
Hari demi hari telah berlalu, tidak terasa hari ini adalah hari Ujian Akhir Sekolahku**** di masa-masa SMA ku. Aku berjuang untuk masa depanku agar aku bisa lulus dengan nilai yang sangat bagus dan bisa mendapatkan beasiswa masuk Ke universitas. Aku tidak muluk-muluk menargetkan masuk Ke universitas terbaik, karena bisa diterima kuliah gratis dimana saja aku sudah sangat bersyukur.
Yang terpenting untuk saat ini adalah doa restu Ibuku. Karena aku yakin doanya akan di hijabah oleh Allah, karena setiap doanya yang paling mujarab di dengar dan dikabulkan.
Sebelumnya aku sudah meminta doa restunya. Aku pulang menemui Ibuku, dan bersujud mencium kedua kakinya. Farrell lah yang mengantarku pulang menemui Ibuku.
" Bu, Rissa minta maaf kalau ada salah kata selama ini, Rissa juga meminta doa restu Ibu agar Rissa bisa lulus sekolah dengan nilai yang terbaik. Doakan juga agar cita-cita Rissa terkabul untuk mendapatkan beasiswa masuk Ke perguruan tinggi ya Bu ??? "
Ibu menyuruhku berdiri dan langsung memelukku. Ibu menangis sambil mengelus rambutku. Seketika suasana menjadi haru dan sedih.
" Doa Ibu selalu menyertaimu Nak, hanya doa yang bisa Ibu berikan padamu selama ini. Ibu tidak bisa memberikan lebih kecuali hanya sebuah doa Nak. "
" Tapi doa dari Ibu sangat penting Bu, Rissa sangat mengharapkan Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat Rissa Bu. "
" Nak, selama ini Ibu tidak bisa membantu apa-apa buat kamu. Kamu sekolah Di kota dengan usaha dan perjuanganmu sendiri. Kamu berjuang seorang diri disana tanpa bantuan siapapun. Kamu sekolah sambil bekerja. Ibu bisa bayangkan kerasnya perjuanganmu dan betapa lelahnya dirimu. Kamu harapan Ibu satu-satunya Nak, Ibu berharap kelak kamu menjadi orang yang sukses. Semoga lelahmu saat ini menjadi berkah Nak. "
" Iya Bu terima kasih ya Bu, semoga Allah senantiasa mendengar dan mengabulkan doa Ibu. Rissa ingin membahagiakan Ibu, membahagiakan keluarga semuanya. "
" Iya Nak, doa dan restu Ibu selalu menyertaimu Nak. Rissa harus terus berjuang untuk bisa berhasil. Ibu yakin Rissa akan menjadi yang terbaik. "
" Iya Bu, terima kasih ya. "
" Iya Nak. Riss, Ibu boleh gak minta sesuatu pada Rissa ??? "
" Apa Bu, katakan saja Bu. Selama Rissa bisa, pasti Rissa akan lakukan Bu. "
" Pergilah Kerumah Ayah mu, mintalah doa dan restu juga padanya. Bagaimanapun juga dia adalah Ayah kandungmu. Lupakan semua yang sudah terjadi selama ini. Karena seburuk apapun Ayahmu, di dalam dirimu ini mengalir darahnya Nak. "
" Tapi aku takut Ayah tidak menerima ku Bu. "
" Cobalah sekali saja Nak, yang penting kamu sudah datang untuk meminta doa restu darinya. Masalah tidak diterima, tidak dihargai itu urusan belakangan. Yang terpenting adalah kamu sudah datang padanya Nak. "
" Iya sudah kalau begitu Rissa akan mencobanya Bu, Rissa akan Ke rumah Ayah Bu. Semoga Ayah juga memberi doa restu pada Rissa. "
__ADS_1
" Iya Nak. "
" Maaf Bu, Rissa langsung pamit dan tidak bisa menginap karena Rissa harus kerja lagi nanti sore Bu."
" Iya Nak, tidak apa-apa Ibu ngerti Nak. Jaga diri dan kesehatanmu ya Nak. Ibu tidak bisa membantu apa-apa Nak, tapi percayalah Ibu selalu mendoakanmu yang terbaik. "
" Iya Bu. "
Aku pamit dan bersiap Ke rumah Ayahku, Farrell selalu setia menemaniku. Saat aku sudah sampai Di depan rumah Ayahku, aku berusaha beberapa kali mengetuk pintu rumahnya namun tidak ada jawaban sama sekali.
Ketika aku ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba pintu rumah Ayahku terbuka. Ayah lah yang membuka pintu untukku. Aku tidak menyangka dia masih mau menerimaku Di rumahnya.
Lalu apa yang terjadi ???? Apakah aku mendapatkan dia restu darinya atau aku di usir dari sana ????
" Yah, boleh Rissa masuk sebentar ???. Maaf kalau kedatangan Rissa kesini sudah mengganggu kenyamanan Ayah, " Aku memulai pembicaraan.
" Ya, " Kata Ayah singkat.
" Tujuan Rissa kesini adalah untuk meminta doa dan restu pada Ayah. Semoga dengan mendapat doa dan restu dari Ayah Rissa diberi kemudahan dan kelancaran mengerjakan ujian akhir sekolah Yah. "
Kata-kata Ayah barusan membuat hatiku sakit, bukannya aku mendapat semangat untuk termotivasi justru aku malah down dan sedih.
" Ayah masih marah pada Rissa, " Tanyaku memelas.
" Gak, karena kamu juga berhak untuk menentukan masa depanmu sendiri. Lagian kamu sekolah itu kan dengan usaha-usaha mu sendiri dan uangmu sendiri tanpa campur tangan dari ku. Jadi terserah kamu mau gimana. Oh iya urusan doa, pasti akan aku doain. Tenang saja. "
" Terus aku harus gimana Yah, agar Ayah tidak marah terus pada Rissa??? "
" Aduh ngapain aku marah padamu, salah kamu apa ???? Sudah sekarang gini saja, kamu fokus saja pada sekolahmu itu gak usah mikirin aku. Tunjukkan saja apa kamu bisa lulus dengan nilai terbaik di sekolah itu atau justru kamu gagal sekolah disana. "
" Insya Allah, Rissa bakal tunjukkan kalau Rissa bisa lulus dari sana dengan nilai terbaik dan bisa mendapat beasiswa masuk Perguruan tinggi. "
" Ya, silahkan bermimpi. "
__ADS_1
" Apa maksud Ayah ????. Kenapa sih Ayah tidak mau mendukung Rissa ??? Bagaimanapun juga Rissa ini anak Ayah, anak kandung ayah, darah daging ayah !!!!!!!! " Aku sudah mulai kehilangan kontrol emosiku.
" Kamu itu anak yang membangkang, tidak mau menurut pada orang tua. Selalu merasa benar sendiri, jadi ya sudah kamu bebas menentukan hidup kamu sendiri sesuka hatimu. Jadi buat apa aku repot-repot ngurusin kamu kan !!! "
" Suatu saat Rissa akan tunjukkan pada Ayah kalau Rissa pasti bisa membanggakan kedua orang tua. Disaat itu semoga mata hati Ayah akan terbuka untuk menghargai perjuangan dan pengorbanan Rissa seorang diri selama ini. "
" Iya terserah kamu. "
Daripada masalah semakin melebar, akhirnya aku pun pulang dan sebelumnya tetap pamit pada Ayahku. Pikiranku terasa kacau hari ini, kata-kata Ayahku justru membuatku semakin down sekali.
Farrell mencoba menenangkan ku, dia pasti tahu apa yang aku rasakan saat ini.
" Aku pulang naik bis saja ya Rell. "
" Kenapa Riss ???? "
" Kasihan nanti kamu bolak balik Rell. "
" Bagaimana mungkin aku bisa ninggalin kamu dan membiarkanmu pulang sendirian dengan keadaan yang seperti ini Riss. "
" Aku tidak apa-apa Rell, kamu jangan kawatir, " Aku berusaha meyakinkan Farrell.
" Tidak, biar aku antar saja. ''
" Tapi Rell, "
" Jangan bandel, aku tidak akan membiarkanmu menangis seorang diri. Aku tidak tega Riss. "
" Aku tidak akan menangis Rell, aku janji. "
" Maaf untuk saat ini aku tidak percaya Riss. "
" Baiklah Rell kalau begitu.
__ADS_1
Aku menatap sorot mata Farrell, sorot mata yang tulus dan sangat mengkawatirkan keadaanku. Dia sangat memahami keadaanku.