
"Kamu ngapain ke London, Will? Lebih baik kamu cari adik mu itu" seru Jason pada William yg memberi tahu nya tentang keinginan nya untuk pergi ke London dan membuka kasus Caitlin kembali. Saat ini kedua nya sedang berada di halaman rumah mereka sembari menikmati angin sore.
"Pa, aku sudah suruh orang untuk mencari Sarah, Dominic dan orang orang nya juga mencari Sarah setiap hari" ujar William. Jason menghela nafas panjang nya.
"Semua orang ingin melupakan masa lalu nya, William. Tapi kamu malah mati matian mengingat masa lalu kelam mu itu" ucap Jason dengan tarikan nafas lelah nya.
"Pa, ini bukan hanya tentang masa lalu ku. Tapi ini juga tentang keadilan buat Caitlin, kita mati matian membela Evelyn lalu kenapa tidak dengan Caitlin? Meskipun dia sudah meninggal, tapi dia pasti masih ingin pelaku kejahatan nya di adili" tutur William panjang lebar dan ia menatap memohon pada ayah nya.
"Terserah kamu aja" ucap Jason kemudian.
Dan beberapa saat kemudian seorang tukang pos datang mengantarkan surat.
"Itu pasti dari Sarah..." ujar Venita yg entah sejak kapan berada di ambang pintu.
Ia segera menerima surat itu sementara William dan Jason tanya menatap heran pada Venita yg tampak sangat antusias.
"Benaran dari Sarah?" tanya Jason.
"Iya, Pa..." jawab Venita sambil tersenyum lebar.
Kemudian ia membacakan surat itu.
"Dear Mama... Apa kabar, Mama? Papa, Kak Will dan Kak Fe? Sarah harap kalian baik baik saja, dan maaf karena Sarah belum pulang. Tapi Sarah baik baik saja di sini. Sarah sayang kalian semua"
"Hanya itu..." gumam Venita kecewa. William mengambil surat Sarah dan membolak balik kertas putih itu. William mencoba mencari petunjuk dari mana surat itu di kirim, namun Sarah masih tak meninggalkan jejak apapun.
"Tapi kenapa Sarah engga pernah membicarakan kehamilan nya?" tanya Jason kemudian.
"Jangan jangan...."
"Jangan jangan apa...?" ucapan William terpotong dengan kedatangan Devano yg memang selama ini masih tinggal bersama mereka. Devano mengambil surat itu dan membaca nya. Devano tersenyum senang, walaupun surat itu bukan untuk diri nya dan Sarah juga tak menanyakna kabar nya tapi Devano sudah cukup senang.
"Sarah akan baik baik saja, Ma. Begitu juga dengan anak kami" ujar Devano meyakinkan.
"Iya, Mama juga yakin akan hal itu" jawab Venita.
Kemudian Devano kembali ke dalam dan ia menemukan Freya yg sedang duduk di sofa sembari berkutat dengan laptop nya.
__ADS_1
"Jadi dia klien mu?" tanya Devano saat melihat foto seorang gadis remaja di laptop Freya.
"Iya, namanya Evelyn. 18 tahun"
"Oh Tuhan..." geram Devano, apa yg di alami Evelyn sama dengan yg di alami Evelyn "Apa bukti nya sudah cukup kuat untuk menjerat pelaku?"
"Sangat kuat, Devano. Aku juga sudah meminta beberapa murid yg lain nya bersaksi di pengadilan besok karena ternyata Evelyn bukan korban pertama mereka, hanya saja Evelyn orang pertama yg berani melapor" tutur Freya.
"Good girl" ucap Devano "Kamu jangan khawatir, aku sudah suruh beberapa orang mengawasi mu dari jauh. Jadi engga akan ada lagi percobaan penyerangan terhadap mu" seru Devano.
"Terimakasih, Devano. Doakan aku semoga sidang nya bisa ku menangkan"
"Pasti"
.........
Juan mengajak Naina untuk makan malam bersama, tentu Naina langsung mengiyakan namun dengan syarat Naina yg akan menentukan tempat nya.
Juan pun tak masalah asal jangan di pinggir jalan lagi.
Juan tampan sangat tampan dengan setelan jas nya sedangkan Naina?
Dia terlihat sangat casual dengan sneakers nya, jeans yg berwarna biru, kaos oblong putih dan jangan lupakan rambut nya yg di ikat ala ekor kuda.
Juan hanya bisa melongo, bukan terpana pada kecantikan Naina, tapi tak habis fikir sejak kapan ada wanita yg dinner bersama pria dengan pakaian seperti mau ke mall di siang bolong.
"Kenapa liatin aku begitu?" tanya Naina sambil melihat lihat buku menu nya.
"Kamu engga punya gaun yg cantik gitu?" tanya Juan dengan ekspresi yg membuat Naina tertawa geli.
"Aku kan mau makan malam sama teman, ngapain pakek gaun cantik" jawab Naina santai. Dan tak lama kemudian Vino datang bergabung dengan mereka.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Juan heran.
"Di ajak Naina" jawab Vino. Ia juga datang dengan celana jeans selutut, sandal jepit dan kaos oblong berwarna hitam.
Kedua remaja itu pun memesan berbagai macam makanan sambil terus mengoceh tentang masa masa remaja mereka. Dan Juan, dia hanya bisa mendengus kesal. Padahal niatnya makan malam romantis dengan Naina, tapi gadis ini benar benar ajaib.
__ADS_1
"Bukan nya itu Kak Helen?" ujar Naina kemudian sambil menatap ke meja yg tak jauh dari meja mereka. Vino dan Juan pun mengikuti arah pandang mereka dan benar saja, disana ada Helen bersama seorang pria tampan dan mereka tampak sangat romantis. Bahkan terlihat pria itu menggenggam tangan Helen dengan sangat mesra kemudian mengecup nya.
Juan yg melihat itu tiba tiba merasakan panas di hati nya, ia sudah hendak berdiri dan ingin menghampiri Helen namun Naina mencegah nya.
"Makanan kita sudah datang, ayo makan" ujar Naina.
"Hem, kelihatannya lezat" ujar Vino menimpali "Eh, apa mereka sedang lamaran ya?" tanya Vino kemudian karena melihat Helen yg sedang menatap punggung tangan nya dan seperti sedang menyentuh sesuatu di jari nya.
"Kayaknya iya, aku dengar Kak Helen emang sudah mau menikah. Kayaknya itu Dokter juga deh, klop banget mereka"
"Serasi"
"Bisa diem engga?" seru Juan kemudian. Naina dan Vino langsung menutup mulut nya dan mulai menikmati makanan mereka.
Dan kemudian mereka kembali berceloteh tentang banyak hal, di sini Naina memperlihatkan sisi remaja nya, kenakalan dan ketengilan nya. Ia juga membicarakan Jacob, dan Vino membicarakan beberapa gadis yg pernah ia kencani.
"Tapi Sarah yg terbaik..." ujar Vino.
"Tapi kamu kan engga pernah berkencan dengan Sarah"
"Iya, tapi aku merasa nyaman setiap kali ada di dekat dia. Aku masih berharap aku bisa melakukan memiliki nya suatu hari nanti, apa lagi sekarang hubungan nya dan Devano sudah di ujung tan.... Aduh, Kak..." Vino langsung meringis saat merasakan perih di punggung tangan nya akibat Juan yg menusuk nya dengan garpu.
"Mau jadi bajingan kamu, huh?" ucap Juan marah.
"Engga lah, aku kan cuma berharap. Aku engga melakukan apapun yg merusak hubungan mereka" tutur Vino masih meringis.
"Kalian nikmati aja makanan nya, aku ada urusan" ucap Juan kemudian memberikan credit card nya pada Vino dan ia pun langsung pergi.
Vino dan Naina langsung tertawa geli.
"Apa aku bilang, Juan itu masih mencintai Kak Helen" ujar Naina.
"Tapi ego nya setinggi langit" sambung Vino.
"Nanti pasti akan luntur tuh ego"
Tbc...
__ADS_1