
" Sabar ya Rissa, kini Farrell sudah tenang disana. Dia sudah tidak merasa sakit lagi sekarang, " Kata Mamanya Farrell.
" Tapi, tapi barusan Farrell membuka matanya Tante, dia mendengar Rissa mengatakan perasaan cinta Rissa dan Farrell berusaha memegang tangan Rissa. Namun tiba-tiba saja Farrell menutup matanya kembali. Apa mungkin Farrell pingsan atau tertidur ya Tante. "
" Sayang, Farrell sudah tidak ada. Kamu harus ikhlaskan dia sekarang ya. Jangan seperti ini sayang. "
" Tapi Farrell tadi sudah sadar Tante, dan dia melihat Rissa. Dia bahkan mendengar saat Rissa mengatakan cinta sama dia Tante. "
" Sudah-sudah sayang, kamu gak boleh kayak gini. Ikhlaskan saja ya sayang, sekarang kita tunggu jenazah Farrell diurus untuk kita bawa pulang. "
" Jenazah Tante ??? Jenazah siapa ??? "
" Rissa, sayang kamu kenapa sih ???. Bukankah kamu yang mengajari Tante untuk ikhlas melepas kepergian Farrell untuk selama-lamanya ??? "
" Tidak Tante, tidak. Farrell belum meninggal Tante, Farrell tadi sudah sadar kok Tante. Pasti tadi perawatnya salah, coba Dokternya yang meriksa sekali lagi Tante. "
" Sayang, tadi Dokternya juga sudah memeriksa Farrell dan memang Farrell sudah dinyatakan meninggal sayang. Kamu tidak boleh seperti ini, kamu harus ikhlas ya. Kamu kan juga sudah berjanji di samping Farrell saat dia masih hidup. Kenapa sekarang kamu malah menjadi seperti ini sih ??? "
" Karena tadi Farrell benar-benar membuka matanya dan dia tahu kalau Rissa juga mencintainya. Dia juga bahkan tadi hampir menyentuh Rissa dan ingin mengatakan sesuatu. Jadi tidak mungkin dia meninggal Tante. "
Aku menangis histeris sampai tidak sadarkan diri sampai akhirnya salah satu Dokter mengatakan kalau aku mengalami gejala " Depresi ". Entah kenapa aku bisa mengalami Depresi, karena dari awal aku sudah mencoba mengikhlaskan kepergian Farrell. Namun saat detik-detik terakhir akan meninggal dan sadar dari komanya itulah bagaikan pukulan terdahsyat yang membuatku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Jiwaku mengalami goncangan hebat yang cukup dalam.
Baik, sedikit belajar mengenai ilmu Psikologi tentang Depresi. Depresi merupakan sejenis penyakit yang melibatkan fisik, mood dan pikiran. Depresi dapat mengganggu kehidupan sehari hari, kegiatan normal dan mengakibatkan rasa sakit bagi penderita dan orang orang sekitar yang peduli kepadanya.
__ADS_1
Seseorang bisa mengalami depresi bila pernah mengalami kehilangan orang yang dicintai, hubungan yang bermasalah, atau situasi yang dapat membuat stres, dapat memicu timbulnya depresi. Itulah yang aku alami kini.
Namun melihat kondisi ku yang hanya mengalami depresi ringan, maka aku diperbolehkan pulang bersama jenazah Farrell. Namun kondisi ku ini harus terus dipantau dan apabila tidak ada perbaikan, maka aku disarankan untuk berobat ke Psikolog.
Dan inilah tamparan terberat ku saat ini, aku kehilangan sahabat sekaligus orang yang sangat aku cintai saat ini. Belum sempat aku menikmati masa-masa indahnya pacaran, dia sudah pergi meninggalkan ku selama-lamanya.
Di sepanjang perjalanan aku menangis dan sesekali termenung mengingat kejadian yang sungguh-sungguh mengiris-iris hati dan hidupku. Kini hidup ku hancur sehancur-hancurnya. Aku tidak tahu lagi untuk menata hidup ku ke depannya. Untuk saat ini aku belum siap untuk apapun. Aku masih dipenuhi kesedihan mendalam yang menyelimutiku.
Saat kami semua sudah tiba Di rumah duka, aku tidak tahu harus apa dan bagaimana. Aku juga sama sekali tidak kepikiran menghubungi keluarga ku. Aku hanya bisa duduk termenung melihat apa yang saat ini terjadi di depan mata ku.
Semua keluarga dan saudara serta kerabat Farrell tampak sangat sibuk sekali mengurus proses jenazah Farrell. Dari dimandikan, dikafani hingga di shalatkan, aku masih duduk termenung di pojok rumah Farrell. Aku masih mencoba mencerna apa yang sudah terjadi.
Tanpa ku sadari banyak orang yang memperhatikan ku. Dan itu membuat Kakaknya Farrell menuntunku dan mengganti baju serta memberi ku kerudung. Aku hanya bisa menurut saja dan setelah itu aku kembali termenung.
" Farrell, mengapa kamu tega meninggalkan aku ???. Bukankah subuh tadi kamu sudah sadar dan tahu kalau aku sangat mencintaimu ???. Kamu menghancurkan hatiku dalam sekejap saja Farrell, " Tangis ku pilu dan mengiris hati siapa saja yang melihat ku.
" Sabar sayang, kamu tidak boleh seperti ini. Kamu harus mengikhlaskan kepergian Farrell supaya dia tenang disana ya, " Ucap Mamanya Farrell sambil menangis.
" Rissa tidak kuat Tante, Rissa tidak bisa hidup tanpa Farrell Tante. Farrell jangan tinggalin aku sendirian disini. "
" Rissa tidak sendirian, masih ada Tante disini. Ayo Nak, kendalikan dirimu. "
" Tante tidak tahu apa yang Rissa rasakan, Rissa dari kecil selalu merasakan yang namanya perpisahan. Apa memang sudah takdir Rissa yang akan ditinggalkan orang-orang yang Rissa sayangi dan cintai Tante ??? "
__ADS_1
" Tidak sayang, percayalah akan tiba masanya kamu mendapatkan kebahagiaanmu suatu saat nanti. Sabarlah sayang, kalau kamu bisa melewati ujian mu ini, kamu akan menemukan kebahagiaanmu itu. "
" Rissa sendirian sekarang Tante, Farrell sudah pergi Tante. "
" Tidak sayang, sudah Tante katakan berulang kali kalau kamu tidak sendirian. Masih ada Tante disini yang akan menemani kamu. Jadi jangan sedih lagi ya sayang, " Ucap Mamanya Farrell menghibur ku.
Hampir saja aku merasa sedikit tenang tiba-tiba Papanya Farrell datang dan menuduhku yang bukan-bukan. Beliau menuduhku sebagai pembunuh, pembunuh dan pembunuh !!!!!.
Aku kini semakin tersudutkan akibat kata-kata yang terlontar dari mulut Papanya Farrell.
" Jadi ini nih pembunuhnya, gara-gara anak saya nemuin kamu, anak saya jadi kecelakaan dan sekarang meninggal !!!!!! "
" Sa- sa- saya bukan pembunuh om, saya bukan pembunuh, " Jawab ku terbata-bata.
Aku semakin syok mendengarkan kata-kata tersebut. Namun Mamanya Farrell langsung membelaku.
" Jaga Mulutmu Mas, Kamu mengata-ngatai dia sebagai pembunuh, lantas kamu apa ????. Dimana kamu mas selama beberapa hari Farrell dirawat Di rumah sakit !!!! Mana tanggung jawab mu sebagai kepala keluarga ??? Malah kabur bersama perempuan lain !!!. Harusnya kamu malu Mas dengan kelakuan kamu, bukan malah mencari gara-gara dan menyalahkan orang lain, " Mamanya Farrell mencoba membelaku.
Papanya Farrell hanya diam dan langsung mencium jenazah Farrell. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Jujur akibat perkataan Papanya Farrell yang mengata-ngataiku sebagai pembunuh kini semakin menyudutkan ku akan rasa bersalah yang semakin mendalam.
Seandainya saja hari itu kita tidak bertemu, kecelakaan ini mungkin saja tidak akan terjadi. Dan Farrell saat ini mungkin masih hidup di tengah-tengah kami.
Sungguh peristiwa ini membuatku hampir kehilangan akal sehatku dan mengalami depresi.
__ADS_1