
Tidak terasa hari ini aku harus kembali Ke kampus lagi dan aku begitu bersemangat untuk kuliah. Ini adalah hari yang selalu aku nanti selama ini. Aku berharap disinilah mimpi ku yang nyata ini akan dimulai.
Aku berjalan menuju Kampus dan acara hari ini adalah mengenai OSPEK yang akan dilakukan masing-masing jurusan. Saat pertama kali aku memasuki kampus, aku melihat begitu banyak mahasiswa yang begitu semangat sekali.
Saking asyiknya aku melihat-lihat sekitar, tidak sengaja aku menabrak seseorang hingga aku hampir terjatuh. Aku sontak berpegangan padanya agar aku tidak terjatuh. Dan di sanalah mata kami saling beradu.
" Deg, " Hatiku tiba-tiba berdetak tidak karuan.
" Maaf, " Terdengar lantang suara seseorang yang kini berusaha merangkul ku agar aku tidak terjatuh.
Aku langsung berdiri dan sedikit canggung berada di depan laki-laki tersebut. Laki-laki tampan, putih, tinggi dan senyumnya yang membuat hatiku tidak sengaja meleleh.
Laki-laki tersebut tersenyum sangat manis sekali pada ku. Secara tidak sengaja parasnya mengingatkan ku pada Almarhum Farrell, laki-laki yang pernah mengisi hidup ku dan hari-hari ku menjadi indah.
" Sekali lagi maaf ya, aku tidak sengaja menabrak kamu barusan, " Laki-laki tersebut meminta maaf pada ku.
Kata-katanya yang ramah membuat hatiku berdebar-debar dan entah aku tidak tahu apa yang kini sedang terjadi padaku.
" Tidak apa-apa, aku juga minta maaf. Aku tadi juga tidak memperhatikan jalan yang di depan. Sekali lagi aku minta maaf ya. "
" Ok, tidak masalah. "
" Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya. "
" Iya, silahkan. "
Aku pergi berlalu meninggalkannya, meskipun dalam hati kecilku aku ingin sekedar tahu namanya. Namun aku tidak mungkin berkenalan dengannya, entah kenapa aku merasakan sosok diri Almarhum Farrell ada dalam dirinya. Jangan tanyakan kenapa bisa, karena jawabannya pun aku tidak tahu.
Tiba-tiba sesuatu terjadi dan itu membuat hatiku semakin berdebar-debar.
" Tunggu sebentar, " Kata laki-laki tersebut.
Aku menghentikan langkah ku, namun tidak berani menoleh.
" Kenalin namaku Arselio Daxterv Giuliano Digjayantara. Panggil saja Arsel, lalu nama kamu siapa ??? "
" Rissa Mahardika Pertiwi, panggil saja Rissa. "
" Senang berkenalan dengan mu, Rissa. "
__ADS_1
Merona merah pipi ku saat Arsel mengatakan kata-kata tersebut. Aku tidak tahu dari sekian laki-laki yang aku jumpai Di kampus, hanya pada Arsel hati ku mulai berpaut. Lantas siapakah sebenarnya laki-laki yang mampu mengambil hatiku tersebut ????.
Dengan keadaan hati yang tidak menentu, aku pun pergi berlalu begitu saja. Namun dalam hatiku tersenyum karena laki-laki tersebut mau mengajakku berkenalan.
Aku ingin cepat-cepat menceritakan semua ini pada sahabat baru ku, Erika. Dia pasti sangat senang mendengar berita ini. Dia ingin sekali aku bisa kembali merasakan jatuh cinta pada laki-laki lain.
Setibanya Di Fakultas Psikologi, aku mencari-cari sahabat baruku tersebut. Namun aku tidak berhasil menemukannya. Namun pada akhirnya seseorang menepuk pundak ku dari arah belakang.
" Hai, " Kata seseorang yang menepuk pundak ku.
" Erika, " Jawabku bahagia.
" Ngapain cari-cari aku ??? Ada masalah !?? "
" Gak sih cuma pengen ngasih kabar bahagia saja. "
" Kabar bahagia ????. Kabar bahagia apa sih, cerita dong. Penasaran banget ni. "
" Aku ketemu seseorang yang menarik hati ku hari ini Rik, aku seneng banget pokoknya Rik. "
" Memangnya siapa dia yang berhasil mencuri hatimu ??? "
" Seorang laki-laki yang hampir mirip dengan Farrell Rik, sepertinya dia adalah kembaran Farrell tapi dengan wajah yang berbeda. "
" Jangan gitu dong Rik, jadi malu ni. "
" Tapi beneran deh aku jadi pengen tahu nih siapa sih laki-laki yang sudah berhasil mencuri hati sahabat tersayang ku ini. "
" Suatu saat kamu pasti tahu Rik, dan disaat itu pula kamu pasti juga ikut bahagia karena sahabatmu ini sudah bisa membuka hati untuk laki-laki lain. Tapi entahlah apa perasaan ku ini beneran sebuah cinta atau sebuah pelampiasan saja. Tapi melihatnya, dan pertama kali bertemu dengannya aku merasakan sebuah perasaan yang tidak menentu. "
" Aku doakan semoga kalian berjodoh kalau memang laki-laki tersebut adalah jodoh terbaik yang sudah Allah siapkan untuk kamu Riss. "
" Makasih doanya ya Rik. "
" Iya Riss. "
'' Ya sudah yuk ini kan masih pagi, Ke kantin dulu yuk laper ni gak sempat sarapan tadi pagi Di rumah. "
" Ok, ayo aku anterin. "
__ADS_1
" Baik banget sih. "
" Lebai deh kamu Rik. "
" Hehe. "
Kami pun langsung menuju kantin kampus untuk sarapan. Tapi jujur dalam lubuk hati ku yang paling dalam, pikiran ku belum bisa lepas dari kejadian Pertemuan Yang Tidak Di sengaja tadi. Aku ingin bertemu dengannya lagi, Karena bertemu dengannya sama dengan mengobati rasa kangen ku pada Farrell.
Dan disaat aku melamun seperti itu tidak sengaja aku menabrak Bryant, Bukannya membantuku seperti yang dilakukan Arsel tadi. Justru Bryant membiarkanku terjatuh.
" Dasar Lo gak punya mata ??? Atau mata Lo taruh mana ??? Dengkul ??? "
Sebenarnya aku malas berurusan dengan laki-laki menyebalkan itu, tapi bagaimana lagi kini aku harus menghadapinya.
" Maaf aku gak sengaja menabrak kamu barusan, lagian kamu gak apa-apa kan. Malah aku yang jatuh. "
" Masa bodoh, emang gue peduli !!!! Lo mau jatuh, jungkir balik urusan Lo. Males gue setiap ketemu Lo selalu sial, apa Lo perempuan pembuat sial ya. "
" Kenapa sih kamu benci banget sama aku. "
" Lebih baik Lo pindah fakultas aja deh, gue males berurusan sama anak-anak miskin seperti Lo ini. "
" Apa orang miskin sepertiku ini tidak berhak bisa kuliah seperti kalian orang-orang kaya ???? "
" Harusnya Lo ngamen saja gih di jalan sana, tempat yang cocok buat Lo. Lagian gue sudah denger kok kalau Lo kuliah disini gratis kan ??? "
" Maksud kamu ??? "
" Gue udah tahu semuanya, kalau Lo kuliah disini hanya bermodalkan beasiswa aja kan ??? "
" Menurut kamu dengan beasiswa tersebut tidak berarti apa-apa ??? Orang kaya sepertimu gak akan pernah mengerti tentang arti sebuah perjuangan !!! "
" Inilah salah satunya alasan gue benci banget sama orang miskin seperti Lo, penuh drama tahu gak lo !!!!! "
" Sudah Riss, kita pergi saja percuma ngomong sama orang ****' kaya dia. Orang macam dia tahunya hanya merengek minta uang pada orang tuanya saja. Aku yakin dia gak bakalan pernah tahu rasanya berjuang untuk mendapatkan sesuatu dari tangannya sendiri ?!!'' Erika mengajakku pergi meninggalkan Bryant beserta kesombongannya.
" Ngapain berjuang susah payah, sedangkan semuanya sudah ada di depan mata. Lagian kita sama, Lo juga bergantung pada kekayaan orang tua Lo kan ??? "
" Tapi gue gak sombong seperti Lo. "
__ADS_1
" Sudah Rik, kita pergi saja dari sini. Percuma ngomong sama manusia sombong berhati batu seperti dia. "
Aku dan Erika segera pergi meninggalkan laki-laki sombong tersebut dan tidak mempedulikan dia berkata apa.