
_____
Happy Reading....
___________________
"Farel! " Panggil Rayyan, yang melihat Farel baru pulang dari kampus, entah apa yang anak itu pikirkan sampai-sampai Farel tak melihat dirinya yang ada di teras.
Dengan gerakan cepat Farel menoleh, dia bingung bagaimana bisa dia tak melihat keberadaan Rayyan di sana. Farel tak habis pikir dengan dirinya sendiri, sepertinya dia benar-benar kalut dan pikirannya sangat kacau saat ini.
Farel kembali berjalan, namun tidak ke arah yang tadi melainkan mengganti arah langkahnya ke tempat Rayyan berada dan menunggu dirinya.
"Maaf, Om. Tadi Farel tidak melihat. " Ucap Farel menyesal.
"Kamu kenapa, apa ada masalah? " Tanya Rayyan ingin tau, soalnya tak biasanya Farel akan seperti ini. Biasanya dia selalu teliti dalam berbagai hal, tapi sekarang? Sepertinya dia benar-benar sedang ada masalah.
Farel bingung juga sebenarnya, ini bukan masalah besar, namun kenapa rasanya begitu besar untuknya. Ini menyangkut pada dirinya dan Aisyah bagaimana ini tidak menjadikan masalah besar.
"Tidak, Om. Farel hanya lelah saja. " Jawabnya dengan berbohong.
"Aku tau kamu, Rel. Kamu tidak pandai berbohong. Coba cerita sama om, siapa tau om bisa bantu." Kekeuh Rayyan.
Farel diam, dia tidak ingin menjadi orang yang selalu mengadu pada orang yang selalu membelanya, dia ingin mandiri, dia ingin bisa lebih dewasa dalam menyikapi masalah ini, dan tentunya dia juga tidak ingin selalu mengandalkan bantuan orang lain, itu akan membuat dirinya jatuh di mata Aisyah nantinya kalau sampai dia tau.
"Beneran, Om. Farel tidak ada apa-apa." Jawab Farel yang tetap tak mau menceritakan masalahnya.
Padahal jelas-jelas dia sedang ada masalah, dia bingung bagaimana lagi untuk bisa berusaha mendapatkan hati seorang Aisyah, kenapa rasanya sangat susah.
Rayyan mengangguk dia maklum mungkin itu adalah privasi Farel yang dirinya tak bisa ikut campur. "Baiklah. Hem..., bagaimana dengan Aisyah saat di kampus, dia tidak melakukan yang aneh-aneh kan? " Tanya Rayyan.
Baru saja Farel akan menutupi semua yang terjadi di kampus, eh..., sekarang malah dengan sendirinya Rayyan bertanya.
"Dan..., Rico tidak pernah mendatangi Aisyah di kampus kan?" Tanya Rayyan dengan suara sedikit berbisik.
Sepertinya Rayyan belum tau kalau ternyata Rico juga sama seperti Farel, Rico dan Farel memiliki kedudukan yang sama di kampus dan itu kampus di mana Aisyah kuliah, jadi bagaimana bisa Rico tidak pernah mendatanginya? Meskipun mereka tak saling niat pun pasti mereka akan saling bertemu, contohnya tadi pagi.
"Rico...? "
__ADS_1
"Tidak kan? Rico tidak pernah datang ke kampus Aisyah kan? " Rayyan semakin penasaran.
"Rico sama seperti Farel, Om. Rico juga menjadi mentor di kampus itu. " Akhirnya Farel mengucapkan juga, memberitahu kalau Rico juga ada di sana.
"Astaghfirullah." Rayyan terhenyak, dia melangkah mundur satu langkah dan tangannya langsung menyibak rambutnya kasar.
"Maaf, Om. Maaf karena baru kali ini Farel bilang sama, Om." Ucap Farel menyesal.
Rayyan menyesali semua yang sudah terjadi sekarang ini, dia memasukkan Aisyah di kampus itu karena ada Farel di sana, dan dia berharap Farel bisa mengawasi Aisyah dan hubungan mereka bisa semakin dekat.
Kalau saja dia tau Rico juga ada di sana mana mungkin Rayyan akan memasukkan Aisyah di sana juga. Percuma juga dia selalu menyuruh Rico untuk menjauhi Aisyah padahal mereka berdua selalu bertemu.
"Sudahlah, semuanya juga sudah terjadi. Yang penting kamu selalu awasi mereka, kalau ada apa-apa bilang sama, Om." Ucap Rayyan.
"Baik om." Jawab Farel.
______
Aisyah terus mondar-mandir di dalam kamar, penyelidikannya belum juga membuahkan hasil, dia tidak percaya kalau orang yang mengeroyok Rico kemarin adalah suruhan dari papanya, namun kenapa semua bukti mengarah kepadanya.
"Siapa yang benar, dan siapa yang salah? Siapa yang harus aku percaya, papa atau para brandal bayaran itu? " Bingung Aisyah.
Aisyah ingin tidak percaya, namun kenapa bukti memberatkan Rayyan, tak ada yang lain yang menentang keras hubungan mereka, hanya Rayyan saja yang benar tak menyukai Rico, tapi kenapa hati Aisyah sangat ragu untuk bisa percaya.
Di saat Aisyah tengah bingung, ada yang mengetuk pintu kamarnya, Aisyah tidak tau itu siapa namun belum juga Aisyah keluar untuk memastikan kebingungannya terjawab karena pintu itu sudah terbuka dan pelakunya adalah sang papa, Rayyan.
"Pa." Aisyah mengernyit, ada apa Papanya datang secara langsung ke kamarnya dan tak sabar hingga dia membuka pintunya sendiri.
"Syah, papa mau ngomong padamu." Rayyan nyelonong masuk dan Aisyah hanya bisa membiarkan begitu saja tanpa menolak ataupun protes.
Tanpa di minta, Rayyan pun sudah duduk di sofa sepertinya dia memang sengaja melakukan itu.
Aisyah berjalan menyusul dan duduk di sofa lainnya. "Ada apa, Pa? " Tanya Aisyah.
"Papa denger, Rico juga menjadi mentor di kampus mu, apa itu benar? " Rayyan balik tanya.
"Iya, emang kenapa? "
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang sama papa? Atau kamu memang berniat ingin lebih dekat dengan Rico? "
"Papa tidak pernah bertanya, lagian dekat dan tidaknya Aisyah dengan bang Rico apa hubungannya dengan papa? " Aisyah masih saja sewot jika berhadapan dengan papanya. Luka di hatinya benar-benar tak akan mudah sembuh begitu saja.
"Aisyah, papa berikan kebebasan buat kamu bukan berarti kamu harus melupakan perjodohan mu, meskipun papa diam saja bukan berarti papa mengizinkan kamu dekat dengan Rico. Bagaimanapun juga kamu hanya akan menikah dengan Farel, bukan dengan siapapun apalagi dengan Rico. " Tegas Rayyan.
"Kenapa tidak boleh,Pa. Apa kesalahan Bang Rico? Apa kurangnya Bang Rico? " Heran Aisyah dengan jalan pikiran Rayyan.
"Pokoknya papa tidak setuju kamu bergaul dengan Rico. Kamu itu sudah akan bertunangan Aisyah! Kamu harus menjaga kehormatan papa yang sudah lebih dulu kamu permalukan! Apa sekarang kamu akan mempermalukan papa lagi? Iya! "
"Apa yang Aisyah lakukan, Pa. Aisyah tidak pernah berniat mempermalukan papa! Tapi papa sendiri! "
"Kau pikir papa akan sengaja mempermalukan papa sendiri begitu? Kalau kamu tidak lari dalam pertunangan papa tidak akan malu! "
"Papa juga tidak akan malu atau merasa di permalukan kalau papa tidak kekeuh menjodohkan Aisyah, Pa. ''Jawab Aisyah tak mau kalah.
Tak akan pernah ada habisnya jika mereka berdua sudah saling beradu argumen. Tak ada yang mau mengalah dan mereka ingin menang.
Aisyah tidak ingin melawan papanya sendiri jika tidak kelewat batas, udah berkali-kali Rayyan melakukan itu padanya, mengatur semua kehidupannya, dan terus bertindak egois sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan Aisyah.
Kedua abangnya menikah karena cinta Rayyan tidak pernah keberatan dan malah senang akan hal itu, Faisal pun sepertinya juga akan demikian menikah karena cinta, tapi kenapa hanya dirinya yang seakan tak bisa menikah karena cinta? Kenapa Rayyan begitu tidak adil? Apakah karena Aisyah anak perempuan dan harus di beda-bedakan dengan ketiga abangnya yang laki-laki?.
Aisyah hanya ingin bisa seperti ketiga abangnya, mencari keadilan yang seadil-adilnya, jika mereka bisa menikah karena cinta kenapa tidak bisa dengan Aisyah? Dia juga harus bisa menikah karena cinta, bukan karena perjodohan yang di paksakan.
Keinginan Aisyah hanya satu saja, entah anak laki-laki ataupun perempuan harus mendapatkan hak yang sama, tidak bisa di beda-bedakan. Keinginan Aisyah juga tidak muluk-muluk, dia hanya ingin bisa membina rumah tangga yang bahagia bersama orang yang dia cintai sama seperti para abangnya, itu saja.
"Kalau kamu tetap kekeuh dengan keras kepalamu sendiri, jangan salahkan papa kalau kamu papa pindahin ke kampus lain, Aisyah! " Tukas Rayyan.
"Apa Aisyah pernah menolak apapun yang papa inginkan, tidak kan? Kalau papa mau pindahin Aisyah pindahin saja, Pa. Tapi hanya dari yang akan selalu Aisyah tolak dari papa, yaitu perjodohan." Kekeuh Aisyah.
Sekeras-kerasnya Aisyah dia selalu melakukan yang Rayyan katakan dan perintahkan, meski awalnya dia akan terus mengomel namun tetap saja itu dia kerjakan, tapi hanya perjodohan itulah yang tidak bisa Aisyah terima, dan Aisyah selalu menolaknya, karena satu keputusan untuk pernikahan itu akan menentukan masa depan untuk seumur hidupnya.
____
Bersambung....
_________________
__ADS_1