
Happy Reading...
Meyka menunggu di salah satu kursi di resto Nusantara, semua itu adalah keinginan dari Dante. Katanya dia sedang menyediakan makanan spesial untuknya, khusus dan baru untuk Meyka dan dirinya adalah orang pertama yang mencicipi makanan itu, entah seperti apa makanan yang Dante buat.
Sebenarnya Meyka ingin membantu Dante namun tidak di perbolehkan, alasannya karena ini adalah makanan spesial darinya jadi Meyka tidak boleh ikut campur tangan dan tak boleh melihat juga.
"Mana sih, lama banget kak Dante," mata Meyka terus menerawang jauh ke arah pintu akses keluar masuk dari dapur.
Sungguh tak enak rasanya menunggu, jenuh juga bosan Meyka rasakan. Mana orang yang memintanya untuk menunggu tak kunjung datang lagi.
Meyka mengalihkan pandangannya ke arah lain, di lihatlah para pengunjung yang terus keluar masuk ke resto Nusantara itu. Resto itu tak pernah sepi akan pengunjung, baru di buka saja resto itu langsung ramai begitu saja. Rezeki Rico benar-benar bagus dalam bisnis kuliner.
Cepat atau lambat usaha Rico pasti akan berkembang, bukan hanya satu atau dua resto selanjutnya tapi pasti akan lebih banyak lagi di setiap tempat. Rico juga sangat pintar memilih tempat, begitu strategis.
"Tara...! makanan spesial untuk orang yang spesial sudah jadi! " seru Dante.
Meyka langsung menoleh cepat ternyata Dante sudah ada di depannya dan siap untuk duduk. Tangannya memegangi nampan putih dan ada dua piring putih yang masih di tutup rapat.
Aromanya sangat menggairahkan, begitu menggugah selera makan untuk Meyka. Perutnya juga langsung keroncongan meski baru menghirup aromanya saja.
Tapi Meyka mengernyit karena mendengar seruan dari Dante barusan, orang spesial, maksudnya? apakah mungkin Meyka yang orang spesial itu menurut Dante?
"Mak-maksudnya orang spesial? " tanya Meyka masih tak mengerti.
"Hemm.., bukan apa-apa. Lihatlah apa yang aku masak untuk makan siang kita. Maaf ya kamu harus nunggu lama, kamu pasti sudah sangat lapar ya," ucap Dante dengan nada yang begitu sangat menyesal.
"Tidak kok, Kak. Tidak lama," jawab Meyka.
"Emangnya apa yang Kak Dante masak?" Meyka semakin tak sabar, dia ingin cepat melihat dan menikmati rasanya. Pasti sangat enak karena baunya juga sangat sedap.
Dante tersenyum melihat Meyka yang tak sabar, apalagi Dante sendiri dia juga sangat tidak sabar ingin mendengarkan pendapat Meyka tentang makanan baru itu.
Meskipun Dante hanya bekerja di sana namun Rico tidak pernah membatasi geraknya, mau Dante masak apapun tak ada masalah untuknya, karena setiap percobaan Dante selalu berhasil dan selalu saja menjadi makanan favorit juga di restonya.
Perlahan Dante membuka tutup dari kedua piring putih itu, bentuknya yang satu masih sangat sederhana belum di hias menjadi cantik, tapi tetap terlihat menarik. Sementara yang satunya? Membuat Meyka tak percaya.
Matanya langsung memandangi Dante untuk meminta penjelasan akan apa yang tertulis di sana.
"Will you merry me..?" ucap Dante mengulang kata yang ada di atas kue putih yang di hias begitu banyak bunga mawar di atasnya. Menggunakan bahan kue juga.
__ADS_1
Meyka masih tak percaya, benarkah Dante tengah melamarnya? di depan banyak orang yang ada di sana juga?
Apa yang harus Meyka katakan? Meyka masih sangat bingung mengenai jawabannya. Dante sangat baik padanya, dia juga seperti sangat mencintainya. Tapi Meyka takut karena pasti belum bisa memberikan cintanya untuk Dante.
Dante masih setia menunggu, memang takkan mudah membuat Meyka menerima ungkapan hatinya. Dante sudah merasa siap, Dante tidak mencari pacar lagi melainkan mencari pendamping hidup yang akan selalu menemaninya sebagai seorang istri.
"Aku tau kamu masih bingung, aku tau kamu juga takut karena belum bisa mencintai ku. Tapi aku akan selalu menunggumu. Aku akan selalu menunggu sampai cinta itu benar-benar hadir di hatimu. Aku juga belum benar-benar mencintaimu segenap hati, tapi aku sudah sangat yakin, dan aku akan selalu menumbuhkan cintaku di saat kita sudah halal."
"Meyka, apakah kamu mau berjuang untuk menubuhkan cinta bersama denganku? Membuat dua hati kita menjadi satu? mengikis dang menghapus jarak mahram yang mengharamkan kita? Mengukir cinta bersama-sama? " ucap Dante yang benar-benar berharap akan di terima oleh Meyka.
Apakah Meyka harus menerimanya?
Lalu bagaimana dengan hati yang sudah terlanjur ada pria lain di dalamnya, apakah dia harus menghapusnya perlahan dan menempatkan pria yang ada di hadapannya ini untuk menggantikannya?
Sungguh sulit jika hati sudah ada yang lain, pasti akan ada dilema, akan ada rasa bimbang untuk memilih salah satu di antara keduanya.
Tapi Meyka juga tak bisa berharap lebih pada pria yang ada di hatinya sekarang, pria yang sama sekali tak pernah menoleh ke arahnya. Pria yang sama sekali tak pernah menganggapnya penting.
"Lebih baik Kak Dante minta izin sama Abi. Karena saat ini Meyka masih milik Abi sepenuhnya. Jika Kak Dante benar-benar serius maka mintalah Meyka pada Abi juga Umi. Meyka tidak akan memberikan jawaban sebelum Abi juga Umi," wajah Meyka menunduk.
Ada lampu hijau dari Meyka, meski tidak menerimanya tapi Meyka juga tidak menolaknya. Ada secercah harapan untuk Dante bisa memiliki Meyka.
Meyka diam menunduk. Diam berarti iya, dan itu membuat Dante sangat senang. Hatinya sungguh berbunga-bunga.
"Alhamdulillah, aku janji tidak akan mengecewakanmu, aku akan berusaha untuk membahagiakanmu." ucap Dante lagi.
"Sekarang cicipi makanan spesial ini, dan katakan bagaimana pendapatmu," pinta Dante.
"Hem..," Meyka mengangguk pelan, dia mulai menikmati makanan yang Dante buat secara khusus untuknya.
Dante diam menunggu pendapat Meyka.
"Enak," satu kata saja yang Meyka katakan, dan itu sudah membuat Dante bahagia. Dia telah berhasil membuat Meyka menyukai makanannya, dan dia yakin juga akan menerima dirinya.
Dua pasang mata menatap keduanya dengan cerah, kebahagiaan juga terpancar dari keduanya.
"Satu persatu kebahagiaan akan menyempurnakan hidup kita semua, aku kamu, Dante Meyka, Shelvia Iqbal, juga Kak Faisal dengan...? " ucapan Rico terhenti.
"Bang Faisal dengan siapa, apa kak Aira?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Hemm..., waktu yang akan menjawabnya. Kita semua akan mengetahuinya," Rico cengengesan mengatakan itu membuat Aisyah semakin penasaran. Entah siapa yang akan menjadi jodoh Faisal kelak.
"Apa kamu lapar? " tanya Rico. Aisyah langsung mengangguk dia memang sangat lapar karena baru pulang dari kampus dan juga belum makan apapun.
"Kita pergi ke dapur, dan biarkan aku yang memasak untuk mu. Aku juga tidak mau kalah dengan Dante. Aku juga bisa romantis lah," Rico merangkul pinggang Aisyah dan menuntunnya untuk mulai melangkah.
"Aku bantuin ya? " tawar Aisyah.
"Tidak usah, kamu tinggal duduk manis, menunggu makanan jadi setelah itu kasih aku komentar yang panjang kayak kereta," gurau Rico.
"Ahhh..., Bang Rico nyontek idenya kak Dante."
"Mana ada?" Rico tak rela di bilang nyontek padahal memang benar kan?
Rico meminta Aisyah untuk duduk menunggu dirinya. Setelah Aisyah duduk Rico mulai bergerak kesana kemari untuk melakukan keajaiban dengan tangannya.
"Ini tidak nyontek ya, kan masakannya berbeda," ucap Rico, matanya tak melihat Aisyah sama sekali yang ternyata istrinya sudah berdiri di sampingnya.
"Aku mau lihat, katanya tidak nyontek," Aisyah sungguh penasaran.
"Akkk...., bang Rico! " Jari telunjuk Rico menoel hidung Aisyah dan tentunya tidak dengan kosong tapi ada kecap di sana, "lengket kan!! " keluh Aisyah.
Aisyah membersihkannya dengan jari telunjuknya juga dan dengan cepat Rico menarik jari Aisyah.
"Mau di apain!? " tanya Aisyah heran.
Rico tak menjawabnya tapi dia langsung membersihkannya dengan mulutnya, "manis," ucapnya, tapi matanya tak berkedip memandangi wajah Aisyah.
"Kotor, Bang! " Aisyah cepat menarik dia takut ada kuman di tangannya.
"Hehehe..., manis kok. Apalagi yang kena kecap manis banget," puji nya.
"Gombal! " Aisyah berkedut lalu kembali duduk di tempat semula, bisa-bisa masakan Rico tidak kunjung usai kalau dia berdiri di sampingnya.
_____
Bersambung...
________
__ADS_1