
Saat mama nya sedang sibuk mencari Sarah, Vino dan yg lainnya datang. Dan yg sangat mengejutkan mama Vino itu adalah kedatangan Juan. Terkahir kali mereka bertemu saat Juan mengadakan pesta, dan dengan tega nya Juan mengusir Mama nya itu.
"Dimana Sarah?" tanya Devano tanpa basa basi.
"Dia... Dia pergi" jawab nya.
"Maksud Mama? Pergi kemana?" tanya Vino panik, bahkan Devano pun sudah tak tahu lagi harus berkata apa. Dia hanya bisa menahan nafas dengan perasaan yg kembali hancur dan harapan nya yg semakin menipis. Naina dan Juan pun menampakkan kekhawatiran nya.
"Mama juga engga tahu, ini Mama lagi cari dia dari tadi. Siapa tahu dia belom jauh" jawab sang Mama.
"Kenapa bisa pergi sih, Ma?" gumam Vino seolah ia ingin menangis. Rasa khawatir juga menyelubungi hati nya, apa lagi jika memang benar Sarah sedang hamil. Kemana dia pergi? Siapa yg akan menjaga nya?
"Ini salah kamu, Vin. Wanita ini jaga anak sendiri engga bisa, kamu malah suruh jagain anak orang" ucap Juan sinis yg seketika membuat hati sang ibu terasa sangat perih. Naina yg mendengar itu pun hanya bisa melongo.
"Jangan sekarang deh, Kak..." ujar Vino yg juga sedih.
"Lebih baik sekarang kita pencar cari Sarah, siapa tahu dia engga jauh dari sini" saran Naina.
Sementara Devano sudah pergi dari sana untuk mencari Sarah kembali. Tanpa terasa air mata Devano kembali menyeruak begitu saja padahal ia sudah menahan nya.
"Sebesar itu kah kebencian mu, Sayang? Sampai kamu terus berlari dari ku"
.........
Venita sudah keluar dari rumah sakit, William dan yg lainnya berusaha menyembunyikan kehilangan Sarah karena mereka mengira Venita tak tahu apapun tentang Sarah.
William dan keluarga nya pun sudah memutuskan kontak nya dengan Devano, kini mereka mencari Sarah sendiri sendiri. William juga meminta tolong teman temannya dan menyebarkan selebaran orang hilang, berita itu juga di muat di koran dan TV. William sangat berharap hal ini mempercepat ia menemukan adiknya itu.
Sementara Jason, pria paruh baya itu hanya bisa merenungi kepergian putri nya. Ia merasa gagal menjadi ayah, dan Jason sangat menyesali tindakan nya yg membuat Sarah harus menikah dengan Devano.
__ADS_1
Ia juga menyesali ucapan nya saat mengatakan bahwa ia tak menginginkan keberadaan janin Sarah, terbersit dalam fikiran Jason bahwa mungkin Sarah mendengar apa yg dia katakan. Mungkin karena itulah ia pergi. Karena Jason sangat mengenal putri nya, ia tak pernah takut menghadapi siapapun dan apapun bahkan Devano sekali pun. Mungkin Sarah pergi karena ia mengira Jason tak menginginkan bayi Sarah.
"Ma..." seru Jason yg melihat Venita duduk termenung di kamar nya "Mama mikirin Sarah ya? Sarah baik baik aja kok, dia cuma pergi liburan untuk menenangkan diri" ucap Jason agar istri nya itu tak khawatir.
"Aku tahu..." jawab Venita "Dia sudah berpamitan"
"Berpamitan?" tanya Jason heran.
"Iya, dia janji akan segera pulang. Tapi entah kapan" jawab Venita sedih.
William yg kebetulan lewat depan kamar Mama nya mendengar pembicaraan mereka, dan ia segera masuk untuk memastikan apa yg baru saja di dengar nya.
"Apa maksud Mama Sarah pamitan?" tanya William.
"Dia pamitan ingin pergi, Will. Kata nya hanya ingin menenangkan diri. Mama sudah bujuk dia, tapi Mama ngerti kalau ini berat buat Sarah"
"Ha... Hamil?" tanya pekik Venita. Jason dan William saling pandang sesaat "Sarah hamil?" tanya Venita lagi.
"Iya, Ma" jawab Jason dengan suara rendah.
"Oh Tuhan, anak ku dan cucu ku..." gumam Venita memegang dada nya dan nafas nya tiba tiba terasa berat.
"Ma, Mama tenang ya. Kita semua lagi mencari Sarah, dia dan bayi nya akan baik baik aja. Aku janji akan menemukan Sarah secepatnya" ujar William.
"Temukan dia, Will... Kamu harus segera menemukan nya" ucap Venita sambil menangis. Seandainya ia tahu Sarah sedang hamil, Venita tidak akan pernah membiarkan Sarah pergi kemana pun.
"Mama tenang ya, Sarah gadis yg kuat. Kita kenal dia dengan sangat baik, dia engga akan menyerah pada apapun" ucap Jason sambil memeluk sang istri untuk menenangkan nya.
"Tapi dia hamil, dia masih kecil, Pa. Bagaimana Sarah bisa menjaga kandungan nya? Dimana dia tinggal? Sama siapa?" ucap Venita sambil sesegukan. Venita tahu bagaimana sulit nya menjaga kandungan, bagaimana sulit nya menjalani hari hari selama kehamilan. Dan bagaimana bisa Sarah melewati masa masa sulit itu sendirian, bagaimana bisa?
__ADS_1
"Bu..." terdengar suara Bi Inem dari luar.
"Masuk, Bi..." seru William.
Bi inem pun masuk dengan sebuah amplop di tangan nya "Ada surat buat Ibu" ucap Bi Inem.
"Surat apa dan dari siapa? " Tanya Jason sembari mengambil surat itu.
"Tidak ada nama pengirim nya, Pak" jawab Bi Inem.
"Makasih, Bi" ucap Jason dan Bi Inem pun pergi. Di amplop itu tertera nama Venita Fergueson, Jason pun memberikan amplop itu pada istri nya.
Venita membuka isi amplop itu yg ternyata isi nya adalah sebuah surat yg tak lain dari Sarah.
"Dari Sarah..." ujar Venita.
"Bacakan, Ma..." minta William dengan antusias. Venita pun membaca surat dari putri nya itu.
..."Dear Mama... Seperti janji Sarah, Sarah akan kabari Mama. Sarah baik baik saja, dan Sarah ada di tempat yg aman dan nyaman. Sarah mohon, jangan khawatir tentang keadaan Sarah. Dan Sarah mohon sama Mama, jaga kesehatan Mama dan Sarah akan segera pulang. Sarah janji, Ma. Dan minta Kak Will berhenti mencari Sarah. Sarah sayang sama Mama, Papa, Kak Will dan Kak Fe. "...
Air mata Venita dan Jason menetes membaca surat dari putri tercinta mereka, begitu juga dengan William. Ia merasa sangat bersedih dan merasa gagal menjadi seorang kakak.
"Apa yg harus kita lakukan sekarang, Ma?" lirih William sedih "Walaupun Sarah bilang dia baik baik saja, tapi bagaimana kita tahu dia benaran baik baik saja atau engga?"
"Kita engga boleh berhenti mencari nya, Will"
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1