Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
183. Kumpul-kumpul


__ADS_3

Happy Reading...


...****************...


Rico tersenyum kala pulang kerja dan melihat Aisyah yang tengah di sibukkan dengan tugas kuliahnya. Dia masuk dan ucapin salam tapi tak ada jawaban, Rico pikir Aisyah ikutan pergi dengan bundanya dan ternyata tidak.


Rico membungkuk di belakang Aisyah mengamati pekerjaannya sebentar laku kembali mengucapkan salam dan tepat di sebelah telinga sebelah kanan.


"Assalamu'alaikum, Sayang." sapa nya. Kedua tangan Rico juga langsung berada mengapit tubuh Aisyah di kedua sisinya membuat Aisyah akan sudah bergerak setelah itu.


"Wa'alaikumsalam, Bang. Kok nggak ucapin salam pas masuknya." Padahal Aisyah sendiri yang tidak mendengar tapi dia malah mengira Rico tidak mengucapkan salam.


Fuhh..


Sengaja Rico meniup wajah Aisyah sebelum akhirnya dia ikut duduk di kursi satu di sebelahnya.


"Tadi Abang ucap salam, Sayang. Tapi kamu tidak mendengarnya. Mungkin karena kamu begitu fokus." Jawab Rico.


"Benarkah?"


"He'em," Rico mengangguk mantap karena memang itu memang dia lakukan tadi.


"Udah selesai belum? kalau udah Abang mah ajakin kamu ke suatu tempat."


"Kemana?" Aisyah kembali menoleh jelas dia sangat penasaran kemana Rico akan mengajaknya. Padahal sebentar lagi sore dan biasanya Rico akan selalu melarang Aisyah untuk pergi.


"Ya nanti lah. Kamu pasti akan sangat senang." Entah tempat seperti apa yang pasti bisa membuat Aisyah senang. Tapi, kalau Rico sudah mengatakan seperti itu pasti itu memang benar apanya.


"Udah hampir selesai kok Bang." Aisyah kembali lagi ke pekerjaannya.


"Ya sudah, Abang bersih-bersih dulu sekalian siap-siap." Rico beranjak, tangannya membelai kepala Aisyah sebentar sebelum dia benar-benar pergi.


"Hem," jawab Aisyah sembari mengangguk.


...****************...


Bukan jadi sore mereka pergi, tapi malam. Semua itu karena Rico yang memintanya sekalian pergi malam karena sudah tenang tidak keburu magrib ataupun isya.


Mobil terus berjalan membelah jalanan kota yang sudah sangat ramai akan orang-orang yang menikmati indahnya malam.


Tak sabar Aisyah untuk cepat sampai. Matanya terus saja melihat luar.


Aisyah sangat penasaran, sebenarnya dia akan di ajak pergi ke mana? Kenapa Rico tidak mengatakan apapun.


Di perjalanan Rico hanya mengobrol biasa saja, tidak menyinggung apapun kemana dia akan membawa Aisyah.

__ADS_1


"Bang, kita mau kemana sih?" Aisyah begitu heran.


"Bentar lagi sampai, Sayang." Rico menoleh sebentar sembari tersenyum. Membuat Aisyah terpaksa membalas hal yang sama meski dia merasa sedikit kecewa karena Rico tak mau jujur.


"Huff... Mereka ini. Selalu saja ribut," ucap Rico tiba-tiba. Jelas itu akan membuat Aisyah heran. Mereka? siapa?


"Bang, Abang mengatakan sesuatu?" Aisyah ingin mendapatkan penjelasan, semoga saja bisa, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang selalu membuat Aisyah hanya kecewa.


"Ti_tidak ada," Rico meringis. Nah kan di buat kecewa lagi. Sebenarnya ada apa dengan Rico, dia selalu aneh. Dan hanya satu itu yang belum Aisyah ketahui.


Rico melirik ke arah spion di hadapannya, melihat dua arwah anak-anak yang kini tengah bercanda.


Dua anak itu, selalu saja ikut saat Rico pergi. Apalagi saat Rico pergi bersama Aisyah. mereka tak pernah ketinggalan.


"Maaf, Syah. Untuk yang satu ini aku belum bisa jujur padamu. Aku hanya takut saja kalau kamu tau apa yang aku lihat sekarang kamu akan ketakutan. Mungkin kamu bisa tidak takut dengan apapun, tapi aku belum tau kamu takut atau tidak dengan makhluk yang kasat mata." batin Rico.


"Kenapa, Bang! kok lihatin belakang terus?" Aisyah ikut melihat ke arah belakang, jelas dia tidak akan melihat apapun kan.


"Tidak. Nih, kita sudah sampai." mobil berhenti tepat di depan rumah makan.


Kenapa ke rumah makan? apa yang istimewa?


"Kok ke sini, Bang?" jelas Aisyah bingung. Dia pikir dia akan di ajak ke tempat yang romantis begitu tapi ternyata hanya ke restoran untuk makan malam.


"Iya, yuk turun. Di dalam udah ada yang nunggu," ajak Rico.


Rico terus menggandeng Aisyah untuk masuk ke dalam Restoran itu, dan ternyata benar mereka sudah di tunggu oleh sahabat-sahabat juga sepupunya.


Shelvia dan Iqbal juga Meyka dan Dante. Ternyata mereka hanya ingin makan bersama. Meskipun tidak ke tempat yang sesuai dengan yang Aisyah pikirkan tapi tetap bisa membuat Aisyah bahagia.


"Assalamu'alaikum," sapa Aisyah juga Rico hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya serentak.


"Astaghfirullah, kalian ini ya, lamanya! hampir tumbuh jenggot nih nunggu kalian berdua." celetuk Dante.


"Ya Alhamdulillah kalau gitu. Sekalian aja kumisnya tumbuh sekalian." jawab Rico enteng.


Rico juga Aisyah langsung duduk di tempat yang sudah tersisa. Jelas itu memang untuk mereka berdua. Satu lingkar meja yang biasanya ada empat kursi mereka dengan khusus meminta enam, ya supaya bisa muat untuk mereka berenam.


"Kamu ini ya, Ric. Sengaja aja bikin orang kesel."


"Maaf, tadi ada sedikit hambatan," jawab Rico lagi.


Kedua pria itu, pasti akan selalu begitu kalau ketemu. Tapi tumben Iqbal lagi mode kalem. Biasanya dia juga sama omesnya.

__ADS_1


"Hambatan apa, satu ronde?"


Pletak..


"Sembarangan kalau ngomong!" satu jitakan langsung mendarat di kepala Dante. Tuh mulut masih saja sembarangan padahal ada bininya juga di sebelahnya.


"Iya juga nggak apa," Meski meringis Dante masih saja bisa menjawab. Bikin geleng-geleng bininya aja.


Tak lama menu yang sudah lebih dulu di pesan sudah mulai berdatangan. Semua adalah menu kesukaan mereka.


Semakin meriah dan menyenangkan acara makan-makan mereka ini. Meski semakin malam tapi tak masalah untuk mereka.


Mata Rico menangkap dua orang yang tengah makan bersama tak jauh dari mereka semua. Meski agak jauh tapi tetap terlihat jelas.


"Bang, kenapa?" tanya Aisyah saat tangannya mengambilkan menu di piring Rico dan melihat Rico menatap tempat lain.


"Tuh," Rico sedikit mengangguk kecil, lebih tepatnya menunjukkan dengan kepalanya kepada Aisyah siapa yang dia liat.


Bukan hanya Aisyah saja yang melihat tapi semuanya.


Dua pemuda-pemudi yang tengah duduk berhadapan dan makan bersama namun dengan menunduk malu-malu. Mereka adalah Farel juga Felisha.


"Semoga saja cepat ada kabar baik. Cepat dapat undangan gitu. Iya kan?" celetuk Iqbal.


Tumben Iqbal baru bersuara. Rico pikir dia sakit gigi atau lagi sariawan hingga dari tadi terus diam saja. Ternyata tidak.


"Amin, semoga saja begitu," jawab Rico.


"Mereka sangat cocok ya, apalagi sekarang Felisha udah tidak bar-bar seperti dulu. Udah mulai kalem," celetuk Dante.


"Iya, Alhamdulillah. Berarti dekat dengan Farel membawa dampak positif untuk Felisha. Aku yakin Felisha juga akan semakin belajar lebih baik kalau mereka berdua memang akan serius." Rico bersuara.


"Betul itu."


"Yuk kita tuntun mereka sampai halal," ucap Dante lagi.


"Ogah! gue mau nuntun bini sendiri biar cepet bisa jalan," seru Iqbal.


"Oh iya, Kak Via. Bagaimana? udah membaik kan?" Aisyah bertanya.


"Alhamdulillah, udah mulai membaik kata mama dan papa. Katanya sebentar lagi aku juga bisa jalan lagi," jawab Shelvia dengan wajah yang sangat bahagia.


"Alhamdulillah," jawab semua orang.


...****************...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2