
Hari ini Di fakultas ada ajang Pemilihan Model Perwakilan Fakultas untuk mengikuti lomba Di tingkat Universitas. Jadi masing-masing fakultas harus mengirimkan satu peserta lomba sebagai model.
Aku tidak begitu tertarik sehingga aku tidak mendaftarkan diri untuk mengikutinya. Tapi banyak sekali teman-teman fakultas psikologi yang mendaftarkan diri baik itu seangkatan, kakak tingkat maupun adik tingkat.
Lomba pun akan segera dimulai, namun seseorang memaksaku untuk mengikuti lomba tersebut. Siapa lagi kalau bukan Bryant !!!!
" Riss, lo ikut saja lomba ini. "
" Tapi aku gak tertarik untuk menjadi model. "
" Tapi lumayan lo hadiahnya kalau lo menang. "
" Memangnya berapa ??? "
" Juara 1 Rp 7.000.000, juara 2 Rp 6.000.000 dan juara 3 Rp 5.000.000. Terus kalau juara harapan @ Rp 2.000.000 Riss. Lumayan kan ??? "
" Iya juga sih. Ya sudah aku mau iseng daftar juga ya. "
" Iya Riss, semoga beruntung ya. "
" Iya. "
Hari itu juga aku nekat daftar lomba model tersebut dan sebagai peserta terakhir. Bermodal percaya diri dan demi kemenangan mendapatkan uang tunai tersebut untuk menyambung hidup aku semangat mengikutinya.
Ketika lomba dimulai satu persatu para peserta banyak yang berguguran karena tidak sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan. Entah karena kurang tinggi, kurang percaya diri atau kurang luwes dalam memperagakan diri sebagai model.
Dan kini tiba waktunya giliran ku tampil. Awalnya aku grogi namun aku harus percaya diri demi hadiah yang aku incar sejak awal. Namun selebihnya aku juga tidak yakin bisa memenangkannya.
__ADS_1
Erika yang juga ikut menjadi peserta lomba tersebut tiba-tiba mendekatiku.
" Kamu punya nyali juga ya Riss ikut lomba ini. "
" Iya Rik, aku hanya menginginkan hadiahnya saja Rik, aku tidak tertarik menjadi model kok. "
" Iya wajar sih kamu kan orang miskin, jadi yang ada dalam otak kamu ya hanya uang saja. Berbeda denganku, aku mengikuti lomba ini karena memang aku ingin menjadi seorang model. "
" Apa maksud kamu ngomong kayak gitu Rik ???. Kamu gak perlu sedetail itu menghinaku, karena satu fakultas ini sudah tahu kok kalau aku memang orang miskin dan mahasiswa gratisan disini. Terkait kamu yang serius mengikuti lomba ini, aku percaya kok kalau kamu memang sempurna sekali dan pasti akan menjadi pemenangnya. "
" Kamu gak usah marah kayak gitu dong Riss, aku cuma bercanda kok. "
" Bercanda juga ada batasnya Rik, aku gak pernah menyangka kamu berubah seperti ini. Dulu kita adalah sahabat yang baik, dan kamu gak pernah menyakiti hatiku. Tapi sekarang mata hatimu sudah buta dan menghinaku mungkin sebuah kepuasan tersendiri buatmu saat ini. "
" Jangan tersinggung Riss, karena memang kenyataannya seperti itu kan. Kamu butuh uang kan untuk bertahan hidup. Ok, begini saja deh sebagai bentuk kalau aku masih peduli sama kamu, kalau nanti aku menang hadiah uangnya boleh kok buat kamu. "
Dari kejauhan aku melihat Erika menunduk, entah karena dia malu karena kata-kataku tadi atau karena dia menyesali perbuatannya. Erika sungguh-sungguh sangat berubah sekali karena yang aku tahu selama ini dia baik sekali padaku.
Akhirnya diumumkan juga siapa yang akan mewakili fakultas untuk berjuang mengikuti lomba ke Universitas. Dan pemenangnya adalah Erika !!. Erika memang pantas mendapatkannya dan sebagai pemenangnya. Selain karena parasnya yang sangat cantik, tinggi semampai, anggun, dan juga berbakat sebagai model memang patut diacungi jempol.
Fakultas pun segera menetapkan Erika sebagai perwakilan dari fakultas untuk maju ke Universitas. Bagaimanapun juga aku sangat bersyukur sekali karena Erika memang sangat pantas mendapatkannya. Dia berbakat dalam segala hal.
Aku pergi meninggalkan ruangan menuju kelas. Aku gagal untuk mendapatkan hadiah tersebut.
" Mungkin bukan rezeki ku, " Batinku.
Beberapa hari kemudian.......
__ADS_1
Kini waktunya lomba dimulai, namun tiba-tiba Erika mengeluh sakit perut dan pingsan. Sehingga mau tidak mau dalam keadaan darurat seperti ini harus ada yang menggantikannya. Siapa yang menyangka para panitia menunjukku untuk menggantikan Erika.
Awalnya aku menolak karena tanpa latihan, aku berfikir apa aku bisa. Namun para panitia meyakinkanku kalau aku pasti bisa melewati ini semua. Akhirnya aku menerima tawaran ini, dan aku langsung di make over dan memakai gaun yang sangat indah.
Sungguh kehebatan make up membuatku bisa menjadi secantik ini. Banyak yang mengagumi kecantikan ku yang tersembunyi ini. Karena memang aku jarang berdandan, jadi sekali di dandani wajahku berubah total.
Para panitia di fakultas juga langsung mengurus masalah administrasi pergantian nama peserta di Universitas. Kini namaku yang terpampang sebagai model perwakilan fakultas.
Aku tidak menyangka bisa menggantikan Erika, kini Erika pun sedang dirawat Di rumah sakit. Bukannya aku mengambil kesempatan di balik kesempitan, tapi mungkin ini semua sudah jalan takdir Tuhan untukku. Aku harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya.
" Lo cantik banget, semangat ya menjadi juara, " Bryant memberiku semangat.
" Makasih Bryant, " Aku menjawabnya dengan tersenyum.
Akhirnya lomba pun dimulai, sungguh aku merasakan nervous yang luar biasa. Tapi Bryant dan teman-teman mendukungku dan memberi semangat kalau aku pasti bisa dan menjadi juaranya.
" Semangat Riss, gue yakin lo menjadi juaranya. Lo sudah secantik ini, jadi tunjukkan pada kita semua lo pasti bisa dan berhasil menjadi pemenangnya. Demi nama fakultas kita Ris, " Bryant tiada henti-hentinya memberiku semangat dan dukungannya.
" Iya Bryant, aku pasti bisa. "
Para peserta dari berbagai fakultas terlihat sangat cantik-cantik dan bergaya di atas catwalk berkarpet merah dengan luwes sekali. Dan kali ini adalah giliran ku. Aku memposisikan diriku bak model profesional sehingga dengan luwes dan percaya diri aku bisa melakukan tugasku dengan baik.
Kini saatnya kita semua menanti keputusan dari juri untuk menilai kami dan menetapkan siapa yang menjadi juara. Terlebih aku, aku berharap bisa menjadi bagian dari pemenangnya. Setidaknya juara harapan aku sudah sangat bersyukur.
Akhirnya pemenangnya pun diumumkan, aku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan juara 3 !!!! Soalnya saingan aku dari berbagai fakultas tadi juga banyak yang lebih hebat dariku. Aku tiada henti-hentinya mengatakan beribu terima kasih pada pihak-pihak yang sudah mendukungku. Karena tanpa mereka aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti ini.
__ADS_1
Aku tidak pernah bisa menyangka bisa menjadi seorang model seperti sekarang ini. Setidaknya aku bisa memberikan kontribusi yang positif untuk fakultas. Dan piala serta sertifikat penghargaan ini sebagai buktinya bahwa aku mahasiswa berprestasi bukan mahasiswa gratisan lagi.