
Kak Arsel mengantarku pulang ke kosan malam ini. Aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau aku harus sedih, karena sebentar lagi kita tidak akan pernah berjumpa lagi.
" Kamu benar-benar akan pergi Riss ??? "
" Iya Kak, ada janji yang harus aku tepati. "
" Harusnya waktu itu kamu tolak saja permintaan Erika Riss, kamu punya hak untuk itu Rik. ''
" Semuanya salahku Kak, Erika hancur dan kehilangan semuanya itu karena aku Kak. Jadi aku ingin menebus semua kesalahanku dengan cara ini. Aku juga ingin melihat Erika bahagia Kak, meskipun di sisi lain aku yang harus kehilangan impian dan cita-citaku, " Jawabku sambil mataku berkaca-kaca.
Kak Arsel langsung memelukku dan mengelus rambutku.
" Maafkan aku Rissa, aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku sudah berusaha meminta pada Erika untuk memaafkan tapi gagal. Ini gak adil buat kamu Riss, kamu adalah perempuan yang sangat baik dan hebat. Bagaimana bisa kamu harus pergi dengan keadaan yang seperti ini ??? Lalu kapan kamu akan pergi Riss ??? "
" Gak tahu Kak, mungkin beberapa hari lagi Kak, " Aku berbohong pada Kak Arsel.
" Sebelum kamu pergi, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu Riss. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan perasaanku padamu. Kalau kita ditakdirkan berjodoh, aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Tapi aku ingin kamu jawab jujur pertanyaan ku ini ya Riss ???? "
" Pertanyaan tentang apa Kak ???? "
" Jujur apa kamu tidak memiliki perasaan yang sama padaku Riss ??? Kamu jawab jujur saja, aku hanya ingin tahu kebenaran tentang hatimu. "
__ADS_1
" Aku tidak tahu Kak, tapi sepertinya aku tidak memiliki perasaan yang sama seperti apa yang Kak Arsel rasakan. Aku minta maaf Kak, " Sekali lagi aku berbohong pada Kak Arsel tentang perasaanku yang sebenarnya.
" Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu ke kosanku ya Kak, aku lelah sekali malam ini. "
" Ya sudah kalau begitu, besok kita janjian di cafe
" Kenangan " seperti biasanya ya Riss. Di sisa waktu yang ada ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu Riss. "
" Iya Kak Arsel, ya sudah kalau begitu aku masuk kosan dulu ya Kak. "
" Ya sudah kalau begitu, Riss. Selamat malam, jaga diri baik-baik ya, " Kata Kak Arsel sambil memelukku.
" Iya Kak. "
" Aku harus segera pergi dari sini secepatnya. Besok pagi aku harus sudah meninggalkan semuanya ini, " Batinku dalam hati.
Setelah semua pakaian dan barang-barang ku selesai aku bereskan semuanya, kini aku termenung di pojok kamarku. Aku harus memastikan diri untuk menerima semua ini dengan ikhlas. Ini adalah jalan terbaik untuk kita semua.
Dan tidak terasa aku tertidur juga dalam kondisi sedih yang tiada berujung ini. Dan dalam tidurku aku bermimpi almarhum Farrell datang dan dia berkata padaku, " Semuanya akan baik-baik saja, bersabarlah. ''
Tidak terasa aku meneteskan air mataku dalam keadaan tertidur dan mata terpejam. Jujur aku tidak bisa memendam masalah ini sendirian. Dan aku juga masih belum tahu jawaban apa yang mesti aku katakan pada keluargaku terutama Ibuku nanti.
__ADS_1
Aku pun terbangun mendengar suara adzan subuh dan aku segera mengambil air wudhu untuk shalat. Setidaknya mungkin dengan shalat, hatiku bisa sedikit tenang hari ini. Dengan khusu' aku melaksanakan shalat subuh dan berdoa sambil mengungkapkan perasaanku waktu itu.
Setelah selesai mandi, aku bersiap-siap untuk segera pergi meninggalkan kota ini secepatnya. Aku memang sengaja berbohong pada Bryant dan Kak Arsel kalau aku akan pergi beberapa hari lagi. Faktanya aku akan pergi hari ini juga tanpa satu orang pun yang tahu.
Sebelum aku pergi, aku mampir sejenak untuk melihat kampusku untuk terakhir kalinya. Di tempat ku menuntut ilmu ini aku pernah menyematkan harapan setinggi langit agar kelak aku bisa menjadi Kupu-kupu tak Bersayap. Aku ingin meraih cita-cita dan menjadi orang yang sukses.
Kini, harapan itu harus kandas ditengah jalan. Aku harus meninggalkan impian dan cita-citaku. Tidak terasa air mata ini jatuh menetes. Jujur dalam pikiranku ini aku memang harus memenuhi janjiku untuk pergi dari sini selamanya. Tapi tidak dengan hatiku, hatiku berkata lain. Hatiku berkata bahwa aku masih ingin berada disini menuntaskan impian demi membahagiakan orang-orang tersayang.
Akhirnya dengan berat hati langkah ini mengayun pulang. Siap tidak siap, rela tidak rela aku harus secepatnya pergi dari sini. Sekali lagi aku menoleh ke arah kampusku tersebut, dada ini semakin sesak dan air mata ini terus bercucuran keluar. Namun sekuat hati aku menghapus air mata ini dan mengucapkan, " Selamat Tinggal Impian dan Harapan. "
Aku pun segera naik ke angkot dengan membawa beberapa tas besar yang berisi baju-baju dan barang-barang ku. Beruntungnya aku tidak bertemu orang-orang yang ku kenal hari ini.
Di perjalanan pandangan mataku kosong, aku hanya memikirkan bagaimana nasib hidupku ke depannya nanti. Untuk memenuhi kebutuhanku aku harus kerja apa. Karena saat aku sudah sampai di rumah, aku tahu pasti semua orang yang sudah mendukungku kuliah selama ini pasti sangat kecewa.
Akhirnya aku sampai juga di stasiun, bagiku naik kereta api lebih aman daripada naik bis. Sambil menunggu jadwal kereta, aku mencari tempat duduk sambil memegang tiket kereta api yang akan aku tumpangi.
Di tengah kesedihan dan kegalauan yang kurasakan sendirian di tempat ini, ada panggilan masuk yang mengagetkanku. Aku lupa mematikan ponselku. Saat ku lihat ternyata Bryant yang menghubungiku. Dan saat aku hampir mematikan ponselku, bergantian Kak Arsel yang menghubungiku. Aku tidak tahu dan sedikit penasaran karena bagaimana mungkin mereka secara hampir bersamaan menghubungiku. Pasti ada alasan dan sesuatu yang penting sehingga mereka mencari ku.
Akhirnya aku mantapkan hatiku untuk mematikan ponselku. Aku berharap tidak ada kata penyesalan saat aku melakukannya. Semua ini aku lakukan juga demi kebaikan kita semua. Aku memberikan kebahagiaan untuk Erika, yang selalu aku anggap sebagai sahabatku. Aku juga meninggalkan Kak Arsel, sebagai orang yang sangat aku cintai. Selain itu ada juga Bryant, orang yang peduli padaku. Aku tahu dia pasti akan sibuk mencari ku.
Aku bersyukur akhirnya kereta yang akan aku tumpangi pun datang. Aku segera mencari nomor kursi ku. Setelah itu aku langsung meletakkan barang-barang ku. Hampir kurang lebih lima menitan saat kereta akan berjalan, aku ingin melihat dari kaca jendela stasiun kota Surabaya ini untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Dan tiba-tiba ada yang memanggilku dari gerbong belakang.
" Rissa, jangan pergi Riss. "