
Tidak terasa siang pun datang, aku sibuk membantu Ibu memasak di dapur. Sedangkan Kak Arsel sedang pergi mandi. Namun tiba-tiba Ibu menyuruh ku membawakan handuk buat Kak Arsel. Entah kenapa tiba-tiba hati ini berdetak tidak karuan saat mendengarkan Kak Arsel membersihkan dirinya dengan suara gemericik airnya. Pikiran ku jauh melayang membayangkan Kak Arsel mandi tanpa sehelai benang tersebut.
" Ah Rissa, kamu mikir apa sih. Jorok banget pikiran kamu. Ayo sadar istighfar, " Batin ku dalam hati.
Dan ternyata Kak Arsel sadar akan kehadiran ku.
" Rissa, kamu di luar ???? " Teriak Kak Arsel.
" Iya Ini aku bawakan handuknya. "
" Ya sudah mana handuknya ??? "
" Hah ???? Apa ???? Kamu menyuruh ku masuk ke dalam sana sayang ??? "
" Ya gak lah, taruh saja di atas sini sayang. "
" Iya sudah kalau begitu, " Jawab ku sambil berlari menahan malu.
Sesampai di dapur ternyata makanan sudah matang. Makanan yang cukup sederhana namun menggugah selera. Lalapan telur dan ikan asin beserta sambalnya. Tidak lupa sayurnya yaitu kubis dan terong yang sudah di rebus. Kerupuk dan juga es teh juga sudah terhidang di meja makan sederhana kami.
Dan kebetulan Kak Arsel sudah selesai membersihkan dirinya. Kami pun akhirnya sudah siap untuk makan bersama siang ini. Bahkan yang membuat ku kagum pada Kak Arsel, dia makan siang tanpa menggunakan sendok sama halnya seperti kami. Dia mencoba berbaur dan mengenal keluarga ku dengan baik.
Setelah selesai makan siang, kami mengobrol di ruang tamu. Dan Kak Arsel pun mengungkapkan alasannya datang ke rumah kami.
__ADS_1
" Sebelumnya mohon maaf dengan kedatangan Arsel kesini yang mendadak sekali ya Ibu dan Ayah. Arsel kesini dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat keluarga disini. Arsel juga ingin memperkenalkan diri Arsel disini. Jadi nanti ketika di hari pertunangan, kita semua sudah saling mengenal. "
" Iya Nak, Ibu dan Ayah disini juga senang sekali bisa mengenal Nak Arsel. Ibu gak pernah menyangka memiliki calon menantu sebaik Nak Arsel, yang bisa menerima Rissa dan juga keluarganya dengan baik. "
" Iya, Arsel hanya meminta doa restu dari keluarga disini. Tolong restui kami agar kami bisa bahagia dalam menjalani hubungan ini. "
" Iya Nak, kami sekeluarga pasti akan merestui hubungan kalian. Terlebih Papanya Nak Arsel sudah sedemikian baiknya pada keluarga kami. "
" Iya dan satu hal lagi, tapi kalau Ibu dan Ayah mengijinkan. Arsel mau mengajak Rissa ke Malang, karena ada seseorang yang ingin sekali bertemu dengan Rissa. Dan Arsel sudah berjanji akan membawa Rissa menemuinya. "
" Ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa. Asal pesan kami jaga diri baik-baik. Kami titip Rissa pada Nak Arsel ya. "
" Iya Arsel janji akan sebaik mungkin menjaga Rissa dan tidak akan pernah menyakitinya sedikit pun. Ibu dan Ayah jangan khawatir ya. "
" Iya Nak Arsel, " Kata Ayah sambung ku.
Kurang lebih lima menit kami berdiri dan mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada sahutan. Bahkan kami mencoba bertanya di tetangga sekitar, katanya Ayah kandung dan Ibu tiri ku ada di dalam Rumah. Karena jam-jam segini mereka selalu ada di rumah.
Kak Arsel mencoba menenangkan hati ku dan menyuruh ku untuk tetap bersabar dalam menghadapi sikap Ayah kandung ku.
" Tidak apa-apa, gak usah sedih dan gak usah dipikirkan. Yang penting kita sudah ada niatan untuk berbuat baik dan meminta restu padanya. Perihal niat baik kita tidak diterima dengan baik, tidak masalah. Yang penting kita sebagai yang muda sudah mencoba menghormati yang tua sayang, " Kata Kak Arsel mencoba menenangkan hati ku.
" Tapi tetap saja, Ayah kandung ku seperti tidak memiliki hati. Sikapnya benar-benar kelewatan, aku sudah berulang kali meminta maaf padanya tapi tidak pernah dihargai. Apa sih salah ku ??? Sepertinya dia benar-benar membenciku ??? Kalau memang dia tidak mau memiliki ikatan lagi dengan ku, harusnya dia katakan saja. Aku lelah diperlakukan seperti ini, aku lelah, " Ucap ku sambil menangis dan meneteskan air mataku.
__ADS_1
Kak Arsel segera mengusap air mataku. Dan menuntun ku masuk ke dalam mobil.
" Sudah ya sayang, kamu gak boleh ngomong kayak tadi lagi ya. Karena gimana pun juga di dalam tubuh kamu ini, telah mengalir darah dari Ayah kandung kamu sayang. Selamanya kalian akan memiliki ikatan yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun. Seburuk dan sejahat nya dia sama kamu, suatu saat pasti dia akan sadar kok. Kamu jangan menyerah ya sayang, aku akan terus menemani kamu untuk mendapatkan restu dari Ayah kandung kamu. Seperti hal nya kamu selalu di samping ku untuk mendapatkan restu dari Mama. "
" Iya sayang, makasih ya kamu mau menerima keadaan keluarga ku. Dan terima kasih juga kamu selalu ada buat aku sayang.
" Iya sama-sama sayang. Karena itu sudah tugas ku menjadi pasangan hidup kamu. Jadi apapun dan bagaimanapun keadaan keluarga kamu, aku pasti akan menerimanya dengan tulus dan ikhlas sayang. Dan aku janji sama kamu, aku akan selalu ada buat kamu. Dalam Suka Dan Duka. "
" Beneran sayang ??? "
" Iya sayang, kamu susah maupun senang pun aku akan tetap berdiri menemani mu. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian menghadapi masalah terberat sekalipun dalam hidup kamu sayang. "
" Makasih ya sayang. "
" Iya sayang, " Kata Kak Arsel sambil mengusap lembut pipiku.
Kami pun segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap pergi ke Malang. Dan ketika sampai di rumah kami berdua secara bergantian membersihkan diri dan berganti baju. Ternyata Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kami sebelum pulang. Sehingga kami pun segera menyantap makanan lezat masakan Ibu.
Kini tibalah kami harus berpamitan untuk segera berangkat ke Malang. Ibu memeluk ku dan mencium pipi beserta kening ku.
" Nak Arsel titip Rissa, anak Ibu ya. Jaga dia dengan baik ya, dan hati-hati di jalan. "
" Iya Bu, kami pamit dulu ya. Maaf kalau ada salah kata dan sikap yang tidak Arsel sengaja. Arsel sebenarnya betah dengan suasana di sini Bu, tapi Arsel harus menghalalkan Rissa dulu baru kami bisa menginap disini Bu. Ibu dan Keluarga jaga kesehatan ya, kami pamit dulu. "
__ADS_1
" Ya Nak, " Kata Ibu.
Kami pun langsung berpamitan dan bersalaman dengan yang lainnya.