
Devano menjemput Sarah saat pulang sekolah, membuat Sarah semakin heran dengan perhatian Devano itu.
Sementara Devano yg melihat Sarah tak membawa tas dan tak memakai sepatu nya segera turun menghampiri Sarah, membuat Sarah panik setengah mati. Ia sangat takut jika hubungan nya dengan Devano di ketahui orang lain. Bahkan Naina yg bersama Sarah pun juga ikutan panik.
"Sarah, dimana tas dan sepatu mu?" tanya Devano sembari memperhatikan kaki Sarah yg hanya terbalut kaos kaki.
"Aku buang" jawab Sarah setengah berbisik kemudian ia dengan cepat menarik Devano kembali ke mobil nya meninggalkan Naina "Cepatan jalan!" ucap nya dengan panik, dan untunglah kaca mobil nya gelap sehingga takkan tahu siapa yg ada dalam mobil. Sarah hanya berharap tidak ada yg menyadari bahwa ia pergi bersama Devano Lake. Atau mereka akan menciptakan gosip baru.
Devano pun segeran menjalankan mobil nya.
"Kenapa di buang tas sama sepatu mu?" tanya Devano kemudian.
"Temen temen bilang itu hasil korup Papa, padahal itu semua hadiah dari Mama waktu aku naik kelas" tutur Sarah sedih. Devano yg mendengar itu juga terenyuh, merasa kasihan dan juga sedih. Devano sama sekali tak menyangka ia akan bersimpati pada Sarah sebesar ini.
"Engga usah dengerin mereka, kamu pasti tahu kan papa mu engga mungkin korup" ujar nya menghibur.
Dan hati nurani nya seolah mengejek Devano dengan hiburan itu, karena memang Jason tidaklah korupsi, tapi Devano membuat nya tampak begitu.
"Aku tahu, cuma udah muak aja sama mereka" jawab Sarah ketus dan ia tampak sangat kesal sekarang "Demi Tuhan, siapapun yg memfitnah Papa seperti ini akan aku beri pelajaran yg engga akan pernah bisa dia lupakan" geram nya kemudian. Devano yg mendengar itu terkejut bahkan hampir saja ia menabrak pengendara motor di depan nya.
"Ehm ehm..."Devano hanya bisa berdeham, setelah mengenal Sarah lebih dekat, ia yakin apa yg di katakan Sarah itu sangat serius.
"Kenapa kamu yg jemput aku? Om Aldo mana?" tanya Sarah kemudian sambil melepaskan kaos kaki nya dan melempar nya asal ke belakang, membuat Devano tertawa geli.
"Jorok banget sih kamu" ujar Devano
"Aku tanya, Om Aldo mana? Bahaya tahu kalau ada orang yg tahu hubungan kita" gerutu Sarah.
Namun Devano tak menjawab pertanyaan Sarah itu, ia malah tetap fokus menyetir dan bahkan tak melirik Sarah sedikitpun. Sarah pun juga diam, karena ia tak mau lagi di Katakan tak tahu malu jika ia banyak bicara.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Sarah segera melompat turun dari mobil nya, dan ia fikir Devano akan kembali ke kantor. Namun ternyata Devano juga turun dan masuk kerumah, Sarah mendengar Devano memanggil Lolly, salah satu pelayan yg masih muda yg biasanya bertugas membersihkan rumah. Terdengar Devano menyuruh Lolly mengambil kaos kaki Sarah di mobil nya.
"Kapan ujian mu selesai?" tanya Devano sambil mengikuti Sarah yg masuk kedalam kamar, pemandangan Sarah yg berjalan bertelanjang kaki sementara pakaian sekolah nya masih lengkap adalah hal yg seksi di mata Devano.
"Dua hari lagi" jawab Sarah sembari mengambil pakaian ganti di lemari nya kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Devano pun melepaskan jas nya dan melempar nya ke sofa, ia membuka beberapa kancing atas nya dan menggulung lengan kemeja nya. Setelah itu ia keluar dari kamar dan menuju ruang kerja nya. Ia pun menghubungi Dominic lagi.
"Tunda rencana berikutnya, sampai ujian Sarah selesai dan aku akan membawa nya ke London. Aku engga mau Sarah terkena dampak nya lagi" ujar nya pada Dominic di seberang telpon.
"Tapi semua nya sudah siap untuk di laksanakan sekarang, Tuan. Bahkan polisi sudah dalam perjalanan ke apartment William"
"Kalau begitu hentikan mereka, dan tunggu perintah ku nanti. Dan satu hal lagi, urus keberangkatan ku dan Sarah ke London, dua hari lagi dia selesai ujian nya"
"Baik, Tuan"
"Dan bagaiamana dengan hukuman untuk anak nya Agus itu?"
"Sudah di lakukan, Tuan. Hari ini dia pasti akan di keluarkan dari sekolah nya"
"Kerja bagus, Dom"
Sarah mencoba mencari keberadaan keluarga nya, Sarah tidak tahu kemana mereka pergi dan kenapa mereka tidak mengabari Sarah sama sekali. Sarah pun meminta bantuan Jacob untuk menemukan mereka.
"Sarah..."
Sarah segera menutup laptop nya saat mendengar suara Devano yg memanggilnya bersamaan dengan pintu yg terbuka.
"Apa?" tanya Sarah ketus.
"Buka email mu, Mia mengirim beberapa foto tas dan sepatu. Kamu bisa pilih mau yg mana" ujar nya yg langsung membuat Sarah mengerutkan kening nya.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanya Sarah yg kini membuat Devano yg heran "Perhatian amat" lanjut nya "Jangan jangan kamu udah cinta ya sama aku?" pekik Sarah kemudian yg malah membuat Devano tersenyum misterius. Kemudian Devano berjalan mendekati Sarah yg saat ini duduk di meja belajar nya.
"Aku ingin mengakui sesuatu" lirih Devano kemudian ia duduk di tepi meja belajar Sarah. Kemudian Devano sedikit membungkuk dan mendekatkan wajah nya ke wajah Sarah "Seperti nya aku memang mencintai mu" bisiknya kemudian yg membuat Sarah langsung mematung. Ia bahkan menahan nafas tanpa sadar.
"Aku serius" tegas Devano sambil kembali duduk tegak.
"Jadi aku menangin taruhan nya?" ucap Sarah setengah berbisik "Artinya aku yg akan meninggalkan mu, wow..." serunya kemudian tersenyum lebar. Namun Devano malah menggeleng tetap dengan senyum misterius nya.
"Hanya pria yg berhak menceraikan, apa lagi kita engga menikah secara negara. Jadi sampai kapan pun, kamu engga akan bisa ninggalin aku" tegas nya yg membuat Sarah langsung meradang.
"Engga bisa gitu dong, perjanjian dari awal kan siapa yg jatuh cinta dia yg kalah"
"Memang nya ada perjanjian tertulis? Ada bukti?" tanya Devano menantang yg membuat emosi Sarah semakin meluap. Belum kelar masalah keluarga nya, nambah lagi masalah suami nya.
"Kamu kok gitu sih? Dasar pembohong, penipu. Pokok nya aku mau kita cerai. Titik" teriak Sarah berapi api dan Devano malah tertawa kecil.
"Katakan saja ke inginan mu itu sampai mulut mu herbusa, tapi kita engga akan pernah cerai. Titik" tegas nya sekali lagi dan ia pun segera keluar dari kamar nya, tak peduli teriakan dan makian Sarah yg mengiringi langkah nya. Devano hanya terkekeh.
Devano sendiri tidak tahu apakah yg dia katakan itu benar atau tidak, apakah dia memang mencintai Sarah atau tidak. Tapi kata kata itu terucap begitu saja bahkan ia sendiri sempat terkejut dengan pengakuan nya sendiri. Dan jika pun dia mencintai Sarah, maka Devano harus menjauhkan Sarah dari keluarga Sarah sendiri, karena mereka adalah musuh Devano.
Katakanlah Devano gila, tapi memang seperti itulah dia. Ambisius, kejam, dan juga posesif pada apapun yg ia miliki. Walaupun mungkin sebagian orang tak habis fikir dengan Devano.
Bagaiamana bisa dia begitu mencintai Caitlin dan rela melakukan apapun demi Caitlin, tapi ia sangat membenci wanita yg telah melahirkan Caitlin bahkan memperlakukan nya dengan begitu buruk.
Seperti itu juga mungkin ia akan sangat mencintai Sarah, meskipun dia sangat membenci keluarga Sarah dan bahkan menghancurkan kehidupan mereka.
Devano kembali ke ruang kerja nya, kemudian ia membuka laptop nya yg langsung menampilkan wajah Sarah yg sedang tertidur pulas. Devano mengambil foto Sarah diam diam di malam pertama pernikahan mereka. Dan harus Devano akui, saat tertidur pun Satan begitu cantik dan menggoda.
"Jika pun aku mencintai mu, itu engga akan memudarkan benci dan dendam ku pada keluarga mu. Aku punya hati yg tulus untuk mencintai, tapi aku juga punya jiwa yg akan terbakar jika yg aku cintai di usik"
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...