
Hari ini sekolah mengadakan seleksi di berbagai lomba untuk Olimpiade kejuaraan berbagai mata pelajaran. Diantaranya adalah kimia, geografi, informatika, biologi, ekonomi, kebumian, fisika, matematika, astronomi. Peserta lomba Olimpiade mata pelajaran adalah siswa/siswi sekolah/madrasah Muhammadiyah tingkat SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK. Peserta merupakan perorangan tanpa membedakan putra dan putri.
Olimpiade IPA dan IPS merupakan salah satu agenda tahunan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam upaya menciptakan dan meningkatkan layanan pendidikan pada jenjang SMA. Kegiatan lainnya adalah dalam bentuk festival dan berbagai macam lomba baik di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, maupun nasional dan bahkan internasional. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan literasi dasar, kompetensi berpikir, kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaborasi peserta didik sebagai generasi muda.
Lomba ini untuk mengevaluasi sejauh mana penyerapan siswa terhadap mata pelajaran yang diberikan guru mereka.
Kali ini aku terpilih sebagai peserta lomba bidang studi Geografi dalam mewakili sekolah. Sehingga aku harus banyak belajar dan berlatih mengerjakan berbagai soal atau pertanyaan seputar ilmu geografi.
Siang itu pulang sekolah aku diantar Farrell. Aku lelah sekali seharian belajar untuk bisa memenangkan Olimpiade itu.
" Riss, makan siang yuk, " Ajak Axel.
" Aku capek banget Rell, aku ingin tidur. "
" Tapi kamu belum makan siang Riss, nanti kamu sakit Lo ya. "
" Ya sudah ayo. Kita makan dimana ??? "
" Kita cari depot makan ya. "
" Iya Rell. "
Sampailah kami Di salah satu depot makan yang tidak jauh dari sekolah kami.
" Kamu mau makan apa Riss, " Farrell bertanya padaku.
__ADS_1
" Aku ingin makan soto ayam dan es teh Rell. "
" Iya sudah sama, aku juga ingin makan soto ayam. "
" Iya Rell. "
" Riss, sepertinya kamu lelah banget ya hari ini. Kelihatan kusut banget muka kamu Riss. "
" Iya Rell, seharian ini aku kejar target belajar agar bisa memenangkan lomba Olimpiadenya Rell. "
" Kamu ingin banget untuk menang Olimpiade ini ya Riss. "
" Iya Rell, aku ingin mendapat piala kemenangan dan kalau aku menang aku bisa mendapatkan uang yang bisa aku tabung Rell. "
" Iya Riss, aku selalu mendukungmu dan mendoakan semoga kamu bisa menang. "
" Sampai sekarang Ayah kandungmu belum menghubungimu dan belum mau membiayai kebutuhan sekolahmu Riss. "
" Belum Rell, entah apa yang ada di fikirannya. Aku disini mati-matian berjuang untuk sekolah dengan usaha dan jerih payahku sendiri. Tapi sampai detik ini Ayah kandungku tidak mau menghubungiku hanya sekedar ingin tahu kabarku. Aku selalu salah di matanya Rell. Dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayangnya, bahkan sekedar di peluk saja tidak pernah aku dapatkan. Aku selalu berbeda dengan anak-anak lainnya Rell, masa kecilku tidak bahagia. Mungkin kalau aku mati, barangkali dia baru sadar bahwa dia masih memiliki satu anak yang juga butuh perhatiannya, " Tidak terasa aku meneteskan air mataku.
Ada perasaan sakit yang saat itu aku rasakan. Mungkin kini aku benar-benar lelah hingga aku harus mengeluarkan isi hatiku yang selalu aku simpan rapat-rapat selama ini. Luka hatiku karena pengalaman masa kecilku hingga saat ini masih membekas dalam jiwaku. Hingga kini aku merasakan trauma untuk membina sebuah hubungan yang serius dengan laki-laki. Aku takut kalau suatu saat nanti ujung-ujungnya harus berpisah.
Aku melihat jari-jariku, ada sedikit luka bakar karena tidak sengaja terkena panasnya setrika saat bekerja Di laundry. Bahkan tanganku juga sangat kasar karena terlalu banyak bekerja. Capek, jangan ditanyakan lagi luar biasa rasanya. Bahkan aku ingin sekali menyudahinya dan hanya ingin fokus pada sekolah. Tapi gimana aku mendapatkan uang untuk biaya hidupku dan bayar Kosan kalau aku tidak bekerja ???????.
Tidak sengaja ternyata Farrell juga menyadari yang aku rasakan. Dia mengelus jari dan telapak tanganku. Aku malu karena dia juga pasti akan tahu kalau kulitku sangat kasar.
__ADS_1
Namun diluar dugaan, dia mencium tanganku dan ada butiran air mata jatuh tepat di tanganku. Yah Farrell menangis !!!!!!!!!. Bagaimana mungkin laki-laki sepertinya bisa terharu seperti itu. Aku tidak percaya, namun kata-kata Farrell semakin membuatku tidak bisa berkata apa-apa.
" Tangan ini adalah tangan yang luar biasa hebatnya, banyak bukti di dalamnya. Meskipun dari luar tangan ini terdapat banyak luka, namun di dalam tangan ini menyimpan masa depan yang sangat indah, " ucap Farrell.
" Terima kasih untuk dukungan semangatnya Rell, ternyata kamu masih sangat peduli padaku. "
" Dari dulu aku sangat peduli padamu Riss, aku sangat mencintaimu meskipun aku tahu kamu tidak akan pernah membalasnya. Tapi jujur aku merasa sakit melihatmu bekerja terlalu keras hingga tanganmu menjadi seperti ini. Kamu perempuan yang luar biasa hebat Riss, kamu perempuan kuat yang tidak akanwyZl pernah bisa dikalahkan. Aku percaya suatu saat nanti kamu pasti bisa menjadi perempuan yang sukses. "
" Amin. Iya Rell. "
" Berjanjilah padaku Riss, ada atau tidaknya aku kamu harus terus berjuang hingga kamu menjadi orang yang berhasil. "
" Jangan berkata seperti itu Rell, selamanya kita akan menjadi sahabat. Kita akan selalu bersama sampai kapanpun. "
Aku memeluk Farrell, entah kenapa aku takut Farrell meninggalkanku. Aku menangis dan meminta Farrell berjanji untuk terus ada disampingku.
Beberapa hari kemudian....
Hari ini adalah lomba Olimpiade dilakukan, aku berjuang membawa nama baik sekolahku. Siapa sangka aku bisa memenangkan Olimpiade ini sampai di Tingkat Provinsi.
Alhamdulillah aku percaya bahwa hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha-usahaku selama ini. Aku bisa menorehkan dan membawa nama sekolahku. Aku menangis saat namaku di umumkan sebagai Juara 2 di tingkat Provinsi.
Aku remaja yang memiliki latar belakang keluarga yang bercerai berhasil menjadi anak yang mungkin bisa dibanggakan. Entah siapa yang bahagia memiliki anak sepertiku. Mungkin hanya Ibuku yang bahagia melihatku berhasil membawa nama baik keluargaku. Meskipun jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin Ayah Kandungku menghubungiku dan memelukku.
Tapi semuanya tinggallah harapan, aku hanya bisa menangis saat aku melihat semua teman-teman seperjuangan ku ditemani orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang beruntung yang memiliki orang tua yang sangat menyayanginya. Aku hapus air mataku yang mengalir deras di pipiku, disaat aku berjuang mati-matian aku hanya ditemani guru pembimbingku. Dan dia memahami keadaanku sehingga memberi pelukan padaku. Aku langsung menangis sesenggukan di pelukan gurunya.
__ADS_1
" Jangan berkecil hati Rissa, kamu adalah anak yang berbakat, Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi anak yang sukses. "
" Amin iya Bu, terima kasih, " Jawabku sambil mengusap butiran air mataku.