
Devano menyetir seperti orang gila, tak ia perdulikan suara klakson yg menegur tingkah nya itu. Yg Devano fikirkan saat ini hanya Sarah dan bayi nya.
Sesampainya di rumah sakit, Devano langsung berlari di lorong rumah sakit bahkan sampai menabrak orang orang yg ia lewati.
Hingga ia sampai di depan ruang NICU dengan nafas yg tersengal dan keringat yg membanjiri tubuhnya. Di sana juga sudah ada William, Freya, Jacob dan Naina.
Mereka semua mengintip lewat kaca pintu dan melihat seorang suster yg sedang memberikan perawatan pada bayi yg ada di dalam sana"Bayi ku..." seru Devano dan seketika mereka menoleh, memberi ruang pada Devano untuk juga mengintip.
Air mata Devano menetes saat melihat boneka hidup yg begitu menggemaskan di dalam sebuah inkubator
"Dia selamat, Baby Neo selamat..." ujar William sambil tersenyum tipis, air mata haru Devano semakin deras "Tapi memiliki kelainan pada jantung dan pada pernafasan nya" ucap William lirih yg membuat Devano seperti di sambar petir.
Ia menggigit bibir nya kuat kuat guna menahan isak tangis nya dan itu sia sia, ia terisak lemah "Putra ku..." lirih Devano sambil terisak, ia menempelkan tangan nya di kaca pintu. Sangat ingin menyentuh putra pertama nya yg memang terlihat berbeda dari bayi baru lahir pada umumnya, dia terlihat lemah.
"Dan Sarah? Bagaimana istri ku?" tanya Devano kemudian sambil menatap William.
"Dia baru saja di pindahkan ke ruang rawat, dan dia belum sadarkan diri" jawab William.
"Aku akan kesana..." geram Devano dan ia pun segera bergegas menemui istri nya, ibu dari anak nya.
Devano memasuki kamar rawat Sarah, dan istrinya terbaring pucat di ranjang kecil itu. Devano menggenggam tangan Sarah, mengecup nya dengan lembut, membuat tangan mungil istrinya basah karena air mata Devano.
__ADS_1
"Bangun, Sayang. Kita benar benar di karunia seorang putra, dia tampan seperti ku, dan pasti akan tangguh juga seperti kita. Dia pasti bisa melewati semua ini, ayo bangun dan lihatlah Baby Neo kita" lirih Devano masih dengan berderai air mata.
Sarah masih tak bergeming, membuat air mata lebih deras lagi.
Hingga seorang Dokter datang "Dokter, bagaimana keadaan istri ku?" tanya Devano sambil mengelap air mata di pipi nya.
"Saat ini masih belum stabil, Pak. Karena... Karena racun itu sudah berada dalam tubuh Bu Sarah lebih dari tiga hari" tutur sang Dokter yg membuat emosi Devano kembali memuncak, namun berusaha keras menekan emosi nya itu "Tapi syukurlah, ibu dan bayi nya selamat berkat pak Devano yg segera memeriksakan keadaan Bu Sarah. Seandainya selama setengah hari saja kita tidak mengambil tindakan, mungkin kedua nya..." Dokter itu tidak sanggup mengucapkan kata katanya.
Devano mengepalkan tangan nya kuat, hingga buku jari nya memutih.
Devano kembali mendekati Sarah, ia mencium kening istri nya cukup lama bahkan air mata Devano membasahi dahi Sarah.
.........
Lolly hanya bisa menangis sejadi jadi nya dalam kesendirian nya, ia tahu ia salah. Hanya saja Lolly tidak punya pilihan lain, Karin mengancam keluarga Lolly.
"Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya..." lirih Lolly. Lolly bahkan terpaksa mencoba menjebak Nandini agar ia bisa selamat, tapi rupanya benar yg di katakan orang. Tuhan tidak tidur, dan kebenaran pasti akan terungkap. Tak hanya itu, karma masih sangat berlaku.
Nyonya muda nya adalah gadis yg sangat baik, Lolly tidak tega sebenarnya melakukan itu namun Karin selalu mengancam nya.
Sebenarnya, Karin memerintahkan Lolly untuk memberikan racun itu di setiap makanan Sarah supaya bereaksi lebih cepat. Namun Lolly yg masih takut dan terus di hantui perasaan bersalah hanya memberikan racun itu di susu Sarah dan itupun dengan dosis yg sangat kecil. Lolly berharap tidak terjadi apapun pada Sarah, tapi pada kenyataannya, dosis kecil yg terus di ulang setiap hari pasti akan memberikan dampak yg mengerikan juga.
__ADS_1
"Maaf kan saya, Nyonya Sarah..." lirih Lolly lagi saat ia mengingat betapa lucu iya Nyoba muda nya saat merayu Lolly untuk ikut senam hamil, betapa baik nya Nyonya muda nya saat memikirkan kesehatan Lolly yang harus terus melayani Sarah.
Lolly hanya bisa menangis dan menyesali semua nya, apa lagi kata Devano Nandini sudah meninggal. Membuat Lolly semakin merasa berdosa.
...... ...
"Dev..." Devano mendongak saat merasakan sentuhan lembut di pundak nya. Ia mendapati Ibu mertua nya yg menatap nya dengan begitu sendu "Bahaya sudah terlewati, Nak" ucap Venita kemudian ia duduk di samping Devano begitu juga dengan Jason. Saat ini merasa semua berada di depan kamar rawat Sarah, hanya bisa mengintip dari kaca pintu saat Dokter kembali memeriksa keadaan Sarah "Aku tahu, Baby Neo memang memiliki kelainan. Tapi aku yakin kita bisa mengobati nya, kita akan mencari pengobatan yg terbaik bahkan ke ujung dunia sekalipun. Untuk cucu ku, cucu pertama ku, baby Neo kita" tutur Venita yg sedikit bisa menghibur Devano "Sarah juga akan baik baik saja, dia putri kami yg tangguh"
"Ya, dia sangat tangguh" ujar Devano. Sambil tersenyum tipis.
"Pak Devano, ada yg harus saya bicarakan" seru Dokter saat keluar dari ruangan Sarah.
"Bicara saja di sini, aku juga ingin tahu tentang keadaan putri ku" seru Jason namun Devano segera memberi isyarat pada ayah mertua nya dengan melirik Venita. Awal nya Jason tak mengerti, namun kemudian ia tercengang dan menatap Devano penuh tanda tanya. Jason mengerti, ini bukan hanya tentang kelahiran mendadak, ada sesuatu yg lain yg terjadi "Baiklah, kalian bisa bicara. Aku dan istri ku akan menemani Sarah" ujar Jason kemudian.
"Memang nya kenapa? Apa yg terjadi dengan Sarah?" tanya Venita penasaran.
"Engga terjadi apa apa, Ma. Mama jangan khawatir..." ucap Devano mencoba meyakinkan. Kemudian ia dan Dokter segera bergegas ke ruangan Dokter itu.
"Perasaan Mama engga enak, Pa..." seru Venita karena ia juga tak bodoh.
"Tentu saja, perasaan kami semua engga enak dalam keadaan seperti ini. Tapi ini semua akan segera berakhir..."
__ADS_1