Kupu Kupu Tak Bersayap

Kupu Kupu Tak Bersayap
BAB 158 ANTARA SEDIH DAN BAHAGIA


__ADS_3

Selepas kuliah, Kak Arsel tiba-tiba menungguku di depan fakultas ku. Sontak saja Erika yang lewat di depan kami langsung sewot dan pergi begitu saja. Tidak hanya itu Bryant yang akhir-akhir ini juga agak menjauhiku, langsung pergi tanpa menyapa kami.


" Sayang, aku ingin ngomong sesuatu sama kamu. Penting sekali. "


" Ngomong apa sayang, kok tumben banget kamu kesini sih sayang. "


" Memangnya kamu gak suka ya kalau aku kesini ??? "


" Bukannya gitu sayang, gak enak saja apalagi tadi kamu lihat sendiri raut mukanya Erika kayak gimana. "


" Ya sudah biarin saja, ayo ikut aku sayang. Ada yang mau aku omongin nih sama kamu. "


" Memangnya mau ngomong apa sih sayang ??? "


" Iya makanya kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol. "


Kami pun langsung naik ke dalam mobil. Ternyata Kak Arsel mengajakku bertemu di tempat biasa kami bertemu, Cafe Kenangan.


" Yang, kamu mau ngomong apa sama aku ???? "


" Begini sayang, kita sudah menjalani hubungan ini sudah lumayan lama. Dan sebagai bentuk keseriusanku, aku ingin memperkenalkan kamu pada keluargaku terutama orang tuaku. "


" Serius kamu mau bawa aku pada keluarga kamu ??? "


" Iya sayang, aku serius. Aku gak main-main dalam hubungan ini. Aku ingin keluarga kita masing-masing tahu tentang hubungan ini. Jadi kita menjalani hubungan ini bisa tenang sayang. "


" Tapi bagaimana+ kalau pada akhirnya keluarga kamu tidak setuju kamu denganku sayang ??? "


" Jangan pesimis seperti itu, kita perjuangkan cinta kita. "


" Iya sudah kalau memang ini sudah menjadi keputusan kamu. "

__ADS_1


" Keputusan kita sayang, setidaknya kita harus bertunangan. Dengan begitu cinta kita akan semakin kuat sayang. Dan tidak akan ada yang akan berani menghancurkan hubungan kita ini. Kamu benar-benar mencintai aku kan sayang ??? ''


" Iya sayang. "


" Ya sudah kalau begitu. "


Aku berusaha kuat dan bersikap optimis di depan Kak Arsel, meskipun sebenarnya aku pesimis sekali hubungan ini akan direstui oleh pihak keluarga Kak Arsel. Karena antara keluargaku dan keluarga Kak Arsel berada di dunia yang berbeda.


# Beberapa hari kemudian......


Tidak terasa hari ini adalah hari bersejarah dan perjuanganku dimulai. Hari ini pertama kalinya aku berkenalan dengan keluarga Kak Arsel. Jangan ditanyakan bagaimana perasaanku saat ini. Takut, cemas, gelisah semuanya campur aduk jadi satu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Lamunanku buyar saat Kak Arsel datang menjemput ku.


" Kamu sudah siap kan sayang bertemu keluargaku hari ini ???? "


" Iya sayang, aku siap kok. Aku juga siap menerima konsekuensi yang harus aku terima apapun itu. "


" Tapi kamu harus janji ya sama aku, apapun yang terjadi kamu jangan pernah pergi meninggalkanku. Kita harus terus memperjuangkan cinta kita. "


" Iya. "


Tapi demi janji diantara kami, aku tetap melangkah masuk ke rumah keluarga Kak Arsel. Bahkan ketika kami sudah tiba di dalam rumah, aku melongo menyaksikan rumah yang bagai istana ini.


Kami pun tiba di ruang tamu, bahkan sofanya pun terlihat sangat mewah dan mahal sekali. Tidak hanya itu, tampak kedua orang tua Kak Arsel sedang menunggu kedatangan kami berdua. Pada pandangan pertama, Papanya Kak Arsel terlihat lebih ramah dan hangat menyambut kami. Namun berbeda sekali dengan Mamanya Kak Arsel yang terlihat tidak menyukai ku sejak awal.


" Selamat datang Rissa, di keluarga Digjayantara. Silahkan duduk, " Papanya Kak Arsel menyapa kami.


" Iya terima kasih Om, " Jawabku.


" Arsel sudah banyak cerita tentang kamu, bagi Om kebahagiaan Arsel itu yang penting. Yang penting kalian saling mencintai satu sama lain. Masalah status ekonomi tidak jadi masalah, karena kami pun pernah berada di titik terbawah sekalipun. Jadi Om setuju kalau Rissa berhubungan dengan Arsel. "


" Terima kasih Om, sekali lagi Rissa ucapkan beribu-ribu rasa terima kasih. Om sudah memberi kepercayaan pada Rissa untuk bersama dengan anak Om, Kak Arsel. "

__ADS_1


" Tapi Rissa, asal kamu tahu Arsel adalah anak Om satu-satunya. Dialah pewaris tahta kerajaan bisnis Om, jadi kalau kalian nanti menikah kamu tidak boleh menjadi wanita karir. Kamu harus menjadi Ibu rumah tangga, melayani anak Om dengan sebaik-baiknya. Om katakan ini dari awal agar kedepannya tidak ada masalah. "


" Iya Om, saya mengerti. "


" Tapi maaf, aku tidak setuju dengan perempuan ini, " Kata Mamanya Kak Arsel.


" Tapi kenapa Ma ??? " Tanya Kak Arsel.


" Mama gak suka dengan perempuan miskin ini, Mama ingin punya menantu yang sepadan dengan gaya hidup Mama. Dari awal dia masuk saja, Mama gak cocok dengan perempuan kampung ini. "


" Mama gak boleh kayak gitu dong, bagaimanapun juga Arsel sangat mencintai Rissa. Rissa adalah perempuan istimewa yang sangat tepat mendampingi Arsel kelak. "


" Lihat saja kamu nanti bakal menyesal sudah memilih perempuan kampung itu. Pokoknya Mama gak setuju kamu dengan perempuan miskin itu. "


" Sudah cukup, keputusan ada di tangan Papa. Mama gak punya hak untuk memutuskan setuju tidaknya dengan pilihan Arsel. Harusnya sebelum Mama menghina Rissa seperti itu, Mama ngaca dulu siapa Mama sebelumnya, " Kata Papanya Arsel.


Sebenarnya aku agak penasaran dengan kata-kata terakhir Papanya Kak Arsel, tentang Mamanya Kak Arsel yang sebenarnya. Namun aku tidak berani menanyakannya.


" Terima kasih Papa sudah memberi restu pada hubungan Arsel dan juga Rissa. Arsel sayang banget sama Papa. Tapi Arsel ada satu permintaan lagi Pa. "


" Apa Arsel, katakan saja, " Tanya Papanya Kak Arsel.


" Kalau Papa mengijinkan, Arsel ingin bertunangan dengan Rissa. "


" Papa setuju kalau kamu bertunangan dengan Rissa Nak, karena menurut Papa dia adalah anak yang baik dan cocok banget buat kamu. Tapi masalah pertunangan ini, kita kan masih harus membicarakan ini dengan keluarga Rissa. "


" Ya sudah apa kata Papa, yang penting sekarang Arsel tenang karena sudah mendapat restu dari Papa. Tinggal menunggu restu dari Mama saja. "


" Maaf, sekali lagi Mama gak bisa ngasih restu kalau kamu sama dia. Lebih baik kamu sama Erika, yang jelas-jelas sederajat dengan keluarga kita. Kalau sama dia, yang ada Mama bakalan stres berurusan dengan kelakuannya yang kampungan dan udik itu. Belum lagi keluarganya yang di kampung itu. Pasti rumahnya kecil, kumuh, bau dan orang yang tidak berpendidikan. "


" Saya memang miskin dan kampungan Tante, Tante juga boleh menghina saya sesuka hati. Tapi tolong Tante, jangan banding-bandingkan saya dengan Erika. Apalagi Tante menghina keluarga saya yang miskin, karena meskipun kami kampungan kami masih memiliki perasaan dan harga diri Tante, " Jawabku sambil menghapus air mataku yang tak terasa menetes.

__ADS_1


Aku tidak tahu harus bagaimana, Antara Sedih dan Bahagia kini berkecamuk di dalam hatiku saat ini.



__ADS_2