
Venita dan Jason sudah sampai di rumah Sarah, namun mereka melihat ada yg berbeda karena ada mobil yg tak mereka kenal di depan rumah Devano. Perasaan Venita semakin was was, ia mengetuk pintu. Dan seorang pria bertubuh besar yg membuka pintu nya membuat Venita dan Jason sangat terkejut.
"Kamu siapa?" tanya Jason.
Sementara Dominic yg mendengar suara Jason langsung bergegas keluar, tentu setelah memerintahkan Aldo agar mengawasi tiga pelayan itu.
"Tuan, Nyonya..." sapa Dominic.
"Ada apa ini, Dom? Dimana Sarah dan Devano?" tanya Venita.
"Nyonya, saat ini mereka sedang di rumah sakit. Karena Nyonya Sarah mau melahirkan" ucap Dominic berusaha bersikap tenang, karena ia tahu ibu dari Nyonya muda nya ini punya penyakit jantung dan tentu kabar Sarah di racuni bisa membuat terkena serangan jantung.
"Apa maksud mu? Bagaimana bisa Sarah melahirkan lebih cepat dari yg di perkirakan?" tanya Venita lagi.
"Soal itu saya tidak mengerti, Nyonya. Apakah perlu saya antar kerumah sakit?" tanya Dominic kemudian.
"Engga usah, Dom. Kami bisa sendiri" ucap Jason "Tapi kenapa ada pria ini di sini? Siapa dia?" tanya Jason.
"Hanya penjaga baru, Tuan" jawab Dominic.
"Baiklah, kami pergi dulu" ujar Jason dan ia segera membawa Venita kerumah sakit.
Saat Venita pergi, Juan datang.
"Dimana mereka bertiga?" tanya Juan tajam.
"Di dalam" jawab Dominic dan kedua pria itu pun masuk.
"Sudah ada yg mengaku?"
"Antara Lolly dan Nandini, tapi keduanya tidak ada yg mengaku"
__ADS_1
"Bi Eni?"
"Saya yakin dia tidak bersalah, Tuan Juan. Sejak tadi yg dia menangis, bukan tuduhan yang dia tangisi tapi Nyonya Sarah. Dia bahkan terus menggumamkan doa untuk keselamatan Nyonya Sarah dan bayi nya"
"Nenek yg malang" gumam Juan.
Di dalam, Juan melihat Nandini dan Lolly yg duduk bersimpuh di lantai sambil menangis.
"Tuan Juan..." seru Bi Eni "Tuan, Nyonya Sarah di racuni, bagaimana keadaan nya? Tuan, saya ingin tahu keadaan Nyonya Sarah dan bayi nya..." ucap Bi Eni dengan berderai air mata. Bukan nya menjawab, Juan melangkah lebar menghampiri Bi Eni.
"Bukan Bibi pelaku nya?" tanya Juan dengan nada datar.
"Saya sudah menganggap mereka putra putri ku, ibu mana yang tega menyakiti putra putri nya?" Bi Eni masih terisak, memang tampak sekali ke khawatiran di wajahnya.
"Aldo, cari Airin dan Karin sekarang juga. Sebarkan anak buah mu ke semua tempat, bahkan ke lubang semut kalau perlu. Malam ini juga temukan mereka, atau Devano akan membunuh ketiga wanita ini" titah Juan yg langsung Aldo patuhi.
Kini Juan mendekati Lolly dan Nandini.
"Jadi, pelaku nya pasti kalian berdua" desis Juan sambil berjongkok di depan kedua gadis itu, Juan tampan, tapi wajah sangar nya saat ini membuat kedua gadis itu semakin ketakutan "Siapa yang menyuruh kalian? Kenapa kalian melakukan ini?"
"Mungkin saja kamu bekerja di sini karena di suruh seseorang" ucap Juan lagi.
"Tidak, Tuan. Saya bekerja karena saya butuh uang, saya bersumpah demi mendiang ibu saya" tukas Nandini.
"Lalu bagaimana dengan mu, Lolly?" tanya Juan, ia mencengkram pipi Lolly dengan sangat kuat, membuat Lolly meringis dan air mata semakin deras mengalir di pipi nya.
"Saya tidak mungkin meracuni Nyonya Sarah, Tuan Juan. Saya bukan penjahat, lagi pula racun itu di temukan di tas Nandini" tukas Lolly kemudian.
"Racun?" tanya Dominic "Bagaiamana kamu tahu ini racun, Lolly? Ini hanya botol polos..." desis Dominic yg semakin mencurigai Lolly. Dan botol itu memang botol yg polos, kecil dan dan isi nya juga bening "Tidak ada satu pun dari kami yg mengatakan ini racun" ucap Dominic lagi dan Lolly hanya bisa membuka mulut nya tanpa bisa menjawab ucapan Dominic.
Tiba tiba terdengar suara pintu yg di buka dengan sangat kasar, dan tak lama kemudian Devano muncul dengan amarah yg meluap, tatapan nya seolah akan membakar apa yg ia lihat. Devano melangkah lebar dan cepat, mengambil pistol di tangan Dominic dan langsung menodongkan nya ke kepala Lolly. Membuat Lolly menahan nafas dengan tubuh yg teras panas dingin.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini, Huh?" desis Devano, Lolly yg tak mampu bersuara hanya menggeleng "katakan kenapa kamu melakukan ini atau aku akan meledekan kepala mu!!!" teriak Devano murka.
"Bukan saya, Tuan... Tapi... Tapi Nandini" ujar Lolly dengan suara tercekat.
PLAKKKKK...
Tamparan yg sangat keras itu mendarat tepat di pipi Lolly, membuat Lolly langsung tersungkur ke lantai. Sudut bibir nya berdarah dan Lolly hanya bisa menangis, tak sampai di sana, Devano menarik rambut Lolly dan memaksa Lolly menatap nya. Kedua mata me merah itu bertemu, mata merah Devano yg sarat akan amarah dan mata merah Lolly yg begitu ketakutan.
"Dimana Karin?" desis Devano.
"T... Tidak tahu..." cicit Lolly sambil memegang rambut nya yg di tarik dengan sangat keras oleh Devano.
Bi Eni dan Nandini hanya bisa terdiam dengan perasaan takut melihat Devano yg seperti singa liar.
Devano menarik rambut Lolly dan memaksa Lolly berdiri, Devano kembali memberikan tamparan, tonjokan di wajah Lolly dan bahkan tendangan di tubuh kecil Lolly membuat Lolly terus mengerang sakit. Bahkan dengan mudah nya Devano melempar tubuh mungil Lolly hingga kembali terjerembab ke lantai dan Lolly yg sudah tidak sanggup menahan semua siksaan bos nya itu pun akhirnya jatuh pingsan.
Devano tak menunujukan sedikitpun rasa belas kasihan pada Lolly yg tersungkur tak sadarkan diri dengan banyak nya luka lebam di wajah Lolly. Dan tak ada yg berani juga menghalangi Devano saat ia mendekati Nandini yg gemetaran, ia menangis tanpa suara karena sudah tak sanggup lagi bersuara. Nandini hanya bisa meremas tangan nya sendiri saat Devano terus mendekati nya.
"Aku juga mencurigai mu" desis Devano dan dengan cepat Nandini menggeleng.
"Saya tidak tahu apapun, Tuan" cicit Nandini dengan suara yg hampir hilang.
Namun Devano tak peduli, ia juga menampar Nandini membuat Nandini semakin histeris ketakutan.
"Bukan kamu pelaku nya?" tanya Devano tajam dan Nandini menggeleng "JAWAB!!!" bentak Devano.
"BUKAN...." tanpa sadar Nandini menjawab nya dengan suara nyaring.
"Arti nya ini bukan milik mu dan kamu tidak tahu ini apa?" tanya Devano lagi sembari mengambil botol yg di pegang Dominic.
"Saya tidak tahu itu apa dan itu bukan milik saya, tadi saya melihat Lolly memegang tas saya sesaat sebelum Tuan Dominic datang" Jawab Nandini bersusah berbicara dengan jelas, karena ia tak mau bernasib sama seperti Lolly. Nandini melirik Lolly yg masih tak sadarkan diri, bahkan Nandini berfikir Lolly mungkin mati, karena Devano memukuli nya membabi buta.
__ADS_1
"Kalau begitu, minum ini..." perintah Devano yg langsung membuat Nandini melotot. Ia takut itu benar benar racun "Kenapa? Kalau kamu tidak bersalah, seharusnya kamu bisa membuktikan itu" ucap Devano lagi. Dan dengan cepat Nandini mengambil botol itu, meneguk isi nya hingga habis.
...... ...