Married By Challenge

Married By Challenge
Part 122


__ADS_3

"Aku rasa kalian butuh beberapa tim, karena kita harus berpencar dan mencari Sarah ke tempat tempat ini..." Jacob menunjuk beberapa titik yg menunjukan lokasi beberapa desa.


"Kok kita engga pernah kefikiran mencari Sarah ke sana ya?" ujar Naina yg juga ikut meeting bersama William dan Devano untuk membicarakan pencarian Sarah. Padahal Jacob sudah menyuruh nya istirahat karena Naina masih demam, tapi Naina berasalan ia masih rindu Jacob dan ingin menemani nya. Kepulangan Jacob menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Naina, apa lagi pacar nya ini bisa membantu pencarian sahabat nya.


"Kita seperti mencari penjahat saja, harus meeting dan butuh tim khusus" ujar William yg membuat mereka langsung tertawa.


"Sarah memastikan dia engga bisa di lacak, kalau dia tinggal di kota kita bisa dengan mudah mencari jejak nya. Masuk supermarket atau lewat di depan nya saja sudah meninggalkan jejak di cctv" jawab Jacob.


Sementara Devano fokus pada layar monitor itu, ada Dominic juga di sana "Jangan khawatir, Tuan. Saya akan mengirimkan beberapa orang ke setiap desa itu"


"Pergi sekarang juga!" titah Devano yg langsung di laksanakan oleh Dominic. Sementara Jacob akan selalu memantau pergerakan setiap tim itu.


"Sarah engga bawa hp ya?" tanya nya kemudian.


"Engga, tapi dua kali dia mengirim surat" jawab William.


"Gadis kecil itu merepotkan juga"


.........


William memberi tahu kabar tentang pencarian Sarah ke desa desa terpencil kepada keluarga nya, hal itu sedikit mengejutkan kedua orang tuanya terutama Mama nya. Pencarian itu sudah berlangsung selama seminggu, namun masih belum ada kabar dari Dominic dan tim nya.


"Apa yg Sarah lakukan di desa terpencil? Dia lagi hamil dan kandungan nya butuh perawatan yg terbaik. Apa lagi ini kandungan pertama nya, bagaimana bisa Sarah melakukan hal se bodoh itu" gumam Venita yg benar benar tak habis fikir dengan anak nya itu.


"Sarah sendiri masih anak anak, Ma. Emosi nya masih labil dan ego nya masih tinggi"


"Ini salah kita..." ujar Jason sedih "Sebagai orang tua, kita sudah gagal memberikan yg terbaik untuk putri kita"


"Jangan begitu, Pa. Semua ini hanya bagian dari permainan takdir" William berkata sembari tersenyum.


"Itu benar..." ujar Freya bergabung dengan mereka "Aku memenangkan kasus Evelyn, bahkan kepala sekolah nya juga terseret karena sudah menyembunyikan kejahatan yg terjadi di sana"


"Selamat, Sayang..." ujar William senang dan ia menhadiahi kecupan hangat di kening Freya.


"Terima kasih, nyawa mu bahkan terancam demi Evelyn"


"Itu demi kamu..." William meralat dengan cepat yg tentu langsung membuat Freya merona.

__ADS_1


Venita dan Jason juga mengucapkan selamat pada Freya "Kami bangga pada mu, Nak" ucap Jason sembari mengusap kepala Freya dengan sayang.


Ponsel William berdering di saku nya "Dari Devano..." ujar William kemudian ia menjawab panggilan itu.


"Ya, Dev..."


"....."


"Kamu yakin?"


"...."


"Okey okey... Aku kesana sekarang"


"Ada apa, Will?" tanya Venita melihat William yg tampak tegang namun juga terlihat antusias.


"Dominic menemukan Sarah..."


"Kamu yakin, Will?" tanya Jason juga tak kalah antusias nya.


"Dimana, Will? Mama mau menjemput dia"


"Tapi, William..."


"Ma, percaya sama aku. Aku akan bawa Sarah pulang!"


..........


Seperti biasa, Sarah mengajar anak anak SD itu dengan telaten. Menjadi guru dadakan begini memberikan pelajaran yg sangat berharga bagi nya, ternyata menjadi guru sangat lah tidak mudah. Jika di hitung, gaji dengan lelah nya secara mental sangat tak sebanding. Apa lagi tak semua anak sopan dan pintar, ada yg nakal dan lambat dalam proses belajar dan hal itu benar benar di butuhkan kesabaran tingkat tinggi.


Setelah mengajar, Sarah menemui Bu Asih di ruang guru.


"Ada apa, Sarah?" tanya Bu Asih yg melihat Sarah tampak ragu untuk berbicara.


"Begini, Bu. Sebenarnya saya ingin berhenti mengajar" ucap Sarah ragu ragu.


"Kenapa? Apa gaji nya kurang? Anggaran sekolah..."

__ADS_1


"Bukan bukan..." jawab Sarah dengan cepat, ia mengelus perut nya yg sudah membuncit itu "Sebenarnya saya ingin pulang, saya rasa sudah saat nya pulang" tutur Sarah dan Bu Asih hanya mengangguk anggukan kepala nya mengerti.


"Lalu siapa yang akan mengganti kan mu? Pelajaran bahasa inggris tidak mungkin di hapuskan lagi kan? Ini sangat bermanfaat"


"Bu Asih bisa membuka lowongan pekerjaan sebagai guru bahasa inggris di sini, pasti ada kok yg punya kemampuan dalam bahasa Inggris"


"Memang ada, tapi jika ada orang yang pintar di sini ya mereka langsung pergi bekerja ke kota"


Sarah menghela nafas berat, karena ia memang melihat hal itu di desa ini. Orang orang yg pintar dan punya kemampuan tidak menetap di desa nya tapi mereka akan pergi ke kota untuk ke suksesan mereka. Mungkin karena itu lah desa ini tak pernah maju, dan jika seperti itu terus mungkin tak akan pernah maju.


"Tapi tidak apa apa, Sarah. Kalau kamu memang mau kembali ke kota" ucap Bu Asih kemudian sambil menyunggingkan senyum nya "Saya sendiri yg akan menggantikan mu, terima kasih banyak karena sudah menambah warna dan wawasan di sekolah kami"


"Sama sama, Bu. Dan saya juga sangat berterima kasih untuk segalanya" ucap Sarah.


"Tapi kapan kamu akan pulang?"


"Mungkin dua atau tiga hari lagi, jujur saya masih sangat betah tinggal di sini. Tapi kandungan saya lemah, kata bidan saya terlalu kelelahan dan janin saya kekurangan gizi. Itu membuat saya khawatir" tutur Sarah dengan jujur dan ia tampak sedih. Bu Asih kembali tersenyum.


"Saya mengerti, wanita yg hamil di bawah usia 20 tahun memang memiliki resiko kehamilan yg lemah, bahkan bisa lahir prematur. Akan lebih baik kalau di kota"


Sarah langsung mendongak kaget mendengar apa yg di katakan Bu Asih, sementara Bu Asih hanya terkekeh "Kamu bisa mengatakan usia mu 23 atau 25, tapi saya bisa pastikan usia mu masih di bawah 20 tahun" ucap Bu Asih lagi yg berhasil membuat Sarah menelan ludah nya dengan susah payah.


"Saya...."


"Saya tidak menuduh kamu hamil di luar nikah, saya tahu itu" ucap Bu Asih lagi "Dan nama calon putra mu itu sangat bagus, Devaneo Fergus Lake. Apakah suami mu orang Amerika?" tanya Bu Asih sambil tertawa kecil.


"Keturunan Italia, tapi orang Indonesia" jawab Sarah "Apakah liontin nya sudah jadi?"


"Kata nya nanti malam atau besok pagi akan di antarkan kerumah mu"


"Terima kasih banyak karena sudah banyak membantu saya, Bu Asih. Bahkan membantu saya menebak jenis kelamin bayi saya"


"Itu kata orang zaman dulu sebelum ada USG, kalau perut nya benar benar bulat sewaktu hamil, kemungkinan besar bayi nya laki laki. Dan sepertinya bayi mu memang laki laki"


"Saya sangat berharap itu" ucap Sarah kembali mengelus perut nya.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2