
__
Happy Reading....
___________________
Rayyan keluar dari kamar Aisyah dengan membawa sejuta kekesalannya. Hanya satu anaknya inilah yang selalu menguras emosinya. Aisyah begitu keras kepala dan tak mudah di luluhkan begitu saja hatinya, hatinya benar-benar sekeras batu hitam.
Berkali-kali Rayyan mengusap wajahnya yang frustasi, mau bagaimana lagi dia akan menghadapi anak gadisnya itu, dia menginginkan semua mimpi yang besar untuk Aisyah dan juga Farel namun sepertinya itu tak akan semudah yang dia harapkan.
Dia kira setelah pulang dari Negara asing Aisyah akan lebih dewasa dan akan melakukan apapun yang dia inginkan namun ternyata dia salah. Sifat manis, jailnya kini hilang dan tergantikan dengan sifat yang keras kepala dan suka membangkang, itulah menurut Rayyan.
"Mau bagaimana lagi aku menghadapi anak itu? Dia selalu saja membuat ku pusing, membuat darahku seakan mendidih. " Gerutu Rayyan kesal.
Langkah Rayyan semakin cepat, dia ingin cepat sampai di kamarnya dan menenangkan dirinya sejenak, menghilangkan kepenatan yang terjadi karena menghadapi Aisyah.
Belum juga sampai di kamarnya, Rayyan berpapasan dengan Fikri mereka berdua berhenti dan saling ngobrol.
"Assalamu'alaikum, Dek. " Sapa Fikri.
"Wa'alaikumsalam, kak. Ada apa kak, ada yang bisa saya bantu? " Tanya Rayyan begitu lembut, begitu berbeda dengan nada suara yang barusan dia katakan saat bersama dengan Aisyah.
Begitu lemah lembut perkataan Rayyan, namun itu semua berbanding terbalik saat dia berbicara dengan anak gadisnya, mungkin itulah yang membuat Aisyah selalu meragukan akan hubungan dirinya dan juga Rayyan apakah mungkin mereka memang tidak ada ikatan darah sama sekali? Tapi semua itu sudah tak lagi keluar dari mulut Aisyah karena dia ingin menjaga perasaan dari Keisha.
"Tidak, tidak ada hal yang serius. Hem...? Bagaimana dengan kelangsungan hubungan Aisyah dan Farel, Dek? Kapan pertunangannya akan kembali di langsungkan? " Tanya Fikri.
"Belum tau juga, Kak. Tapi akan secepatnya saya kasih tau kalau sudah hampir tiba waktunya. Ini baru saja saya usahakan, Kak." Jawab Rayyan yang begitu percaya diri kalau dia akan berhasil membuat hati Aisyah luluh dan bisa menerima perjodohan ini.
"Sebaiknya di pikirkan secara matang-matang dulu Dek. Jangan sampai semuanya kacau seperti kemarin, semuanya harus di pertimbangan dengan baik. " Fikri menyentuh bahu Rayyan mencoba memberikan pengertian pada Rayyan.
Fikri hanya ingin kebaikan untuk semuanya, Fikri juga tau kalau sebenarnya Aisyah menolak perjodohan yang di putuskan sepihak oleh Rayyan sendiri, Fikri mengetahui segalanya.
Rayyan tersenyum kecut mendengarkan kata-kata Fikri barusan, dia sudah sangat yakin dengan keputusan, keputusannya pasti benar tidak akan pernah sama sekali.
"Saya sudah pikirkan itu kak. " Jawab Rayyan.
"Alhamdulillah kalau begitu, kakak lega dengernya. Semoga semuanya lancar ya Dek. Semoga semuanya bisa bahagia dengan keputusan mu, Dek. " Fikri yang terus berharap.
__ADS_1
"Amin, itu pasti Kak. Kalau begitu saya permisi Kak, sudah malam juga sebaiknya kak Fikri istirahat. " Ucap Rayyan.
"Hem." Fikri mengangguk pelan.
"Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikumsalam." Jawab Fikri.
Rayyan pergi meninggalkan Fikri yang masih terdiam dengan menatap kepergiannya. Entah kenapa tapi Fikri merasa ada hal yang salah dengan keputusan ini.
"Semoga keputusanmu benar Dek." Gumam Fikri setelah itu dia pergi juga setelah tak melihat Rayyan lagi.
_______
Pagi begitu cerah, semua mata sudah bersinar terang menyambut hari baru untuk menggapai semua mimpi-mimpi yang sempat tertunda karena mata yang terlelap di saat malam.
Sudah sejak pagi-pagi Rico sudah pergi ke bengkelnya, dia harus bisa bekerja keras untuk bisa membahagiakan dan memberikan semua yang di minta oleh gadisnya kelak.
Meskipun hanya usaha kecil-kecilan tapi Rico begitu senang karena itu adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri tanpa campur tangan orang lain.
Pagi-pagi namun wajah Rico sudah penuh dengan oli, seseorang dia mengusap keringat yang mulai keluar namun itu semakin memperbanyak oli di semua wajahnya.
Bukan hanya ahli berkutat dengan peralatan dapur alias memasak berbagai hidangan namun tangan Rico juga sangat ajaib dan mampu membenarkan motor yang benar-benar tak bisa di perbaiki oleh pekerjanya.
"Sebentar lagi selesai." Ucapnya.
Belum semua terpasang Rico menjajal menyalakan mesin motornya, beberapa kali di nyalakan namun belum juga bisa menyala, Rico kembali berjongkok dan kembali mengecek bagian mana yang masih bermasalah.
Sekali lagi Rico berdiri dan menyalakannya, Satu.. Dua.. Tiga.., belum juga menyala. Hingga yang ke empat nya kini membuat Rico tersenyum puas karena motor berhasil menyala.
"Alhamdulillah." Ucap Rico penuh syukur.
Masih dalam keadaan menyala Rico kembali menunduk dan kini memasang semua onderdil yang masih tersisa.
Begitu telaten Rico membenahi motor itu hingga kini kembali menyala, semua memang membutuhkan kesabaran, Semua tidak akan pernah bisa kembali dengan benar jika di lakukan dengan buru-buru.
Lima belas menit semuanya beres, semua sudah terpasang seperti sedia kala namun mesinnya masih tetap menyala.
__ADS_1
𝘗𝘳𝘢𝘯𝘬𝘬...
Sebuah vas di atas meja tiba-tiba terjatuh, Rico terkejut dan seketika menoleh ke arah vas yang sudah pecah dan berserakan di atas lantai.
"Kalian bisa main di tempat lain nggak sih! Semua barang-barang ku akan habis kalau kalian terus main di sini dan menghancurkan satu persatu satu barang-barang ku." Sungut Rico.
Bukan tanpa Alasan dan tidak ada siapapun di sana, tapi ada dua penghuni lain yang kasat mata namun tetap bisa di lihat oleh Rico yang memiliki kemampuan untuk itu.
Kedua makhluk itu tertunduk karena bentakan dari Rico barusan, merdeka adalah arwah dari satu anak laki-laki yang mungkin kini berusia dua belas tahun dan juga anak perempuan yang mungkin berusia sepuluh tahun.
Mereka adalah saudara kandung, yang dulunya kecelakaan di depan bengkel Rico, hingga kini arwah mereka belum juga pergi dari sana dan malah menempati bengkel Rico.
"Maaf Kak. " Ucapnya menyesal.
"Kalau sampai besok-besok ada barang kakak yang pecah dan rusak lagi kakak tidak akan izinin kalian tinggal di sini lagi, mengerti!"
Keduanya mengangguk takut. Berkali-kali Rico meminta keduanya pergi dari sana namun mereka tetap tidak pergi, mereka selalu bilang kalau mereka menunggu orang tua mereka menjemputnya, dan setelah itu mereka baru bisa pergi.
"Sudah sudah! Jangan pasang wajah cemberut seperti itu lagi? Itu tetap tidak akan bisa membuat vas itu kembali lagi kan?" Ucap Rico yang kesal.
Bagaimana tidak kesal, setiap hari ada-ada saja laporan dari para pekerjanya tentang kerusakan dari setiap barang-barang yang ada di sana. Meskipun Rico tidak melihatnya langsung namun dia tau itu karena perbuatan mereka berdua.
"Maaf kak. " Keduanya mulai berkaca-kaca dengan wajah menunduk takut dan begitu menyesal.
Melihat wajah itu membuat Rico tidak tega juga, dan akhirnya dia memaafkan mereka berdua. "Iya, kakak maafin, tapi ingat! Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama lagi? Kalian mengerti? "
"Iya Kak. " Jawabnya.
"Sudah jangan nangis. "
"Iya kak. " Jawab keduanya serentak.
"Ingat, jangan ulangi lagi, oke. " Ucap Rico menegaskan.
"Bang Rico bicara dengan siapa? "
_____
__ADS_1
Bersambung...
______________