Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
62.Belajarlah menjadi yang terbaik


__ADS_3

______


Happy Reading...


__________________


Ingat, jangan ulangi lagi, oke. " Ucap Rico menegaskan.


"Bang Rico bicara dengan siapa? "


Seketika Rico menoleh begitu cepat saat ada yang datang, Rico tak percaya kalau akan ada yang datang sepagi ini di bengkelnya dan yang paling tak percayanya lagi yang datang adalah gadisnya, Aisyah.


"Aisyah." Pekik Rico, Rico ternganga menatap tak percaya siapa yang ada di hadapannya, dia kembali menoleh ke arah dua bocah yang dia marahi tadi dan keduanya sudah pergi mungkin mereka takut kalau sampai ada yang melihatnya selain Rico.


"Bang Rico bicara dengan siapa? " Tanya Aisyah lagi. Aisyah menelisik ke seluruh penjuru tak dia lihat siapapun di sana kecuali Rico sendiri.


Mata Aisyah menangkap pecahan vas yang berserakan lantai tak jauh dari Rico berdiri, dia berjalan mendekat dan hendak membersihkan pecahan itu.


"Kenapa bisa pecah seperti ini, bang? " Aisyah mulai menunduk dan hampir berjongkok di sana, namun dengan cepat Rico mencegahnya.


"Tidak usah, Syah. Biar bang Rico saja yang bersihin. " Rico ikutan berjongkok di sana. Di hadapan Aisyah tentunya.


"Nggak apa-apa, Bang. Biar Aisyah bantu. "


"Tidak usah, biar bang Rico saja. Kamu duduk aja di depan." Pinta Rico.


Karena takut akan ada orang yang melihat dan akan terjadi kekacauan di pagi hari, Aisyah nurut saja apa yang di minta oleh Rico, dia berjalan ke depan bengkel itu dan duduk di sana.


Pagi ini terlihat sangat sepi mungkin karena ini adalah hari libur jadi tak banyak yang pergi untuk beraktivitas seperti biasanya. Aisyah datang ki tempat Rico juga karena dia sangat penasaran dengan bengkel Rico.


"Bang, tempatnya bagus ya. Bang Rico pinter cari tempat usaha. Tidak di resto tidak di sini tempatnya sama-sama strategis. Pantes saja usaha bang Rico langsung terkenal begitu saja." Ucap Aisyah yang begitu mengagumi tempat-tempat di mana Rico mendirikan usahanya.


"Ya, seperti ini lah usaha ku. Hanya usaha kecil-kecilan. " Jawab Rico.


Selesai mengambil semua pecahan vas tadi Rico membuangnya di tempat sampah di depan bengkel namun sebelum dia buang dia memasukkannya ke dalam plastik supaya lebih aman dan tidak akan mengenai orang lain nantinya.


Rico berjalan masuk lagi, mencuci tangannya dan mengelapnya hingga kering. Rico menuangkan teh panas dari termos ke dalam dia cangkir lalu memberikan satu untuk Aisyah.


"Nih minum, biar anget." Pinta Rico.


Kenapa rasanya begitu nyaman jika berada di dekat Rico, semua kegelisahannya seakan lenyap dari hatinya. Semua kesedihan juga hilang meski hanya dalam sekejap dan kadang-kadang akan kembali lagi setelahnya.

__ADS_1


Rico duduk di kursi yang lain, di sisi yang lain. Keduanya saling menikmati teh panas yang Rico bikin.


"Kamu ke sini udah izin ke papa kamu? " Rico menoleh sekejap.


"Aku hanya izin sama mama, tapi nggak bilang sih kalau mau kesini. Niatnya mau beli bubur ayam di dekat taman kota, karena pas lewat lihat bang Rico jadi mampir deh, hehehe.. " Jawab Aisyah yang terkekeh malu.


"Besok-besok kalau mau ke sini izinlah dulu. Jangan sampai nanti ketahuan kamu di sini dan sebelumnya tidak izin, kan bisa jadi masalah. "


"Iya sih?"


Ini lah yang Aisyah suka dari Rico, meskipun dia tau kalau Aisyah izin pasti tidak akan di kasih namun Rico tetap menyuruhnya untuk izin terlebih dahulu. Rico tidak egois dan memikirkan kesenangannya sendiri, dia lebih peduli dengan kebaikan Aisyah.


Berkali-kali Aisyah melakukan kesalahan dan berkali-kali juga Rico akan selalu menasehatinya. Dan memberikan arahan yang tepat yang harus dia lakukan.


Meskipun Rico hanya memiliki usaha yang kecil yang tak sebanding dengan yang di milik keluarganya dan juga Farel namun Aisyah begitu mengagumi kerja kerasnya. Rico bisa membangun usahanya sendiri tanpa harus berpangku dari tangan orang lain.


Dan dengan usahanya itu nyatanya dia juga bisa mengangkat derajat kedua orang tuanya yang dulu hanya orang biasa saja.


"Meskipun kamu menginginkannya tapi kamu juga punya orang tua yang harus kamu hormati. Seperti apapun mereka kamu harus tetap hormat, dan sebesar apapun kesalahannya kamu juga harus bisa memaafkan mereka. Ingat, Syah. Kebahagiaan mu akan tergantung dengan doa dan restu orang tua mu juga. Jadi kalau kamu mau bahagia di akhir kelak kamu harus bisa menggapai restu itu meskipun sangat sulit." Ucap Rico.


Orang yang benar-benar mencintai seseorang pasti akan menginginkan kebaikan untuk nya, dan menjadikannya lebih baik, mereka tidak akan membiarkan yang di cintai nya berasa dalam jalan yang salah mereka akan selalu berusaha untuk mengingatkan dan menasehatinya.


Mereka menasehati bukan karena dia terlalu cerewet dan seolah mengatur namun itu adalah bentuk perhatian pada yang di cintai nya untuk bisa menjadi lebih baik.


"Iya, Bang." Jawab Aisyah singkat.


Rasanya dia malu setiap dia melakukan kesalahan kecil atau besar jika di hadapan Rico. Rico tidak begitu banyak akan ilmu agamanya namun ternyata dia lebih bijak dan lebih dewasa daripada dirinya.


Sosok yang seperti inilah yang Aisyah harapkan, sosok yang selalu bisa membimbingnya dalam kebaikan. Kebahagiaan memang tak banyak keluar dari banyaknya harta dan tingginya ilmu tapi kebahagiaan bisa mudah di dapatkan dari orang-orang yang benar-benar memperhatikannya dengan hal-hal yang sederhana.


"Belajarlah untuk mulai mengendurkan kerasnya hati mu, Syah. Belajarlah menjadi wanita yang lemah lembut bukan hanya pada orang lain yang memperlihatkan kasih sayang pada kita, namun perlihatkan juga pada orang-orang yang selalu memberikan ketidaknyamanan pada kita, Syah. "


"Dari awal kita harus belajar menjadi orang yang lemah lembut, karena kita juga akan merasakan kegelisahan yang di alami oleh orang tua kita sekarang. Mungkin mereka melakukan itu karena beliau benar-benar merasa takut kalau kita akan melakukan kesalahan." Ucap Rico panjang kalo lebar.


Aisyah menunduk penuh haru, dia sama sekali tidak merasa tersinggung namun dia malah berfikir sebaliknya, mungkin itulah yang menghambat kebahagiaannya karena dia sering membangkang dan selalu keras kepala di hadapan orang tuanya.


Kata Rico benar, kebahagiaan seorang anak terletak pada doa dan restu dari orang tuanya, mungkin selama ini Aisyah tidak bisa merasakan kebahagiaan karena dia belum bisa mendapatkan doa dan restu dari orang tuanya, apalagi di dalam hati Aisyah masih menyimpan kekesalan pada orang tuanya.


"Terima kasih, Bang. Aisyah akan berusaha untuk memperbaiki diri. " Jawab Aisyah.


Rico tersenyum senang mendengar jawaban dari Aisyah, Rico senang karena Aisyah selalu nurut dan juga selalu mendengarkan semua nasihat-nasihatnya.

__ADS_1


"Tetaplah semangat, surga dunia hingga surga di akhirat kelak akan mudah kita gapai karena sebuah doa dan juga restu dari orang tua. Masalah keinginan kita, serahkan saja pada sang Pencipta, Allah tak pernah tidur, Syah." Ucap Rico lagi.


"Iya, bang. Abang benar. " Jawab Aisyah percaya.


Baru enak-enak ngobrol berdua tiba-tiba Felisha datang dengan pakaian ketatnya, Felisha baru joging seorang diri.


"Pagi kak Rico! " Sapa Felisha dengan semangat.


Keduanya menoleh secara bersamaan dan melihat Felisha yang sudah berhenti di hadapan mereka berdua.


Felisha mengernyit, kenapa sudah ada Aisyah di sana pagi-pagi seperti ini. Dia kira dia akan menjadi yang pertama datang menyapa Rico tapi ternyata dia kalah cepat.


"Loh..., Aisyah di sini juga? " Tanya Felisha dengan mengernyit.


"Iya. Kebetulan lewat jadi mampir sebentar sekedar menyapa." Jawab Aisyah seraya tersenyum kecil.


"Ohh.., Feli kira memang sengaja. " Ucap Felisha sinis tak suka.


Felisha selalu merasa cemburu jika ada wanita yang dekat-dekat dengan Rico, dia ingin memiliki Rico seutuhnya dan sendiri saja, dia tak mau berbagi kasih pada siapapun meskipun dia sendiri juga belum mendapatkan kasih itu dari Rico sendiri.


Baru kali ini Felisha melihat dengan matanya sendiri kedekatan Aisyah dan juga Rico, dan juga baru kali ini Rico begitu tenang saat bersama seorang wanita, padahal pada dirinya saja Rico tak setenang ini.


Felisha melihat wajah Rico yang terdapat oli di beberapa titik, dia pun berantusias untuk membersihkannya dengan handuk kecil yang dia bawa. "Astaga Kak. Kok bisa belepotan begini sih?" Tangan sudah ada di depan wajah Rico, namun dengan cepat Rico menghindar.


"Apa yang mau kamu lakukan, Fel! " Suara Rico mulai ngegas secara langsung.


"Feli hanya mau bersihin oli di wajah Kak Rico, tuh belepotan begitu, oli akan mempengaruhi kesehatan kulit kak Rico nantinya." Jawab Felisha santai.


"Aku bisa membersihkannya sendiri. " Rico beranjak dan pergi untuk mencuci wajahnya.


Setelah kepergian Rico Felisha langsung menatap Aisyah yang terus terdiam acuh, meskipun hatinya sangat tak suka melihat apa yang Felisha akan lakukan pada Rico, namun dia masih bisa diam dan menahan diri, toh Rico sendiri juga tak membiarkan Felisha menyentuhnya juga.


Senyum kecil keluar dari bibir Aisyah namun matanya memandang arah lain, yang pasti akan semakin membuat Felisha kesal.


"Kenapa kamu senyum? Kayaknya kamu seneng banget melihat Kak Rico menolak ku. " Sinis Felisha.


Aisyah terkejut matanya langsung menatap Felisha yang juga tengah menatapnya. Aisyah tak percaya mendengar suara dari Felisha yang begitu sinis padanya, sepertinya Felisha tak sepolos dan semanis yang dia pikirkan.


"Apa ada masalah dengan mu? " Tanya Aisyah mengernyit.


____

__ADS_1


Bersambung...


_______________


__ADS_2