Married By Challenge

Married By Challenge
Part 38


__ADS_3

Sarah mencebikan bibir nya sambil mengusap sisa air matanya. Melihat itu Devano hanya terkekeh.


"Masih hidup?" ketus Sarah kemudian ia berkacak pinggang. Sementara Devano masih terbaring di bangsal. Devano memang alergi dengan kacang, biasanya ia hanya akan sesak nafas jika memakan apapun yg berbahan kacang. Dan tadi Devano memakan roti itu cukup banyak bahkan hampir habis, karena itulah ia menjadi seperti ini.


"Masih dong. Masak iya aku mau buat istri ku jadi janda muda" seru Devano sambil duduk dan ia menarik nafas.


"Malah bagus itu, janda bersegel. Lagian kamu makan kacang aja udah sekarat, lemah banget"


"Ya namanya juga alergi, masih untung aku cuma sesak nafas tadi. Dari pada alergi bisul bisul, hilang ketampanan ku"


Sarah memicingkan mata nya, menatap Devano penuh selidik. Sarah merasa heran karena baru kali ini Devano menunujukan jiwa humor nya. Eh punya jiwa humor juga?


"Ayo pulang, benci aku dirumah sakit" Devano turun dari bangsal nya dan bersamaan dengan itu seorang Dokter datang.


"Dok, memang nya Devano sudah boleh pulang?" tanya Sarah karena dalam hati ia masih khawatir.


"Boleh, kok. Tapi lain kali jangan makan makanan yg berbahan kacang" seru Dokter itu kemudian ia meresepkan obat untuk Devano supaya sesak nafas nya benar benar sembuh.


Di luar, Bi Eni dan Aldo sudah menunggu. Kemudian Devano mengajak mereka langsung pulang.


Di perjalanan, Sarah terdiam dan pandangan nya fokus ke luar jendela.


Tadi ia menangis, menangisi Devano yg pingsan dan itu membuat Sarah sangat takut jika terjadi sesuatu dengan nya. Kini perasaan peduli dan khawatir mulai ia miliki untuk Devano dan itu membuat Sarah takut bagaimana jika ia benar benar mencintai Devano sementara Devano hanya mempermainkan nya?


Sarah tersentak saat merasakan sentuhan di pinggang nya, Devano melingkarkan tangan nya di pinggang Sarah dan ia bersender di bahu Sarah, membuat Sarah mengernyit kan dahi dengan perubahan Devano ini namun ia tak menolak nya. Apa itu efek alergi juga?


Sementara Bi Eni yg melirik mereka dari kaca hanya bisa mengulum senyum. Ia sangat berharap Tuan nya itu berubah dan bisa bahagia bersama Sarah apa lagi terbukti William bukanlah seorang musuh.


Keduanya sama sama diam hingga Aldo menghentikan mobil nya tepat di depan rumah mereka.


"Kita sudah sampai" ujar Aldo kemudian ia turun dan membukakan pintu untuk Devano. Sementara Sarah langsung melompat turun dan setengah berlari masuk ke kamar nya.


"Tuan, ada apa dengan Nyonya Sarah?" tanya Bi Eni yg melihat Sarah seperti memikirkan banyak hal.


"Dia hanya bingung dengan perasaan nya, atau menolak perasaan nya" gumam Devano sambil tersenyum tipis kemudian ia pun pergi menyusul Sarah.

__ADS_1


Terdengar gemericik air dari kamar mandi. Entah kenapa, merasa iseng Devano mencoba membuka pintu yg ternyata tak di kunci. Devano masuk dan terlihat Sarah yg sedang mengisi bathtub dengan air hangat. Ck, padahal Devano mengharapkan sesuatu yg lain.


"Mau berendam?" tanya Devano sambil berjalan masuk.


"Kamu, aku siapin air buat kamu. Biar lebih segar dan bisa tidur nyenyak. Dokter bilang kamu harus istirahat"


Devano menaikan sebelah alis nya, menarik sudut bibir nya hingga membentuk seringai menggoda.


"Kita berendam bersama, pasti rasa nya lebih segar"


Sarah tertawa sinis "Tidak, terima kasih" ucap nya formal kemudian ia segera keluar dari kamar mandir.


Sebenarnya tadi Sarah berniat memang ingin berendam dan sama sekali tak berfikir melayani Devano dengan menyiapkan air hangat. Tapi saat Devano tiba tiba masuk ke kamar mandi, entah kenapa ia mengatakan malah menyiapkan air itu untuk Devano.


Ugh, sudah Sarah bayangkan betapa besar nya kepala Devano sekarang.


.


.


.


Hal itu tentu membuat Aldo dan Bi Eni bingung apa lagi sudah hampir dua minggu Sarah seperti itu.


Dan Devano pun membiarkan nya saja, ia akan melihat mau sampai kapan Sarah menghindari nya.


Dan satu hal lagi, setiap pagi Sarah selalu terbangun dalam pelukan Devano. Sarah sendiri heran kenapa ia tak sadar saat Devano menarik nya ke dalam pelukan Devano. Dan Sarah tak habis fikir dengan Devano yg sama sekali tak berusaha berbicara dengan nya, atau mengancam nya seperti dulu. itu lebih baik dari pada di diamkan seperti ini.


"Aku benar-benar ingin menyalahkan mu, seandainya kita engga main main saat itu mungkin hidup ku akan aman, damai, dan engga terjebak dalam hidup pria seperti Devano" ujar Sarah menghela nafas berat nya.


"Mungkin dia memang jodoh mu kali, Sarah. Ya udahlah terima ja kalau dia memang cinta sama kamu. Benar kata Jacob, coba jalani pernikahan kalian baik baik, terima itu. Toh kalian sudah nikah juga, keluarga mu sudah sangat merestui"


"Tapi aku masih 17 tahun, Naina"


"Justru itu, sudah kadung kecebur ya berenang sekalian"

__ADS_1


Sekali lagi Sarah hanya bisa menghela nafas berat. Sarah merasa hidupnya benar benar kacau hanya karena hal sepele.


Saat ini Sarah berada di rumah Naina karena Sarah merasa enggan pulang. Ia lagi bad mood sehingga ia juga tak bisa pulang kerumah orang tua nya.


"Entahlah, aku bingung" ujar Sarah.


"Coba deh jalani pernikahan kalian baik baik, jangan lagi ada permainan, jangan lagi ada kebohongan atau rahasia" saran Naina.


Sarah terdiam dan seketika ia terfikir kan pada sesuatu. Yaitu latar belakang keluarga Devano. Selama ini tak pernah sekalipun Devano membicarakan keluarga nya pada Sarah sementara Devano tahu segalanya tentang keluarga Sarah.


"You're right, no more secret and no more lies"


.


.


.


Devano sengaja pulang lebih cepat hari ini karena selama seminggu terkahir ia lembur. Itu membuat Devano sangat lelah.


Dan Devano berencana hari ini ia harus berbicara dengan Sarah, karena Devano sudah tak tahu lagi harus menunggu sampai kapan. Devano ingin kembali dekat dengan Sarah walaupun selalu dengan adu mulut.


Dan Devano ingin segera memiliki Sarah seutuhnya supaya Sarah tak pergi dan selalu menjadi milik Devano. Setiap malam saat Devano memeluk Sarah, Devano ingin sekali melakukan hal yg lebih dari itu. Namun Sarah yg tertidur pulas dan tampak seperti gadis kecil membuat Devano menahan diri.


Sarah masih 17 tahun, Devano berfikir Sarah masih terlalu muda untuk bercinta.


Bercinta, Devano tersenyum miring memikirkan hal itu. Hampir 26 tahun hidupnya, Devano tak pernah memikirkan hal seperti itu karena ia terlalu sibuk mengurus perusahaan warisan keluarganya, mengurus Caitlin dan juga yg lain nya. Mungkin karena itulah Devano di kira gay.


Dan Devano juga sempat berfikir hal yg sama karena memang ia tak bereaski meskipun melihat seorang wanita tanpa busana. Devano bahkan berfikir tentang impotent, sangat mengerikan memang. Namun semua pemikiran buruk nya itu terjawab dengan adanya Sarah.


Wanita pertama dan satu satu nya yg memperkenalkan Devano pada cinta dan gairah.


▫️▫️▫️


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2