Married By Challenge

Married By Challenge
Part 113


__ADS_3

William membantu Devano membereskan kekacauan perusahaan Devano yg di akibatkan sang owner sekaligus CEO nya itu sedang patah hati.


Sambil bekerja, William tak henti henti nya menceramahi dan menggerutu pada Devano. Dari mengungkit kebodohan nya yg salah faham pada William, kebodohan nya yg menikahi Sarah hanya karena Sarah menjadikan nya bahan tantangan dan juga kebodohan nya yg patah semangat hidup hanya karena patah hati.


Inti nya, bagi William segala yg Devano lakukan adalah kebodohan yg hakiki. Tentu itu membuat Devano sangat geram dan ingin sekali mencolok luka tusukan di pinggang William itu, namun ia masih punya hati dan perasaan. Dan Devano sadar apa yg William katakan itu sangat benar.


"Sekolah tinggi tinggi, bodoh nya engga kalah tinggi..." gerutu William lagi dan lagi yg akhir nya membuat Devano sudah tak hampir tak sanggup lagi menahan emosi nya.


"Pria yg selalu kamu panggil bodoh ini adalah suami adik mu, menantu orang tua mu dan ayah dari keponakan mu. Okey?" ujar Devano mencoba tenang. William hanya mencebikan bibir nya dan enggan menanggapi.


"Ini...." William menyodorkan sebuah file pada Devano.


"Apa ini?" tanya Devano sembari menerima nya.


"Aku butuh sedikit uang mu..." ucap William membuat Devano mengernyit bingung.


"Buat?"


"Membeli perusahaan Agus"


"Apa?" Devano langsung menatap tak percaya pada William "Perusahaan nya sudah di ujung tanduk, Will. Membeli nya engga ada gunanya kecuali kamu akan mengembangkan nya lagi, dan aku fikir sebaiknya kamu fokus dulu dengan perusahaan mu yg masih bayi itu"


"Aku tahu, perusahaan nya memang di ujung tanduk tapi itu masih milik Agus. Aku mau dia engga punya apapun" tegas William dengan sorot mata yg memancarkan amarah. Tentu Devano masih tak mengerti apa maksud William, dan William bukanlah diri nya yg hobi balas dendam.


"Apa maksud mu?" tanya Devano lagi.


"Ayo lah, Dev. Jangan pura pura bodoh, aku tahu kamu yg buat dia hampir bangkrut begitu karena dia membocorkan rahasia mu. Dan sekarang giliran ku, aku mau dia benar benar bangkrut karena sudah menyebarkan fitnah tentaang aku yg memperkosa Caitlin"


Devano kini mengerti apa yg di maksud William "Okey, aku yg akan mengurus ini..." ujar Devano tenang dan William pun tampak senang.


.........


Naina datang ke kantor ayahnya untuk mengantarkan makan siang, dan hanya Tuhan dan Naina yg tahu niat Naina yg sebenarnya kenapa tiba tiba ia datang ke kantor ayahnya yang adalah perusahaan milik Juan. Dimana disana Juan bisa saja muncul dan kembali menggoda Naina, tapi justru itulah yg seperti nya di harapkan Naina.


"Tumben..." ujar Papa Naina namun Naina hanya menyunggingkan senyum polos nya sembari menata makanan di meja yg ada di dekat meja kerja nya.


"Memang nya kamu engga ada acara pergi kemana gitu? Atau kegiatan apa gitu?" tanya ayahnya.


"Engga ada, Pa. Engga ada Sarah, engga ada Jacob. Ya Naina mau pergi kemana tanpa mereka..." ujar Naina.


"Teman mu yg bernama Vino itu?"


"Dia mah sibuk sama geng nya, Pa" jawab Naina lagi.

__ADS_1


Ia pun melirik arloji yg melingkar manis di pergelangan tangan nya.


"Naina pulang sekarang ya, Pa..." ujar nya.


"Loh rantang nya? Papa kan belum makan"


"Ya papa bawa pulang aja nanti, bye Pa..."


Naina mengecup pipi ayahnya kemudian ia bergegas pergi.


Dan saat di lobi, benar saja dugaan nya. Ia melihat Juan di sana yg sedang berbicara sembari berjalan dengan beberapa pria.


Naina mendongakan wajahnya namun ia pura pura tak melihat Juan, Naina terus berjalan melewati Juan hingga terdengar suara Juan yg memanggil nya.


"Naina..."


Naina pun mengentikan langkahnya dan menoleh "Ya?" seru nya formal dan ia menyunggingkan senyum tipis nya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Juan.


"Habis nganterin makan siang Papa" jawab Naina masih mempertahankan senyum nya. Membuat Juan merasa aneh dengan senyum yg terlalu manis itu jika mengingat bagaimana terkahir kali mereka bertemu dan Juan mendapatkan hadiah tamparan sebagai balasan dari ciuman nya.


"Kamu sendiri sudah makan siang?" tanya Juan, insting buaya nya mulai bangkit.


"Belum, ini baru mau cari makan" jawab Naina seolah memancing.


"Engga, makasih" jawab Naina singkat namun masih dengan senyum yg sama, bahkan senyum itu terlihat seperti orang yg sungkan.


"Ayolah, Naina. Anggap saja sebagai permintaan maaf ku karena kejadian waktu itu" ujar Juan membujuk.


"Gotcha!!!" seru batin Naina girang.


"Aku fikir kamu sedang sibuk" seru Naina kemudian sambil melirik beberapa staf yg sejak tadi berdiri di belakang Juan.


"Engga kok..." jawab Juan sembari mengangkat tangan memberi isyarat pada orang orang itu untuk meninggalkan nya dan mereka pun langsung pergi "Ya udah ayo pergi, mau makan dimana?" tanya Juan dan ia berjalan berdampingan dengan Naina.


"Aku pengen makan gado gado..." ujar Naina.


"Gado gado..." gumam Juan.


"Iya, enak kok. Aku yakin nanti kamu pasti ketagihan" ucap Naina dengan senyum lebar nya.


.........

__ADS_1


Juan memperhatikan sekeliling nya, ia merasa sangat ragu untuk makan gado gado yg sudah di sajikan di depan nya itu. Suara bising kendaraan membuat nya merasa terganggu, belum lagi polusi yg membuat nya semakin ragu untuk makan di pinggir jalan seperti itu.


"Kok malah diem?" tanya Naina yg sudah mulai menikmati makanan nya.


"Bersih engga neh?" tanya Juan sambil meringis. Naina terkekeh, ia mengambil sesuap gado gado milik Juan yg belum tersentuh .


"Bersih, aaa..." ia menyuapi Juan dan dengan ragu Juan menerima nya dan kemudian mengunyah nya "Enak kan?" tanya Naina dan Juan mengangguk dengan senyum lebar nya.


"Enak sih, tapi lain kali makan di tempat yg lebih bersih dan nyaman ya" Naina hanya terkekeh dan enggan menanggapi.


Jujur saja, Juan merasa aneh dengan sikap Naina yg tiba tiba manis ini. Biasanya gadis itu tak kalah galak nya dengan Helen, Agh, Helen lagi...


.........


"Terima kasih banyak, Sarah. Berkat usulan mu menambahkan mata pelajaran bahasa inggris sangat berguna. Anak anak sangat senang dan mengatakan itu sangat keren..."


"Harus ada kemajuan, dunia sudah berubah dan semakin modern. Suatu hari nanti, bahkan harus ada pelajaran tentang teknologi informasi maupun jaringan walaupun sekedar materi"


"Iya, hanya saja masih sangat sulit, seperti yg kamu ketahui. Di desa ini listrik saja masih sulit, bagaimana dengan jaringan internet"


"Perlahan semua nya akan berubah, aku yakin itu"


"Oh ya, ini gaji mu..."


Seorang wanita paruh baya itu menyodorkan sebuah amplop pada Sarah, bukan nya langsung mengambil nya, Sarah justru termenung menatap amplop itu.


"Gaji?" untuk pertama kalinya dalam hidup Sarah merasakan bagaimana sulit nya mencari pekerjaan, bagaimana sulit nya menjalani pekerjaan dan betapa berarti gaji walaupun jauh dari yg di harapkan.


Tanpa sadar Sarah meneteskan air mata nya sembari menerima amplop itu, itu adalah gaji pertama nya dari pekerjaan pertama nya seumur hidup Sarah.


Sarah tak pernah merasakan kekurangan materi sedikitpun walaupun keluarga nya pernah bangkrut, karena Devano selalu ada untuk nya dan memenuhi semua kebutuhan dan keinginan nya.


"Tapi kan belum sebulan aku menjadi guru di sini" ujar Sarah sambil mengusap air mata nya dengan tangan kecil nya.


"Aku tahu, tapi kamu memberi kan ide yg cemerlang dan ilmu tambahan yg luar biasa. Dan juga kamu sedang hamil, kamu harus merawat kandungan mu dengan baik"


Sekali lagi Sarah meneteskan air mata nya, dan ia sangat berterima kasih pada guru yg bernama Asih itu. Yg telah menawarkan Sarah menjadi guru di sekolah SD itu walaupun tanpa surat lamaran kerja apa lagi ijazah. Tentu soal usia Sarah terpaksa berbohong apa lagi ia harus mengakui kehamilan nya dan mencari alasan bagaimana ia bisa ada di sana tanpa suaminya.


"Terima kasih banyak, Bu Asih" ucap Sarah sambil sekali lagi menghapus air matanya.


"Sama sama, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat. Orang hamil engga boleh terlalu kelelahan"


"Iya, sekali lagi terima kasih banyak, Bu Asih. Aku permisi..."

__ADS_1


▫️▫️▫️


Tbc...


__ADS_2