
Devano terbangun saat matahari sudah tinggi, ia meraba sisi tempat tidur nya dan saat tak mendapati Sarah disana Devano segera membuka mata lebar lebar.
Ia meregangkan tubuhnya yg lelah. Devano pun merangkak turun dari ranjang dan ia melihat pakaian Sarah dan celana Devano yg masih berserakan di lantai namun kemeja Devano sudah hilang.
Devano pun memungut pakaian mereka satu persatu dan memasukan nya ke dalam ranjang baju kotor. Setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Devano tak bisa mengenyahkan bayangan nya tentang adegan semalam yg membuat bulu kuduk Devano merinding. Namun ia tersenyum senang dan merasa sangat bahagia, Devano tak sabar ingin menemui Sarah, mengucap selamat pagi dan mencium nya. Bahkan Devano ingin mengulang lagi adegan semalam. Devano sangat berharap Sarah tidak marah pada nya.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Devano turun sambil memanggil Sarah.
"Nyonya Sarah mau jogging kata nya, Tuan" ujar Bi Eni yg membuat Devano langsung mengernyit bingung.
"Jogging? Yg bener aja, Bi" seru Devano. Tentu ia bingung bagaimana Sarah bisa jogging. Bagaimana mereka bercinta dalam waktu kurang lebih tiga jam itu sudah pasti membuat Sarah kesulitan berjalan. Bagaimana bisa dengan jogging?
"Iya, Tuan. Katanya mumpung minggu, ya walaupun tadi jalan nya kayak tertatih"
"Sudah pasti" batin Devano berkata.
Ia pun kembali ke kamar nya untuk mengambil ponsel nya.
Devano mencoba menghubungi Sarah namun ponsel nya malah berdering di sana. setelah Devano cari, ternyata ponsel Sarah masih ada dalam tas pesta nya. Membuat Devano mengernyit bingung dan perasaan nya pun mulai tak nyaman.
Apa Sarah pergi karena marah dengan yg terjadi semalam? Oh jangan sampai, Devano sudah sangat mencintai Sarah dan ia tak mau kehilangan Sarah.
"Bi..." Devano kembali memanggil Bi Eni dan Bi Eni pun segera menghampiri nya.
"Apa sudah lama Sarah pergi nya?" tanya Devano khawatir.
"Sudah lama banget, Tuan" jawab Bi Eni.
"Kenapa engga bilang dulu sih?" gerutu Devano yg membuat Bi Eni terdiam "Ini sudah siang dan Sarah belum pulang"
"Mungkin Nyonya pergi kerumah teman nya, kan setiap minggu begitu" ujar Bi Eni yg sedikit membuat Devano merasa lega.
Benar, Devano yakin Sarah pasti ada dirumah Naina.
Devano pun mengambil kunci mobil nya dan berniat mencari Sarah kesana.
Devano menyetir dengan kecepatan tinggi karena dia sudah tak sabar ingin menemui Sarah dan meminta maaf seandainya Sarah memang marah.
Sesampainya dirumah Naina, Devano segera turun dari mobil nya dan ia pun mengetuk pintu rumah Naina. Tak lama kemudian muncul lah seorang pria paruh baya yg tak lain adalah ayah Naina.
"Tuan Devano?" tanya ayah Naina yg tampak terkejut melihat Devano datang ke rumahnya. Sementara Naina yg mendengar ayahnya menyebutkan nama Devano pun langsung keluar.
"Ada yg saya bisa bantu, Tuan?" tanya ayah Naina.
"Ya.. Aku mencari Sarah" jawab Devano.
"Hai Tuan Lake..." sapa Naina sambil cengengesan.
"Naina, apa Sarah ada di sini?" tanya Devano dengan raut wajah yg tegang, bahkan membuat ayah Naina bingung.
"Tadi iya, tapi baru saja dia pergi lagi" jawab Naina yg membuat Devano semakin ketakutan akan kemarahan Sarah.
"Pergi kemana? Apa dia baik baik saja?" tanya nya yg membuat Naina tersenyum samar.
"Ya, dia baik. Dan dia cuma pergi ke rumah Papa nya" jawab Naina.
__ADS_1
"Okey, terima kasih, Naina" ujar Devano dan ia pun segera masuk ke mobil nya.
"Naina, kamu kenal Devano?" tanya ayah Naina dan Naina mengangguk.
"Papa sendiri kok kenal sama Devano?"
"Tuan Devano itu teman nya Tuan Juan, boss Papa" jawab sang ayah dan Naina hanya ber oh ria menanggapi nya.
...
Setelah membayar taksi dengan uang yg di berikan Naina, Sarah asal masuk saja kerumah nya karena pintu nya yg menang terbuka.
"Sarah?" seru Venita sedikit terkejut.
"Hai, Ma" sapa Sarah memaksakan diri tersenyum.
"Kamu kok pulang engga bilang bilang?" tanya Mama nya lagi apa lagi melihat wajah Sarah yg tampak kusut.
"Emm pengen pulang aja, Ma. Ya udah, Sarah ke kamar dulu ya" ucap nya dan hendak pergi ke kamar nya namun Venita mencegah nya.
"Kamu kenapa? Bertengkar sama Devano? Kok muka nya kusut?"
"Engga kok, Ma. Cuma belum mandi aja"
"Ish, jorok kali kau anak perempuan bangun tidur engga mandi" ucap mama nya yg membuat Sarah tersenyum geli.
"Ya maka nya ini Sarah mau mandi" ujar nya dan ia pun segera naik ke kamar nya.
Sarah segera melepaskan pakaian nya, mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Terbayang kembali bagaiamana mereka menyatu tadi malam, bagaimana Devano mengungkapkan cinta nya dengan begitu lembut. Bagaimana Devano memuja Sarah dengan sentuhan dan ciuman nya yg membuat Sarah lemas tak berdaya.
"Hufff" Sarah menghela nafas dan ia pun menyalakan shower, membiarkan tubuhnya di hujani air shower yg hangat. Sekarang ia bertanya tanya, apakah Devano sudah bangun? Apakah Devano tidak mencari nya? Apa yg akan Devano fikirkan tentang nya?
Sementara di bawah, Venita sekali lagi di kejutkan dengan datang nya Devano yg juga asal masuk karena pintu masih terbuka lebar.
"Dev?" sapa William yg baru turun dari kamar nya.
"Istri mu di kamar..." ujar Venita karena kini ia yakin menantu dan putri nya itu sedang dalam masalah. Apa lagi melihat wajah Devano yg tampak tegang.
Devano pun langsung bergegas ke kamar Sarah.
"Kenapa sih, Ma? Sarah pulang? Sejak kapan?" tanya William.
"Tadi, dia pulang dengan wajah kusut. Dan sekarang Devano menyusul dengan wajah tegang"
Mendengar itu William menjadi tampak khawatir, ia hendak naik lagi untuk menyusul mereka namun di larang Venita.
"Dalam rumah tangga hal seperti itu biasa, Will. Biarkan mereka menyelesaikan masalah nya sendiri" ujar Venita. William pun nurut saja.
Sarah keluar kamar mandi bersamaan dengan Devano yg masuk ke kamar Sarah. Sarah tampak sangat terkejut dengan kedatangan Devano apa lagi saat ini tubuh Sarah hanya tertutupi handuk kecil. Menampilkan kulit mulus Sarah yg masih menampilkan bercak merah yg begitu kontras dengan kulit putih nya. Sarah menjadi sangat gugup dan ia menunduk malu sembari memegang erat handuk nya.
Devano pun terkejut melihat Sarah yg seperti ini, dan secara otomatis rekaman kejadian semalam kembali berputar dalam benak nya, bahkan harus Devano akui bahwa ia kembali on. Namun Devano mencoba menahan diri.
"Sayang..." lirih Devano berjalan perlahan mendekati Sarah, Sarah pun hanya menunduk malu dan bergerak mundur "Sarah, aku ingin bicara. Aku minta maaf" ucap Devano saat ia berdiri tepat di depan Sarah yg sudah terpojok pada pintu kamar mandi.
"Kamu pasti marah sama aku, ya kan? " lirih Devano dan ia pun mengapit dagu Sarah hingga Sarah mendongak. Pandangan kedua nya bertemu, seketika Sarah ingat apa yg sudah terjadi semalam dan itu membuat nya malu. Ia hendak menunduk kembali namun Devano kembali membuat nya mendongak.
__ADS_1
" Aku minta maaf, Sayang. Ku mohon jangan marah" lirih Devano penuh penyesalan.
"Aku... Engga marah" jawab Sarah setengah berbisik, bahkan Devano hampir tak mendengar nya.
"Kamu marah?" tanya Devano lagi dan Sarah menggeleng pelan "Terus kenapa kamu pergi? Aku takut setengah mati tadi" rengek Devano dengan alis yg mengkerut.
"Maaf" hanya itu yg bisa Sarah ucapkan.
"Kalau kamu engga marah sama aku, lalu kenapa kamu ninggalin aku?" desak nya.
"Aku..." wajah Sarah kembali memerah, ia bahkan menggigit bibir bawah nya karena gugup dan hal itu tentu membuat tingkat On Devano naik level. Devano membelai bibir Sarah dengan jari nya sebelum akhir nya memaksa Sarah melepaskan gigitan di bibir bawah nya.
"Kenapa?" lirih Devano dengan nafas yg kian memberat apa lagi saat mata kurang ajar nya itu mencuri pandang pada dada Sarah.
"Aku malu" lirih Sarah sambil kembali menunduk, jawaban Sarah sangat jauh dari dugaan Devano. Ia kembali memaksa Sarah mendongak.
"Malu?" tanya Devano dan Sarah mengangguk dengan polos nya "Malu kenapa?" tanya Devano, kini ketegangan wajah nya mulai lentur "Kita suami istri, Sayang" ujar nya sembari mengusap pipi Sarah.
"Tapi aku...aku aneh semalam" rengek Sarah dan seketika Devano mengerti, ia hanya terkekeh kemudian tanpa aba aba Devano langsung menggendong Sarah membuat Sarah memekik terkejut dan berusaha melepaskan diri tapi Devano tak mengindahkan nya.
Devano menjatuhkan dirinya di tepi ranjang sementara Sarah kini duduk di pangkuan nya. Posisi seperti ini membuat Sarah malu dan tersipu. Ia kembali menunduk namun lagi dan lagi Devano mengangkat wajahnya.
"Kamu engga aneh, Sarah. Well, sebenarnya semalam tindakan mu itu karena obat perangsang yg di berikan Juan...."
"Apa?" pekik Sarah terkejut.
"Bukan untuk mu, Sayang. Tapi untuk Angeline, dan entah bagaimana kalian bertukar kursi yg pada akhirnya minuman kalian pun tertukar" jelas Devano. Sarah mencoba memahami hal itu, dan ia benar benar-benar tak menyangka se nekat itu Juan pada gadis yg baru di kenal seminggu. Dan sekarang Sarah malah jadi tumbal nya...
"Aku kira kamu akan berfikir aku wanita nakal karena aku... Hmpp"
Devano membungkam mulut Sarah dengan ciuman nya. Uf, setelah mereka bercinta, kini Devano merasakan bibir Sarah lebih manis dari pada sebelum nya.
Sarah pun hanya diam mendapatkan ciuman tiba tiba itu. Hingga Devano melepaskan ciuman nya dan ia menyatukan kening nya dengan kening Sarah. Tatapan keduanya kembali bertemu dengan nafas yg memburu.
"Kamu memang harus jadi wanita nakal sama aku, Sayang. Hanya sama aku, garis bawahi itu. Dan harus, aku suka kenakalan mu" goda Devano yg membuat Sarah merona. Tentu hal itu tak luput dari pandangan Devano.
Devano mengangkat tangan nya dan membelai satu persatu tanda yg ia tinggalkan di tubuh Sarah. Membuat Sarah menahan nafas dengan mulut yg sedikit terbuka.
"Aku sudah menandai mu, Sarah. Kamu milikku, hanya milik ku" lirih Devano dan ia pun kembali menyerang Sarah dengan bibir nya namun aksi nya itu terhenti saat terdengar suara ketukan pintu.
"Dev, Sarah. Kalian sudah sarapan belum?" terdengar suara William dari luar.
Devano menggeram kesal dan ekspresi nya itu membuat Sarah terkekeh.
"Belum, Kak" jawab Sarah.
"Ya udah, turun ya. Kakak juga belum sarapan, Papa Mama sudah katanya"
"Iya"
Setelah terdengar suara langkah yg menjauh, Sarah hendak turun dari pangkuan Devano namun Devano memegang pinggang Sarah.
"Aku mau nya sarapan kamu, Sayang" lirih nya. Sarah hanya terdiam dengan ekspresi meringis "Masih sakit?" tanya Devano dan Sarah mengangguk malu malu "Maaf, seperti nya tadi malam kita terlalu bersemangat" ucap nya yg kembali membuat Sarah tersipu malu. Pemandangan yg membuat Devano gemas dan On secara bersamaan. Namun Devano harus menahan nya dan ia tak mau bertindak egois. Lagi pula masih banyak waktu untuk memakan istri nya ini.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1