
" Maaf Riss, gue gak bisa memenuhi permintaan lo, " Ucap Bryant.
" Kenapa ??? " Aku bertanya.
" Karena gue terlalu mencintai lo, sehingga kalau lo nyuruh gue untuk jauhin lo maaf gue gak akan pernah bisa. "
" Lepaskan pelukan kamu Bryant, aku takut Kak Arsel datang dan tahu apa yang sudah kita lakukan. "
" Ijinkan sebentar saja gue memeluk lo Riss, gue kangen sama lo. ''
" Bryant, harus berapa kali aku bilang sama kamu untuk ikhlasin aku. Dan harus dengan cara gimana lagi buat aku bilang bahwa kamu harus mulai buka hati kamu buat cewek lain. "
" Permintaan yang sulit untuk dipenuhi, " Ucap Bryant.
Dan secara bersamaan dengan Bryant melepaskan pelukannya, Kak Arsel datang membuka pintu kamar. Sontak saja ada perasaan kaku diantara kita.
" Kok, kalian tegang sih ada apa ??? " Kata Kak Arsel.
" Oh gak kok, kami hanya tegang mendengar kabar yang akan kami dengar dari lo Sel, " Jawab Bryant.
" Oh itu, tadi kata dokter Rissa harus benar-benar bedrest untuk beberapa hari ini. Jadi, sayang kamu harus benar-benar istirahat dan makan teratur agar bisa memulihkan kesehatan kamu. Jadi kamu harus nurut sama kata dokter dan termasuk apa yang aku suruh ya, " Kak Arsel menjelaskan.
" Ya sayang, " Jawab ku.
" Ya sudah, kalau gitu aku pamit pulang dulu ya. Dan semoga Rissa bisa cepat keluar dari Rumah Sakit ini, " Bryant pamit.
" Kok buru-buru sih Bryant, kita belum sempat ngobrol loh, " Kata Kak Arsel.
" Ya next time la kita bisa nongkrong bareng. Ya sudah gue pamit pulang dulu ya. "
" Iya, makasih ya. " Jawab ku.
Bryant pun pulang dan tinggallah kami berdua di ruangan ini.
" Sayang, kok aku ngerasa Bryant itu peduli banget ya sama kamu. Menurut aku tu ya, dia seperti punya perasaan sama kamu. "
__ADS_1
" Mungkin itu hanya perasaan kamu saja sayang. "
" Bukannya gitu, aku tadi bisa nangkap dari matanya kalau dia khawatir banget sama kamu. Dari dia memandang kamu pun, aku tahu dia punya perasan sama kamu. "
" Ah sudahlah sayang, tuduhan kamu tidak beralasan. "
" Ya sudahlah kalau begitu. Aku suapin ya, sudah waktunya makan ni. "
" Iya. "
Jujur dari lubuk hati ku yang dalam, aku tidak tega membohongi Kak Arsel kalau memang Bryant memiliki rasa pada ku. Aku hanya tidak mau Kak Arsel melarang ku berteman dengan Bryant karena rasa cemburunya. Tapi bila waktunya sudah tepat aku ingin mengatakan yang sejujurnya padanya.
Tidak berapa lama Erika datang, aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya datang kemari. Entah benar-benar mau menjenguk ku atau ada maksud yang lain.
" Pas aku mau kesini, aku papasan lo sama si Bryant. Dia kesini gak ya ??? " Erika bertanya pada kami.
" Iya dia kemari. Kenapa ??? " Aku menjawab.
" Jadi benar ya dia kemari, soalnya pas dia tahu kamu masuk Rumah Sakit, dia panik dan khawatirnya bukan main. Ya kita semua sudah tahu la ya, gimana rasa sayangnya dia sama kamu. "
" Apa maksud kamu ??? " Tanya Kak Arsel.
" Cukup !!!! " Teriakku.
" Sayang, sekarang kamu bilang sama aku apa yang di katakan Erika gak benar kan ???? " Kak Arsel bertanya pada ku.
Aku hanya diam terpaku, aku tidak tahu harus bagaimana. Dan secara bersamaan Erika langsung pergi meninggalkan kami sambil tersenyum bahagia.
" Kenapa kamu diam, jadi benar kan yang aku katakan tadi bahwa Bryant itu memang cinta sama kamu ??? "
" Maafkan aku sayang, tolong kamu jangan salah paham. Aku gak ada maksud untuk bohongin kamu. Beneran sayang, aku gak bohong. "
" Lalu kenapa kamu gak jujur saja sama aku, kalau Bryant itu cinta sama kamu ??? "
" Karena aku takut kamu juga melarang ku untuk berteman lagi dengannya. Dia itu laki-laki yang baik sayang, meskipun dia cinta sama aku tapi dia gak seperti Erika. Dia gak mau merusak hubungan kita. "
__ADS_1
" Apa begitu berharganya Bryant buat kamu ??? "
" Bukan seperti itu, di fakultas hanya dia teman ku yang benar-benar peduli sama aku. Sedangkan yang lainnya hanya memanfaatkan ku saja. Mereka hanya mau berteman dengan ku saat butuh saja. Dan hanya Bryant yang mau menjadi temanku. "
" Itu semua karena dia cinta sama kamu !!! "
" Aku minta maaf sayang. "
" Ah sudahlah, percuma hubungan ini kalau di landasi atas dasar kebohongan !!!! "
Kak Arsel terlihat sangat marah dan langsung pergi meninggalkan aku sendiri. Wajar memang kalau Kak Arsel marah, karena memang aku salah. Seandainya aku jujur mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi.
Aku menunggu dan terus menunggu, hingga saat malam tiba pun Kak Arsel tidak kunjung datang. Bahkan saat makanan untuk makan malam diantar perawat, aku tidak nafsu untuk makan. Biasanya Kak Arsel yang menyuapi ku.
Tiba-tiba aku merasakan ingin ke toilet, biasanya Kak Arsel yang membawakan infus ku. Tapi kali ini aku harus benar-benar mandiri. Perlahan aku membawa infus ku sendiri ke toilet, mungkin sedikit agak lama karena aku juga sekalian cuci muka.
Dan terdengar lirih seseorang memanggil ku, aku pun langsung mematikan kran air. Dan benar saja ada seseorang yang tampak menggedor pintu kamar toilet ku. Saat aku membuka pintu, aku lihat Kak Arsel datang dengan muka penuh kekhawatiran.
" Maafkan aku, aku sudah tega ninggalin kamu sendirian tadi, " Ucap Kak Arsel.
" Iya gak apa-apa. "
" Kenapa belum makan malam ??? "
" Iya sebentar lagi. "
Aku tahu Kak Arsel kecewa pada ku, namun dia tetap melayani ku dengan baik. Dia menyuapi ku makan dan tidak lupa menyuruh ku minum susu dan obat yang di berikan pihak Rumah Sakit. Setelah itu dia menyalakan TV dan berbaring di sofa.
Suasana begitu hening dan aku mencoba mencairkan suasana. Namun siapa yang menyangka justru apa yang sudah aku lakukan ini, malah membuat ku diam terpaku tak mampu berkata apa-apa lagi.
" Sayang, kamu masih marah ya sama aku ??? "
" Menurut kamu gimana ??? " Jawab Kak Arsel datar.
" Iya aku tahu aku memang salah, tapi tolong maafkan aku ya sayang. Aku tidak bermaksud untuk menutupi semua ini dari mu sayang. Lagi pula aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama Bryant, karena hanya kamu yang aku cintai sayang. "
__ADS_1
" Gimana kalau seandainya begini, kamu berada di posisi ku. Tanpa kamu tahu, gimana seandainya aku masih memiliki perasaan cinta dan sayang pada Erika. Aku menutupi ini semua dari mu, lantas gimana perasan kamu ??? "
Aku hanya tertegun dan diam tidak mampu berkata apa-apa. Dan pada Akhirnya Kak Arsel benar-benar marah dan kecewa pada ku.