
_____
Happy Reading...
__________________
Di antar dengan sebuah ojek, Shelvia kini sampai di sebuah rumah makan terkenal di kota. Entah apa yang akan dia lakukan di sana, yang pasti ada hal penting.
Shelvia merogoh saku dan mengeluarkan uang berwarna hijau dan memberikannya pada tukang ojek tersebut.
" Ini pak, makasih sudah mengantarkan saya sampai sini dengan selamat. " Ucap Shelvia seraya mengulurkan tangan menyerahkan uang itu.
" Sama-sama Mbak, itu sudah menjadi kewajiban saya. " Jawabnya dengan begitu sopan.
" Mari Mbak. " Pamit orang itu dan langsung tancap gas pergi dari hadapan Shelvia.
Shelvia hanya mengangguk kecil, setelah orang itu pergi Shelvia menoleh dan di lihatnya bagunan mewah sebuah rumah makan berbintang.
" Masak iya sih orang yang di cari Aisyah ada di sini? Tapi bisa jadi sih, orang baik belum tentu ada di tempat yang buruk tapi juga belum tentu sebaliknya. Bisa jadi orang yang buruk ada di tempat yang baik. " Gumam Shelvia.
Shelvia mulai melangkah masuk, dia begitu yakin apalagi kalau Aisyah sudah mengatakannya itu pasti benar adanya. Bisa jadi tempat yang kelihatannya bagus dan tidak mencurigakan ternyata adalah sebuah sarang harimau yang begitu mengerikan.
Shelvia mencari tempat duduk yang di rasa nyaman untuk nya, tempat itu sangat ramai akan pengunjung yang berbagai profesi.
Satu pelayanan mendekati Shelvia dan menawarkan pesanan apa yang akan Shelvia minta.
" Lemon tea saja, Kak. " Ucap Shelvia.
" Makannya?. " Tanya kakak pelayanan yang berseragam itu.
" Spaghetti saja. " Ucapnya lagi.
" Oke kak. Di tunggu sebentar." Pelayan itu segera pergi dan mungkin tidak akan lama dia datang pagi untuk membawakan pesanannya.
Dan benar saja, hanya dalam waktu sepuluh menit pelayan itu sudah kembali datang dengan pesanan Shelvia. Satu piring penuh dengan spaghetti dan juga gelas cantik yang penuh dengan Lemon tea sudah mendarat manis di meja depan Shelvia.
" Terima kasih, Kak. " Ujar Shelvia seraya tersenyum manis.
Pelayan itu pergi setelah sejenak melemparkan senyum pada Shelvia. Shelvia pun langsung menyuapkan sedikit demi sedikit spaghetti ke dalam mulutnya.
Bukan hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya saja, tapi mata Shelvia terus liar mencari-cari orang yang dia cari. Meskipun gak mudah, tapi dia berharap akan membuahkan hasil di awal pencariannya.
Mata Shelvia sedikit tercengang saat target sudah ada di depan matanya, namun bukan orang itu yang membuat Shelvia tercengang, melainkan Iqbal yang sedang berjalan di sampingnya dan sedang bergurau dengan orang itu.
" Tidak mungkin Kak Iqbal juga terlibat, kan?. " Lirih Shelvia begitu tak percaya.
Orang yang tengah dia selidiki adalah orang yang berbahaya, bagaimana bisa Iqbal bersama dengan orang itu. Hubungan apa dia dengan Iqbal? Itu membuat Shelvia sangat bingung.
Keberadaan Shelvia di sadari oleh Iqbal, dia mengernyit sekedar memastikan lalu dia tersenyum setelah yang dia lihat benar-benar Shelvia.
" Saya permisi, Om. Ada teman yang sepertinya merindukanku. " Ujar Iqbal dan bergegas pergi dari hadapan Om yang di curigai oleh Shelvia.
" Silahkan, Om pergi dulu kalau begitu, ada hal penting." Ucapnya.
Iqbal mengangguk menunggu Om nya benar-benar pergi baru dia mulai melangkah untuk mendekati Shelvia.
" Astaga, kenapa Kak Iqbal kesini sih?. " Lirih Shelvia memalingkan wajahnya dan ke arah lain.
" Assalamu'alaikum, cantik. " Sapa Iqbal yang tanpa persetujuan langsung duduk di depan Shelvia.
Senyumnya begitu menawan, wajah dinginnya seakan musnah dengan senyum yang begitu manis. Dan entah kenapa senyum itu hanya selalu dia keluarkan saat ada di hadapan Shelvia.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam, Kak Iqbal di sini juga?. " Ucap Shelvia berusaha melakukan akting supaya rencananya tidak terbaca oleh siapapun.
" Ya, aku disini. Aku juga berhak atas tempat ini. " Jawab Iqbal.
" Maksudnya?. "
" Aku juga memiliki saham akan restoran ini, jadi bagaimana saya tidak sering kesini. " Jelas Iqbal.
Shelvia mengangguk, meskipun hatinya terkejut tapi wajahnya sama sekali tak memperlihatkan akan hal itu. " Terus, orang yang bersama Kak Iqbal tadi, dia siapa?. "
" Dia adalah Om ku. Dia pemilik saham terbesar di sini. " Jawab Iqbal dan semakin memperjelas.
" Hemm..?" Niat hati Shelvia mau bertanya tentang kecurigaannya tapi akhirnya dia urungkan karena dia gak mau gegabah, bagaimana kalau seandainya Iqbal juga salah satu di antara mereka.
" Kenapa?. " Tanya Iqbal penasaran.
Shelvia menggeleng, " Tidak! Makanannya enak. " Jawab Shelvia mengalihkan.
" Tumben kamu kesini? Apa kamu merindukanku?. " Tanya Iqbal dengan senyum menyeringai manis.
" Hah!. " Shelvia terhenyak, bagaimana bisa Iqbal begitu percaya diri mengatakan itu padanya, kalau saja dia tau Iqbal ada di sana jufa mungkin lebih baik dia mengajak seseorang untuk menemaninya. " Ti- tidak. " Ketus Shelvia.
" Kamu terlihat lebih cantik saat gugup. " Goda Iqbal.
Shelvia mengangkat gelasnya, menyeruputnya hingga tandas. Hatinya dongkol dengan perkataan Iqbal, ingin rasa dia pukul tu wajah yang sok cakep.
Shelvia merogoh sakunya meletakkan uang ratusan di bawah gelas dan ingin segera bergegas, dia sudah tak betah di sana.
" Nggak usah, biar aku aja yang bayar. " Ucap Iqbal.
" Nggak usah terlalu baik, nanti resto nya tutup lagi kalau Kak Iqbal selalu berbaik hati. " Jawab Shelvia dengan ketus.
Shelvia melangkah begitu angkuh, hatinya begitu kesal apalagi karena dia melihat Iqbal bersama dengan orang yang sedang dia selidiki, ketakutannya benar-benar besar. Dia harus tetap mengokohkan hatinya supaya tidak luluh begitu saja dan kelak dia tidak akan terluka jika dugaannya benar.
Keduanya berhenti di depan Resto karena Shelvia masih menunggu taksi untuk bisa mengantarkan ketempat selanjutnya.
" Mau pulang? Biar aku antar." Ucap Iqbal.
" Tidak usah. " Jawab Shelvia dengan dingin.
" Nggak ada kata penolakan." Iqbal menarik hijab Shelvia hingga Shelvia melangkah mengikutinya.
Tak mungkin Shelvia akan diam saja dia pasti akan berontak dengan kelakuan Iqbal padanya. " Kak! Lepasin!. " Seru Shelvia.
" Di sini terlalu berbahaya untuk gadis cantik sepertimu, aku hanya tinggal mau ada laki-laki nakal yang menggodamu. " Iqbal terus saja semangat menarik hijab Shelvia hingga sampai ke tempat dimana sepeda motor nya di parkir.
Masih terus memegangi Shelvia, Iqbal lebih dahulu naik dia sama sekali tak ada niatan untuk melepaskan Shelvia apapun keadaannya.
" Naik!. " Perintah Iqbal.
" Nggak mau!. " Jawab
" Shelvia tak mau kalah.
" Naik atau aku bawa kamu masuk sana, " Mata Iqbal melirik ke arah hotel megah yang ada di sebelah resto tadi, meskipun Iqbal tidak mengatakannya tapi dia tau kalau tempat itu tidak akan aman untuk gadis cantik. Dan lagi pula dia juga tidak rela jika ada seorang yang datang dan menggoda Shelvia.
" Dasar gila!."
" Naik, Via.. " Ucapnya dengan lembut kali ini.
Ketakutan Iqbal benar-benar terjadi, ada beberapa orang yang datang mendekat, dia tidak seperti orang yang mencurigakan karena mereka berpenampilan sebagaimana semestinya pengunjung yang lain, tapi Iqbal paham itu semua.
__ADS_1
" Cepat Via.. Kalau tidak aku tidak mau bertanggung jawab dan tidak mau membantumu jika terjadi sesuatu padamu. " Kekeuh Iqbal.
" Maksudnya?. "
" Naik sekarang, atau perlu aku yang menggendong mu supaya kamu naik! Baiklah. " Iqbal ingin turun lagi namun Shelvia mencegahnya.
" Tidak usah aku bisa sendiri." Jawab Shelvia.
" Kalian mau kemana? Singgahlah dulu di hotel kami. " Ucap salah satu orang yang datang.
" Tidak, terima kasih. " Jawab Iqbal.
Shelvia mengernyit, sebenarnya ada apa? Kenapa Iqbal begitu mencurigakan saat ini. Orang-orang itu terlihat sangat biasa tapi kenapa Iqbal terlihat sangat takut.
Brem!
Iqbal menarik gas dengan kuat hingga motor seolah akan terbang begitu saja, membuat Shelvia seketika memeluk perutnya. Iqbal menyeringai, namun langsung tancap gas untuk segera pervi dari sana.
" 𝘎𝘪𝘭𝘢 𝘯𝘪𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. " Batin Shelvia.
Shelvia perlahan melepaskan tangannya dan berpegang di belakang.
" Kenapa di lepas, bukannya enak. " Girang Iqbal.
" Bukan mahram!. " Ketus Shelvia.
" Bagaimana kalau hari ini juga kita jadikan mahram. " Ide gila muncul begitu saja di kepala Iqbal yang langsung terlontar dengan mulutnya.
" Tadi hanya akal-akalan Kak Iqbal saja kan!, mereka hanya orang-orang biasa, bagaimana Kak Iqbal mengatakan itu. Atau jangan-jangan Kak Iqbal sebenarnya yang berbahaya. " Celetuk Shelvia.
" Jangan ngada-ngada kalau belum tau kebenarannya, tempat itu tidak cocok untuk kamu datangi, di sana benar-benar berbahaya. " Jawab Iqbal.
" Kalau disana berbahaya kenapa Kak Iqbal harus menaruh saham di sana? Kenapa tidak di tempat lain!. " Jawab Shelvia nggak mau kalah.
" Semuanya ada alasannya. "
" Apa alasannya?. "
" Gadis cantik, seharusnya tidak terlalu kepo dengan urusan orang lain. Itu tidak akan baik. "
" Hehh.. Bilang saja kalau situ sebenarnya ada di balik mereka juga. "
" Jangan omong kosong. " Nada Iqbal mulai berubah meninggi, dia tak terima di sebut sama dengan mereka semua.
" Ingat kak, parfum misk pun akan berubah bau jika di kelilingi air comberan begitu juga sebaliknya, air comberan akan ikutan wangi jika di Kelingi oleh misk." Ucap Shelvia.
" Baru denger perumpamaan yang seperti itu. " Iqbal mengernyit.
" Ya, pokoknya gitu deh. Kak Iqbal kan lebih tau juga. Tapi kalau hatinya bersih, sih. " Ucapan Shelvia melirih di akhir dan hanya samar-samar di dengar oleh Iqbal.
" Apa yang kamu katakan..? "
" Tidak!, aku tidak mengatakan apapun. " Elak Shelvia.
" Sekarang kamu mau kemana, mau pulang atau kita jalan-jalan dulu? Ya, itung-itung pacaran gitu. " Ucap Iqbal.
" Nggak!, kita pulang sekarang. " Seru Shelvia.
" 𝘎𝘢𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘶, 𝘯𝘪𝘩 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘯𝘨𝘰𝘮𝘦𝘭 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭 𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘢𝘴. 𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘯, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘬 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶, 𝘴𝘪𝘢𝘭 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. " Batin Shelvia pasrah.
______
__ADS_1
Bersambung..
______________