
___
Happy Reading....
________________
"Assalamu'alaikum... Neng geulis, Akang boleh ikut nimbrung kah?" Baru saja minta izin dan belum mendapatkan jawaban dari Shelvia, Iqbal sudah duduk begitu saja.
Bukan tanpa sebab Iqbal datang ke kampus dan kini ikutan bergabung duduk di kantin bersama dengan Shelvia, Meyka dan juga Aisyah. Iqbal sangat merindukan gadis nya yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu.
Ketiga gadis itu langsung menoleh, Aisyah juga Meyka hanya berwajah datar dan biasa-biasa saja sembari mengangguk mengizinkan tapi berbeda dengan Shelvia, wajahnya sudah tertekuk kusut karena tak menginginkan kedatangan Iqbal di sana.
"Ya elah Neng geulis, wajahnya acem banget nggak enak di lihat banget sih. Seharusnya kalau Akang datang itu di sambut dengan senyuman yang manis gitu. Menyenangkan hati pasangan itu pahalanya besar loh." ucap Iqbal dengan kepala besar.
"Tuh dengar kak Via, menyenangkan hati pasangan itu pahalanya besar. Jadi jangan sia-siakan itu. Hanya sedikit senyuman nggak akan membuat kurus juga kan? " saut Aisyah sembari tersenyum kecil.
"Betul tuh." Meyka tak tinggal diam.
Shelvia mengernyit, apakah kedua sepupunya sudah kehilangan akal? Bagaimana bisa mereka berdua memintanya untuk tersenyum manis kepada pria yang sama sekali tidak ada hubungan dengan dirinya.
Sepertinya kedua sepupunya membutuhkan pembelajaran yang lebih baik lagi, sepertinya lima tahun menimba ilmu di negeri orang nyatanya itu masih sangat kurang.
Wajah tak bersahabat dari Shelvia sangat membuat mereka berdua senang, keduanya terkekeh dengan girang di hadapan Shelvia.
"Apakah kalian berdua menertawakan ku!" Kesal Shelvia.
"Bukan menertawakan Kak Via, tapi lihatlah betapa lucunya wajah kak Via! Itu sangat mengagumkan. Bagaimana mungkin kami mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, Kak. Kami hanya bergurau saja! Sepertinya sekarang Kak Via benar-benar sudah mulai terpengaruh kepada Kak Iqbal. Selamat Kak Iqbal, sebentar lagi kakak pasti akan berhasil mencairkan es balik dari kutub Selatan."
Aisyah begitu senang bisa menggoda Shelvia, akhirnya setelah sekian lama dia bisa juga membuat Shelvia bertekuk wajah karenanya.
"Dasar! "
Iqbal terpaku melihat wajah Shelvia, kedua tangannya menjadi tumpuan wajahnya sendiri, matanya begitu fokus bahkan sama sekali tidak berkedip. "Mempesona." celetuknya.
𝘛𝘶𝘬𝘬....
Sendok es berhasil mendarat manis di kepala Iqbal dari Shelvia, dia begitu kesal melihat wajah Iqbal yang terus mengarah padanya.
"Kok di pukul sih, Neng. Seharusnya di pukul nya pakai kasih sayang yang melimpah ruah, jadi Akang semakin betah berada di samping Eneng. Dan akan selalu setia untuk selama-lamanya." ucap Iqbal menghayati.
"Ogah..!" Ketus Shelvia.
Melihat Shelvia yang terus kesal membuat Iqbal begitu senang senyumnya terus merekah, apa yang di alami oleh hatinya Iqbal ternyata berbanding terbalik dengan hati Shelvia.
"Aku mau pulang! " Shelvia langsung beranjak begitu saja meninggalkan Aisyah yang masih terus membaca sementara Meyka yang tengah minum.
"Lah, kok pulang sih kak!" Pekik Aisyah.
__ADS_1
Shelvia tak mendengar teriakan dari Aisyah dia langsung pergi begitu saja, yang jelas Iqbal tidak akan diam begitu saja dia langsung beranjak juga dan mengejar Shelvia.
"Assalamu'alaikum, Syah, Mey..., pergi dulu ya. Lagi mau kerja keras." Iqbal melambaikan tangan sejenak kepada keduanya sebelum dia benar-benar lari mengejar Shelvia.
Keduanya cengo menatap Shelvia dan Iqbal yang semakin jauh. "Perjuangan kak Iqbal harus besar, kalau tidak dia tidak akan bisa mendapatkan hati dari seorang Shelvia Anggraini, " ucap Aisyah.
"Senang ya kalian berdua, kalian ada orang yang benar-benar mau berjuang demi bisa mendapatkan kalian berdua," Meyka bertekuk wajah, dia benar-benar belum bisa di bilang beruntung.
"Tenang lah, Mey. Suatu saat kamu pasti akan mendapatkan orang yang seperti itu juga. Mungkin memang belum saatnya saja jadi Allah masih menyimpannya rapat, " jawab Aisyah.
"Mungkin? Syah, kamu besok masih puasa?" tanya Meyka.
"InsyaAllah, Masih. "
_______
Iqbal begitu getol mengejar Shelvia, dia tidak ingin meninggalkannya sama sekali, dia masih sangat merindukannya. "Neng, tungguin Akang dong! "
Shelvia acuh, dia sana sekali tak peduli dengan apapun kata yang keluar dari mulut Iqbal, Shelvia tetap kekeuh untuk pergi.
Shelvia yang terus melaju tak melihat apapun lagi, bahkan ada ranting kering yang akan jatuh dan tepat di atasnya.
"Shelviaaa... Awaaasssss....! " Iqbal langsung menubruk Shelvia dari belakang karena keduanya sama-sama tidak seimbang menjadikan keduanya terguling beberapa kali di tempat yang sedikit miring.
Iqbal terus mendekap kepala dan tubuh Shelvia menahannya di dada bidangnya supaya tidak terbentur. "𝘋𝘶𝘨𝘩...
Satu tangan yang tadinya mengikat tubuh Shelvia kini sudah berada di kepalanya dan terus memijatnya dengan mata terpejam.
Shelvia yang masih sangat syok terdiam di dekapan Iqbal, sementara di sana langsung banyak orang karena kejadian itu begitu menyita perhatian mereka semuanya.
"Shelvia, kamu tidak apa-apa kan? "Mata Iqbal terbuka dia langsung fokus dengan keadaan Shelvia, melupakan rasa sakitnya yang ada di kepalanya yang sedikit benjol.
𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨... 𝘋𝘦𝘨...
Jantung Shelvia mulai bekerja setelah dia menyadari di ada di mana dengan posisi yang seperti apa, Shelvia ada di atas tubuh Iqbal dan satu tangan Iqbal masih berada di atas kepalanya.
" Hem.. " Shelvia mendongak di lihatnya wajah Iqbal yang menahan sakit namun berusaha melihat nya. "Hem..., maaf. " Shelvia langsung menyingkir dari tubuh Iqbal namun masih duduk di sana.
"Kamu tidak salah, ini adalah kecelakaan." Iqbal juga menyusul duduk satu tangannya masih terus mengelus kepala belakangnya yang benjol.
"Kak Iqbal bagaimana apa ada yang sakit?" tanya Shelvia khawatir, dan kini nada bicara tak lagi ketus seperti tadi.
"Nggak apa-apa hanya sedikit benjol saja. Nanti di pijat-pijat juga akan sembuh lagi, " jawab Iqbal.
"Benjol? Nggak nggak! Itu tidak baik-baik, kita harus ke rumah sakit sekarang! " Shelvia begitu panik mendengar kata benjol dari Iqbal, ya tapi emang benjol sih.
"Nggak usah, Via. Ini hanya sebesar kelereng saja belum sebesar telur ayam, " Celetuknya.
__ADS_1
"A-apa! Sebesar kelereng?! Kita harus ke rumah sakit sekarang. "
"Tidak usah, " jawab Iqbal malas.
"Kita harus ke rumah sakit, kalau Kak Iqbal tidak mau, aku tidak mau bertemu dengan Kak Iqbal lagi, titik! "
"Iya-iya! Ikut aja lah sama calon bini." Iqbal beranjak dengan pelan, begitu juga dengan Shelvia.
____
Rico terus melihat setiap penjuru di Restonya, begitu banyak pengunjung yang datang bahkan semua kursi penuh, ya meskipun beberapa dari mereka hanya minum kopi saja.
Rico begitu senang melihat perkembangan dari Restonya, semakin hari semakin ramai pengunjung, sepertinya Allah memang mempermudah dia untuk bisa mengumpulkan pundi-pundi uang.
Sembari duduk Rico juga tak melepaskan bukunya, dia terus membaca dan membaca mencoba memahami maknanya, belajar seorang diri itu ternyata tak semudah seperti yang dia bayangkan. Belajar akan lebih mudah juga ada pembimbingnya, tapi kapan Rico bisa fokus dengan pembimbing kalau dia juga harus mewujudkan yang satunya lagi.
Terpaksa Rico belajar secara otodidak, jika ada yang benar-benar doa tidak mengerti dia akan menanyakan pada mbah Google saja.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar." gumamnya.
Baru beberapa saat Rico diam ponselnya berbunyi dan tertera Bunda di sana, Rico pun langsung mengangkatnya.
Sementara dari rumah Rico, Bunda begitu panik seorang diri air matanya terus mengucur bebas setelah dia melihat Ayah terbujur tak sadarkan diri karena jatuh di kamar mandi.
"Astaghfirullah, Ayah! " Pekik Bunda.
"Kenapa bisa seperti ini, Ayah bangun Yah, bangun." ucap Bunda sembari terisak.
Begitu panik Bunda kembali keluar dari kamar mandi menyambar ponselnya untuk menghubungi Rico.
Dengan tangan gemetar Bunda mencari nomor Rico, setelah menemukannya Bunda langsung menghubunginya.
𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...
"𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘉𝘶𝘯.. 𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢? 𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢... " 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪.
"Wa'alaikumsalam... Rico, kamu harus pulang Nak. Ayah,, ayah jatuh di kamar mandi, sekarang ayah tak sadarkan diri. " Saut Bunda sebelum Rico menyelesaikan kata-katanya.
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩! 𝘒𝘰𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢, 𝘉𝘶𝘯! 𝘠𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨... " 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...
Telfon terputus mungkin Rico sudah langsung pulang setelah mendengarkan penjelasan Bunda.
___
Bersambung....
______________
__ADS_1