
Akhirnya acara makan-makan bersama teman-teman selesai. Aku dan Erika bersiap untuk pulang ke rumah, namun lagi-lagi Bryant menahan ku untuk pulang.
" Rissa, tunggu. "
Sambil menghela nafas, aku berbalik.
" Ada apa lagi sih Bryant ??? Apa belum jelas kata-kataku tadi ??? "
" Rissa, please kamu pikirkan lagi kata-kata gue tadi. Gue gak ada maksud apa-apa, gue hanya ingin melindungi lo. "
" Udahlah Bryant, gak usah bahas ini lagi ya. Aku capek, aku mau pulang. "
" Ya sudah, yang penting gue udah ingetin lo. Tapi yang pasti mau tidak mau gue akan berusaha jagain lo dari Cassandra dan keluarganya. Gue gak akan pernah biarin lo hadapi masalah lo sendirian. "
" Terserah, ayo Rik kita pulang. "
" Ayo. "
Aku dan Erika pun pulang, namun Erika buru-buru pulang karena seharian sudah bersama ku. Selain itu Papanya yang baru sembuh masih sangat membutuhkan kehadiran Erika.
" Aku langsung pulang ya Riss, besok aku kesini lagi ya. Kabari kalau ada apa-apa ya. "
" Iya Rik, Hati-hati ya di jalan. "
" Ok, Bye. "
" Iya. "
Aku langsung kembali masuk ke kamarku, rasanya lelah sekali malam ini. Namun tiba-tiba kakiku menginjak sebuah kertas, lebih jelasnya bertuliskan seperti ini,
" Kalau kamu mau selamat, tinggalkan kota ini secepatnya !!!!. Kalau gak, kamu akan menyesal !!!!!! "
Tanganku terasa gemetar membaca sepucuk kertas yang berisi teror tersebut. Aku begitu takut, siapa yang sudah meneror ku seperti ini. Aku langsung mengunci pintuku dengan rapat, dan disaat yang bersamaan ponselku berbunyi. Saat aku melihat, nomor yang tidak aku kenal menghubungiku. Namun dengan sekuat tenaga dan hati, aku mengangkatnya. "
" Halo, " Aku mengangkat telepon dengan suara gemetar.
" Sudah menerima sepucuk suratnya kan ??? "
__ADS_1
" Ka.. Kamu siapa ?? "
" Kamu gak perlu tahu siapa saya, yang paling penting saat ini kamu harus turuti untuk meninggalkan kota ini secepatnya. Kalau kami gak mau, kamu bakalan menyesal seumur hidupmu !!!! "
" Katakan siapa kamu ??? "
" Selagi masih ada kesempatan dan saya masih berbaik hati, turuti saja. Jangan sampai saya melakukan sesuatu yang membuat kamu menyesal seumur hidup. "
" Aku gak takut dengan ancaman kamu, aku akan laporkan kamu ke kantor polisi !!!! "
" Silahkan saja laporkan Ke kantor polisi, tapi jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa dengan keluargamu Di kampung. "
" Jangan pernah sekali-kali sentuh keluargaku, mereka gak bersalah sama sekali. "
" Makanya kamu turuti saja, cepat tinggalkan kota ini. Dengan begitu kamu bisa kembali dan hidup tenang di kampung bersama keluarga kamu. "
" Aku gak mau, aku jauh-jauh kesini hanya untuk kuliah !!!! Sekali lagi aku tanya kamu siapa ????? "
" Gak penting kamu tahu siapa aku. "
" Apa kamu ada hubungannya dengan Cassandra ?? "
" Aku yakin kamu ada hubungannya dengan Cassandra, karena aku tidak memiliki musuh selain dia. "
" Cassandra atau bukan, kamu hati-hati saja. Aku sudah memperingatkan kamu untuk lebih hati-hati, karena kamu tidak bisa diajak berkompromi. Dan aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidupmu. ''
" Terserah, " Aku membalas ucapannya dengan lantang.
Aku langsung mematikan ponselku dan mencoba bertahan dengan keadaan yang ada. Untuk pertama kalinya aku mendapatkan sebuah Teror, dan sungguh aku masih mencoba bertanya-tanya siapa pelaku dibalik ini semuanya.
Apakah sang peneror ini adalah orang suruhan Cassandra atau orang lain ????.
Tiba-tiba aku mendapatkan pesan singkat dari nomor baru lagi dan isinya seperti ini,
" Kalau kamu masih mau hidup, cepat tinggalkan kota ini secepatnya. Kalau tidak, nyawa kamu akan melayang !!!!! "
Saking gemetar nya diriku mendapatkan teror seperti ini, ponselku langsung terjatuh. Aku ketakutan seorang diri di dalam kamar kosan seorang diri. Bisa dibayangkan menjadi aku yang seorang diri di dalam kosan malam-malam begini. Aku membayangkan pelaku teror tersebut ada di sekitarku saat ini.
__ADS_1
Aku mengambil ponselku untuk menghubungi seseorang, dan orang pertama yang aku hubungi adalah Erika. Namun berkali-kali aku hubungi tidak diangkat, mungkin dia sedang tidur. Lalu aku mencoba menghubungi Arsel, sama seperti halnya Erika dia juga tidak mengangkat telfon ku.
Aku bingung mau menghubungi siapa, kalau aku menghubungi keluargaku aku takut mereka mengkhawatirkan keadaanku. Aku tidak mau membebani mereka lagi, karena sudah cukup sulit bagi mereka memikirkan kondisi finansial mereka.
Dan.....
Tiba-tiba aku teringat akan kata-kata Bryant, aku teringat semua yang dia katakan padaku. Aku ingin menghubunginya, tapi aku takut kalau masalah ini makin menjadi sulit.
Aku merebahkan diriku di kasur, namun mata ini tidak bisa di pejamkan. Aku bingung harus bagaimana, kalau aku menuruti teror tersebut dan pulang ke kampung sama saja aku harus mengubur dalam-dalam impianku selama ini. Tapi kalau teror tersebut tidak aku turuti, nyawaku terancam.
Sepanjang malam aku terjaga dan tidak tertidur memikirkan masalah ini. Bagaimana tidak, aku seorang diri di kota orang. Aku tidak tahu harus apa.
Hingga tiba-tiba suara berdering ponselku mengagetkan ku.
" Halo, Rissa ??? Ada apa ??? Kamu baik-baik saja kan di sana ??? "
" Arsel, " Aku langsung menangis seketika.
" Kamu mengapa menangis ??? Apa terjadi sesuatu, katakan padaku, " Suara lembut dari Arsel sedikit menenangkan hatiku.
" Aku mendapatkan teror malam ini. "
" Teror apa Rissa ??? "
" Aku mendapatkan sepucuk kertas berupa ancaman, telepon masuk dan juga SMS yang mengatakan kalau aku harus segera meninggalkan kota ini. Kalau tidak, nyawaku taruhannya. Aku benar-benar takut. "
" Iya aku paham, kamu sekarang sangat ketakutan kan, gini saja gak usah kamu matikan telfon ku ini. Setidaknya sampai kamu bisa tidur, dan besok pagi aku langsung ke sana menemui kamu ya. "
" Iya Arsel, Terima kasih ya. "
Dan malam itu dalam keadaan panggilan telfon dari Arsel yang tetap berjalan, tidak terasa aku langsung terlelap dalam ketakutan yang sungguh-sungguh menyiksaku.
Aku tidak tahu langkah apa yang akan aku ambil selanjutnya, tapi yang pasti aku hanya ingin tetap mengejar impianku.....
Untuk malam ini aku hanya ingin istirahat sejenak, melepaskan segala permasalahan hidup ku. Meskipun sangat berat, aku ingin sekali bisa melewati ini semua. Aku yakin pasti bisa menyelesaikan masalah ini, karena aku harus optimis semua demi masa depanku.
Hingga tidak terasa dalam tidurku, air mataku menetes membasahi pipiku. Dari sanalah kejujuran tentang hatiku terlihat, dimana sebenarnya aku sudah sangat terbebani dengan permasalahan hidupku. Masalah yang kian silih berganti datang, membuatku sangat sedih sekali.
__ADS_1
Tapi bagaimanapun juga aku harus tetap optimis, karena aku sudah melangkah sejauh ini. Jalan yang aku lalui sudah sepanjang dan seterjal ini. Tidak mungkin aku mundur dan berhenti sampai disini,