
Tidak terasa hari ini aku sudah duduk di kelas 3 SMA, Di Penghujung Putih Abu-Abuku. Hampir selangkah lagi perjuanganku untuk sampai di jenjang Universitas. Meskipun tidak mudah perjuanganku untuk bersekolah sambil bekerja, tapi aku bersyukur bisa bertahan di tahap ini.
Aku tetap menjadi buruh cuci dan setrika selama ini, karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menyambung hidupku.
Malam ini aku ingin menghubungi Ayah Kandungku, aku merindukannya dan berharap dia sudah berubah.
" Hallo. "
" Yah, ini Rissa. Maaf malam-malam mengganggu waktunya. "
" Ya ada apa. "
" Bagaimana kabarnya Yah ???? "
" Buat apa kamu tanya-tanya kabarku segala, apa jangan-jangan kamu mau minta uang ya ???? "
Astaghfirullah, jujur terasa sakit sekali hatiku ini saat Ayah kandungku sendiri mengatakannya padaku. Namun aku berusaha menahan sakit hati itu dan tetap melanjutkan obrolan dengannya.
" Tidak Yah, Rissa cuma ingin tahu keadaan Ayah saja."
" Sudah mulai sekarang kamu gak usah telfon-telfon aku lagi, kejar saja obsesimu sekolah di kota itu. Itu kan yang kamu mau dan sampai gak mau dengerin aku sebagai Orang tuamu. Sekolah jauh-jauh ujung-ujungnya juga bakal hamil dan nikah juga dengan orang miskin !!!! "
" Apa maksud Ayah bicara seperti itu ???? Yah, asal Ayah tahu aku baru saja juara Olimpiade tingkat provinsi Yah. Bahkan aku juga mendapat piala dan juga hadiah uang tabungan pendidikan. "
" Gak usah sombong, aku juga gak bakalan tertarik. Sudah ya lebih baik aku memang peduliin saja anak tiriku yang lebih menghormati ku lebih dari anak kandungku sendiri. Sudah ya jangan ganggu-ganggu aku lagi, aku malas mendengar suaramu. "
" Sampai kapan sih Ayah bisa sadar dan menyayangi aku ????? " Suaraku mulai bergetar dan air mataku juga mulai berjatuhan di pipiku.
" Aku tidak perduli denganmu karena sikapmu yang sok-sok an sekolah Di kota dan sombong. Seharusnya kamu nurut kataku untuk sekolah di desa saja pasti aku bisa tetap menerimamu. Ya sudah ya aku sibuk, gak usah ganggu-ganggu aku lagi. "
Tiba-tiba telefon dimatikan dan aku langsung menangis sesenggukan karena kata-kata Ayahku yang sangat menyakitiku. Sampai kapan dia mau mendukungku dan menyayangiku. Aku hampir putus asa mengemis perhatian padanya.
Aku terus menangisi keadaanku. Saking emosinya, bahkan ponsel aku lempar tepat mengenai dinding kosanku. Aku menangis sejadi-jadinya untuk mengeluarkan isi hatiku. Seandainya bisa memilih aku tidak mau lahir dari Ayah seperti itu. Aku akan memilih sosok Ayah yang bisa mengayomiku dan selalu menyayangiku.
Sungguh aku lelah dengan kehidupan ini, aku lelah setiap hari sekolah lalu setelah itu harus terus bekerja. Aku tidak memiliki waktu untuk menikmati hidupku. Aku bosan dengan rutinitas hidup yang seperti ini setiap harinya. Aku ingin mencari suasana yang baru.
Aku telungkupkan wajahku diatas bantal, aku menangis sesenggukan sampai bantalku basah sekali.
Saking lelahnya tidak terasa aku ketiduran. Aku tertidur nyenyak sekali. Sejenak aku bisa melupakan rasa sakit di dalam hatiku ini dengan memejamkan mataku. Aku bisa bernafas lega dari rasa lelah sepanjang hari. Biarlah aku menikmati tidur panjangku malam ini.
Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan yang masih sedih. Mataku masih terlihat bengkak akibat aku menangis semalaman.
__ADS_1
Saat Farrell datang menjemputku dia kaget melihat keadaanku.
" Riss, kamu kenapa ???? Wajahmu kenapa terlihat pucat dan matamu bengkak ??? Kamu sakit ???? "
" Iya aku sakit, " Jawabku.
" Kamu sakit apa Riss ???? Kita periksa sekarang ya Ke dokter ??? "
" Gak usah Rell. "
" Lho kenapa ???? Katanya kamu lagi sakit. "
" Karena yang sakit bukan fisik atau badanku Rell. "
" Lalu ???? "
" Karena yang sakit adalah psikis ku Rell. "
" Maksudnya Riss, aku gak paham. "
Aku terdiam dan tidak mau cerita untuk saat itu, aku tidak mau air mataku jatuh mengalir ketika akan masuk kelas.
" Ya sudah kalau begitu, nanti pulang sekolah kamu harus curhat sama aku ya. Jangan dipendam sendiri Riss, gak baik buat kesehatan. "
" Iya Rell, " Janjiku.
Aku pun berusaha bersikap seprofesional mungkin. Apapun yang terjadi padaku, jangan sampai mengganggu sekolahku. Sekolah adalah prioritas utama, dan masalah hati prioritas belakangan.
Hingga akhirnya bel tanda pulang pun berbunyi. Aku membereskan semuanya dan ingin cepat pulang.
Tiba-tiba Farrell menggandeng tanganku hingga sampai Di parkiran sekolah.
" Rell, ini maksudnya apa ya ??? "
" Sudah ayo ikut aku. "
" Kemana ??? "
" Ke tempat yang nyaman buat kamu cerita sama aku."
" Dimana ???? "
__ADS_1
" Yang pastinya nyaman buat kamu cerita di aku. "
" Terserah kamu saja sudah Rell. "
" Ok. "
Farrell pun memacu motornya dengan santai karena cuacanya agak mendung.
" Riss, kalau nanti aku sudah gak ada disini gimana ???? Siapa yang bakal jagain kamu ketika kamu sedih ??? "
" Apaan sih kamu Rell, ngomong apa sih. Udah deh jangan ngomong kayak gitu. Aku jadi takut ni. "
" Umur kan gak ada yang tahu Riss, gak tahu kenapa ya kok aku ngerasa umurku gak lama lagi. "
" Husss !!!!! Jangan ngaco deh kamu Rell. "
" Soalnya kapan hari aku mimpi buruk Riss. "
" Mimpi apaan ???? "
" Aku mimpi mengalami kecelakaan Riss, dan aku meninggal. "
" Gak gak gak. Udah Rell, mimpi itu hanya bunga tidur. Kamu harus yakin bahwa kamu itu pasti berumur panjang. Kita bisa menikmati masa-masa kuliah nanti bersama. Memangnya kamu gak mau terus bersamaku ??? "
" Iya pasti Riss, aku ingin terus ada disampingmu. Aku takut kehilangan kamu Riss. Tapi kenapa aku merasa kalau aku bakal meninggal ya Riss ???? "
" Kalau kamu masih ngomong kayak gitu, aku turun sekarang Rell !!!! " Aku mengancam Farrell.
" Ok maaf Riss. "
" Lagian kenapa kamu gak kos saja sih Rell daripada kamu pulang pergi terus setiap hari ???? "
" Aku kasihan Mamaku Riss, dia sendirian Dirumah. Kakakku kuliah Di luar kota. Papaku juga selalu sibuk kadang juga Ke luar kota. Aku gak tega ninggalin Mama sendirian Dirumah. Memang sih Mama juga sudah nyuruh aku Kos saja, tapi aku gak mau. "
" Iya juga ya dilema jadinya kalau kayak gitu. Aku cuma kasihan saja kamu capek dan berpengaruh pada kesehatanmu Rell. Apalagi aku sebenarnya juga takut karena dengan kamu tidak kos, resiko kecelakaan juga sangat besar Rell. "
" Ya mau gimana lagi Riss, aku anak laki-laki satu-satunya di keluargaku. Aku juga mempunyai tanggung jawab menjaga keluargaku kan Riss. "
" Iya sih Rell. "
Aku pun diam dan berfikir dalam hatiku. Jujur aku malah menjadi kepikiran akan kata-kata Farrell. Semoga saja itu hanya mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan. Aku tidak mau kehilangan Farrell, karena aku masih membutuhkannya sampai kapanpun.
__ADS_1