Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
52.Usaha Memperbaiki


__ADS_3

__


Jangan lupa tinggalkan jejak dan selalu dukung karya ini ya, meskipun hanya sebatas kata tak bermakna tapi ini sangat membanggakan untuk Author..


Love you Reader's...


_______


Happy Reading...


________________


Motor yang di tumpangi oleh Rico terpaksa berhenti di tengah jalan karena ada dua motor yang menghadangnya, Rico bingung karena dia tak tau itu siapa dan ada maksud apa padanya namun yang jelas sepertinya mereka memiliki niat yang tidak baik padanya.


Dengan santainya Rico turun dari motor, melepaskan helmnya dan menaruh di atas motor. Begitu juga dengan orang-orang yang menghadang Rico, mereka melakukan hal yang sama seperti dirinya.


Dua motor dan terdapat emang orang yang menunggangi nya. Mereka sepertinya orang-orang yang sangat berbahaya terlihat dengan penampilan mereka dan juga tubuh mereka yang kekar dan juga wajah yang sangat menakutkan.


"Apa yang kalian inginkan! " Tanya Rico begitu datar. Rico begitu santai menghadapi semua orang, meskipun dalam jumlah Rico kalah banyak namun tak ada semburat ketakutan sama sekali.


Orang berempat itu menyeringai sinis menatap Rico, mereka begitu meremehkan Rico yang hanya seorang diri.


"Mau kami! Mau kami adalah, kamu menjauhi Aisyah! Kamu tak pantas dengannya. Apa yang bisa di banggakan darimu? Tak ada satupun yang bisa di banggakan! " Teriak salah satu di antara mereka.


Rico mengernyit, kenapa mereka memintanya untuk menjauhi Aisyah siapa sebenarnya mereka, dan orang dari mana? Orang yang paling menentang hubungan dia dan juga Aisyah hanyalah Rayyan, tak mungkin juga kan Rayyan akan melakukan hal yang sehina ini. Dia orang terhormat dan juga tau hukum, dan yang pasti dia orang taat tak mungkin dia akan menyuruh orang untuk melakukan hal ini.


"Kalau seandainya saya tidak mau?. " Tantang Rico. Jangankan orang lain yang memintanya bahkan orang tuanya Aisyah sendiri saja Rico melawannya apalagi orang yang belum jelas asal-usulnya.


"Kalau kamu tidak mau berarti kamu harus siap-siap dengan konsekuensi nya! "


"Sebenarnya, orang dari siapa kalian ini? " Tanya Rico yang masih begitu penasaran.


"Tidak usah kamu tau siapa orangnya, bukankah kamu lebih tau dan lebih pintar mengetahui siapa yang paling menantang mu! " Jawab orang itu.


Dengan cara apa Rico bisa membuat mereka mengatakan semaunya dengan jujur, dia hanya tak mau sampai salah paham dan mencurigai orang yang tidak bersalah.


"Sebaiknya kamu menurut saja apa kati kami, itupun kalau kamu mau selamat . "


"Saya tidak sudi ! " Jawab Rico yang begitu kekeuh.


Kenapa begitu besar sekali ujiannya untuk bisa bersama dengan Aisyah, hal spesial apa sehingga semua ini harus dia alami terlebih dahulu sebelum dia benar-benar mendapatkan kebahagiaan nya. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, apa kah itu ucapan yang pantas untuk Rico dan Aisyah saat ini.


𝘉𝘶𝘨𝘩...

__ADS_1


Tanpa aba-aba satu orang langsung memukul perut Rico membuat nya langsung mundur beberapa langkah namun tidak berhasil terjengkang.


Sepertinya Rico harus berhati-hati saat ini, mereka sepertinya tidak selemah yang Rico pikir, mereka terlihat begitu kuat bahkan sangat kuat.


"Aww...! " Desis Rico yang merasakan sakit di bagian perutnya.


Baru beberapa hari dia di pukuli orang dan sekarang harus mengalami hal yang sama lagi kenapa harus selalu seperti ini, Rico tidak pernah melakukan kekerasan pada orang lain terlebih dahulu, dia hanya akan membalas saja jika ada orang yang berani memulainya.


"Hahaha...! Ternyata hanya segitu saja kemampuanmu! Hahaha...! " Tawa mereka begitu menggema keras di telinga Rico yang berjarak begitu dekat dengan mereka.


Sakit memang meskipun dalam satu kali pukulan bukan hanya tubuh mereka yang besar tapi otot dan kekuatan mereka juga sangat kuat , mungkin Rico akan kewalahan nantinya.


"Kemampuan ku memang hanya sedikit, tapi meskipun hanya sedikit kalian tak akan bisa meremehkan nya. " Jawab Rico yang harus tetap percaya diri dan tidak boleh lemah di hadapan siapapun termasuk mereka.


_____


Aisyah duduk termenung di emperan Pendopo nya, mengamati sepeda motor hadiah dari kedua abang kembarnya dengan malas. Buat apa dia harus di beri hadiah seperti itu kalau dianya tak bisa memakainya sama sekali, bukankah itu hanya akan mubazir saja kan.


Aisyah sudah tapi dengan semua perlengkapan nya untuk ke kampus, ini adalah hati pertama dia akan berangkat lagi setelah beberapa hari kemarin dia belum di perbolehkan masuk karena Keisha masih sangat khawatir dengan keadaannya.


"Besok kalau abang datang aku minta di jual lagi saja, daripada hanya menjadi pajangan. " Gumamnya.


Sebenarnya tangan dan kaki Aisyah sudah sangat gagal untuk menikmati menunggangi motor itu, itu adalah motor impiannya pasti akan sangat menyenangkan bukan. Tapi mau bagaimana lagi.


Kegiatan Aisyah ternyata diamati oleh Rayyan dari jauh, hatinya sebenarnya kasihan melihat Aisyah yang terus sedih karena keegoisannya, tapi dia hanya terlalu takut melepaskan Aisyah seorang diri di jalan besar.


"Kau adalah putri kecil papa, Syah. Papa sangat takut kamu akan kenapa-napa. Apakah aku salah dengan caraku? Aku membatasi semua gerak mu karena papa tidak ingin kamu jauh dari papa, tapi apa yang papa dapat sekarang, sekarang kau malah benar-benar jauh dari papa. Papa hanya mau Aisyah kecil papa, yang selalu bergelayut manja di lengan papa. Merengek dan terus meminta sesuatu pada papa, itu yang papa ingin, Syah. "


"Meskipun kamu sudah besar, tapi kamu tetap putri kecil papa. Papa nggak mau kamu pergi ninggalin papa. " Satu tetes berhasil keluar dari pelupuk mata Rayyan dia sangat menyesalkan hubungannya dan Aisyah yang semakin jauh sekarang.


"Papa akan mencobanya, papa ingin senyum dan keceriaan mu kembali lagi seperti dulu lagi, Syah. Semoga papa benar. " Rayyan melangkah menghampiri Aisyah, menyusul duduk tepat di sampingnya.


Aisyah begitu terkejut, dia menoleh dan mendapati Rayyan yang duduk mendempel dirinya dan mengeluarkan senyum yang benar-benar tulus.


Aisyah tak percaya melihat senyum dari Rayyan, senyum yang begitu lama tidak dia lihat senyum yang begitu Aisyah rindukan. Senyum yang memenangkan dan seperti mengayomi dan memberikan perlindungan.


Mata Aisyah mulai berkaca-kaca dia terharu, dia sangat senang, setetes air matanya jatuh namun bibirnya terus menarik senyum hingga semakin lebar.


"Pa." Panggil Aisyah begitu lirih.


"Apakah ini benar-benar Papa Aisyah? Apakah Papa Aisyah sudah kembali? Apakah papa Aisyah... " Ucapan Aisyah terhenti saat melihat Rayyan mengangguk.


"Aku merindukan Papa. " Tanpa ragu Aisyah berhambur memeluk Rayyan, dia benar-benar merindukan sosok papa yang seperti ini, yang selalu bisa mendampingi Aisyah dan selalu mendukung Aisyah.

__ADS_1


"𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘢, 𝘚𝘺𝘢𝘩. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘪. 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢. " Batin Rayyan sembari membalas memeluk Aisyah begitu hangat.


"Bukankah kamu akan ke kampus? Sana berangkat jangan malah mewek seperti ini. Nih lihat, anak papa jadi jelek sekali. " Rayyan melepaskan Aisyah mengusap air mata Aisyah yang membasahi pipinya.


Mimpi apa Aisyah semalam hingga Rayyan bisa menjadi selembut ini padanya, apakah papanya ini benar-benar berubah atau ini hanya trik baru saja untuk bisa lebih menguasai dirinya.


Aisyah masih diam membatu, melihat tak percaya perubahan Rayyan yang sintal seperti sekarang. Aisyah menepuk-nepuk bahkan dia mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.


"Jangan di cubit, nanti sakit lagi. " Ucao Rayyan menghentikan pergerakan tangan Aisyah.


Benar-benar di luar dugaan Aisyah, Aisyah kira Rayyan akan tetap dengan kekejaman dan juga keegoisan nya tapi ternyata sekarang? Aisyah sangat bahagia mendapatkan hadiah ini di pagi harinya.


"Lihat, apa yang papa bawa. " Rayyan mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan itu adalah kunci motor yang dari tadi Aisyah amati.


Aisyah mengernyit, untuk apa papanya mengeluarkan kunci itu?.


Rayyan meraih tangan Aisyah dab menaruh kunci itu di telapak tangannya. "Berangkatlah, bukannya kamu sangat menginginkannya. " Ucap Rayyan.


Lagi-lagi Aisyah di buat gak percaya dengan perubahan Rayyan, bukannya ini terlalu cepat apakah ini benar?.


"Pa." Lirih Aisyah.


"Pakailah, yang terpenting Aisyah jangan ngebut-ngebut di jalan, dan harus tetap pulang tepat waktu. Jangan bikin papa kecewa. " Ucap Rayyan begitu lembut.


Aisyah semakin terharu mendengar penuturan dari Rayyan, kelembutan inilah yang selama ini dia inginkan dari Rayyan. Aisyah kembali memeluk Rayyan dengan hangat dan Rayyan pun membalasnya.


"Aku sayang papa. " Ucap Aisyah.


"Papa lebih sayang sama Aisyah. " Jawab Rayyan, " Sekarang berangkatlah nanti terlambat. "


Aisyah mengangguk cepat dia begitu semangat dengan hati barunya ini, akhirnya dia bisa sedikit bebas dan tidak terlalu di kengkang seperti biasanya. Aisyah juga tau aturan dia juga akan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan apapun.


Senyum Aisyah terpancar saat dia sudah berhasil menunggangi motornya dan sudah menyalakannya. Dia menoleh ke arah Rayyan tersenyum penuh terima kasih karena keinginannya telah di kabulkan.


"Assalamu'alaikum, Pa! " Seru Aisyah begitu girang.


"Wa'alaikumsalam..! " Jawab Rayyan yang juga tersenyum sembari melambaikan tangannya. "Semoga hubunganku akan semakin baik, dan aku bisa kembali dekat dengan Aisyah lagi. Semoga jalan ini tidak salah. "


Sepasang kaki melangkah mendekat, langkahnya begitu pelan, "Bunda bahagia melihat mu yang seperti ini, Ray. " Ucap Tasya.


"Bunda." Rayyan menoleh dengan cepat.


____

__ADS_1


Bersambung...


_______________


__ADS_2