
Happy Reading..
___
Seolah mendapat pencerahan, hati Felisha mulai melemah, jarang-jarang dia akan memegangi sebuah buku tentang agama. Dan kali ini tangannya mulai membersihkan debu yang menempel di atas sampul buku yang berwarna biru muda bergambarkan orang yang tengah melakukan salat.
Satu persatu Felisha mulai membuka lembar kertas dan membacanya dengan pelan tak masalah dia tidak bisa membaca huruf Arab tapi dia bisa membaca yang latin dan pelan-pelan dia bisa mulai menghafalkannya meskipun bacaannya juga tidak benar.
"Kenapa sangat susah padahal orang lain terlihat sangat mudah menghafalkan tapi kenapa aku tidak bisa, apakah ada yang kurang dariku? " tanya Felisha pada dirinya sendiri.
Felisha kembali membaca bacaan sholat dengan teliti namun tetap saja dia merasa kesusahan menghafalkannya, "Aku menyesal karena dulu tidak mengikuti saran yang diberikan oleh Mommy," sesalnya yang kini baru datang setelah sekian lama.
Mama Felisha memang bukan orang yang pintar agama namun dia selalu mencoba mengajarkan sedikit ilmu yang dia bisa namun saat itu Felicia selalu menolak dan lebih memilih bermain dengan mainan yang selalu diberikan oleh Papanya.
Bahkan kedua orang tua Felisa sering bertengkar karena Papanya terlalu memanjakannya, memberikan semua yang diinginkan oleh Felisha tanpa sedikit memberi pelajaran ilmu agama kepadanya dan sekarang Felisha baru menyadari kalau keputusan Papanya dulu adalah salah.
"Maafkan Felisha, Mom. Seharusnya Feli dengerin kata-kata Mommy," ucapnya.
"Mungkin ini yang Mommy maksud bahwa Felisha akan menyesal jika selalu menuruti kemauan Feli yang selalu diberikan boleh Deddy." Felisha terdiam dalam penyesalan yang tidak bisa dihindarkan namun dia masih bisa untuk mengubah segalanya jika dia benar-benar mau berubah tidak pernah ada kata terlambat selama masih ada nafas.
"Apakah aku harus hijrah? belajar tentang agama dan meninggalkan semua yang bersangkutan dengan dunia?" tanya Felisha pada dirinya sendiri "dari dulu aku selalu mementingkan apa yang menjadi keinginanku apakah saatnya aku memikirkan apa yang diinginkan Mommy? Felisha begitu dalam keadaan dilema sekarang dia ingin berubah namun pikirannya masih berontak dengan apa yang muncul dalam hatinya.
Felisha meletakkan kembali buku itu ke dalam laci dia beranjak dan berpindah ke tempat tidur. Felisha menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kasur matanya langsung menatap langit-langit dan terus berpikir. Apakah benar dia harus hijrah memperbaiki semua sifatnya membuang semua yang mementingkan dunia apakah itu yang harus dia lakukan.
Lalu bagaimana dengan semua kemewahan yang selama ini dia banggakan baju indah yang selalu dia kenakan, tas branded, make up mahal, juga high heels yang selalu menjadi pelengkap penampilannya lalu untuk apa semua yang sudah ada?
__ADS_1
Apakah Felisha bisa menjauhi semua itu meninggalkan semua kemewahan dan beralih pada kesederhanaan? "Apakah aku bisa? " ucap Felisha ya masih terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Felisha berusaha menutup mata berharap akan mendapatkan jawaban yang sangat dia inginkan. Mungkin akan sangat susah jika dia harus berubah, tapi apa salahnya mencoba.
"Mom, bantu Felisha," ungkapannya terdengar sangat sendu, berharap bahwa dia akan mendapatkan itu dari Mommy nya yang sudah tiada.
Lama memejamkan mata akhirnya Felisha tertidur begitu pulas, mungkin niatnya sudah benar namun langkahnya yang belum Felisha tau caranya. Dia tak mungkin tiba-tiba menjadi alim, semua butuh proses karena dia juga tak akan mungkin bisa mengubah semuanya dengan instan.
Pagi menjelang, matahari sudah mulai terbit memperlihatkan senyumnya yang begitu cerah. Hari juga sangat indah, tak ada awan hitam yang menyelimuti langit hingga terlihat begitu indah di pandang.
Semua sudah mulai kembali dengan aktivitasnya, bekerja sekolah dan masih banyak lainnya. Semua tampak berbondong-bondong dalam kesibukan masing-masing.
Tak bisa berubah dengan total kini yang Felisha lakukan hanya dengan memulai dengan pakaian yang lebih tertutup. Kaus pendek kuning di padukan dengan blazer hitam juga celana panjang berwarna hitam. Meskipun celananya terlihat ketat tapi seenggaknya sudah menutupi kulitnya yang putih.
Felisha juga lebih pendiam, tak seperti biasanya yang banyak bicara mengomentari pakaian orang lain tapi sekarang dia mulai menjaga omongannya. Dia sadar rasanya sakit jika di hina dan dia putuskan untuk berhenti menyakiti orang lain dengan suaranya.
"Apakah aku tidak salah lihat?" tanya salah satu teman sekelas Felisha.
"Tidak, kita tidak salah lihat. Tapi...? Kira-kira Felisha ketempelan demit mana ya? bisa berubah seperti itu?" saut salah satu teman.
"Mana gue tau, mungkin gejedot pintu kali kepalanya? atau nggak kena bola?" saut satunya lagi sembari fokus dengan ponselnya.
Semua kata-kata itu terdengar sangat jelas di telinga Felisha namun dia hanya bisa diam, jika dia ingin belajar untuk berubah maka dia tak perlu meladeni semua omongan orang lain.
"𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘍𝘦𝘭𝘪, 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳, " batinnya yang terus menata hati.
__ADS_1
Jam kelas yang masih lama membuat Felisha lebih baik keluar daripada mendengarkan ocehan semua teman-temannya. Dia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan mencari buku-buku yang mungkin bisa dia pinjam untuk bisa lebih bertekad lagi dalam perubahan.
Langkah menuju perpustakaan tak semulus yang Felisha kira, dia menjauhi teman-teman di kelasnya namun gunjingan tetap datang di luar kelas. Memang berat ujian bagi orang yang ingin menjadi lebih baik, tapi dia tak peduli lagi dengan omongan mereka.
Sesampainya di perpustakaan, Felisha langsung berputar mencari buku yang dia mau. Dia mencari buku-buku tentang agama tentunya, karena memang itu yang ingin dia pelajari sekarang.
"Feli," sapa seorang dan membuat Felisha langsung menoleh.
"Hem..., Kak Farel," Felisha tertunduk, dia yakini kalau Farel juga akan menghina dirinya yang tak memakai make-up, mungkin Farel akan menertawakannya, itulah yang Felisha pikirkan.
Farel mengernyit, bukan karena dia mau menghina penampilan Felisha tapi Farel merasa bingung tak biasa-biasanya Felisha akan berada di perpustakaan apalagi di lorong yang khusus terdapat buku-buku agama.
"Apa yang kamu cari?" tanya Farel.
"Hem..., Feli..., Hem?" Felisha sangat takut menjawab dia belum siap jika harus di tertawakan, dia belum siap mendapatkan hinaan dari Farel.
"Maaf, Felisha ada urusan," ucapnya.
Sudah ada dua buku yang ada di tangan Felisha, akan cukup untuk menambah pengetahuannya untuk hari ini. Felisha harus pergi meninggalkan Farel karena dia belum siap menjawab pertanyaan dari Farel.
"Ada apa dengan Felisha, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Farel bingung.
___
Bersambung..
__ADS_1
______