Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
107. Di Mana Rico?


__ADS_3

Happy Reading...


___


Beberapa hari Rico benar-benar tak terlihat, bahkan dia juga tidak datang lagi ke kampus ataupun ke Resto apalagi ke bengkel? Dia seperti telah hilang di telan bumi, tak ada kabar tentang keberadaannya. Bahkan Iqbal juga Dante sudah beberapa kali datang ke rumahnya namun tetap saja tak bisa bertemu dengannya, ya karena Rico memang tidak ada di rumah.


Mereka berdua sangat bingung, entah ke mana mereka akan mencari keberadaannya. Apakah Rico benar-benar telah patah hati dan tak bisa berbesar hati menerima takdir? Atau Rico memang tengah menghindar dari semua keadaan ini?.


"Iqbal, sebenarnya kemana sih, Rico? Aku benar-benar bingung dengan keberadaannya sekarang. Bagaimana keadaannya sekarang, apa dia baik-baik saja atau malah sebaliknya? Apapun yang terjadi semoga Rico masih memiliki akal sehatnya." ujar Dante.


Keduanya baru saja pulang dari rumah Iqbal, karena tak bisa menemuinya dan tak mendapatkan kabar apapun dari mengenai Rico dari orang tuanya, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Resto Nusantara.


"Entahlah, aku juga bingung." Iqbal pun sama seperti Dante, dia begitu bingung dengan teman satunya itu. Entah di mana dia sekarang.


"Dan, menurutmu, Rico itu menghilang karena apa ya? Apa karena cinta yang terhalang restu? Atau karena hal lain? " Iqbal menoleh ke arah Dante, pikirannya terus mengada-ada tentang kepergian Rico yang sebenarnya.


"Ya, mungkin memang karena itu juga kan! Kamu kan tau sendiri, waktu yang di berikan oleh orang tuanya Aisyah akan berakhir besok, mungkin dia pergi karena dia tidak bisa mewujudkan syarat itu kan? Lagian jika aku jadi Rico aku juga sudah pergi dari dulu, buat apa bertahan kalau hanya hinaan dan hinaan yang di dapatkan..., nyesek banget kali.. "


Mungkin memang terlalu sabar hati Rico saat itu, dan mungkin saat ini kesabaran itu telah habis. Tak mungkin Rico masih memiliki kesabaran itu kalau ujungnya dia pergi seperti sekarang, bahkan dia pergi tanpa pamit dengan siapapun.


"Kamu benar, untung saja aku sudah langsung mendapatkan restu, coba kalau nasibku sama kayak Rico udah kabur aku.. " Jawab Iqbal, yang nyatanya hatinya tak sebesar milik Rico.


"Hilih..., nggak dapat restu aja langsung mau kabur? Kemana Iqbal yang playboy cap badak!" Sanggah Dante ketus.


"Ya, ya Iqbal yang dulu kan sudah nggak ada, adanya Iqbal yang sekarang yang sudah menjadi sholeh! "


"Sholeh pala lu peyang! "


"Ngajak gelut nih anak! Kepalaku tidak peyang, Weh.., kalau ngomong di saring ngapa sih? Jangan asal jeplak kayak payung rusak! " Kesal Iqbal.


"Payung rusak nggak bisa jeplak, bisanya malah ancur. " Jawab Dante.


"Serah! "


"Iyalah terserah, kan mulut gue juga bukannya punya situ. Jadi nggak usah sewot kalau orang tampan lagi ngomong! "

__ADS_1


"Tampan dari mana? Dari hutan! "


"Tarzan dong..., auwo... Uwo... Uwo... " Teriak Dante senang.


"Udah mirip..," Iqbal


"Hahaha...! "


___


Sudah seharian ini Aisyah terus diam tak semangat, tubuhnya seperti tak ada kehidupan sama sekali, dia hanya terus berada di dalam kamarnya saja tak berniat untuk keluar dan tak ada niatan untuk menghubungi siapapun.


Aisyah tidak ingin keluar dari kamar karena saat dia keluar hanya obrolan tentang perjodohannya dengan Farel yang selalu dia dengar, dan juga hinaan karena Rico yang kini hilang seperti seorang pengecut yang gagal dalam peperangan.


"La ilaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh-dholomin." Ucapan itulah yang terus terucap dari bibir Aisyah.


Dia tau apapun yang terjadi padanya itu karena dirinya sendiri, dia yang telah menganiaya dirinya sendiri, bukan Rayyan, Rico atau siapapun, Aisyah percaya akan hal itu.


Aisyah hanya berharap bisa kuat setelah mengucapkan kata itu terus menerus, dia berharap akan ada keajaiban datang meskipun itu sungguh mustahil baginya.


"Bang, bang Rico ada di mana? Apakah bang Rico benar-benar telah pergi meninggalkan Aisyah?" Ucapannya begitu sendu, tak ada semangat sama sekali.


"Sebenarnya bang Rico di mana?" ucapnya lagi.


Tak ada Rico benar-benar membuat Aisyah seakan kehilangan arah tujuan, begitu besar perasaan Aisyah untuk Rico hingga dia tidak bisa berbuat apapun saat tidak ada Rico, bahkan jiwanya seolah kosong tanpa ilmu yang sekian lama dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya.


"Bang Rico, kembalilah." Hanya kembalinya Rico lah yang Aisyah harapkan saat ini, tak ada hal lain, dia juga tidak membutuhkan apapun.


Aisyah tau benar betapa sakit hati Rico karena penghinaan orang tuanya, dia juga ikut merasakan sakitnya, dia juga merasa tak ada harga dirinya saat kata-kata hina selalu keluar dari mulut papanya sendiri.


Tapi kenapa Aisyah tetap saja tak bisa merelakan Rico untuk pergi mencari kebahagiaan yang lain, kebahagiaan yang semestinya dia dapatkan, "Apakah aku egois? Apakah aku terlalu memaksakan hubungan ini, hingga aku tak pernah memikirkan perasaan bang Rico? Apakah aku yang salah dalam hubungan ini? "


Segudang pertanyaan muncul di dalam pikirannya Aisyah, apakah benar dia yang terlalu egois? Atau dirinya yang terlalu keras kepala? Atau kah dirinya yang terlalu berlebihan?.


Aisyah tidak tau apa yang lebih baik untuknya, entah Rico ataupun Farel. Dia hanya tau kalau dia sangat menginginkan Rico dan bukan Farel. Dia tidak tau takdir untuknya yang benar, dia juga tidak tau siapa sebetulnya yang telah tercipta untuknya.

__ADS_1


"Mungkin aku memang yang terlalu egois." Ucapannya lebih tenang saat ini daripada yang tadi, mungkin akalnya sudah mulai berjalan, mungkin dia mulai berfikir dengan logika bukan hanya dengan obsesi semata.


"Berserah dirilah pada Allah, Syah. Maka kamu akan tau jawabannya yang benar. Kamu tidak bisa hanya mengandalkan isi hatimu saja, terkadang apa yang menurut kamu baik belum tentu itu baik menurut Allah, dan yang menurutmu buruk belum tentu buruk di mata-Nya."


Benar yang Aisyah katakan, dia tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk jalan hidupnya, semuanya harus tergantung dengan Tuhan dan juga dengan semua ketentuannya.


*****


Hingga malam hari Aisyah sama sekali tidak keluar dari kamar, dia terus menyendiri, menata hatinya dan terus bermunajat kepada sang Pencipta.


Tak pernah lelah dia melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, karena hanya dengan itulah hatinya bisa tenang dan damai. Dari siang dia sekali tidak melepaskan mukenanya, dan juga tidak pernah terlepas Al-Quran dari tangannya, hanya saat sholat saja dia menaruh di meja sebelahnya.


Apa yang dilakukan oleh Aisyah membuat kedua orang tuanya merasa bingung, berkali-kali mereka menunggu Aisyah keluar namun tak kunjung mereka lihat anak gadisnya itu keluar.


Keisha begitu gelisah memikirkan apa yang terjadi pada Aisyah, sementara Rayyan dia masih tetap sama, teguh dalam pendiriannya dan tidak pernah sedikitpun hatinya meleleh.


"Pa, apa tidak seharusnya papa pertimbangkan lagi tentang perjodohan Aisyah, Pa? Mama sangat takut kalau apa yang Aisyah katakan waktu itu akan benar-benar dia lakukan. Papa sendiri kan tau bagaimana watak Aisyah, dia tidak akan pernah menarik apa yang sudah keluar dari mulutnya, Pa." ujar Keisha khawatir.


"Sudah lah, Ma! Jangan terlalu pusing. Papa yakin Aisyah tidak akan pernah melakukan itu. Dia adalah anakku, aku yang lebih tau, Ma." jawab Rayyan yang terlalu percaya diri.


"Tapi, Pa?" Seorang ibu mana yang tidak akan khawatir dengan masa depan anaknya yang hanya diinginkan oleh orang tuanya saja dan bukan keinginannya sendiri.


Aisyah juga punya keinginan, dia juga punya mimpi yang tak seharusnya orang tuanya ikut campur. Jika yang dipilih Aisyah itu salah atau hal yang buruk orang tuanya bisa ikut campur, tapi ini? Ini adalah masa depan untuknya, dan dia yang akan menjalaninya seumur hidupnya, seharusnya orang tuanya hanya bisa mendoakan kebaikan dan memberikan restu padanya.


"Sudahlah, Ma. Percaya pada papa, Aisyah akan baik-baik saja." Kekeuh Rayyan yang tak pernah berfikir bagaimana isi hati dan kemauan dari seorang Aisyah.


Baginya, keputusannya adalah yang terbaik semuanya harus menurutinya karena itu adalah kebaikan untuk semua.


Tapi Rayyan tidak pernah berfikir bahwa kerasnya dirinyalah yang telah menghancurkan hati dari anaknya sendiri. Menghancurkan mimpi dan juga kebahagiaannya. Mungkin benar kelak Aisyah bisa bahagia dengan pilihannya, tapi pasti akan ada bekas yang tak bisa hilang meskipun dia berusaha tersenyum.


"Semoga papa benar." jawab Keisha lesu.


__


Bersambung...

__ADS_1


_________


__ADS_2