Kupu Kupu Tak Bersayap

Kupu Kupu Tak Bersayap
BAB 63 SISA MAKANAN DI TEMPAT SAMPAH


__ADS_3

Akhirnya aku bisa memejamkan mataku dan istirahat sejenak untuk melepas lelah. Sakin lelahnya aku tertidur lama sekali hingga aku tidak berangkat kerja.


Lantas saja tiba-tiba rekan kerjaku Di laundry menghubungiku. Dengan mata yang masih berat aku berusaha mengangkat teleponnya.


" Hallo Rissa ?? "


" Iya mbak kenapa ya mbak, maaf mbak aku ketiduran hari ini. Aku lelah sekali karena tadi habis pulang Ke desaku. Aku akan segera bersiap-siap sekarang Mbak."


" Kamu gak perlu Ke laundry sekarang Riss. Lebih baik kamu istirahat saja Di kosan Riss. "


" Maksudnya apa ini Mbak, aku tidak dipecat kan mbak karena kesalahanku hari ini ????. Aku meminta maaf mbak aku benar-benar gak sengaja sampai ketiduran sore begini. Aku langsung Ke laundry sekarang ya mbak ??? "


" Gak usah Riss, kamu jangan salah paham. Kamu gak dipecat kok, justru mbak cuma disuruh ngasih tahu sama bos bahwa hari ini kamu gak usah Ke laundry. "


" Iya tapi kenapa mbak ??? "


" Karena laundry sepi dari pagi tadi dan sama sekali gak ada pelanggan Riss. Rencana Laundry juga akan ditutup lebih awal Riss. "


" Oh begitu ya Mbak, aku kira kenapa mbak. Ya sudah kalau kayak gitu Mbak. "


" Ya Riss, kalau begitu aku tutup dulu ya telfonnya Riss ??? "


" Iya sudah kalau begitu Mbak. "


Hari ini aku tidak mendapat pemasukan karena aku tidak masuk kerja dan Laundry tutup. Semoga segera mendapat rezeki pengganti. Aku yakin Allah tidak tidur dan dia pasti memberiku kemudahan keesokan harinya.


Uang tabunganku kian menipis, karena selama beberapa hari kemarin menjelang ujian nasional banyak pengeluaran tidak terduga. Dari membeli berbagai macam buku latihan atau uji coba Ujian Nasional, fotokopi berbagai buku, membeli perlengkapan alat tulis dan lain-lain.

__ADS_1


Kalau pun kepepet mungkin dengan terpaksa aku menjual kalung pemberian almarhum Kak Steffan. Meskipun dengan berat hati, karena aku tidak memiliki pilihan lain. Karena almarhum Kak Steffan mengijinkan untuk menggunakan kalung pemberiannya tersebut, kalau situasi mendesak dan membutuhkan.


Apalagi selama ujian nasional berlangsung, aku mengambil cuti kerja agar bisa fokus pada ujianku. Selama itu juga aku tidak mendapatkan penghasilan tambahan.


Akhirnya aku mengambil kalung pemberian Almarhum kak Steffan dari laci lemariku. Aku melihat kalung tersebut dengan seksama, seketika itu aku tidak tega menjualnya. Mana mungkin aku menjualnya, karena ini adalah salah satu kenang-kenangan dari Almarhum Kak Steffan untukku.


Lantas bagaimana aku mendapatkan uang untuk menyambung hidup ?????. Ingin rasanya aku menangis saat ini. Namun terkait janjiku untuk tidak menangis tanpa Farrell di sisiku, aku pun hanya bisa menahan sedih di dalam hatiku.


" Aku meminta tolong pada siapa ???? " Rintihku dalam hati.


Sebenarnya aku tidak mau menangis dan berusaha untuk menahannya. Namun air mataku tidak mampu lagi terbendung. Pecahlah sudah air mataku mengalir deras di pipiku. Nelangsa, ya perasaan itulah yang kini sedang aku rasakan. Aku bingung harus meminta pertolongan pada siapa.


Bagaimana aku tidak nelangsa, kalian tahu uang di dompetku tinggal berapa ?????????????.


Dua puluh ribu lima ribu lima ratus rupiah !!!!!!!!!!!!!!


Ya itulah nominal uang yang kini mendekam di dompetku. Berapa hari aku mampu bertahan dengan uang segitu ????. Aku bingung harus mencari pinjaman pada siapa.


Tiba-tiba aku terbangun untuk buang air kecil di toilet. Namun setelah aku selesai menunaikan hajatku, tidak sengaja di depan kamar salah seorang teman kosanku, aku melihat ada sekotak sisa makanan yang masih banyak. Aku mengambil kotak yang berisi nasi dan telur yang mungkin hanya termakan sedikit oleh si pemilik. Saking laparnya aku langsung memakan nasi sisa tersebut dengan lahap. Namun di sela-sela aku memakan nasi sisa tersebut, air mataku tidak berhenti-hentinya menetes.


Kini untuk pertama kalinya aku bagaikan pemulung yang begitu bahagianya memakan nasi sisa yang aku temukan di tempat sampah. Aku tidak bisa menahan rasa laparku kali ini, Sehingga tidak terasa aku menghabiskannya sampai tak bersisa.


Setelah itu aku langsung menangis mengingat betapa nelangsanya hidupku saat ini. Seorang anak yang berjuang sendiri Di kota orang tanpa bantuan materi dari orang tuanya. Baru kali ini aku merasakan nelangsanya hidupku mengais Sisa Makanan Di Tempat Sampah. Bisa di bayangkan memakan makanan sisa sambil menangis karena faktor kekurangan ???????.


Tidak mengapa untuk saat ini aku mengais sisa makanan orang lain, tapi semoga saja suatu saat nanti aku bisa memberi makan untuk orang lain yang lebih membutuhkan dariku. Bukankah roda akan terus berputar ????. Kini aku ada dibawah, tapi siapa tahu kelak aku akan berada diatas.


Karena ujian nasional sudah selesai, aku baru sadar bagaimana kalau aku pulang Ke rumah Ibuku saja ?????. Daripada aku tinggal Di kos, aku masih memikirkan biaya Kos dan makanku sehari hari disini.

__ADS_1


Tiba-tiba handphone berbunyi. Ternyata Ibuku yang menelfonku.


" Hallo, ya Bu ??? "


" Hallo Rissa, Nak Ibu boleh minta tolong sama kamu Nak ??? "


" Ada apa Bu ????. Minta tolong apa Bu ???? "


" Maaf kalau Ibu merepotkanmu Nak, Ibu benar-benar minta tolong kamu ada simpanan uang tidak ??? Ibu sudah mencoba pinjam pada saudara dan tetangga tapi tidak ada. "


" Buat apa Bu ??? "


" Buat bayar uang sekolah adik kamu, dia ditagih sama pihak sekolah dan juga buat bayar listrik rumah selama 3 bulan tidak dibayar Nak. Kemarin juga dapat peringatan akan dicabut. Ayah kamu kan sudah lama nganggur tidak punya kerjaan. Ibu bingung mau minta tolong pada siapa lagi Nak, " Curhat Ibu pilu.


" Ibu butuh berapa Bu ??? " Aku berusaha menenangkan Ibuku.


" Kurang lebihnya Dua Juta Rupiah nak, Ibu janji kalau ibu ada rezeki pasti Ibu kembalikan Nak. "


" Iya Bu, akan Rissa usahakan dapat uangnya Bu. "


" Ya Allah makasih Nak, maaf kalau Ibu merepotkan kamu. Ibu bingung karena Ibu benar-benar kepepet dan tidak mendapat pinjaman dari saudara dan tetangga. "


" Ya Bu, Ibu tenang saja. Rissa akan berusaha bantu Ibu dan keluarga. Doakan saja agar Rissa bisa pulang dan bisa antar uangnya Ke rumah secepatnya Bu. "


" Iya Nak, Amin. Ya sudah Nak Ibu tutup dulu ya telfonnya. "


" Iya Bu, " Jawabku sambil meneteskan air mataku.

__ADS_1


Baru saja aku punya keinginan tinggal bersama Ibuku sambil menunggu hasil ujian nasionalku keluar, justru keadaan Ibuku jauh lebih sulit dariku. Bagaimana mungkin aku tega tidak membantu Ibuku disaat masa-masa sulitnya saat ini ??? "


Sekali lagi aku melihat isi dompetku yang berisi uang Dua puluh lima ribu rupiah. Aku menangis sesenggukan dengan keadaan yang kini aku rasakan. Betapa berat cobaan hidupku kali ini ???????.


__ADS_2