
_______
Happy Reading...
_________________
Hati yang memang sudah saling terhubung dan menyatu, entah seberapa jauh jarak mereka akan tetap merasakan duka yang di derita oleh salah satu sisi hatinya.
Ya, Aisyah begitu tidak tenang, dia tengah belajar tiba-tiba saja air matanya lolos begitu saja tanpa permisi dan tanpa Aisyah tau apa penyebabnya.
Aisyah kira itu hanya karena matanya yang pedih karena terlalu lama di depan laptop dan juga buku-buku tugasnya, tapi ternyata itu tidak benar, berkali-kali Aisyah menghapus air matanya namun kembali lagi meluncur dengan bebas, seolah tidak ada penghalang yang membuatnya tertahan di dalam matanya.
Aisyah bingung sendiri di buatnya, dia sama sekali tidak tau menahu kenapa dirinya seperti ini, tapi yang jelas hatinya tiba-tiba menjadi gelisah, seakan kedatangan beban yang begitu berat dan menindih nya dengan paksa sehingga membuat Aisyah merasa sesak.
"Ini ada apa?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri.
Aisyah masih menerka-nerka sebenarnya ada apa dan kenapa semua itu bisa terjadi di saat tenangnya, namun Aisyah sama sekali tak bisa mendapatkan jawaban meskipun hanya satu kata saja.
𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...
Di tengah rasa bingung Aisyah tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, dengan cepat Aisyah menyambarnya melihat siapa yang telah menghubunginya.
"Pak Jon? " Aisyah terlihat mengernyit.
Tanpa berpikir lagi aisyah langsung menerima panggilan itu, dia juga ingin tau apa alasan pak Jon menghubunginya.
"Assalamu'alaikum, Pak Jon. Ada apa? Apa ada masalah? " tanya Aisyah dengan begitu tenang.
"𝘕𝘰𝘯𝘢, 𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬. 𝘙𝘦𝘴𝘵𝘰 𝘕𝘶𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳! "
"Terbakar! Kok bisa! " Aisyah langsung terhenyak, sontak dia berdiri dengan cepat. Ternyata inilah yang membuat dadanya terasa sesak tadinya.
"𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘰𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘯𝘴𝘶𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘴𝘵𝘪𝘸𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘕𝘰𝘯𝘢. "
"Baik, kamu ke sana dan selidiki dengan benar, jangan sampai ada yang terlewat, sebentar lagi saya juga akan datang. " ucap Aisyah begitu tegas.
Hati yang tadinya syok dan sedih kini berubah menjadi marah dan begitu geram. Aisyah ingin secepatnya bisa menangkap siapa pelaku yang begitu tega membakar Resto milik Rico. Apa tujuan sebenarnya dan apa alasannya.
Aisyah yang masih memegangi ponsel langsung mengirimkan pesan kepada Shelvia, dia butuh teman sekarang, tak menutup kemungkinan Rayyan akan melarangnya nanti untuk pergi.
"Siapapun yang telah tega melakukan itu harus tertangkap. "Gumam Aisyah.
___
Shelvia baru saja selesai dengan tugasnya, dia sudah mulai beranjak ke kasur untuk tidur. Harinya sangat padat membuat dia sangat lelah. " Aku harus tidur lebih awal, jadi besok aku bisa bangun tidur dengan semangat. " gumam Shelvia yang akhirnya sampai di atas kasur dan mulai menarik selimut.
Shelvia merebahkan tubuhnya perlahan-lahan baru saja kepalanya sampai di atas bantal tiba-tiba ponselnya berbunyi dengan sangat keras. "Ish..., siapa sih yang mengganggu malam-malam begini? " gerutunya.
Shelvia kembali duduk menyambar ponselnya yang ada di atas lemari kecil yang ada di sebelah kasurnya. "Aisyah? " Shelvia mengernyit tak biasanya Aisyah mengirim pesan kepada dirinya malam-malam begini.
"𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘬𝘢𝘬. 𝘉𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱-𝘴𝘪𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘙𝘦𝘴𝘵𝘰 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰. 𝘙𝘦𝘴𝘵𝘰 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯. "
Shelvia yang semula membuka ponsel dengan malas kini matanya melotot terang benderang setelah membaca isi dari pesan yang Aisyah kirimkan. "Astaghfirullah hal 'azim...! Resto Kak Rico kebakaran! " Pekik Shelvia begitu terkejut.
__ADS_1
Cepat-cepat Shelvia menyibak kembali selimut yang menutupi tubuhnya, beranjak dengan tergesa-gesa dan langsung pergi ke arah lemari untuk mengambil baju ganti.
Setelah mengganti pakaiannya Shelvia segera keluar dari kamar, dan ternyata sudah ada Aisyah yang menunggunya di sana. "Kak, ayo cepat, " ucao Aisyah tak sabaran.
"Iya-iya, sebentar aku tutup pintu dulu." Tangan Shelvia menarik handle pintu dengan cepat, "kamu sudah pamit dengan padamu? " tanya Shelvia.
Aisyah menggeleng, dia belum pamit dengan Rayyan karena Aisyah menunggu Shelvia yang akan mengatakannya. Meskipun dengan alasan apapun yang penting dia bisa keluar malam ini untuk melihat keadaan Resto milik Rico.
"Oke oke, serahkan kepadaku. Sekarang kita ke tempat papamu." Ajak Shelvia.
Aisyah mengangguk, dan keduanya langsung pergi menuju kamar Rayyan yang ada dua pendopo sebelah.
𝘛𝘰𝘬.. 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
"Assalamu'alaikum... !" Teriak Aisyah juga Shelvia.
Keduanya menunggu sejenak, kembali mengetuknya untuk yang kedua kalinya. Dan setelah itu pintu berbuka. "Wa'alaikumsalam, kalian?" Keisha mengernyit melihat mereka berdua, apalagi keduanya juga sudah rapi ingin pergi lengkap dengan tas selempang yang menggantung manis di bahu keduanya.
"Ma, Aisyah pamit keluar sebentar ya, Aisyah ada urusan sebentar." ucap Aisyah.
Bukannya Keisha yang menjawab tapi Rayyan lah yang berkata, namun bukan jawaban yang keluar melainkan pertanyaan untuk mereka berdua, "Mau kemana kalian malam-malam begini? " tanyanya sembari melangkah dari arah dalam.
Shelvia juga Aisyah saling bersitubruk pandang, gugup, bingung itu pasti, keduanya harus menyiapkan jawaban yang jitu supaya mereka bisa di izinkan untuk pergi.
"Kita ada urusan sebentar, Pa. Please... Izinin kita keluar ya, please.. " ucap Aisyah dengan memohon.
"Boleh, tapi kalian berdua harus pergi dengan Bang Faisal." jawab Rayyan.
"Bang Faisal?..., ya ya! Nggak apa-apa Pa! " Aisyah begitu girang, untung hanya Faisal yang mengantarkan mereka bukan Rayyan sendiri mengantarkannya.
Tak lama Faisal datang dari dalam kamar, ya karena Faisal memang satu pendopo dengan Rayyan.
" Iya, Pa. "
"Kamu antar mereka berdua pergi, dan ya jangan pulang terlalu malam. " Rayyan langsung melenggang tanpa rasa curiga.
"Iya, Pa. " Jawab Faisal.
"Emang kalian mau kemana? "
"Nanti Aisyah tunjukkin tempatnya, Bang. Yang penting sekarang kita pergi, yuk. "
"Iya-iya, sebentar abang ganti baju dulu sekalian ambil kunci. "
"Cepat yang bang! "
Aisyah dan Shelvia saling mengedipkan mata, dengan senyum lebar, dan wajah berbinar.
____
Berkali-kali Rico mengusap wajahnya dengan kasar, meskipun dia sudah lebih tenang namun tetap saja pikirannya sangat kacau. Setelah ini apa yang akan dia lakukan? Di mana dia akan berjualan lagi.
Tak hanya sendiri Rico di sana, ada Dante juga Iqbal. Keduanya terus menghibur Rico, menguatkan hati Rico yang benar-benar sangat rapuh.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, Ric. Semuanya pasti akan segera segera terbuka, siapa yang telah tega melakukan ini pada mu." ucap Iqbal.
Penyelidikan mulai di lakukan oleh para polisi, apalagi setelah Rico menemukan sebuah korek api yang berbahan dari besi juga sebuah jerigen yang di buang di semak-semak dan sepertinya itu wadah yang di gunakan untuk membawa minyak tanah.
"Terima kasih, " bersyukur Rico bisa mempunyai sahabat yang begitu peduli padanya. Ada Dante juga Iqbal yang selalu ada untuk dirinya, mau mendengarkan setiap keluh kesahnya.
"Kalau kamu butuh apapun jangan sungkan untuk mengatakan padaku, aku pasti akan membantumu. " ucap Iqbal lagi.
Ya, dari mereka bertiga Iqbal lah yang paling kaya, karena papa Iqbal memang orang yang kaya.
"Hem.., siapa lagi kalau bukan kamu yang akan aku repotkan." celetuk Rico.
"Tenang, setelah proses penyelidikan di sini sudah selesai aku akan bantu kamu bangun lagi ini Resto. Lagian aku juga sangat senang nongkrong di sini. "
"Terima kasih ya, Bal. "
"Belum juga bantuin udah terima kasih aja. "
"Hem.. " Rico hanya tersenyum datar mendengar celotehan dari Iqbal.
Dari jauh dua gadis dan satu pria turun dari Mobil, mereka adalah Shelvia, Aisyah juga Faisal.
"Loh! Ini kan Resto milik Rico? Kok bisa kebakaran! " Faisal yang memang belum tau dia sangat terkejut melihat keadaan Resto Rico yang sudah hitam semua menjadi arang.
"Jadi kalian.. "
"Iya, Bang. Makanya kami izin keluar untuk melihat keadaan Resto milik Bang Rico."
Setelah melihat Rico yang berdiri di depan sana mereka bertiga hendak berjalan. Namun langkah mereka kembali terhenti karena ada gadis cantik yang berlari mendahului.
"Kak Ricooo!! " Teriaknya sembari berlari.
Gadis itu adalah Felisha, dia langsung menubruk Rico begitu saja. "Kak, yabg sabar ya. Feli ikutan sedih. " ucapnya dengan suara yang pelan.
"Lepasin, Feli. " Tangan Rico langsung melepaskan Felisha, tak seharusnya dia langsung memeluk dirinya begitu saja, apalagi di depan umum seperti sekarang.
"Nggak mau, Kak! Felisha hanya ingin menghibur Kak Rico." Kekeuh Felisha tak mau melepaskan.
"Assalamu'alaikum, Bang.. " ucap Aisyah begitu lirih.
"A-Aisyah... "
_____
Duduk di atas kursi ruang tengah Rayyan tengah melihat ponselnya, tak sengaja dia melihat berita di sosial media. Kebakaran yang terjadi pada Resto milik Rico sudah terpampang jelas di sana.
Banyak yang mendoakan supaya Rico lebih sabar, dan banyak juga yang mendoakan supaya pelakunya segera tertangkap setelah ada berita tambahan kalau kejadian itu memang ada unsur kesengajaan.
"Resto milik Rico kebakar? " Pekik Rayyan.
___
Bersambung...
__ADS_1
_____________