
Aku terus menunggu Di rumah sakit hingga Erika bisa sadar. Aku selalu berdoa yang terbaik untuknya. Ketika Erika tersadar dia menangis histeris mengingat kejadian yang baru saja dialaminya. Bahkan Mama dan Papanya berusaha menenangkannya, namun tetap saja tidak mampu membuat Erika mengontrol emosinya.
Aku melihat Erika di balik kaca kamar Rumah Sakit, aku menangis sesenggukan menatap pilu kondisi sahabatku tersebut. Aku tidak kuasa menyaksikan betapa hancurnya keadaan sahabatku tersebut.
" Riss, coba lo yang masuk, siapa tahu Erika bisa sedikit tenang kalau ada lo di dalam. "
" Tapi aku takut Erika semakin emosional kalau aku masuk Bryant. "
" Lo adalah sahabatnya, dan gue yakin Erika lebih nyaman kalau cerita sama lo daripada orang tuanya. Coba saja Riss. "
" Baiklah, aku coba ya. "
" Iya, gue tunggu lo di sini. "
Aku mengucapkan salam pada kedua orang tua Erika, dan meminta izin untuk masuk menemani Erika. Syukurlah mereka mau mengerti dan memberiku izin menemani Erika. Dan mereka menitipkan Erika padaku untuk sementara waktu.
Perlahan aku mendekati Erika, hatiku sungguh hancur dan teriris-iris melihat keadaannya dengan dekat seperti ini. Erika tidak hanya kehilangan kehormatannya, tapi wajah dan tubuhnya penuh luka-luka dan lebam-lebam. Selain itu yang kudengar Erika juga mengalami kekerasan seksual, karena dia berusaha mempertahankan kehormatannya malam itu.
Air mataku kembali menetes membasahi pipiku, sungguh aku tidak sanggup melihat sahabat yang aku sayangi ini terbaring tak berdaya seperti ini. Aku kuatkan hatiku untuk mencoba menenangkan sahabat yang sudah seperti saudara bagiku itu.
" Erika, " Aku menggenggam tangan Erika.
Erika hanya diam dengan tatapan kosong dan tidak bereaksi apa-apa saat aku mencoba mengajaknya bicara. Hingga pada akhirnya Bryant juga masuk dan mencoba untuk membantuku.
" Erika, ini Rissa datang. Dia sangat menyayangi lo, dia sangat mengkhawatirkan keadaan lo. Lo sadar ya, cerita sama Rissa. "
" Iya Erika, kamu sabar ya. Aku sayang sama kamu dan bukankah kamu pernah berjanji apapun yang terjadi sama kita, kita harus saling menguatkan satu sama lain. Dan disini aku ingin menguatkan kamu Rik, " Aku mengusap air mataku yang terus menetes di pipiku.
Erika meneteskan air matanya, namun pandangannya tetap kosong. Aku langsung memeluknya dan mencium keningnya. Aku usap air matanya yang terus menetes di pipinya. Aku tahu sepertinya dia benar-benar mengalami trauma hebat yang terjadi malam itu. Aku tahu sepertinya tragedi malam itu membuat Erika benar-benar hancur dan benar-benar menyakitkan.
__ADS_1
Keadaan Erika belum juga membaik, bahkan dia juga sudah dibawa konsultasi ke Psikolog dan Psikiater namun belum ada perubahan yang signifikan. Tragedi malam itu benar-benar membuat kejiwaan Erika terguncang hebat.
Setiap hari aku selalu menjenguknya meskipun dia masih belum bisa cerita sama aku. Dia hanya diam saat aku datang, dan hal ini membuatku bertanya-tanya. Bahkan saat aku memeluk Erika, dia hanya diam saja. Entah sampai kapan Erika bisa pulih dari keadaannya seperti sedia kala. Pasti tidak mudah baginya melewati ini semua.
Hingga beberapa bulan berjalan....
Erika sudah mulai sedikit ada perubahan, dan dia sudah bisa diajak bicara meskipun dia sedikit-sedikit menangis setiap waktu. Namun aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menemui Erika lagi.
Aku mendatangi rumah Erika, aku berharap sekali kali ini Erika bisa berbagi semuanya padaku. Saat pertama kali kesan yang aku dapat dari Erika adalah, Erika hanya diam. Sepertinya ada yang dia tutup-tutupi dariku.
" Erika, gimana kabar kamu ??? "
" Ya seperti yang kamu lihat sekarang, " Jawab Erika datar.
" Apa ada yang ingin kamu ceritakan sama aku Rik, aku selalu siap menjadi pendengar yang baik buat kamu. "
" Baiklah kalau begitu, aku rasa kamu masih belum siap untuk berbagi masalahmu denganku. "
" Kamu ngapain kesini ??? "
Aku kaget mendengar kata-kata Erika tersebut, baru kali ini dia berkata seperti itu padaku. Aku yakin Erika menutupi sesuatu dariku. Karena setahuku Erika sangat senang sekali berjumpa denganku. Pasti ada yang tidak beres sama Erika, dan aku benar-benar ingin tahu.
Tidak hanya itu Di kampus pun, saat Erika sudah mulai masuk kuliah dia seperti menjauhiku. Aku selalu berusaha mendekatinya, namun dia seperti menjaga jarak denganku. Aku sangat bingung dengan perubahan sikap Erika padaku.
Hingga pada akhirnya aku mendatanginya saat kami selesai mengikuti perkuliahan. Aku harus mendapatkan kejelasan dan jawaban dari mulut Erika sendiri kenapa dia menjauhiku akhir-akhir ini.
" Erika, aku mau ngomong sama kamu. "
" Apa lagi sih, aku buru-buru ni. Ganggu banget sih !!!!!! "
__ADS_1
Aku kaget dengan kata-kata Erika barusan, untuk pertama kalinya dia mengucapkan kata-kata kasar seperti itu.
" Apa Rik ??? Ganggu ??? Kamu sekarang merasa terganggu, kenapa kamu jadi begini Rik ??? "
" Sudahlah, aku sibuk banget dan banyak urusan dengan teman-teman aku. Aku mau nongkrong sama mereka. "
" Tapi aku kan juga teman kamu Rik, bahkan kita selama ini adalah sahabat. "
" Karena aku sadar sekarang dunia kita berbeda, aku gak bisa bertahan di dunia kamu. Aku memang selayaknya bergaul dengan teman yang selevel denganku. Jadi tolong mengertilah keadaan aku saat ini, dan maafin aku. "
" Aku tahu Rik, kamu melakukan ini karena ada hal yang sengaja kamu tutupi dariku. Bahkan semenjak kejadian malam itu kamu berubah sekali sama aku Rik. Aku gak tahu letak kesalahan aku dimana, tapi yang pasti aku ingin memperbaiki hubungan kita ini Rik. "
" Jangan pernah mengungkit kembali kejadian malam itu. Aku gak mau mengingatnya lagi, dan satu hal lagi, mulai saat ini hubungan persahabatan kita putus !!!!!! "
" Apa ????? Kamu yakin Rik ngomong kayak gitu ???. Bukankah kita sudah berjanji satu sama lain untuk selalu menjaga persahabatan kita ini apapun yang terjadi ??? Kenapa kamu mengingkarinya Rik ??? "
" Bodoh amat, "Jawab Erika sambil berlalu meninggalkan aku sendiri.
" Tunggu Rik, " Aku berusaha mencegah Erika pergi dariku.
" Apa lagi sih !!!!!! " Erika tampak marah.
" Satu hal yang harus kamu tahu Erika. Kita memulai hubungan persahabatan kita ini baik-baik, jadi aku juga mau kita mengakhiri hubungan ini pun juga harus baik-baik. Aku tahu kamu menyimpan suatu hal dariku dan kamu tidak mau mengatakannya padaku. Kamu hukum aku dengan cara seperti ini, tidak apa-apa. Tapi aku hanya ingin mengatakan hal ini sama kamu. Apapun kesalahanku sama kamu, Maafkan Aku Erika, Sahabatku. "
" Mantan sahabat !!!!! "
Aku langsung menangis tersedu-sedu saat mendengar Erika berkata seperti itu. Aku tidak pernah menyangka sahabat yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri, kini memutus hubungan itu. Tega sekali Erika berbuat seperti ini padaku, bahkan aku juga tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku lakukan padanya. Seandainya saja dia tahu bahwa aku sangat menyayangi dia selayaknya hubungan sedarah.
Hingga saat ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Erika ????.
__ADS_1