saling bersi tatap seperti biasa Rico pasti akan selalu seperti ini kalau di singgung soal jodoh. Rico akan kabur tanpa kata.
"'Kak Rico! kok Feli di tinggal sih?, permisi ya tante, Om. " Feli pun juga menyalami keduanya seperti Rico dan setelah itu berlari mengejar Rico yang ternyata sudah keburu pergi dengan motornya.
Di depan rumah Feli menghentakkan kakinya berulang-ulang dia sangat kesal karena di tinggal oleh Rico " Kak Rico bohong! katanya mau jalan kaki, eh.... ternyata malah naik motor, dan sekarang Feli di tinggal lagi. " gerutunya.
" ada apa nak Feli! " teriak Susan yang ternyata juga ikut keluar dan melihat Feli yang tengah menggerutu, yah meskipun Susan tak mendengar nya sih.
" hehehe,, nggak apa-apa kok, tan! hanya itu? Kak Rico ternyata bohongin Feli katanya mau jalan kaki ternyata naik motor. Sudah ya tante! Feli berangkat dulu. Assalamu'alaikum! " jawab Felisha dengan sedikit berteriak.
" wa'alaikumsalam! " Susan menggeleng, Rico yang selalu lari dari Feli benar-benar bisa di baca oleh Susan kalau Rico tidak suka pada Feli. " anak itu, sampai kapan akan jomblo terus? apa nggak kasian orang tuanya yang sudah tua begini, Rico Rico dasar. " gumam Susan.
BERSAMBUNG......
_______________
__ADS_1