Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
124. Morning Kiss


__ADS_3

Happy Reading..


____


Suara ayam mulai berkokok bersahut-sahutan, membangunkan nyawa yang masih terlelap dan masih terbuai dalam mimpi. Begitu pula dengan sepasang pengantin baru yang kini masih berbalut kan selimut tebal yang menutupi keduanya.


Satu tangan Rico menjadi bantal untuk Aisyah sementara satunya lagi untuk memeluk tubuh Aisyah yang sebenarnya tak mengenakan pakaian. Keduanya saling berpelukan dalam tubuh polos mereka, setelah semalam kelelahan bergulat dalam malam pertama hingga akhirnya mereka tidur.


Suara adzan yang menggema masuk ke telinga Rico begitu saja, membangunkannya dan langsung membuat matanya terbuka. Senyumnya mengembang indah saat melihat wajah wanitanya yang terlihat begitu lelah karena perbuatannya semalam.


Matanya menatap intens wajah yang begitu sempurna tanpa balutan make-up, rambut yang menghalangi langsung Rico singkirkan dari wajah Aisyah dan membuatnya semakin terpana.


"Dalam tidur pun kamu berhasil menghipnotis ku, Aisyah. Kau begitu sempurna di mataku, tak ada kekurangan sedikitpun yang ada padamu," gumamnya dengan begitu lirih.


Rico tersenyum melihat beberapa tanda yang berhasil dia lukis tadi malam, lukisan yang indah itu menjadikan Aisyah miliknya seutuhnya begitu juga sebaliknya. Kini mereka bukan hanya bersatu dalam ikatan pernikahan, tapi cinta mereka juga benar-benar telah bersatu.


Dengan iseng Rico meniup wajah Aisyah dengan pelan membuat sang empu mulai mengerjapkan matanya saat merasakan hembusan itu dari Rico.


"Apa sih, Bang," ucap Aisyah yang masih sangat enggan untuk bangun, mata yang sekejap terbuka dia pejamkan lagi karena masih begitu ngantuk akibat begadang dan olahraga malam yang sepertinya akan selalu mereka lakukan setelah malam ini.


"Fuhhh.... " lagi-lagi Rico meniup wajah Aisyah hingga akhirnya kini dia benar-benar membuka matanya dan melihat Rico yang tersenyum padanya.


Mata yang terus menatapnya membuat Aisyah malu, meskipun masih bau iler tapi pipinya sudah memerah gara-gara mata Rico yang tak berkedip.


"Muach...," spontan Rico mengecup bibir Aisyah dan menambah malu. Aisyah menarik selimut dan menutup wajahnya karena tak mau di lihat Rico, dia sangat malu itu jelasnya tapi itu malah membuat Rico sedikit terkekeh.


Tak pikir-pikir dulu Aisyah saat bersembunyi di balik selimut tebal itu, menggeser wajahnya hingga akhirnya wajah itu mengenai dada bidang milik Rico, "Eh.. " Aisyah tersadar, bukannya bersembunyi karena malu tapi kini Aisyah semakin malu saat melihat dia dan juga suaminya itu tanpa busana sama sekali, "𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮... , 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶. 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘉𝘢ng 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨?" batin Aisyah.


"Kenapa diam saja, apakah kamu masih penasaran? " tanya Rico iseng.


Seorang laki-laki mah tak akan ada lelahnya, meskipun sampai berkali-kali dia akan tetap semangat apalagi urusan ranjang. Jika sang istri bersedia pasti akan oke-oke saja.

__ADS_1


Tubuh tanpa busana yang saling menempel membuat Aisyah langsung cepat sedikit menggesernya, dari beberapa sumber yang dia dengar dan sempat dia baca jika seorang laki-laki bersentuhan dengan wanita apalagi tanpa busana seperti sekarang tak menutup kemungkinan burung pelatuk itu akan bangun dengan sendirinya.


Jadi Aisyah sedikit menjauh karena takut burung pelatuk milik Rico akan terbangun dan siap memangsanya di pagi ini, bukan karena dia mau menolak dan tak menjalankan kewajibannya tapi dia masih sangat lelah setelah beberapa ronde semalam yang sudah mereka lakukan.


Rico benar-benar seperti singa kelaparan semalam hingga membuat Aisyah kewalahan menuruti keinginannya. Aisyah hanya heran, tubuh Rico begitu banyak luka lebam tapi kenapa dia sama sekali tak merasa kesakitan saat melakukan pergulatan dengan Aisyah.


"Kenapa menjauh? aku kan suamimu? " tanya Rico yang seketika mengerutkan kening hingga terdapat beberapa baris kerutan di sana.


Aisyah yang sudah membuka selimut di bagian wajahnya hanya meringis saja ke arah Rico, bagaimana mungkin dia akan menjelaskan kalau dia menjauh karena tak mau sampai burung pelatuk milik Rico akan terbangun dan memangsanya lagi, dia pikir sudah cukup untuk malam ini bahkan tulang-tulang Aisyah seakan remuk.


"Hehehe, bukan apa-apa kok, Bang. Hanya pengen saja gerah soalnya, alias lengket," jawab Aisyah. Memang benar sih lengket kan setelah bergulat mereka langsung tidur tanpa mandi terlebih dahulu, jadi itulah yang mereka rasakan sekarang.


Rico yang tak peduli dengan alasan Aisyah kini dia yang bergeser dan mendekati Aisyah, "Aisyah, terima kasih sudah memberikan kebahagiaan untuk ku. Terima kasih juga sudah menjaganya dengan baik sampai aku memilikinya, terima kasih," ucapan Rico membuat Aisyah memandangnya dengan diam.


Bukan hanya Rico saja yang sangat bahagia, melainkan Aisyah juga lebih bahagia karena dia bisa menjaga semua yang menjadi hak Rico dengan baik, dan memberikannya setelah mereka berdua benar-benar telah halal sekarang.


Rico sedikit mengangkat kepalanya mendekati wajah Aisyah dan mengecup keningnya membuat Aisyah menutup mata dan merasakan energi cinta yang Rico salurkan padanya. Rico melepaskan dan kini beralih ke bibir Aisyah lagi untuk yang kedua kalinya di pagi ini.


Aisyah membuka mata, tersenyum karena mendapatkan kecupan itu dari Rico.


Terdengar suara pujian sholawat dari masjid membuat Rico ingin cepat-cepat bangun, membersihkan diri dan sholat berjamaah di masjid. Tapi waktu yang sangat mepet tak akan mungkin membuat dia bisa ikut untuk sekarang.


"Aisyah mau mandi, udah subuh takut kesiangan," ucap Aisyah malu-malu.


"Bagaimana kalau kita mandi bareng saja, kan lebih menyingkat waktu," ucap Rico memberikan saran.


Aisyah menggeleng, jika mandi bareng dengan Rico bukanya mempercepat tapi malah akan memperlambat, Aisyah yakin itu akan terjadi. Lagian Aisyah sangat malu jika harus mandi bersama.


"Tidak, Bang. Yang ada nanti malah semakin lama lagi," jawab Aisyah.


"Ayolah, aku janji tidak akan lama. Janji tidak akan ngapa-ngapain deh! hanya mandi saja, Okay... " kekeuh Rico namun Aisyah tetap tak mau.

__ADS_1


"Tidak usah, Bang. Aisyah dulu baru Bang Rico," Aisyah beranjak, karena tak mungkin dia akan jalan dengan polos dia langsung menarik selimut dan hendak membawanya ke kamar mandi.


"Akk...!" teriak Rico. Karena saat Aisyah menarik selimutnya secara otomatis dia yang akan telanjang.


"Akk! " bukan hanya Rico yang berteriak, tapi Aisyah juga berteriak karena tak sengaja melihat burung pelatuk milik Rico yang sedikit terbangun.


Dengan sigap Rico menutupi dengan handuk yang ada di sebelahnya, sementara Aisyah langsung lari masuk ke kamar mandi dengan wajah yang memerah dan tentunya dengan langka yang sedikit kesusahan.


"Kami sepasang suami-istri, kenapa malah berteriak seperti pasangan SMA yang tengah mesum?" gumam Rico.


Sementara Aisyah yang sudah ada di kamar mandi kini malah menutup wajahnya karena sedikit panas. Aisyah malu dia juga terus tersenyum sendiri mengingat kejadian barusan.


"Ah tidak tidak..., jangan di ingat-ingat Aisyah, lupakan saja. Lupakan.. " ucapnya.


Perlahan-lahan dia membuka wajahnya melepaskan selimut yang melekat di tubuhnya. Alhasil Aisyah ternganga melihat lukisan yang Rico buat semalam. Tak ada yang terlewat dari jangkauan Rico semua rata, merah.


"Astaga bang Rico..., kenapa jadi kayak ayam di gebukin gini. Merah-merah semua," ucapnya namun akhirnya dia kembali tersenyum karena mengingat kejadian semalam.


"Astaga, mana masih sakit lagi, apa ada yang robek ya?" ucap Aisyah lagi. Yang pasti sakit lah dan tentunya ada yang robek, kalau tidak mana mungkin Rico akan bisa membobol benteng pertahanannya dan berhasil masuk ke lembah sempit itu.


𝘛𝘰𝘬 𝘵𝘰𝘬 𝘵𝘰𝘬...


"Aisyah, kok lama banget! kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rico yang sudah tak sabar.


"Bentar lagi, Bang! " jawab Aisyah.


"Cepetan, shubuh hampir habis! " teriak Rico lagi.


"Iya! " jawabnya dengan singkat kali ini. Aisyah langsung menjalankan rutinitas di kamar mandi dan setelah selesai baru dia keluar dan bergantian dengan Rico yang langsung buru-buru.


___

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2