Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
53.Menghalu


__ADS_3

___


Happy Reading..


_____________


Motor berjalan dengan semestinya tak cepat dan juga tidak terlalu lambat, terlihat standar saja. Sang pengemudi begitu senang senyumnya terus hadir seiring hembusan angin pagi yang masih sangat segar dan belum terlalu banyak asap.


Dia adalah Aisyah, gadis yang begitu bahagia di pagi ini seolah mendapat cekpot besar yang tak terduga. Kebahagiaan ini memang datang tak terduga, di saat dia hampir menyerah dan pasrah dengan keadaan dan sekarang harapan itu mulai muncul dan tumbuh lagi.


𝘉𝘶𝘨𝘩.. 𝘉𝘶𝘨𝘩....


Motor Aisyah terpaksa dia hentikan saat melihat ada seseorang yang di keroyok oleh empat orang, Aisyah belum melihat siapa orang itu karena dia berdiri membelakanginya. Aisyah berlari, dia tidak suka dengan kekerasan terjadi di sekitarnya lagian ini sudah jauh dari rumahnya dan tak ada yang melihatnya jadi dia bisa membantu orang itu.


Aisyah mengambil slayer menutup setengah wajahnya dan menyisakan matanya saja, dengan ini tak akan ada yang mengetahui dia adalah siapa.


Aisyah berlari dia ingin segera membantu orang yang terlihat sudah mulai kewalahan melawan mereka berempat.


Tanpa minta izin terlebih dahulu Aisyah langsung beraksi bahkan tanpa melihat siapa yang dia tolong saat ini. Aksi dari Aisyah tentunya memancing kemarahan para orang-orang itu dan dua orang langsung beralih melawan Aisyah.


"Aisyah.. " Lirih seorang yang Aisyah tolong, dia adalah Rico. Meskipun tak melihat wajahnya tapi dia sudah sangat mengenalnya hatinya tak akan mungkin salah mengenali gadisnya.


Tak lama Aisyah membantu kedua orang itu sudah berhasil di lumpuhkan oleh Aisyah begitu juga dengan dua orang yang melawan Rico dia juga sudah di lumpuhkan oleh Rico.


Aisyah mendekati satu orang di sana, mencengkram bajunya dan memaksanya untuk mengatakan apa tujuan mereka dan siapa yang memerintah mereka jika ada.


"Siapa kalian! Dan siapa yang menyuruh kalian!" Tanya Aisyah.


"Tu-tuan.. Ray.. yannnn..... " Jawab orang itu sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri.


"Papa! Tidak mungkin papa kan? " Pekik Aisyah tak percaya.


Dalam keraguannya Aisyah beranjak dan melihat siapa yang telah dia tolong, dan siapa target mereka. Dan betapa terkejutnya dia setelah melihat siapa yang menjadi target itu.


"𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰. " Pekik Aisyah dalam hatinya setelah dia berhasil melihat Rico yang kini menatapnya.


Aisyah langsung memalingkan wajahnya dia tak mau di kenali oleh Rico meskipun ternyata perkiraannya adalah salah. "Sebaiknya anda hati-hati di tempat ini sangatlah tidak aman. Banyak para preman yang akan melukai orang yang asing. " Ucap Aisyah dengan memberatkan suaranya supaya Rico tak bisa kenal.


Rico menggeleng, dia juga tersenyum dengan tangannya yang menghapus darah di bagian sudut bibirnya. "Hem... " Rico hanya bisa tersenyum melihat gadisnya itu berakting di hadapannya. Sepandai-pandai Aisyah akting Rico akan tetap mengenalinya.


Rico berjalan mendekat berdiri di sebelah Aisyah yang hendak akan pergi. "Terimakasih..... Ai-syah. " Lirihnya tepat di sebelahnya lalu berjalan melalui Aisyah.


Aisyah menganga tak percaya, dia sudah sekuat tenaga untuk menutupinya tapi kenapa Rico masih saja bisa mengenalinya. Ini tidak adil baginya, kenapa dia selalu tak bisa menyembunyikan apapun dari Rico sedangkan Rico bisa.


"Dari mana dia tau? " Bingung Aisyah seorang diri.


"Sudah jangan di pikirkan, cepat berangkat ke kampus atau kamu akan terlambat. " Rico menoleh dia tersenyum yang membuat Aisyah semakin berkedut.


Aisyah berlari karena sudah ketahuan ya sudah mau bagaimana lagi Aisyah pun melepaskan slayer yang ia pakai. "Dari mana bang Rico tau?" Tanya Aisyah yang ikut berjalan mensejajarkan langkah Rico.


"Apa sih yang tidak aku tau darimu, aku mengetahui segalanya. Bahkan isi hati mu juga aku mengetahui, jadi jangan coba-coba mengutukku meskipun itu di dalam hati saja. " Jawab Rico terkekeh.


"Kak Rico paranormal? "

__ADS_1


"Bukan."


"Terus? "


"Aku... " Rico menghentikan langkah dan berdiri menghadap Aisyah yang juga sontak berhenti menatapnya. "Aku laki-laki tampan yang hanya akan menjadi milik Aisyah saja. " Jawab Rico menjelaskan.


"Ihh.. Pede sekali Bang Rico ini. Kalau Aisyah tidak mau? "


"Takdir yang akan membuktikannya. " Jawab Rico.


"Ya ya.. Sepertinya bang Rico sudah mulai menghalu. " Aisyah mengangguk.


"Apa kamu tidak pernah menghalu juga? Aku tidak percaya kalau kamu mulus gitu aja menanti takdir. Pastilah kamu selalu menghalu ingin bersama ku. Tapi tenang, aku akan berbaik hati untuk menerimamu meskipun kamu gadis yang ugal-ugalan, kayak preman malah. " Ucap Rico.


"Hah!! Sadis sekali Bang Rico menyamakan aku seperti preman! "


"Ya apa lagi? Kayak ustazah mana ada ustazah suka kelayapan tiap malam. " Sekak Rico hingga dasar terdalam. "Aku tidak mau menghalangi mu karena itu memang pekerjaanmu, tapi tetap waspada. Dan ingat, jangan seperti kemarin lagi kau tidak akan selamanya beruntung. " Ucap Rico.


"Hahh! " Siapa yang tidak terkejut dengan penuturan seperti itu, Aisyah pasti akan sangat terkejut.


Rico memakai helmnya membiarkan Aisyah yang masih dengan hobi nya yang selalu terkejut dengan setiap kata-katanya. "Cepat berangkat , jangan melamun di tengah jalan kesambet entar. "


"Hah! " Lagi-lagi Aisyah hanya terkejut, sepertinya Rico memang sengaja melakukan itu.


Rico pergi lebih dahulu meninggalkan Aisyah di sana setelah sekali


lagi mengucapkan terimakasih. Sementara Aisyah tidak berniat untuk kembali ke kampus dia akan pulang dan meminta penjelasan kepada Rayyan, kenapa dia melakukan hal serendah ini pada Rico.


Apakah sikap manisnya pagi ini hanya untuk menutupi kesalahannya ini? Kalau memang benar bisa di pastikan kalau Aisyah tidak akan bisa memaafkannya.


___


"Wa'alaikumsalam.. Loh! Kok sudah pulang, Syah! " Rayyan yang baru keluar dari kamar begitu terkejut melihat putrinya yang beberapa saat tadi baru berangkat kenapa sekarang sudah kembali lagi.


Rayyan semakin bingung karena melihat wajah Aisyah yang tak bersahabat, seperti ada masalah yang telah dia alami tapi kenapa harus ke tempat Rayyan, apa dia sudah mulai percaya pada Rayyan dan akan bercerita segalanya?.


Rayyan berjalan mendekati Aisyah berdiri di depan Aisyah yang terlihat kesal itu. "Ada apa, Syah? " Tanya Rayyan.


"Apa yang Papa lakukan pada bang Rico? Kenapa Papa bisa melakukan hal serendah itu padanya, kenapa, Pa! " Cerca Aisyah.


Rayyan terhenyak , apa yang dia lakukan pada Rico? Bahkan dia tak melakukan apapun padanya dia tidak tau apa yang di maksud oleh Aisyah saat ini.


"Jelaskan, Pa! Jelaskan pada Aisyah! " Aisyah semakin tak sabar.


"Apa yang kamu maksud, Syah. Apa yang papa lakukan, papa tidak melakukan apapun pada Rico. " Jawab Rayyan.


"Tidak mungkin Papa tidak melakukan itu, orang itu jelas-jelas mengatakan kalau Pada yang menyuruh mereka. Lagian siapa lagi yang melarang hubungan Aisyah sama bang Rico kecuali Papa. "


"Beneran, Syah. Papa tidak melakukan itu. " Jawab Rayyan yang terus mencoba meyakinkan.


"Aisyah kecewa sama Papa. Ternyata ini alasannya Papa baik-baikin Aisyah di pagi ini. Semua ini karena Papa ingin menutupi kesalahan Papa, iyakan!. "


"Tidak, Syah. Tidak seperti itu.. "

__ADS_1


______


𝘊𝘬𝘪𝘵𝘵𝘵...


"Astaghfirullah! Mas, kalau mau nyebrang kira-kira dong! Lihat kanan kiri dulu kalau mas ketabrak nanti yang di salahin yang pakai motor lagi. " Ngomel Shelvia.


Sama seperti Aisyah yang hati ini mengendarai motor Shelvia pun sama, motor mereka sama persis modelnya hanya warna saja yang berbeda.


Orang itu menoleh, dia sudah hati-hati sebenarnya tapi Shelvia lah yang melajukan motor nya seperti macam cepet banget. Melihat siapa yang hampir menabraknya orang itu yang tak lain adalah Iqbal berjalan mendekat berdiri di seperti motor Shelvia dan malah berpangku dagunya dengan tangan yang dia letaknya di kepala motor Shelvia.


"Ihh.. Kak Iqbal ngapain di situ! Percuma sana aku mau kuliah! Oke aku ngaku salah aku minta maaf. " Ujar Shelvia.


Iqbal tetap tak bergeming, dia begitu menikmati wajah Shelvia yang terlihat salah tingkah karena dia pandangi terus menerus.


"Kak! Pergi. " Usir Shelvia tetap saja Iqbal tak bergeming dan malah semakin tersenyum manis di hadapannya.


"Aku akan pergi di sini kalau kamu memberikan tumpangan untuk ku, mobilku mogok jadi aku butuh tumpangan. " Akhirnya Iqbal mengeluarkan alasannya.


"Ti-tidak mau, kenapa Kak Iqbal tidak cari tumpangan lain saja. Tuh ada ojek di sana, lagian juga ada bis atau angkot yang lalu lalang di sini jadi Kak Iqbal bisa menumpangi salah satunya. " Jawab Shelvia.


"Aku tidak mau, aku maunya kamu yang mengantarkan ku." Kekeuh Iqbal.


"Tidak mau Kak. " Shelvia tak kalah kekeuh.


Satu tangan Iqbal menyentuh salah satu stang dan dengan cepat Shelvia pun melepaskannya karena dia tak mau sampai bersentuhan. Iqbal tersenyum puas dengan gerakan cepat Shelvia, Iqbal berjalan memutar dan langsung naik begitu saja di belakang Shelvia tanpa melepaskan tangannya.


"Kak Iqbal mau ngapain! " Teriak Shelvia begitu heboh.


Iqbal masih tak bicara dia diam namun terus tersenyum. Satu tangan memutar kunci dan langsung menyalakan mesinnya. "Mau maju atau kamu memang menginginkan aku memelukmu. " Ucap Iqbal.


Kedua tangan yang sudah berada di kedua sisi Shelvia membuat nya tak bisa bergerak dan tak bisa kabur lagi. Terpaksa Shelvia duduk maju supaya tidak bisa bersentuhan dengan Iqbal.


"Pintar." Ucap Iqbal singkat.


Tanpa ba-bi-bu Iqbal langsung menjalankan motornya dia tersenyum penuh kemenangan hati ini. Dia sangat senang bisa membuat pipi Shelvia merah merona dengan posisi ini.


"𝘒𝘢𝘬 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯, 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘵𝘪𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴. " Batin Shelvia.


"Gimana, romantis bukan? Bagaimana kalau kita lakukan ini setiap hari, aku tidak akan keberatan. " Ucap Iqbal.


"Nggak! " Jawab Shelvia cepat.


"Benerin nolak nih? Oke oke.. Aku anggap ini adalah persetujuan mu. " Ucap Iqbal.


"Hah!... Siapa juga yang setuju! Aku nggak mau ini nggak pantas, Kak. "


"Bagaimana kalau kita pantasin saja, aku bersedia. "


"Ogah! "


__


Bersambung...

__ADS_1


______________


__ADS_2