Married By Challenge

Married By Challenge
Part 177


__ADS_3

"Selamat pagi, Tante..." sapa Sarah pada Margaret yg saat ini sedang sarapan.


"Aku belum tahu siapa nama mu" ujar Margaret setelah ia menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut nya.


"Sarah" jawab Sarah sembari tersenyum, Margaret yg mendengar nama itu terasa tak asing langsung teridam dan bahkan berhenti mengunyah.


"Sarah?" ia bertanya sembari mencoba mengingat nama itu.


"Iya, Sarah" jawab Sarah masih mempertahankan senyum nya, ia bahkan memegang pundak Margaret dengan lembut "Tante jangan takut, aku tidak jahat dan tidak akan menyakiti Tante" lanjut nya.


"Apa kamu tahu anak ku Caitlin?"


"Iya, aku tahu. Caitlin gadis yg baik, manis, cantik, pintar, suka musik" jawab Sarah lugas dan seketika Margaret tersenyum lebar.


"Kamu memuji Caitlin ya, padahal aku dengar kamu benci Caitlin" ujar Margaret dan ia kembali menikmati bubur nya.


"Kata siapa?" tanya Sarah lembut.


"Entahlah, seperti ada yg berbisik di telinga ku dan mengatakan kamu benci Caitlin"


Sarah langsung tertunduk sedih, Margaret pasti teringat apa yg sudah di tanamkan Karin ke pemikiran nya.


"Tidak ada yg benci Caitlin" tegas Sarah dan ia kembali berkata dengan senyuman "Caitlin gadis yg sangat baik, jadi tidak mungkin ada yg membenci nya. Kami semua menyayangi nya"


"Iya, anak anak ku memang anak yg baik" gumam Margaret.


"Nyonya Sarah, Baby Neo sudah di mandikan" seru Bi Eni yg datang menusul Sarah "Saat ini dia sedang bersama Aldo dan Nandini"


"Om Aldo dan Nandini?" tanya Sarah dan Bi Eni mengangguk.


Sarah tersenyum misterius, ia pun pergi meninggalkan Margaret tentu setelah berpamitan pada Margaret. Sebisa mungkin Sarah berusaha mengambil hati Margaret, memperlakukan nya dengan sangat baik dan lemah lembut.


Sarah pergi ke ruang tengah, di sana terlihat Nandini yg sedang menggendong Baby Neo dan Aldo berdiri di samping nya, bahkan dari jauh, Aldo terlihat seperti sedang merangkul Nandini saat ini.


"Ehem ehem..." Sarah berdeham dan seketika Aldo melangkah menjauh dari Nandini.


"Nyonya, Baby Neo sedang di berikan susu" ucap Nandini gugup.


"Kenapa gugup? Susu nya aman kan? Kenapa tidak menunggu ku saja?" tanya Sarah mengintimidasi. Padahal Nandini gugup karena ia ke pergok sedang berdekatan dengan Aldo. Dan Sarah pun sudah tahu alasan kegugupan itu namun ia sedikit mengerjai nya.


Setiap sudut di Villa itu juga di pasang cctv bahkan di setiap kamar, karena Devano dan Sarah sudah sangat sulit percaya pada siapapun.

__ADS_1


"Aman, Nyonya. Saya bersumpah, tadi... Tadi saya fikir karena Nyonya menemani Nyonya Margaret, karena itulah saya memberikan susu pada Baby Neo"


"Okey" seru Sarah kemudian ia meminta bayi nya.


Sarah duduk di sofa, menimang bayi yg kini genap berusia satu bulan. Setiap minggu Dokter akan datang memeriksa keadaan Sarah maupun Baby Neo. Keadaan Sarah sudah sangat membaik, tapi tidak dengan Baby Neo. Walaupun begitu, Sarah dan Devano sangat percaya bahwa putra mereka adalah anak yg kuat.


Sarah menimang putra nya penuh kasih, mengecup nya dengan lembut.


"Tumbuh jadi anak yg kuat ya, Nak. Buktikan pada yg ingin menyakiti mu, bahwa mereka takkan pernah mampu menyakiti mu" ucap Sarah.


Devano dan Dominic yg tadi pergi berbelanja pun kini sudah datang.


Nandini dan Aldo bergegas membereskan barang barang belanjaan nya.


"Hey, Putra Daddy..." sapa Devano dan ia hendak mencium Baby Neo namun Sarah menjauhkan nya.


"Mandi dulu, Dev. Kamu dari luar, bawa kuman" gerutu Sarah yg membuat Devano terkekeh.


"Iya iya, Sayang. Ya udah, bawa Baby Neo ke kamar. Dua jam engga liat dia udah kayak dua bulan, kangen..." ujar Devano yg membuat Sarah tertawa.


Mereka berdua pun kembali ke kamar mereka, Devano bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Sementara Sarah menidurkan Baby Neo di ranjang.


Dokter sudah memperbolehkan Sarah menyusui Baby Neo sebenarnya, namun Sarah masih di hantui rasa takut.


Racun, hal itu sangat Sarah takutkan. Seperti meninggalkan trauma tersendiri dalam diri nya.


"Sayang, kenapa?" tanya Devano yg kini sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yg menutupi tubuhnya.


"Baby Neo seperti nya sudah engga mau minum susu formula lagi, Dev" ujar Sarah sedih. Devano duduk di sisi Sarah dan memperhatikan anak nya.


"Berikan dia ASI, Sayang" pinta nya namun Sarah menggeleng, masih jelas ketakutan di wajahnya dan melihat itu, tentu saja Devano merasa sedih, merasa gagal menjadi suami dan ayah.


"Dokter bilang ASI mu aman, malah ASI jauh lebih baik untuk pertumbuhan Baby Neo dari pada susu formula. Percaya sama aku, ya..." bujuk nya.


"Tapi aku masih takut, dia masih kecil, masih lemah, bagaimana kalau..."


"Tidak akan terjadi apapun pada nya, percaya sama aku" tegas Devano.


Sarah terdiam sembari menatap suaminya, dan Devano pun terus membujuk nya hingga akhirnya Sarah mengangguk.


"Dia akan baik baik saja, tidak ada yg lebih baik untuk nya selain apa yg berasal dari ibu nya" tukas Devano yg membuat Sarah merasa yakin.

__ADS_1


"Iya, aku akan memberikan yg terbaik untuk putra kita"


"Iya, putra kita yg kuat" ucap Devano dan ia mengecup kening Baby Neo kemudian mengecup pelipis Sarah.


Sarah pun merebahkan diri nya menyamping, membuka kancing piyama nya dan menyodorkan susu nya pada Baby Neo dan Baby Neo langsung melahap nya. Baby Neo minum susu dengan begitu rakus, seolah ia begitu kehausan.


Sarah merasakan perasaan lega saat melihat putra nya yg menyusu, ia membelai kepala sang anak, mengecup nya dengan sayang.


Baby Neo masih menyusu saat Devano sudah melompat ke ranjang dan menatap Sarah dengan tatapan yg berbeda.


"Kalau satu nya jatah ku, boleh engga?" tanya Devano yg membuat Sarah mendelik.


"Ya kan aku juga mau, Sayang" rengek Devano lagi.


"Kamu kan bukan bayi, Dev"


"Dari sebelumnya juga juga memang bukan bayi tapi kamu selalu kasih jatah tuh"


"Itu beda lagi ceritanya..."


"Apanya yg beda?" Devano masih merengek, bahkan ia memainkan ujung piyama Sarah dan menatap Sarah dengan tatapan yg berkabut.


"Sudah sebulan aku puasa..." ia berkata dengan lirih, memberikan tatapan memelas pada istrinya.


"Kalau jahitan di perut ku kebuka lagi, gimana? Sabar dulu sebentar" ujar Sarah yg membuat Devano mencebikan bibir nya.


Sarah menarik baju Devano dan langsung menyambar bibir seksi nya itu.


"Aku juga kangen tahu" lirih Sarah di depan bibir Devano yg membuat Devano sangat senang, dan baru saja ia akan menjawab nya tiba tiba Baby Neo menangis dengan sangat nyaring.


"Cup cup cup sayang... Kenapa, Nak?" tanya Sarah dan ia kembali menyodorkan susu nya pada Baby Neo namun Baby Neo menolak. Sarah pun berganti posisi yg kini malah memunggungi Devano dan memberikan susu yg sebelah lagi pada Baby Neo, dan dengan cepat Baby Neo melahap nya.


"Oh, tidak suka berbagi rupa nya" gumam Devano antara kesal, gemas dan bahagia.


Kesal karena semenjak ada Baby Neo, perhatian Sarah terbagi. Gemas karena putra nya begitu lucu, dan bahagia karena memiliki Sarah dan putra nya.


Devano memeluk Sarah dari belakang, mengecup tengkuk istri kecil nya dan memijit pundak nya.


"Kalian segala nya bagi ku, aku sangat bersyukur memiliki kalian" bisik Devano yg membuat Sarah tersenyum, ia manarik tangan Devano yg memijit pundak nya, mengecup nya dengan mesra.


"Dan kamu juga segalanya bagi kami, Dev"

__ADS_1


__ADS_2