Kupu Kupu Tak Bersayap

Kupu Kupu Tak Bersayap
BAB 144 KEPUTUSAN KU SUDAH BULAT


__ADS_3

Dengan langkah gontai aku meninggalkan rumah Erika. Sekali lagi aku menoleh ke rumah yang sangat besar dan megah tersebut. Mungkin ini terakhir kalinya aku menginjak rumah Erika. Sungguh terasa berat sekali hati ini harus meninggalkan kota ini. Tapi bagaimanapun juga semua ini sudah menjadi perjanjian ku dengan Erika yang tidak akan bisa dirubah ataupun diingkari.


Aku segera berjalan menuju jalan besar dan mencari angkot atau ojek. Dan kebetulan ada ojek yang berjalan kearah ku. Aku sungguh menikmati perjalanan kali ini, entah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata bahwa sebenarnya berat sekali harus meninggalkan kota yang menjadi harapanku ini.


Namun tiba-tiba aku ingin turun ke Alun-alun kota Surabaya ini.


" Pak turun disini saja ya Pak, " Aku berkata pada Bapak tukang ojeknya.


" Iya mbak, hati-hati ya mbak. "


" Iya Pak, " Jawabku sambil memberikan ongkos ojeknya.


Aku melangkah dan berjalan menuju alun-alun kota Surabaya tersebut. Bahkan selama aku berada di kota Surabaya tersebut aku belum sepenuhnya berjalan-jalan menikmati keindahan pariwisatanya.


Aku berkeliling mencari tempat duduk ternyaman. Dan tidak berapa lama aku mendapatkan tempat duduk yang tepat menghadap jalan raya besar. Aku duduk termenung merenungi nasibku saat ini. Tida bisa aku pungkiri aku sungguh sangat berat harus meninggalkan semua impian dan cita-citaku di kota ini.


Dalam keadaanku yang seperti ini sebenarnya hati kecilku menginginkan sebuah keajaiban. Aku masih sangat berharap Erika merubah keputusanku dan mengijinkan ku kuliah lagi. Aku mencoba mengingat kembali bagaimana perjuanganku hingga sampai berada di kota ini.


Tidak terasa aku kembali menangis terisak mengingat semua yang sudah aku perjuangkan selama ini, harus berakhir sampai disini. Aku tidak menyalahkan Erika, karena ini semua juga sudah keputusan yang sudah aku ambil.


" Kenapa nasibku menjadi seperti ini Tuhan, sampai kapan kebahagiaan itu akan datang padaku. Aku lelah Tuhan....... " Aku menangis sesenggukan.


Namun tiba-tiba aku dikejutkan dengan tangan seseorang yang memegang pundak ku. Aku sebenarnya agak takut, karena aku saat ini duduk sendirian disini. Aku takut seseorang berniat buruk padaku.


" Rissa. "


Aku tahu suara itu, itu adalah Bryant. Tapi bagaimana dia bisa ada disini ????. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang ada disini ???? "


Aku menoleh ke arah Bryant sambil menghapus air mataku. Dengan mata yang masih agak sembab, aku tersenyum padanya.


" Bryant, kok kamu bisa ada disini sih ???? "


" Lo hobi banget ya nangis ??? "

__ADS_1


" Apa ??? " Aku kaget mendengar pertanyaan Bryant.


" Ya gue itu sering banget lihat lo nangis sendirian, makanya gue tanya langsung ni sama lo. Beneran lo memang hobi nangis Riss ??? "


" Dunia kita memang berbeda Bryant, di dunia kamu kalangan orang kaya kalau misalkan sedih pasti sibuk mencari pengalihan atau pelampiasan. Misal jalan-jalan ke Mall, ke Cafe, Shopping dan lain sebagainya. Sedangkan bagi aku orang miskin, kalau sedih mau apa ??? Mau cari pengalihan atau pelampiasan pun kita tidak punya uang. Ya sudah jalan satu-satunya ya nangis itu. Paham kan. "


" Ok lah, terserah lo saja. Terus kamu ngapain ada disini bahkan nangis disini juga ???? " Bryant duduk di sampingku.


Agak lama aku malah termenung dan mengabaikan Bryant. Pikiranku kosong menuju ke depan.


" Sepertinya aku akan pergi meninggalkan kota ini Bryant, " Aku mencoba menjelaskan pada Bryant.


" Tapi kenapa Riss ??? "


" Ini sudah keputusanku, dan memang inilah jalan terbaik buat kita semua. "


" Pasti karena Erika kan ???. Semua ini pasti bukan keputusanmu tapi permintaan Erika kan ??? "


" Sudahlah tidak usah bawa-bawa Erika lagi Bryant, yang pasti ini sudah menjadi keputusanku."


" Apalah arti kebahagiaan buatku, yang ada hanyalah penderitaan yang kian beruntun. Sudahlah Bryant, kamu gak usah ikut campur. Keputusan Ku Sudah Bulat. Aku akan tetap meninggalkan kota ini secepatnya. Aku akan pulang kampung dan tidak akan pernah kembali kesini lagi. "


" Ini gak adil buat lo Riss, harusnya lo sadar bahwa Erika itu sudah keterlaluan. Bagaimana mungkin ada orang yang mempermainkan masa depan dan cita-cita orang lain. Pokoknya gue gak setuju, lo harus terus memperjuangkan dan melanjutkan cita-cita lo Riss. Meskipun gue gak tahu seberapa besar perjuangan lo bisa kuliah disini, tapi gue gak rela lo putus kuliah begitu saja. "


" Maafkan aku Bryant, aku akan tetap pada keputusanku untuk tetap tinggalin kota ini. "


" Ya sudah terserah lo saja, yang pasti gue sudah ngasih tahu lo untuk memperjuangkan apa yang sudah menjadi hak lo. Lo pikir-pikir dulu saja Riss, jangan sampai menyesal di kemudian hari. "


" Aku sudah memikirkan hal ini Bryant, dan aku sudah memutuskan akan meninggalkan semuanya. Jadi percuma saja kalau kamu mencoba menghalangiku, aku tetap akan pergi. "


Bryant menatap mataku dengan begitu lekat dan dalam. Aku tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Yang pasti dia mengkhawatirkan keadaanku.


" Ok, terserah lo saja. Seberapa kerasnya gue mencoba menghalangi lo, lo pasti tetap akan pergi. Namun gue berharap lo bisa merubah keputusan lo. "

__ADS_1


" Iya, makasih ya masih mau jadi teman ceritaku. "


" Ya sudah, kita jadi gak makan bareng ???. Demi lo gue mesti menahan lapar tahu gak lo. "


" Sama kok, aku juga belum sempat makan dari tadi. Lagian ngapain juga kamu gak makan, terus ngapain juga kamu nungguin aku ???? "


" Sorry ya gue ini orangnya komitmen. Gak kayak orang yang lo cintai si Arsel itu, plin plan !!! "


" Sudahlah gak usah bahas dia lagi, lagian aku gak ada hubungan apa-apa kan sama dia. "


" Harusnya kalau dari awal dia mencintai lo, ya sudah gak usah masuk lagi kedalam kehidupannya Erika apapun alasannya. "


" Tapi kan Arsel seperti itu demi permintaanku juga Bryant, dia gak salah kok. "


" Belain terus itu kekasih bayangan lo. "


" Kok kekasih bayangan sih ???? "


" Ya dia jadi cowok kagak jelas. Benar gak ???? "


" Kamu cemburu ya ????? "


" Hiiii amit-amit gue cemburu sama dia, lagian gue gak kalah keren dan gantengnya dari dia. "


" Iya deh, terserah kamu saja lah. Ya sudah makan yuk, lapar banget ini. "


" Lo pergi sama gue dengan keadaan seperti ini ??? "


" Memangnya kenapa ???? Aku terlihat buruk dan jelek banget ya ??? "


" Gak kok karena bagi gue, lo selalu cantik di mata gue. "


" Halah lebai banget sih kamu, bilang saja kamu sebenarnya juga terpaksa banget kan ajak aku dengan keadaanku yang lusuh seperti ini ??? "

__ADS_1


" Gak kok, karena bagi gue lo sangat istimewa dan tidak ada duanya. "


Dan aku pun tertawa, sepertinya si Bryant ini sedang eror.


__ADS_2