
Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat memulung atau mencari barang-barang bekas di pasar, toko, kedai, cafe dan sepanjang jalan. Aku membawa dua karung untuk wadah barang-barang rongsokan yang nanti aku dapat. Aku menyusuri setiap tempat sampah, berbagai kardus, barang-barang plastik, botol-botol, buku-buku dan mungkin juga besi tua adalah incaran seorang pemulung.
Hingga menjelang Dzuhur, aku sudah mendapatkan satu karung penuh. Tinggal sekarung penuh lagi agar aku bisa mendapatkan uang yang lumayan. Aku istirahat di pinggiran jalan dan memesan minuman untuk menghilangkan rasa haus di bawah terik matahari yang sangat panas sekali.
Siang ini memang terasa panas dan seakan-akan membakar tubuh. Namun tidak melunturkan niatku untuk terus mencari barang rongsokan. Aku mencari lebih jauh lagi dari daerah Di kosanku, dan aku mendapatkan separuh karung sudah terisi. Aku berhenti di salah satu rumah yang sangat besar, disana aku mendapatkan tempat sampahnya penuh dengan kardus-kardus bekas. Tidak hanya itu banyak besi-besi tua yang dibuang begitu saja. Karena besi-besi tua itu nilainya sangat tinggi.
" Alhamdulillah rezeki ku, " Batinku.
Karena dua karungku sudah terisi penuh, aku segera menjualnya ke pengepul barang rongsokan. Alhamdulillah hasil yang aku dapatkan banyak juga karena semuanya berkat besi-besi tua yang aku temukan tadi.
Tidak sia-sia perjuanganku hari ini, berangkat dari seusai subuh sampai menjelang ashar bisa menghasilkan uang yang bisa aku gunakan untuk makan dan sebagian aku sisihkan untuk menyicil bayar kosan. Aku harus tetap semangat, dan harus yakin kalau aku pasti bisa melewati ujian ini. Setidaknya aku sekarang tahu rasanya menjadi pemulung, pekerjaan yang mungkin dipandang sebelah mata oleh semua orang.
Akhirnya aku pulang Ke kosan, aku segera membersihkan diri dan istirahat. Besok pagi aku harus mengulangi rutinitas yang sama agar aku bisa terus mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhanku. Begitu seterusnya hingga aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baru.
Keesokan harinya aku lakukan rutinitas yang sama, berangkat pagi dan pulang menjelang sore. Begitupun seterusnya hingga aku bisa mengumpulkan uang untuk membayar uang kosan bulan ini.
" Alhamdulillah ya Allah, " Batinku dalam hati.
Hari ini aku sengaja mencari barang-barang bekas lebih jauh dari biasanya, aku akan mencarinya di daerah cafe-cafe tongkrongan anak-anak muda. Dan benar saja, banyak sekali botol-botol bekas minuman berserakan dimana-mana. Aku memungutinya satu persatu dan memasukkannya ke dalam karungku.
Setelah dirasa cukup aku langsung membawanya pada pengepul. Setelah ditimbang barulah aku bisa mendapatkan uang dari hasil keringatku sendiri. Betapa bahagianya aku saat mendapat uang dari jerih payahku sendiri. Aku bisa membeli makanan dan minuman untuk mengisi perutku. Sebagian uangnya aku simpan untuk kebutuhanku yang lain.
Setiap hari aku melakukan hal yang sama, tiada kenal lelah dari selepas subuh hingga selepas ashar aku menyusuri jalanan mencari barang-barang bekas yang bisa menghasilkan uang.
Namun malam itu saat aku istirahat dan meluruskan kakiku karena merasa pegal tiba-tiba handphoneku berbunyi. Ternyata Farrell yang menghubungiku.
" Hallo, iya Rell. "
" Hallo, Riss. Besok kamu ada acara gak ??? "
__ADS_1
" Kenapa Rell ??? "
" Kangen nih Riss, ketemuan yuk. Sudah lama nih kita tidak jalan dan makan bareng. "
" Aduh maaf Rell, aku tidak bisa. Aku sibuk sekali Rell."
" Kamu masih kerja ta Riss ??? "
" Ehmm i... i... ya... Rell. "
" Kok kamu jadi gugup gitu jawabnya Riss ??? "
Sebenarnya aku jadi gugup begini takut Farrell tahu pekerjaan baruku ini. Dia pasti tidak akan tega melihatku menjadi pemulung.
" Oh gak apa-apa kok Rell. "
" Kamu masih kerja Di tempat Laundry itu kan ??? "
" Oiya sudah kalau begitu Riss. "
" Kamu gak marah kan ??? "
" Marah kenapa Riss ??? "
" Ya marah karena aku menolak ajakan mu ??? "
" Aku bukan anak kecil Riss, apalagi menangis kayak gitu. "
" Bener ??? "
__ADS_1
" Iya Riss. Ya sudah kalau begitu aku mau nongkrong sama teman-temanku besok Riss. "
" Iya sudah kalau begitu Rell, sekali lagi maaf ya. "
" Iya Riss tenang aja. "
Aku langsung istirahat, karena aku besok harus bangun pagi-pagi sekali agar aku bisa mendapat barang-barang bekas lebih banyak. Tidak butuh waktu lama untukku bisa tertidur dengan pulasnya.
** Keesokan harinya aku terbangun saat suara adzan subuh berkumandang. Setelah selesai shalat aku bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Lama-lama aku terbiasa bekerja seperti ini, yang awalnya terasa berat kini sudah biasa-biasa saja. Hampir dhuhur saja aku sudah mendapatkan batang-barang bekas sekarung penuh. Aku istirahat sejenak sambil melepas lelah dan meminum air mineral yang aku bawa dari kosan. Aku juga membawa sebungkus roti untuk mengisi perutku yang keroncongan.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menyusuri jalan. Aku langsung menuju ke cafe-cafe atau angkringan di pinggir jalan, karena Di sanalah aku banyak mendapatkan botol-botol minuman yang banyak sekali. Benar juga karungku sudah hampir penuh. Ya dua karungku kini sudah penuh dan bisa langsung aku bawa ke pengepul dan aku pun bisa mendapatkan uangnya.
Namun tiba-tiba mataku tertuju pada laki-laki yang mungkin menatapku agak lama. Meskipun aku memakai masker, tapi bagi orang yang mengenalku dia pasti tetap bisa mengenaliku. Dan betapa terkejutnya aku kalau laki-laki itu adalah Farrell yang semalam mengatakan akan nongkrong bersama teman-temannya. Tapi siapa yang menyangka dia akan berada disini dan mengetahui apa yang aku lakukan saat ini.
Aku langsung lari menjauhi tempat itu, aku tidak mau Farrell tahu. Namun Farrell justru mengejar ku, aku lari sekuat tenagaku sambil terus membawa dua karung yang sudah penuh dengan hasil mulung ku hari ini.
" Rissa.. Berhenti Riss, aku tahu kalau itu kamu. Berhenti Riss !!!!! " Teriak Farrell yang terus mengejarku.
Aku bingung sehingga aku tidak tahu kalau di depanku ada motor yang melaju dan seketika itu juga dia menabrak karung yang ku bawa. Lantas saja isinya berhamburan keluar. Botol-botol minuman, plastik-plastik berserakan dimana-mana. Saat aku ingin terus melarikan diri, namun Farrell berhasil menangkap ku. Farrell membawaku menepi di pinggir jalan.
" Apa yang sebenarnya terjadi Riss, katakan padaku. Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang masalah ini ??? Aku tadi lewat Laundry tempat kerjamu tutup. Katakan apa yang sedang terjadi !!!!!!!!! "
Aku hanya diam dan menangis. Aku malu Farrell akhirnya tahu kalau aku sekarang menjadi pemulung.
" Jawab Riss, Kamu tidak perlu malu Riss, justru aku yang sedih karena kamu sampai menjadi pemulung seperti sekarang ini tapi aku tidak tahu apa-apa. "
" Bukankah Pemulung Lebih Bermartabat Daripada menjadi Sampah Masyarakat ????? " Jawabku sambil menangis.
Farrell pun langsung menangis sambil memelukku. Aku sesenggukan menangis dalam pelukan Farrell.
__ADS_1
Gambar diatas hanyalah ilustrasi visual semata untuk mempermanis cerita.