Married By Challenge

Married By Challenge
Part 39


__ADS_3

"Sarah..." Devano menghampiri Sarah yg saat ini sedang menonton tv sembari mengunyah ketang goreng. Sarah hanya menggumam tanpa menoleh pada Devano.


"Sarah, kita harus bicara" pinta Devano.


"Engga ada yg larang" jawab Sarah yg membuat Devano menghela nafas berat.


"Ayo kita temui orang tua mu" Sarah langsung terperangah mendengar itu. Ia bahkan langsung berhenti mengunyah dan menatap Devano yg masih berdi di samping nya.


"Mau cerai?" tanya Sarah karena memang hanya itu yg dia fikirkan saat Devano menyebutkan orang tuanya.


"Memulai semua nya dari awal" jawab Devano yg kembali membuat Sarah terperangah "Kalau kamu mau, aku akan meminta maaf pada Om dan tnte. Aku juga akan mengakui kalau sebenarnya kita engga pacaran, engga pernah tidur bareng dan soal chat dan foto itu. Dominic yg melakukan nya"


Sarah terdiam, memutar bola mata nya ke kanan dan ke kiri. Bertanya tanya apa lagi yg Devano rencanakan sekarang? apa lagi mau nya pria satu ini?


"Aku lakukan ini supaya kamu percaya sama aku, aku mencintai mu" seolah tahu pertanyaan dalam benak Sarah, Devano langsung menjelaskan maksud dan tujuan nya. Sekarang Sarah teringat dengan nasehat Jacob dan Naina, hruskah ia buktikan apakah Devano memang mencintai nya?


"Kenapa?" tanya Sarah yg membuat Devano mengernyit.


" Kenapa apanya? " Devano balik bertanya


"Kenapa kamu cinta sama aku?" Devano tersenyum tipis dan ia menggeleng.


"Aku engga tahu dan aku rasa cinta seharusnya engga kenal alasan"


Harus Sarah akui, ia tersentuh dengan jawaban Devano yg sudah seperti pria perayu. Sarah menghela nafas berat.


"Aku engga tahu, tapi..." Sarah menatap Devano dan memberi israt agar Devano duduk. Devano pun duduk berhadapan dengan Sarah.


"Naina bilang, kalau hubungan kita mau berjalan dengan baik. Maka di antara kita engga boleh ada rahasia dan kebohongan" ujar Sarah ragu ragu namun ia mengunci tatapan nya dengan tatapan Devano.


"Kamu mau tahu apa tentang ku?" tanya Devano. Sarah terdiam namun masih setia menatap Devano "Aku akan memberi tahu apapun yg ingin kamu tahu" lanjutnya.


"Segala nya, kamu tahu segalanya tentang ku dan keluarga ku. Dan karang aku ingin tahu segala nya tentang mu dan keluarga mu"


Kini Devano yg terdiam dan berfikir keras. Ia menatap Sarah dan terlihat sekali keinginan yg begitu kuat di mata Sarah bahwa ia memang ingin tahu tentang Devano.


"Ayo, kita bicara di belakang" Devano menarik tangan Sarah dan membawa nya ke kolam. Sarah menurut saja kana ia memang sangat ingin tahu tentang Devano.


"Tapi setelah aku bercerita, jangan mengasihaniku. Okey?" Sarah mengangguk.


.


.


.


Seperti biasa, Sarah bangun lebih awal. Dan seperti biasa ia terbangun dalam pelukan Devano. Dan jika biasa nya ia akan segera turun dari ranjang, kini Sarah justru berdiam diri seolah menikmati kehangatan tubuh Devano. Sarah memndangi wajah tampan Devano dan Sarah memberanikan diri membelai pipi nya. Kulit Devano terasa lembut namun juga kasar karena bulu bulu tipis di rahang nya. Tanpa sadar Sarah tersenyum.


Semalam, Devano bercerita tentang kematian orang tua nya, perselingkuhan mereka dan bahkan kelahiran Caitlin. Sarah tak menyangka Devano bisa mencintai anak haram ayah nya. Dan itu memusnahkan asumsi Sarah bahwa Devano adalah pria yg kejam.


Devano juga menceritakan bahwa sebenarnya Caitlin tak kecelakaan. Devano memberi tahu Sarah tragedi yg sebenarnya tapi Devano tak bisa memberi tahu bahwa serangan terhadap William di lakukan oleh orang yg sama dengan Caitlin. Devano tak bisa memberi tahu bahwa gadis yg William maksud adalah Caitlin, dan tentu Devano tak bisa memberi tahu bahwa ia juga berteman dengan William awalnya hanyalah demi misi balas dendam.


Sarah bergidik ngeri saat Devano menceritakan tentang Caitlin, dan itu membuat Sarah semakin merasa kasihan karena meskipun Caitlin sadar, mungkin ia akan hidup dalam trauma yg mendala.


"Sudah ku bilang jangan mengasihani ku" gumam Devano yg membuat Sarah langsung menjauhkan tangan nya dari wajah Devano.


"Bukan begitu..."


"Lalu kenapa kamu membelai pipi ku begini?" tanya Devano dan perlahan ia membuka mata nya "Biasanya kamu langsung turun" lanjut nya yg membuat Sarah sedikit merasa malu.


"tadi ada nyamuk, bukan nya niat membelai" jawab Sarah ketus dan ia pun segera menyingkap selimut nya dan merangkak turun dari ranjang.

__ADS_1


"Sarah, siapkan air hangat juga untuk ku. Aku ada meeting pagi ini jadi harus cepat cepat ke kantor" teriak Devano setelah Sarah berada di dalam kamar mandi.


Di kamar mandi Sarah memberengut dan mencebikan bibir nya. Baru saja ia merasa kasihan pada Devano, sekarang ia sudah kesal karena Devano menyuruh nya seperti seorang suami saja.


Tapi Sarah tetap melakukan apa yg Devano minta walaupun dengan setengah hati.


.


.


.


Devano dan Sarah berangkat bersama karena kebetulan Devano ada meeting di sebuah hotel dan jalannya searah dengan sekolah Sarah.


"Hotel, mana ada meeting di hotel" gumam Sarah tampak kesal sambil masuk kedalam mobil Devano.


"Meeting nya sama laki laki, Sayang. Bukan perempuan" ujar Devano sambil terkekeh.


Sarah hanya mendelik, karena jujur saja ia tak percaya jika Devano meeting dengan laki laki.


Devano menurunkan Sarah di sekolah nya dan kemudian ia sendiri bergegas ke hotel yg ia maksud.


Sarah langsung di sambut Naina dan Sarah langsung menceritakan apa yg Devano ceritakan. Naina tampak sangat terkejut dan tak menyangka ternyata pria seperti Devano memiliki hidup yg sebenarnya menyedihkan.


"Tapi hebat dia ya, bisa mencintai anak haram ayah nya" bisik Naina karena tak ingin ada yg mendengar.


"Ya, aku juga berfikir begitu" sambung Sarah. Keduanya berjalan menuju kelas, dan mereka di kejutkan dengan Karin yg ada di sana memakai seragam.


Sarah sangat terkejut karena Karin bisa kembali ke sekolah, tapi kemudian ia berfikir bahwa ayah Karin itu punya uang dan semua orang bisa melakukan apapun dengan uang.


Murid murid yg lain pun tak kalah terkejut dengan kembali nya Karin, namun mereka menyambut Karin dan seolah tak memperdulikan gosip sebelum nya. Mereka tak ada yg enggan berteman dengan Karin, membuat Sarah tersenyum sinis. Tentu semua itu karna Karin berduit.


"Hai, Sarah..." Sarah menoleh dan Vino datang sambil tersenyum manis.


"Tumben kamu datang nya agak terlambat, biasanya kamu datang paling awal" ujar Vino lagi dan Karin memperhatikan hal itu.


Karin ingin menyapa Vino, tapi sepertinya Vino dekat dengan Sarah. Dan Karin ingat, Ayah nya memperingatkan Karin agar tidak berulah dengan Sarah. Karin bingung siapa yg memerintahkan ayahnya hal itu, siapa yg ada di belakang Sarah dan melindungi nya? Sementara keluarga Sarah sudah tak memiliki pengaruh apapun.


"Ya biasanya aku bangun pagi banget, tadi...agak kesiangan" ucap Sarah sambil melirik ke sekililing nya karena teman teman nya memperhatikan mereka.


Kemudian Sarah segera menarik Naina menuju kursi mereka dan tanpa di sangka, Vino malah duduk di kursi di samping Sarah.


"Kenapa kamu duduk di sini?" tanya Sarah karena biasanya dia duduk di kursi paling depan.


"Emang engga boleh?" Vino balik bertanya.


"Ya terserah" jawab Sarah.


.


.


.


Di jam istirahat, Vino kembali mendekati Sarah dan jujur saja, Sarah merasa risih. Dulu ia merasa senang saat cowok most wanted di sekolah nya ini mau berbicara dengan nya namun sekarang Sarah merasa risih. Namun Sarah berusaha tak menampakan hal itu, ia tetap berusaha santai dan tenang.


"Oh ya, Sarah. Kamu kenapa engga pacaran sih? Padahal banyak lho yg suka sama kamu..."


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk" Sarah langsung tersedak minuman nya saat Bini mengatakan hal itu, "Maaf" ujar Sarah sambil mengelap mulut nya. Dan tiba tiba Vino malah membantu mengelap bibir Sarah dengan tangannya.


"SARAH..." semua yg ada di kantin langsung terkejut dengan suara bass yg memanggil nama Sarah dengan nada marah itu.

__ADS_1


Sarah mendongak dan ia hanya bisa menganga melihat Devano yg tampak nya sangat marah. Sarah menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat kilat amarah di mata Devano.


Sontak Sarah langsung berdiri dan menarik Devano pergi dari kantin.


"Dia siapa?" tanya Vino pada Naina. Vino terlihat heran dengan kedatangan Devano apa lagi ia terlihat marah pada Sarah.


"Dia... Em... Dia teman nya Kak Will, kakak nya Sarah. Ya, begitu... Teman kakak nya" jawab Naina gugup.


"Terus kenapa dia terlihat marah?" tanya Vino lagi yg membuat Naina memutar otak mencari jawaban nya.


"Emm karena... Karena itu... Ya karena dia teman kakak nya... Jadi, jadi dia sudah anggap Sarah adik nya"


"Terus kenapa harus marah?" tanya Vino lagi yg membuat rasa gugup Naina menjadi kesal.


"Ya karena tadi kamu pegang bibir dia, Vin. Pasti dai takutlah kalau Sarah di apa apain" jawab Naina akhir nya dengan nada kesal.


"Ya engga lah. Aku cuma bantu lap tadi karena dia belepotan pas tersedak" jawab Vino santai.


Sementara itu, Sarah membawa Devano ke dalam mobil nya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Sarah setelah menutup pintu.


"Kamu yg ngapain sama bocah itu? Waktu itu di cium, sekarang dia pegang bibir mu, besok apa?" tanya Devano marah.


"Ya.. Aku.. Aku engga tahu, tiba tiba aja dia gitu" ucap Sarah membela diri.


"Jauhi bocah itu!" tegas Devano yg membuat Sarah mengernyit namun kemudian ia tertawa.


"Kamu cemburu?" tanya Sarah setengah tertawa mengejek dan tanpa di sangka Devano malah mengiyakan nya.


"Iya, Sarah. Aku cemburu, sialan" geram nya dan tanpa aba aba ia langsung menarik tengkuk Sarah dan ******* bibir nya dengan rakus.


Membuat Sarah terdiam mematung dengan mata yg terbuka lebar.


"Aku engga suka ada yg menyentuh mu" lirih Devano di sela ciuman nya dan kini ia memaksa Sarah menerima ciuman nya dan membalas nya.


"Dan biar aku bersihkan bekas tangan bocil itu dari bibir mu" Devano kembali menggumam sebelum akhirnya benar-benar menjilat bibir Sarah.


Membuat Sarah terpaku dengan desiran hangat di seluruh tubuhnya. Ia bahkan merasa gemetar saat Devano semakin menuntut ciuman nya dan yg bisa Sarah lakukan hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata dan mengalungkan tangannya di leher Devano.


Hingga beberapa saat kemudian Devano menghentikan aksi nya dan itu membuat Sarah seperti merasa kehilangan.


Devano menatap Sarah yg perlahan membuka mata nya dan tatapan keduanya langsung bertemu. Devano menyatukan kening nya dengan kening Sarah sembari kedua nya mengatur nafas mereka yg tersengal.


Kemudian Devano mengelap bibir Sarah yg basah dan bengkak akibat ulah nya.


"Sekali kamu biarkan pria lain menyentuh mu, akan ku lakukan lebih dari ini, Sarah" ancam nya namun Sarah tak bisa berfikir jernih sekarang setelah apa yg Devano lakukan secara tiba tiba.


Keduanya masih saling menatap hingga sebuah ketukan di pintu mobil nya mengembalikan Sarah pada kesadarannya.


Ia bersyukur karena kaca mobil Devano itu hitam hingga apa yg mereka lakukan takkan terlihat dari luar.


Devano merapikan rambut Sarah yg sempat berantakan karena nya, sekali lagi ia juga membelai bibir Sarah yg sedikit terbuka. Kemudian ia membelai pipi nya dan mengecup nya. Sarah seperti terhipnotis dengan apa yg Devano lakukan, hingga sekali lagi terdengar suara ketukan di pintu mobil nya.


"Mungkin jam istirahat mu sudah selesai" lirih Devano dan ia mendorong pintu nya hingga terbuka.


"Sarah, udah bel dari tadi" seru Naina kemudian ia menarik Sarah pergi. Sarah masih sempat menoleh pada Devano yg masih setia memandangi Sarah.


Setelah Sarah sudah tak terlihat, Devano kembali menjalankan mobil nya menuju kantor nya.


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2