Kupu Kupu Tak Bersayap

Kupu Kupu Tak Bersayap
BAB 15 CEMBURU


__ADS_3

Hari itu Rayhan memutuskan pindah tempat duduk, dari yang awalnya tepat di belakangku, pindah ke bangku yang lain yang agak jauh dariku. Apa maksudnya aku tidak tahu, mungkin mencari suasana yang baru.


Sontak saja Farrel yang pindah duduk tepat di belakangku. Waktu itu adalah pelajaran Kesenian dan akan dibagi kelompok dan masing-masing kelompok berjumlah 4 orang. Dan ternyata pembagian kelompok berdasarkan nomor urut absensi dan benar aku satu kelompok dengan Rayhan, Raysa dan Farrel. Kita pun harus duduk satu kelompok, sungguh aku ingin pindah saja ke kelompok yang lain.


Tugas kelompok untuk kesenian kala itu adalah membuat kerajinan tangan dari bahan bekas yang bisa di daur ulang. Kami pun mulai diskusi.


" Menurut kalian apa ide untuk kelompok kita, " Rayhan mengawali pembicaraan.


" Menurut aku sih ya gimana kalau kita membuat patung dari tanah liat atau koran, "Raysa menyampaikan idenya.


" Ruwet, karena masih difikirkan untuk cetakannya selain itu cara pembuatannya yang juga rumit. Lebih baik kita buat dari bahan plastik saja misal botol minuman kita buat apa gitu karena lebih praktis, " Farrel menimpali.


" Kalau kamu Raysa, mungkin punya ide, " Rayhan bertanya padaku.


" Ya kalau menurut aku sih aku setuju dengan Farrel yang menggunakan botol plastik sebagai bahan utama kita membuat kerajinan ini, karena plastik kan sampah yang tidak mudah terurai sehingga kita bisa menggunakan plastik sebagai barang yang bisa di daur ulang menjadi sesuatu yang berguna nanti, " Aku berusaha profesional dan mengemukakan ideku.


" Baik, kalau begitu aku setuju dengan pendapat Farrel dan Rissa, karena plastik botol kan mudah di dapatkan dan dengan kita menggunakan botol botol plastik ini kita bisa mengurangi sampah botol plastik menjadi barang yang berguna dan berharga, " Rayhan pun memutuskan ide bahan utama untuk barang bekas kita kali ini.


Hasil kelompok kita sepakat membuat kerajinan bunga dan tangkainya dari botol-botol plastik. Dan untuk pot nya kami menggunakan botol kaca yang bentuknya tinggi.


Acara pembuatannya di lakukan hari Minggu, karena sekolah libur sehingga bisa dikerjakan mulai pagi hingga selesai karena Minggu depan sudah harus dikumpulkan.


" Kira-kira kita mengerjakan tugas kerajinan ini dimana ? Oiya gimana kalau Di rumah Rissa saja, aku ingin tahu rumahnya seperti apa sih, " Raysa memberikan pendapatnya.


" Tidak, rumah Rissa yang paling jauh, kita ambil rumah kita yang berada di tengah-tengah, " Farrel melindungiku karena dia tahu Raysa ingin menghinaku.


" Ok sudah diputuskan ya kalau hari Minggu kalian kumpul di rumahku jam 07.00 pagi dan jangan telat agar tugas kita cepat selesai. "


Hari Minggu ketika aku bersiap berangkat dengan sepedaku tiba-tiba Farrel datang ke rumahku. Dia berniat menjemputku dengan sepeda motornya, Farrel pun pamit pada ibuku dan izin kalau kita akan mengerjakan tugas kesenian. Ibu pun mengijinkan tapi tidak boleh pulang terlalu sore.


Di tengah perjalanan Farrel menanyakan sesuatu padaku.

__ADS_1


" Riss, Rayhan pernah gak main kerumahmu. "


" Memangnya kenapa Rell. "


" Pasti gak pernah kan. "


" Iya. "


" Sudah aku duga, nyalinya kecil untuk bisa mempertahankanmu. "


" Biarin sudah. "


" Maaf ya Riss, jangan marah. "


" Iya rell. "


Sampai dirumah Rayhan, tampak Raysa sudah berada disana lebih dulu.


" Kalian so sweet banget sih boncengan berdua kayak gini, " Raysa tampak menggoda kami.


Kami pun mulai membuat kerajinan kami, Rayhan bagian membuat vas untuk bunga dari botol bekas yang panjang dan mulai mengecat, Farrel membuat tangkai bunga dari kawat bekas yang dilapisi kertas warna warni. Aku mendapat bagian membuat bunganya dari botol minuman plastik dan juga kresek bekas. Raysa ??? Jangan ditanya dia bagian yang paling sibuk komentar dan menempel terus ke Rayhan kayak perangko.


Apalagi ketika orang tua Rayhan menyapa kami dan membawakan minuman serta camilan untuk kami dia juga yang sibuk mencari muka dan sok sibuk sekedar untuk mendapat perhatian dari orang tua Rayhan. Orang tua Rayhan pun juga sepertinya suka dengan Raysa, dan Raysa pun pintar mengambil hati orang tua Rayhan.


Yang membuat aku merasa rendah serendah rendahnya adalah ketika orang tua Rayhan menganggap Raysa adalah " Calon Menantu Idaman ". Jujur ada perasaan aneh aku saat itu, aku juga ingin diperlakukan seperti itu. Aku merasa terbuang karena tidak merasa bernilai dan tidak menarik saat itu.


Tugas kami hampir selesai sore itu. Kami pun beres- beres membersihkan sisa-sisa tugas kerajinan yang tidak terpakai. Ketika kami berpamitan dan ijin pulang kepada orang tua Rayhan aku melihat orang tua Rayhan menawarkan diri mengantar Raysa pulang dengan mobil mereka, dengan gaya khasnya malu- malu tapi mau dia pun mengiyakan tawaran orang tua Rayhan.


Yang membuat aku tidak suka dan tidak terima justru Rayhan ikut mengantarkan Raysa masuk mobil. Dimana hatinya setidaknya tunggu aku pergi dari rumahnya, baru dia ikut mengantar Raysa pulang. Iya aku tahu diri, aku dan Raysa dua perempuan yang berbeda. Aku bagaikan itik buruk rupa sedangkan Raysa bagaikan Angsa. Keluarga manapun pasti akan memilih angsa yang cantik dan berkelas daripada itik buruk rupa sepertiku ini.


Di sepanjang jalan pulang aku terus memikirkan kejadian tadi. Yang aku terus ingat adalah kata kata Raysa dia mengatakan kalau Orang miskin harus tahu tempatnya. Mentang-mentang dia orang kaya dengan seenaknya menghina aku yang kaum Tak Mampu.

__ADS_1


" Riss, " Sontak Farrel membuyarkan lamunanku.


" Iya rell kenapa. "


" Kamu cemburu ya. "


" Cemburu kenapa. "


" Cemburu karena orang tua Rayhan lebih memilih Raysa sebagai calon menantu idaman kan. "


" Ya aku tahu diri Rell. "


" Jangan begitu Riss, yang membedakan kamu dan Raysa hanya satu, status sosial saja. "


" Iya Rell. "


" Tapi ada satu hal yang lebih penting lagi dan Raysa tidak bisa memilikinya. "


" Apa rell. "


" Kamu memiliki hati yang tulus dan baik, bahkan Raysa pun tidak memilikinya. Hatinya penuh dengan kepalsuan. "


" Aku tak sebaik itu Rell. "


" Kalau kamu tidak memiliki hati yang tulus, pasti kamu akan merebut kembali apa yang menjadi milikmu dan tidak akan membiarkan orang lain bahagia diatas penderitaanmu. "


" Karena aku percaya Karma Rell, karma akan bekerja dengan sendirinya dan berjalannya waktu. "


" Kamu memang luar biasa riss. "


" Dari kecil aku sudah terbiasa dengan yang namanya kehilangan Rell, aku juga terbiasa dengan yang namanya kehilangan akan hak-hak ku. "

__ADS_1


" Sabar Riss. "


" Cemburu seperti yang kamu ucapkan tadi pun sudah biasa aku rasakan, cemburu itu memang sakit dan tidak ada obatnya "


__ADS_2