Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
116. Hanya Pembohong


__ADS_3

Happy Reading...


_______


Hari sudah siang, waktu untuk terlaksananya pernikahan sudah semakin dekat. Semua tampak sibuk, semua benar-benar telah berdiri kokoh seperti sebelumnya.


Semua sudah mulai di persiapkan, pihak dari keluarga Farel pun sudah datang, Marco, Nara yang menggendong anaknya, juga beberapa kerabat lain yang juga mendapatkannya undangan.


Satu persatu tamu inti juga mulai datang, bahkan seseorang yang bertemu dengan Rico beberapa hari lalu juga datang, siapa pagi kalau bukan Kyai Ahmad Ageng.


Rayyan begitu bahagia dengan kedatangan teman masa kecilnya itu, sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu dan sekarang mereka bertemu di acara pernikahan Aisyah.


"Assalamu'alaikum, Kak Ray," Sapa Kyai Ahmad.


"Wa'alaikumsalam, Dek," Pelukan hangat penuh kerinduan mereka berdua lakukan. Keduanya sangat bahagia, benar-benar bahagia.


"Yuk masuk, kita ngobrol-ngobrol. Lama sudah tidak bertemu. Sudah berapa tahun ya?" tanya Rayyan namun dia juga berusaha untuk berfikir.


"Semenjak si kembar lahir kayaknya, dan sekarang mereka sudah berkeluarga, berapa tahun Kira-kira tuh, ah sudah lama pokoknya."


Rayyan terus merangkul Kyai Ahmad dan mengajaknya masuk ke pendopo miliknya. Begitu juga dengan istri dan juga satu anaknya Kyai Ahmad yang ikut.


"Kira-kira, tiga puluh tahun kali ya? Kurang lebih segitu lah! Hahaha.., sudah tua juga ternyata kita ya." Gurau Rayyan.


"Iya. Hem.., di mana si kembar sekarang? Mereka pulang kan? Katanya mereka sedang di luar?"


"Mereka pulang, tapi baru keluar katanya mau cari hadiah untuk adiknya," Jawab Rayyan.


Sesampainya di Pendopo mereka semua duduk, Faisal yang melihat pun langsung menyelami Kyai Ahmad, "Assalamu'alaikum, Kyai." ucapnya.


"Wa'alaikumsalam.., hemm? " Kyai Ahmad sedikit bingung karena tak mengenal Faisal tentunya.


"Dia Faisal, anak ku juga yang ketiga," Ucapan Rayyan dan menghapus tanya di kepala Ahmad.


"Oh.., Hem.. Jadi kamu jangan panggil Kyai, tapi panggil Om, Om Ahmad."


"Rasanya kurang sopan jika saya memanggil Om." Faisal begitu sungkan.


"Sudah, nanti aku marah kalau kamu tak menurut padaku, apa kamu tau kalau aku marah bagaimana? Papamu saja takut kalau aku sampai marah, iya kan kak?" Ahmad menoleh ke arah Rayyan dan membuat Rayyan meringis.


"Nurut saja, Sal. Kita tidak akan bisa mengatasinya jika dia sampai marah," Ucap Rayyan.


"Oh ya, bunda di mana, Kak?"


"Bunda sedang istirahat. Katanya dia lelah."


Ahmad hanya mengangguk saja mendengar penjelasan dari Rayyan yang tak begitu jelas untuknya, lelah karena apa? Tasya sudah gak melakukan pekerjaan apapun kan?

__ADS_1


"Hem.. Di mana anak gadismu yang mau menikah? Bisakah aku bertemu dengannya?" Tanya ahmad.


"Bisa. Faisal, tolong panggil adikmu," Pintanya.


"Baik, Pa." Faisal segera beranjak dan pergi ke kamar Aisyah untuk memanggilnya.


Keduanya terus mengobrol sesaat namun mereka langsung berhenti setelah melihat Aisyah juga Faisal yang datang.


Ahmad begitu terkagum-kagum dengan kecantikan Aisyah, seandainya anaknya laki-laki pasti dia akan menjodohkannya, tapi sayangnya ketiga anaknya semuanya perempuan.


"Subhanallah, benar-benar bidadari surga," Celetuk Ahmad.


Rayyan tersenyum mendengar Ahmad yang begitu mengagumi Aisyah, padahal anak-anak Ahmad juga cantik sebenarnya, "Kamu bisa saja."


"Benar, Kak. Anak gadismu benar-benar seperti bidadari. Aura pengantinnya sudah keluar membuatnya terlihat lebih istimewa. Mungkin karena dia benar-benar bahagia karena akan menikah dengan orang yang dia cintai."


Ahmad terus memuji Aisyah, membuatnya malu bahkan belum sempat menyapanya. Tapi apa tadi? Menikah dengan orang yang di cintai? Bahkan Aisyah sama sekali tak ada rasa apapun pada calon suaminya sekarang.


"Assalamu'alaikum, Kyai.." ucap Aisyah yang akhirnya bisa mengapa nya.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Kamu sungguh beruntung mendapatkan calon suamimu itu, dia sangat dewasa dan sepertinya juga sangat bertanggung jawab, pikirannya sangat luas dan tidak pernah berkecil hati, dia juga sangat spesial," Terang Ahmad.


Astaga, calon suami mana yang Ahmad bicarakan? Beruntung dari mana? Bahkan Aisyah sama sekali tak berfikir seperti itu.


"Hem.. " Aisyah hanya tersenyum kecut saja, dia juga tidak tau siapa yang Ahmad bicarakan.


"Kamu benar, anak ku sangat beruntung bisa menikah dengannya. Dia sangat dewasa juga sangat luas ilmunya. Kamu akan senang jika bertemu dengannya." Jawab Rayyan.


Rayyan, Faisal juga Aisyah terlihat bingung, kapan Farel datang ke tempat Ahmad? Sepertinya dalam beberapa hari ini Farel tidak pergi kemana-mana.


"Benarkah! Dia ngapain ke sana? Apa ada tausyiah juga?" Rayyan mengernyit.


Ahmad lebih mengernyit lagi, tausyiah apa coba? Ahmad tak mengerti karena orang yang dia bicarakan datang untuk mendapatkan pelajaran dari tempatnya, dan bukan untuk tausyiah.


"Tausyiah?"


"Iya, tausyiah! Calon Aisyah juga seorang seperti kita juga." Jelas Rayyan.


Ahmad mulai sadar, sepertinya orang yang dia bicarakan adalah orang yang berbeda yang menjadi calon Aisyah. Untuk memastikannya Ahmad harus bisa bertemu dengannya kan?.


"Hem..., apakah saya boleh bertemu dengannya? Ya sekedar untuk berkenalan."


"Loh, bukannya kamu tadi bilang sudah mengenalnya?" tanya Rayyan.


"Sepertinya yang aku kenal adalah orang yang berbeda." Jawab Ahmad.


Aisyah juga Faisal semakin mengernyit, orang yang berbeda? Siapa?.

__ADS_1


"Oh, tentu. Aisyah, kamu masuk lah. Dan kamu Faisal tolong panggil Farel." Pintanya.


"𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭? 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘙𝘪𝘤𝘰? 𝘋𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢? " Batin Ahmad.


Aisyah pamit, dia kembali pergi ke kamar. Sementara Faisal juga pamit untuk memanggil Farel sesuai yang di minta oleh Rayyan.


Rayyan juga Ahmad terus diam, mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing.


"Assalamu'alaikum, " Sapa Farel setelah akhirnya dia datang.


"Wa'alaikumsalam, " Jawab Rayyan dan Ahmad bersamaan begitu juga dengan istri juga anak Ahmad.


Ahmad terus memandangi Farel, matanya tak berkedip meskipun tangannya mengulur pada Farel untuk di salami.


"Bagaimana, Aisyah benar-benar beruntung kan?" tanya Rayyan.


"Dia calon Aisyah? "


"Iya, dia Farel calon Aisyah." Jawab Rayyan.


"Lalu Rico?"


Rayyan, Faisal juga Farel mengernyit ada apa dengan Ahmad, kenapa dia menanyakan Rico?.


"Rico? Dia hanya seorang pengecut. Dia tak pantas menikah dengan Aisyah. Dia hanya besar omongannya yang bohong saja."


"Maksudmu?" Ahmad semakin bingung.


"Dia itu terus saja bicara seperti paranormal, dia mengatakan ini itu yang tidak jelas. Apa kamu tau? Bahkan demi mendapatkan Aisyah dia bermain drama dengan membawa-bawa Abi yang sudah tiada?" ucap Rayyan di sambung dengan kekehan kecil.


"𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶? 𝘋𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨. 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢...? 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘶? "


"Apa kamu tau, bahkan dia mengatakan kalau dia bisa mengetahui segalanya. Dia juga memiliki janji pada Abi, aku heran kapan dia bertemu Abi, padahal dia sama sekali belum pernah datang sebelum Abi tiada," Rayyan terus berkoar, menjelekkan Rico yang dia kira sebagai seorang pembohong.


"Dia juga bilang kalau dia di minta untuk menghentikan semua masalah yang terjadi di setiap adanya pernikahan di keluargaku, tapi apa sekarang! Bahkan tanpa dia saja tidak terjadi apapun kan? "


"Kak, sepertinya ada yang salah dengan semua ini? Mungkin benar kali ini tidak akan terjadi apapun di pernikahan ini. Semua ini juga berkat dia. Dia tidak salah kak, dia benar. Di sini tidak ada apapun, tapi di luar sana? Ada seseorang yang tengah menahan bencana itu. Dia lebih mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi janjinya yang dia buat." Ucap Ahmad.


"Apa maksudmu, Dek." Rayyan terkejut. Rayyan tidak percaya kalau Rico memiliki kelebihan itu, tapi dia percaya kalau Ahmad memilikinya. Karena saat kecil Ahmad sering bercerita padanya.


"Ini salah, Kak. Maaf saya harus pergi mencari anak itu. Demi keluarga ini, dia tidak boleh mati sia-sia. Dan pengorbanannya pun juga tidak boleh sia-sia." Ahmad beranjak membuat semua orang terperangah karena kata-katanya.


"Dek, apa yang kamu maksud! " Rayyan berlari mengejar Ahmad yang sudah berjalan dengan cepat.


"Maaf Kak, saya tidak akan membiarkan dia berkorban apapun lagi untuk keluarga ini. Jika kamu tidak mempercayainya itu urusanmu, tapi aku tidak akan egois sepertimu, Assalamu'alaikum.. " Ahmad langsung berlalu pergi.


__

__ADS_1


Bersambung...


______


__ADS_2