Kupu Kupu Tak Bersayap

Kupu Kupu Tak Bersayap
BAB 184 OPNAME


__ADS_3

Semenjak menjadi Asisten Dosen, kini aku sudah bisa mendapatkan uang dari keringat ku sendiri, dan aku berniat untuk menghubungi keluarganya Almarhum Kak Steffan. Bagaimanapun juga mereka sudah mengirimi uang bulanan selama ini untuk ku. Aku ingin mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa kini aku sudah bisa mandiri.


Aku mengambil ponsel ku, dan mencoba menghubungi Almarhum Orang Tua Kak Steffan. Awalnya mereka menolak keputusan ku untuk meminta mereka tidak mengirimi ku uang bulanan lagi. Namun karena aku berbicara dengan sopan dan sangat meyakinkan mereka, akhirnya mereka mau mengerti juga. Tapi mereka mengatakan kalau aku butuh sesuatu, jangan segan untuk menghubungi mereka.


Keluarga Almarhum Kak Steffan selama ini memang sangat baik sekali padaku, sayangnya mereka pindah ke luar provinsi. Aku tidak tahu alamat rumah nya yang baru, yang pasti sangat jauh.


Hari demi hari pun aku lewati, kini tugas sebagai Asisten dosen semakin hari semakin padat. Bahkan aku begitu sibuk dan tidak sempat untuk berlibur bersama tunangan ku, Kak Arsel. Kita hanya punya waktu untuk sekedar makan malam saja.


Dan karena jadwalnya rutinitas yang aku jalani, aku jatuh sakit. Sepertinya, tubuh ku memberi ku sinyal untuk sejenak mengistirahatkan tubuh ku. Aku butuh waktu untuk istirahat lebih banyak di kamar. Untungnya pihak fakultas memberi ku izin untuk istirahat di Kosan.


Ketika tahu aku sakit, Kak Arsel langsung menjenguk ku di kosan. Dikarenakan peraturan kosan melarang tamu laki-laki masuk, aku pun berusaha menguatkan tubuh ku agar bisa berjalan menemui Kak Arsel di depan kosan.


Sesampai di depan aku merasakan pusing yang sangat hebat. Namun aku tetap mencoba tersenyum pada Kak Arsel.


" Sayang, kamu gak apa-apa kan ??? " Tanya Kak Arsel penuh kekhawatiran.


" Gak apa-apa kok sayang, aku cuma sedikit pusing saja. "


" Kamu kok pucat banget sih sayang, dan badan kamu panas banget. Kamu sudah makan ??? Ayo kita cari makan ya sayang ??? "


" Sudah sayang, tapi bawaannya mual dan ingin muntah terus. "


" Ya sudah ayo kita segera periksa ke dokter saja ya ??? "


" Gak sayang, aku gak apa-apa kok. Aku hanya butuh istirahat saja kok. Lagian aku juga takut sama jarum suntik. "


" Sayang, aku begini karena aku peduli dan juga sangat mengkhawatirkan keadaan kamu sayang. "


" Iya aku tahu sayang, tapi aku .... " Belum sempat aku melanjutkan kata-kata ku, tiba-tiba aku langsung jatuh pingsan.

__ADS_1


Sontak saja Kak Arsel langsung cepat membawa ku ke Rumah Sakit. Dia begitu takut terjadi apa-apa dengan ku. Dia langsung menggendong ku menuju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung cepat ditangani. Dokter dan para perawat segera sibuk menangani ku. Mereka dengan sigap memberikan pelayanan dan perawatan yang terbaik untuk ku. Dan pada akhirnya aku harus Opname di Rumah Sakit ini.


Entah sudah berapa lama aku pingsan, yang pasti saat aku mencoba membuka mata ku aku sudah berada di ruangan yang mewah sekali.


" Sayang, akhirnya kamu sadar juga, " Kak Arsel bertanya pada ku.


" Aku dimana sekarang ???? "


" Kamu di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan. Makanya aku segera membawa mu kemari. Kamu tahu, aku tadi takut banget ketika kamu pingsan sayang. Aku terjadi apa-apa sama kamu sayang. "


" Lalu kata dokter aku sakit apa sayang ? "


" Kata dokter kamu sakit tipes sayang, kamu butuh istirahat lebih banyak lagi. Ini semua karena kamu tidak bisa menjaga pola makan dengan baik, kamu sering telat makan karena terlalu sibuk kan ??? Kamu juga tidak tidur teratur kan sehingga pola hidup kamu juga tidak teratur. "


" Sayang, sekarang kamu terbaring lemah seperti ini di rumah sakit, jadi aku harap kamu bisa berfikir lagi tentang membagi waktu mu dengan tepat. Aku gak tega melihat mu seperti ini. Melihatmu di infus, di suntik berkali-kali bahkan darah mu diambil tadi sungguh aku tidak tega. "


" Iya sayang, ke depannya aku akan lebih bisa lagi membagi waktu dengan baik. Rasanya tidak nyaman sekali berada disini meskipun kamarnya bagus sekali. "


" Aku ingin memberi mu pelayanan yang terbaik sayang, makanya aku memesan kamar yang terbaik di rumah sakit ini. "


" Iya makasih ya sayang. "


" Iya sayang, " Kata Kak Arsel sambil mencium kening ku.


" Tok... tok.... tok... " Bunyi seseorang mengetuk pintu kamar ruangan kami.


Kami berdua menoleh ke arah pintu dan Kak Arsel langsung membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang hari ini. Dan betapa terkejutnya aku bahwa Bryant lah yang datang menjenguk ku hari ini. Aku hanya bisa berharap semoga Bryant bisa menjaga rahasia bahwa dia pernah dan masih mencintai ku.

__ADS_1


" Oh Bryant ya, teman sekelas Rissa ??? " Tanya Kak Arsel.


" Iya Arsel, gue teman sekelasnya Rissa. Gue perwakilan dari kelas kami untuk mencari tahu informasi tentang keadaan Rissa saat ini. "


" Oh gitu, ya beginilah kondisi Rissa. Dokter menyarankan agar dia sementara waktu istirahat total agar cepat bisa memulihkan keadaannya. "


" Kalau boleh tahu Rissa sakit apa ya ??? "


" Tipes, " Ucap Kak Arsel dengan santai.


" Ya semoga Rissa bisa cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas. "


" Ya Bryant. "


Namun tiba-tiba salah satu Perawat memanggil Kak Arsel dan menyuruhnya ke ruangan Dokter. Dan kini tinggallah aku dan Bryant berdua di kamar. Sontak saja Bryant melakukan hal tak terduga padaku.


" Lo, tahu betapa khawatirnya gue saat dengar lo sakit dan masuk rumah sakit Riss ??? Lo siksa gue dengan rasa sakit yang gue gak tahu cara ngobatinnya gimana. Gue ingin ada di sisi lo saat lo kayak gini, gue benar-benar mencintai lo Riss, gue gak bisa lihat lo kayak gini " Kata Bryant terisak sambil memeluk tubuh ku dengan erat.


" Kenapa kamu menangis ?? " Aku bertanya pada Bryant.


" Karena gue gak pernah ngerasain hal kayak gini sebelumnya. Gue gak pernah sejauh dan sedalam ini mencintai wanita seperti perasaan gue sama lo Riss. Rasanya sakit banget melihat orang yang gue cintai sakit kayak gini, tapi gue gak bisa ngelakuin apa-apa. "


" Jangan seperti itu Bryant, cepat atau lambat kamu harus sadar bahwa aku sudah menjadi milik Arsel sekarang. Ada dia sekarang yang mengurus ku. Aku cuma butuh satu hal saja darimu Bryant. "


" Apa Riss, katakan saja. "


" Cukup kamu doakan saja aku bahagia bersama Arsel. Itu saja Bryant. "


Bryant memandang wajah ku dengan erat dan sendu, matanya masih merah karena bekas menangis tadi. Sungguh sebenarnya aku tidak tega mengatakan hal tersebut...

__ADS_1


__ADS_2