
William membawa Freya pulang kerumah orang tua nya. Sebenarnya William berencana tinggal di apartemen milik nya karena ia takut Freya merasa tak nyaman jika harus tinggal bersama kedua orang tua nya. Namun nyatanya, justru Freya lah yg ingin tinggal bersama William dan kedua orang tuanya. Tentu William sangat senang.
William dan Freya cuti selama 4 hari, sementara untuk bulan madu mereka belum merencanakan namun pasti William akan membawa Freya ke suatu tempat.
"Selamat datang rumah baru mu, Fe..." sambut Venita pada menantu nya ini.
"Makasih, Ma" ucap Freya masih tampak canggung. William membawakan koper Freya masuk.
"Hai, Kak Fe..." Freya dan William di kejutkan dengan suara nyaring Sarah. Mereka bahkan tak tahu Sarah pulang. Disana juga ada Devano.
"Kamu ngapain di sini?" tanya William yg langsung membuat Sarah cemberut.
"Gitu amat nanya nya, Kak " gerutu nya.
"Sebenarnya kami kesini mau ngasih hadiah" ujar Devano.
"Hadiah?" tanya Freya.
"Iya, tiket bulan madu. Sebenarnya Sarah mau kalian pergi ke negara yg lagi musim dingin. Dan aku fikir Paris pilihan yg bagus"
"Paris?" pekik Freya girang.
Devano merasa senang melihat kebahagiaan di wajah Freya dan ia mengangguk. William pun terlihat senang dengan hadiah itu.
"Kalian urus keperluan untuk berangkat, soal tiket dan hotel biar aku yg urus" ujar Devano.
"Thanks, Dev" ucap William senang. Venita yg melihat itu juga merasa senang.
"Sama sama" jawab Devano "Ya udah, sekarang aku sama Sarah harus pulang"
"Engga nginep?" tanya Freya.
"Engga, Kak" jawab Sarah. Kemudian ia dan Devano berpamitan pada mereka.
"Ya udah, kalian istirahat aja dulu. Terutama kamu, Fe" ujar Venita.
"Iya, Ma. Makasih"
"Jangan canggung gitu ah, kayak nya dulu engga gitu" goda Venita yg membuat Freya terkekeh.
"Ya udah, Ma. Kami naik dulu" ucap William.
__ADS_1
Setelah Freya Dan William naik ke kamar nya, Freya segera memanggil sopir nya untuk mengantarkan nya ke kantor. Venita ingin bertemu Jason dan memberitahu tentang teror yg dia dapatkan. Venita yakin ini hal yg serius, Venita bahkan curiga ini ada hubungan nya dengan penyerangan terhadap William dulu atau kasus nya dengan Airin.
Sesampainya di kantor suaminya, Venita segera menuju keruangan Jason.
Jason yg sedang sibuk tampak terkejut dengan kedatangan istri nya itu.
"Ada apa, Ma?" tanya nya.
"Pa, sebenarnya..." Venita mengeluarkan ponsel nya. Ia membuka pesan itu dan menunjukkan nya pada Jason "Ada orang yg mengirim itu, aku takut ini hal yg serius"
Jason yg melihat pesan itu sangat terkejut, ia fikir hanya diri nya yg di teror. Tapi ternyata istri nya juga. Kemudian Jason membuka email nya dan menunjukkan pesan yg sama pada Venita. Membuat Venita semakin terkejut.
"Ini memang hal serius seperti nya" ujar Jason "Aku akan mencari tahu siapa gadis ini dan siapa yg mengirim pesan teror pada kita, tapi jangan beritahu hal ini pada Sarah apa lagi William ya, Ma. Kasian nanti mereka kefikiran. Apa lagi sekarang William lagi bahagia sama Freya"
"Aku malah khawatir orang itu meneror William juga, Pa. Menurut Papa apa ini ada hubungannya dengan penyerangan William dulu? Atau ini ada hubungannya dengan Airin?"
"Airin?" gumam Jason "Ya, mungkin Airin yg melakukan ini..."
"Tapi dia kan lagi di penjara, Pa"
"Bisa saja dia menyuruh orang kan?"
"Iya sih, terus gimana dong? "
"Apa kita kasih tahu Devano aja? Siapa tahu dia bisa bantu"
"Aku rasa itu ide yg bagus..."
.........
Sarah ikut Devano ke kantor dan disana ia bertemu Juan yg datang untuk membahas pekerjaan dengan Devano. Sarah seketika ingat dengan pil kontrasepsi nya yg waktu itu di berikan Devano pada nya.
"Beb..." bisik Sarah pada Devano "Tanyain sama Juan pil ku mana?"
"Engga usahlah, nanti kita beli lagi" jawab Devano santai.
"Apa nya?" tanya Juan yg mendengar itu.
"Pil yg waktu itu aku kasih..." ujar Devano.
"Oh, masih ketinggalan di hotel. Waktu itu juga engga jadi di pakek" jawab Juan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Sarah penasaran.
"Engga mood malam itu aku kefikiran Naina terus..."
"HEY..." teriak Sarah yg langsung membuat Juan terperanjat "Sekali lagi kamu nyebut nyebut Naina, ku patahkan lidah mu" ujar Sarah marah yg membuat Juan malah tertawa.
"Lidah tak bertulang, Princess. Gimana mau di patahin" jawab Juan yg mengundang tawa Devano. Sementara Sarah semakin terlihat marah.
"Pokoknya jangan macam macam sama Naina, Juan. Aku serius" tegas Sarah.
"Iya iya, tadi cuma bercanda..." jawab Juan namun Sarah tak percaya begitu saja.
"Sayang, kamu pulang duluan aja. Aku kayak nya masih sibuk setelah ini, nanti aku nyusul ya" pinta Devano dan Sarah pun mengangguk. Sarah segera pergi setelah memberikan kecupan singkat di pipi Devano yg membuat Devano tersenyum senang.
Setelah Sarah pergi, Juan menghela nafas berat.
"Ada apa?" tanya Devano.
"Aku serius, Dev. Aku mikirin Naina terus" ujar Juan serius, bahkan ekspresi wajah nya yg tampak tersiksa itu cukup membuat Devano kaget dan tak percaya.
"Aku engga peduli kamu berkencan dengan banyak wanita, tapi jangan Naina. Dia sahabat istri ku dan aku sudah menganggap dia adik sendiri" tegas Devano sangat serius. "Dia juga sudah punya pacar, mereka menjalin hubungan sudah sangat lama"
"Ya aku tahu, maka nya aku engga ada deketin dia..." jawab Juan.
Malam itu, saat ia hendak pulang dari pesta pernikahan William. Juan bertemu seorang gadis yg sangat seksi di parkiran, sebagai buaya cap kucing, tentu Juan ingin memangsa makanan lezat itu.
Dengan segala keahlian nya, Juan berhasil berkenalan dan tak banyak basa basi. Gadis itu membawa Juan ke kamar hotel nya.
Tapi saat gadis itu menggoda nya dengan liar ala penggoda. Juan justru tak tergoda, ia malah memikirkan Naina yg polos tapi frontal. Yg apa ada nya dan bar bar tapi justru hal itu sangat menggoda.
Yg ada dalam benak Juan adalah Naina dan Naina. Namun Juan menahan diri mengingat siapa Naina dan gadis itu juga punya kekasih yg tampak nya sangat mencintai Naina.
"Pokoknya jangan macam macam dengan Helen dan Naina. Atau William dan Sarah akan mencincang mu hidup hidup"
"Kalau aku hm jatuh cinta beneran sama Naina gimana?"
Mendengar itu, bukan nya terharu Devano malah tertawa mengejek.
"Saat iblis sudah bisa mandi dengan air shower, saat itulah Juan bisa merasakan cinta" ejek Devano yg membuat Juan langsung mendengus. Karena kata lain dari ucapan Devano itu adalah tidak mungkin, mustahil, takkan pernah terjadi. Juan hanya punya nafsu, tak ada cinta.
Juan hanya ingin memuaskan hasrat nya, tanpa komitmen.
__ADS_1
▫️▫️▫️
Tbc...