
Sarah perlahan membuka matanya, ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya di sekitar nya. Ia pun berusaha duduk sambil memegang kepala nya yg terasa sakit.
Di punggung tangan nya tertancap jarum infus dan Sarah mencabut nya sambil meringis perih. Ia mendengar suara keributan dari luar, dengan perlahan Sarah turun dari ranjang kecil itu dan berjalan keluar. Sarah membuka pintu dan mendapati Devano dan William yg sedang asyik baku hantam sementara Freya sibuk mencoba melerai mereka namun hasilnya nihil, Sarah hanya bisa menghela nafas berat dan membiarkan saja mereka baku hantam. Sarah sangat benci dengan Devano dan biarkan saja kakaknya menghajar nya, walaupun ada sedikit ke khawatiran di hati nya melihat keduanya sudah babak belur. Namun Sarah berfikir nanti kalau sudah lelah mereka pasti berhenti sendiri.
Sarah bergegas pergi dari sana menuju ruangan Mama nya. Venita terkejut melihat Sarah yg menggunakan baju rumah sakit dan dahi nya di perban.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Venita khawatir. Sarah memaksakan diri cengengesan seperti biasa nya walaupun saat ini hati nya sedang terluka.
"Sarah masih belum pandai menyetir, Ma. Jadi nabrak pembatas jalan deh tadi, Hehe" jawab Sarah agar mama nya tak khawatir.
"Kenapa kamu nyetir sendiri? Emang nya kamu mau kemana?" tanya sang ibu.
"Mau ke sini, Sarah engga apa apa kok" jawab Sarah tenang.
"Ya udah, kembali ke kamar mu dan istirahat. Minta Dokter memeriksa keadaan mu kembali, okey?" ujar Venita dan Sarah mengangguk.
"Mama sendiri gimana? Mama yg sehat ya..." lirih Sarah mencoba menahan air mata yg tiba tiba ingin keluar lagi.
"Mama baik baik aja, Sayang" jawab Venita memaksakan diri nya tersenyum. Sarah kembali mengangguk anggukan kepala nya sambil menggigit bibir nya menahan tangis. Ia pun segera keluar dari kamar Mama nya sebelum tangis nya kembali pecah.
"Sarah..." panggil Mama nya saat Sarah hendak membuka pintu. Sarah menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan sebelum akhirnya ia menoleh dan sekali lagi memaksakan bibir nya tersenyum.
"Ya, Ma?"
"Kamu baik baik aja kan, Sayang?" lirih Venita dengan suara yg kembali bergetar.
"Baik kok, Ma. Ya udah, Sarah ke kamar dulu ya. Nanti Dokter nya bingung kalau Sarah engga ada di kamar" ujar Sarah dan segera ia keluar dari kamar Mama nya.
Saat Sarah hampir sampai di ruangan nya, ia melihat ayahnya disana yg sedang duduk di kursi sementara Devano duduk bertekuk lutut di depan nya.
"Om akan segera punya cucu, apa Om engga senang?"
__ADS_1
Sarah seketika memegang perut nya "Apa maksud Devano? Apa aku.... hamil?" ia bergumam tak percaya, namun hati nya seperti merasakan sesuatu yg hangat dan tiba tiba ia tersenyum merasa bahagia. Sarah merasa bahagia jika dia memang hamil, walaupun Sarah masih merasakan kebencian dan kekecewaan yg masih sangat besar pada ayah dari janin nya, namun sebagai seorang wanita ia merasa senang akan menjadi ibu. Dan apa yg dia dengar selanjutnya meruntuhkan semua kebahagiaan yg baru beberapa detik ia rasakan.
"Engga, aku engga mau punya cucu dari orang yg menghancurkan keluarga ku"
Deg
Kebahagiaan di hati Sarah seperti pasir yg terhapus ombak besar, lenyap seketika. Runtuh seperti ranting mati yg tertiup angin dan ia kembali merasa kecewa. Sarah mengerti jika semua keluarga nya membenci Devano, bahkan ia sendiri sangat membenci nya. Namun Sarah tak bisa mengerti kenapa ayahnya mengatakan hal seperti itu. Sarah merasakan rasa sakit dan juga kecewa yg sangat besar pada ayah nya yg tak mau menerima bayi nya. Tanpa terasa air mata Sarah kembali mengalir deras, sebagai seorang ibu ia sangat mencintai anak nya sekalipun dia masih lah janin dalam rahim nya. Dan Sarah tak bisa tinggal bersama orang yg tak mau menerima keberadaan anak nya dan mungkin akan membenci nya.
"Aku mengerti, Om. Tapi Sarah adalah istri ku, aku lebih berhak atas diri nya dari pada siapapun bahkan Om dan Tante sekalipun. Sarah hamil anakku, dan mereka akan selalu bersama ku"
Ucapan tegas Devano membuat Sarah tersenyum sinis, ia mengenal suaminya yg ambisius. Devano akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yg ia mau. Dan Sarah juga tahu, cinta Devano bercampur dengan obsesi. Sarah teringat bagaiamana Devano mempertahankan Caitlin untuk hidup padahal itu sangat menyiksa Caitlin, tapi Devano tak peduli dan ia menganggap perbuatan nya itu karena cinta. Sarah tak mau berada di sisi Devano sementara ia sangat membenci nya.
Sarah segera bergegas pergi dari sana dan kembali ke ruangan Mama nya.
"Loh, balik lagi?" tanya Mama nya dan Sarah tersenyum tipis menanggapi nya.
"Ma, Sarah boleh minta sesuatu engga?" tanya Sarah dengan suara rendah.
"Sarah ingin pergi ke suatu tempat, Ma"
"Kemana?"
"Sarah engga bisa kasih tahu..."
"Sarah..."
"Ma..." Sarah menyela Mama nya dengan cepat, ia menatap Mama nya dengan tatapan memohon dan satu tetes air mata menyelinap dari sudut mata nya tanpa bisa di tahan "Sarah cuma butuh waktu sendiri, Sarah ingin menenangkan fikiran"
"Kamu mau pergi dan meninggalkan kami?" tanya Venita sedih dan Sarah menggeleng.
"Hanya sementara waktu, Ma. Saat Sarah merasa lebih baik Sarah akan pulang, Sarah janji" ucap Sarah meyakinkan.
__ADS_1
"Tapi kemana kamu akan pergi?"
"Sarah engga bisa kasih tahu, Mama. Karena nanti Mama bisa saja kasih tahu yg lain..."
"Engga Sarah, kalau kamu mau Mama engga bilang ke siapapun Mama engga akan bilang. Mama janji, Nak. Mama khawatir kalau Mama engga tahu keberadaan kamu dimana dan keadaan mu bagaimana"
Sarah terdiam sejenak, ia menunduk dan menghela nafas.
"Nanti Sarah akan kabari Mama, Sarah janji akan baik baik saja dan Sarah janji akan segera pulang. Okey?" Venita mengangguk "Dan Sarah juga mau Mama berjanji bahwa Mama akan selau sehat, jangan mengkhawatirkan Sarah apa lagi sampai membuat Mama drop. Saat Sarah pulang nanti, Sarah mau liat Mama bahagia dan tenang juga sehat"
"Iya, Sayang... Tapi segera kabari Mama ya..." Sarah mengangguk dan ia memeluk Mama nya dengan erat. Mama nya pun mencium wajah Sarah berkali kali sambil menangis namun ia mencoba kuat. Venita mencoba mengerti jika Sarah memang ingin menjauh dari situasi sekarang dan Sarah ingin menyendiri.
"Kabari Mama segera, Nak" Sarah mengangguk dan mengecup kedua pipi nya "Kamu tahu kode nya, kan? Ambil berapa pun yg kamu butuhkan, Sayang. Dan jika kurang nanti segera hubungi Mama" ucap Mama nya yg membuat Sarah terkikik, tentu ia membutuhkan uang untuk keperluan nya apa lagi ia sedang hamil sekarang. Sarah harus merawat janin nya dengan baik. Sarah pun mengangguk dan sekali lagi memeluk Mama nya dengan erat.
Setelah itu ia segera pulang untuk mengambil beberapa pakaian dan uangnya untuk keperluan nya.
"Maafin Sarah, Pa, Ma, Kak Will... Sarah engga tahu kapan Sarah bisa kembali. Tapi Sarah merasa terjepit dengan semua rasa kecewa karena kebohongan Devano dan juga Papa yg engga mau menerima anak Sarah. Sarah sayang kalian semua, dan bahkan kamu Devano. Aku benci diri ku sendiri karena masih mencintai mu" gumam Sarah sambil mengelus perut nya dan ia menyenderkan kepala nya di bahu seseorang yg ada di samping nya. Sarah merasa sangat lelah dengan semua yg ia hadapi, Sarah merasa sudah tak bertenaga lagi.
Dan kehamilan nya tak begitu mengejutkan Sarah sebenarnya, karena Sarah pernah tak meminum pil KB nya seminggu lebih gara gara Devano memberikan pil itu pada Juan dan Sarah tak segera membeli nya yg baru karena Devano selalu sibuk dan Sarah tak berani membeli nya sendirian. Sementara hubungan bercinta mereka berjalan dengan sangat rutin dan Devano tak pernah sekalipun mengeluarkan benih nya di luar. Sehingga Sarah sudah menduga bahwa ia bisa saja hamil.
Kini ia berada dalam sebuah bus yg berjalan dengan kecepatan sedang. Hari sudah gelap, bulan dan bintang sudah mengintip di langit sana seolah tak sabar ingin menunjukkan cahaya keindahan mereka setelah matahari yg terik tenggelam.
Sarah di selimuti dengan syal agar ia tetap hangat dan tak terkena angin malam.
"Tidur aja, Sarah. Aku akan bangunin kalau kita sudah sampai" ucap orang itu sembari mengelus rambut Sarah yg terurai bebas.
"Makasih, Vin..."
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1