Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
86.Bersabarlah


__ADS_3

______


Happy Reading...


__________________


Duduk di atas kursi ruang tengah Rayyan tengah melihat ponselnya, tak sengaja dia melihat berita di sosial media. Kebakaran yang terjadi pada Resto milik Rico sudah terpampang jelas di sana.


Banyak yang mendoakan supaya Rico lebih sabar, dan banyak juga yang mendoakan supaya pelakunya segera tertangkap setelah ada berita tambahan kalau kejadian itu memang ada unsur kesengajaan.


"Resto milik Rico kebakar? " Pekik Rayyan.


Rayyan semakin penasaran dia terus menggeser laman berita, dan mencari tau dari beberapa sumber yang memang sudah sangat di percaya.


"Jadi beneran, Resto milik Rico terbakar? Hem..., aku semakin yakin kalau dia tidak akan bisa memenuhi syarat yang aku berikan padanya, hehhh... " Terlihat Rayyan menyungging sinis.


"Alhamdulillah deh, kalau beneran itu terjadi aku tidak usah repot-repot menjauhkan mereka berdua. Karena secara otomatis Rico pasti akan menjauhi Aisyah dengan sendirinya. Tapi kalau dia memang punya rasa malu, kalau dia masih berani mendekati Aisyah mungkin ketulusannya bisa di pertanyakan. "


Lagi-lagi Rayyan masih saja meragukan ketulusan dari Rico yang sangat besar untuk Aisyah, seandainya ketulusan Rico tidak benar maka dia juga tidak mungkin rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk Aisyah, bahkan untuk keluarganya juga.


Kenapa di mata Rayyan hanyalah sebuah materi yang di jadikan sebuah tingkatan dalam ketulusan, kenapa Rayyan sama sekali tidak bisa melihat hati Rico yang benar-benar sangat tulus?.


Mungkin benar apa yang di katakan oleh Rico, dia tidak perlu berjuang dengan tekat yang begitu besar, jika yang Rayyan minta berhasil dia penuhi belum tentu akan membuat Rayyan menjadi puas, sekarang mungkin dia bisa menerimanya, tapi kelak? Rayyan pasti akan menuntut hal lagi yang sangat mustahil Rico wujudkan.


____


"A-Aisyah... " Rico tercengang saat melihat Aisyah yang sudah berdiri di sana dengan wajah yang seketika menunduk.


Rico langsung melepaskan Felisha dengan kasar membuat gadis itu hampir saja terjatuh karena dia tetap kekeuh juga mempertahankannya. Rico takut Aisyah akan salah paham kepadanya, meskipun kelak mereka tidak berjodoh, Rico hanya ingin menjaga saja kalau dirinya kini masih sangat mengharapkannya dan menjaga jarak dari para gadis lain.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab Rico.


Felisha yang berhasil terlepas dari tubuh Rico kini sangat sebal, mulutnya monyong dengan wajah yang merengut tak bersahabat.


"Ihh..., kak Rico! " Protesnya, Felisha hendak mendekati Rico lagi tapi dengan cepat lengannya di tarik oleh Dante.


"Jadi cewek jangan ganjen begitu kenapa sih, laki-laki itu akan menyukai gadis yang bisa menjaga kehormatannya!" Celetuk Dante, tangannya menarik lengan Felisha hingga membuat gadis itu kini berdiri tepat di sebelahnya.


"Apa aku kurang terhormat! Aku cantik, aku kaya, aku juga pintar! Apa itu masih kurang untuk menjadikanku gadis yang terhormat! " sungut Felisha.


"Kau pikir orang terhormat itu hanya di nilai dari harta dan penampilan? Tidak, Felisha. Ishh..., kau ini ngakunya pintar, masak arti orang terhormat yang sebenarnya saja nggak tau. " Ucap Dante dengan kepala yang menggeleng, benar-benar tak habis pikir dengan akal pikiran milik gadis satu ini.


"Terserah aku lah...., lepas! Aku mau nemenin kak Rico! " Felisha hendak menepis tangan Dante namun dalam tak sekuat yang itu, tangan Dante sangat kuat ada di sana membuat Felisha akhirnya menyerah.


"Diam, dan jadilah gadis yang baik di sini."


"Ishh..., nyebelin! " Wajah Felisha langsung melengos kasar.


"Bang Rico yang sabar ya," ucap Aisyah dengan begitu pelan dan tetap dengan mata yang menatap paving di bawah sana.


"Iya, terima kasih, " jawab Rico yang sama-sama kaku.


Faisal berjalan mendekati Rico, menepuk lengannya beberapa kali. "Kamu yang sabar, Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar. Ikhlaskan semuanya, aku yakin semuanya akan terganti di kemudian hari." ucap Faisal yang sangat iba dengan nasib dari Rico itu.


Siapa yang tidak akan iba, ujian Rico benar-benar berurutan tidak ada henti, masalah satu belum usai sudah datang yang baru. Kesabaran Rico benar-benar tengah di uji sekarang, mungkin ini yang akan menaikan derajatnya jika Rico mampu menjalaninya.


Allah tidak akan menurunkan ujian jika Rico tidak mampu untuk menanggungnya, itulah bentuk dari kasih sayang Allah untuk Rico yang menginginkan derajat Rico yang lebih tinggi di Mata sang Pencipta.


"Terima kasih, apa yang kamu katakan memang benar." Jawab Rico.

__ADS_1


Kekuatan Rico seakan kembali setelah dia bisa melihat Aisyah di hadapannya, seketika semangat untuk bangkitnya kini begitu tinggi. Namun, Rico hanya bisa semangat karena Aisyah sudah seperti sumber kekuatan, tapi kini dia tak lagi semangat untuk bisa berjuang penuh atasnya.


Rico semakin sadar, dia tidak akan bisa bersanding dengan Aisyah tidak akan cocok untuk gadis yang terlihat sangat sempurna itu. Rico juga tidak akan bisa membahagiakan Aisyah jika dalam keadaan yang seperti sekarang.


Harta tak punya, usaha tengah di ambang kehancuran, dan juga Rico yang masih harus berfikir untuk mendapatkan uang untuk pengobatan Marno yang tak sedikit jumlahnya.


Sementara Iqbal yang melihat Shelvia ada di sana juga langsung menggeser kan dirinya dan semakin mendekati Shelvia. "Kasian Rico ya, besok aku ada rencana, bagaimana kalau kita saling berpangku tangan untuk membantu Rico mendirikan Restonya lagi. Bukan hanya dari segi materi saja, tapi kita juga harus turun tangan sendiri. Bagaimana menurutmu?" Bisik Iqbal.


Seketika Shelvia menoleh, untung saja saat itu Iqbal sudah menjauhkan bibirnya kalau tidak mungkin sudah 'Nyus' bibir Iqbal menyentuh pipi Shelvia, atau mungkin malah kedua bibir manis itu akan saling bertubrukan.


"Kak Iqbal lagi nggak modus kan? " Shelvia pasti akan curiga, bagaimana tidak! Kebiasaan Iqbal kan memang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Astaga..., untung cantik, imut dan calon bini, kalau bukan sudah aku karungin dan aku buang ke sungai. Kepalanya itu jangan di isi dengan su'udzon mulu kenapa sih?" Celetuk Iqbal tak habis pikir.


"Hadehh.. " Shelvia menggeleng dengan kasar, pria satu ini yang kini ada di hadapannya selalu saja asal bicara.


Shelvia bukan lah gadis yang akan mudah terlena dengan kata-kata gombal dari seorang pria, jadi dia tidak akan mudah untuk merona begitu saja. Meskipun Iqbal selalu mengatakan kata yang penuh rayuan tapi itu belum bisa membuat hati seorang Shelvia bisa tersentuh begitu saja.


"Jangan geleng-geleng begitu, nanti sakit tuh leher." Icap Iqbal. "Gimana, kamu setuju kan desa ide ku? Kalau bukan kita yang melakukannya aku jamin Rico nggak akan mau, apalagi itu Aisyah ataupun keluarganya? "


"Terus, aku bukan keluarga Aisyah begitu? "


"Ya kamu memang keluarganya, tapi kamu bukan keluarga inti. Pokoknya kalau kami mau aku tunggu besok di sini abis dhuhur, kamu kan sudah pulang dari kampus, iya kan? Tapi kalau kamu mau sih? Kalau nggak mau ya udah. "


Iqbal melenggang menjauh dari Shelvia meninggalkan Shelvia dengan pikirannya sendiri, yang nampak masih menimang dengan begitu bingung.


"Apakah aku harus datang? Tapi yang di katakan Kak Iqbal bener sih? Kalau tidak ada yang bantuin pasti Kak Rico akan lama untuk bisa membuka Resto ini lagi. Tapi..? Entahlah besok." Gumam Shelvia.


_____

__ADS_1


Bersambung...


_______________


__ADS_2