Married By Challenge

Married By Challenge
Part 109


__ADS_3

Kini William sudah sadar, membuat seluruh keluarga nya merasa sangat bahagia dan bahkan menangis haru. Terutama Venita, ia sangat takut jika kejadian beberapa tahun yg lalu terulang, ia takut William koma seperti dulu.


"Udah dong nangis nya, Ma. Aku baik baik aja" ujar William lemah.


"Kami semua ketakutan, Will" ujar Venita di tengah isak tangis nya. Sementar Jason hanya bisa mengusap pundak istri nya yg bergetar karena tangis nya.


"Engga akan ada hal yg buruk terjadi sama aku selama Mama bersama ku" ucap William, kemudian ia melirik Freya yg sejak tadi hanya berdiri mematung dan menangis dalam diam "Kamu engga mau peluk aku, Sayang? Atau cium aku gitu biar aku cepat sembuh" gurau nya yg membuat Freya tertawa kecil namun masih menangis. Ia langsung menggenggam tangan William dan mengecup nya berkali kali, tak peduli tangan William yg menjadi basah karena air matanya.


"Maaf, Will... Semua ini gara gara aku" lirih Freya.


"Bukan, ini namanya perjuangan bersama. Dan aku engga mau perjuangan kita sia sia, kamu harus bisa memenangkan kasus ini, Fe. Kamu harus menuntut mereka dengan hukum yg paling berat" lirih William dengan tatapan yg seolah menerawang. Kemudian setetes bulir bening itu menyeruak dari sudut mata nya.


William teringat dengan Caitlin, ya, Caitlin Lake...


William tak ingat suluruh nya tentang adik Devano itu, tapi William ingat apa yg mereka berdua alami di rel kereta bawah tanah itu. William ingat bagaimana Caitlin di...


"Will...." suara Freya dan sentuhan di tangan nya membuat William kembali ke alam sadar nya, Freya mengusap air William dengan lembut "Kamu ingat dia, ya?" lirih Freya.


"Kamu terus menggumamkan nama dia, Will" sambung Venita sedih dan William hanya bisa mengangguk pelan dan air mata nya kembali tumpah.


"Aku....aku engga bisa melindungi nya" lirih William dengan suara yg tercekat.


"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin, Nak. Kamu sudah melindungi nya" ucap Venita menenangkan.


"Lalu bagaimana dengan kepala mu? Apakah terasa sakit?" tanya Jason dan William juga mengangguk "Kamu ingat seluruh nya tentang Caitlin?"


"Hanya sebagian, Pa. Saat... Saat kami di sana, Caitlin... Dia..." William tak bisa melanjutkan kata katanya dan Freya langsung menenangkan nya.


"Engga apa apa, Will. Kamu sudah melakukan yg terbaik untuk melindungi nya, aku yakin Caitlin merasakan hal yg sama" ucap Freya lembut.

__ADS_1


"Sebaiknya jangan terlalu memikirkan masa lalu, Will. Karena semua itu sudah selesai. Fokus pada kesembuhan mu dan kita harus kembali mencari Sarah" ujar Jason dan William mengangguk.


Dalam hati William berdoa agar Caitlin mau memaafkan nya karena William tak bisa melindungi nya. Dan seandainya bisa, William ingin bertemu Caitlin sekali saja untuk meminta maaf secara langsung pada nya.


...... ...


Naina membantu Mama nya membuat makan malam, tak lama kemudian terdengar deru mobil di luar dan Naina tahu itu Papa nya yg sudah pulang bekerja.


"Naina buka pintu dulu ya, Ma..." ujar Naina.


"Iya, suruh Papa mandi dan setelah itu langsung ke meja makan" ujar Mama nya karena memang makan malam sudah hampir siap.


"Okey" jawab Naina sambil berlari keluar.


Saat membuka pintu, Naina sedikit heran melihat wajah ayahnya yg di tekuk.


"Papa kenapa?" tanya Naina kemudian mengambil tas kerja ayahnya.


"Masih lah, Pa. Jacob baik baik aja, dia juga tiap hari nanyain kabar Papa sama Mama" tutur nya.


"Okey, kalau gitu Papa mandi dulu. Apa makan malam siap?"


"Segera siap" jawab Naina dengan senyum lebar nya.


Setelah itu Naina kembali membantu Mama nya menata makanan di meja makan, dan selang beberapa menit kemudian Papa nya pun bergabung dengan wajah yg sudah lebih seger.


Mereka pun memulai makan malam nya, namun terlihat Papa Naina yg tampak memikirkan sesuatu dan tak berselera dengan makan malam nya.


"Papa kenapa sih?" tanya Naina.

__ADS_1


"Iya neh, makanan nya kok cuma di aduk aduk" sambung Mama nya.


"Naina, apa kamu dekat dengan Pak Juan?" tanya papa Naina tiba tiba.


"Engga kok, Pa. Kenapa?" tanya Naina santai karena ia memang tak merasa dekat dengan nya.


"Tadi dia bicara sama Papa, dia bilang dia menyukai kamu" ujar papa nya yg langsung membuat Naina tersedak dengan makanan nya sendiri. Mama nya pun segera memberikan air minum dan mengelus punggung anak nya itu.


"Terus Papa bilang apa?" tanya Naina setelah meneguk air dari gelas nya.


"Ya Papa bilang kamu sudah punya tunangan" jawab Papa nya itu "Dan Papa mohon, Naina. Jangan dekat dekat dengan Pak Juan, dia itu playboy. Papa bahkan pernah memergoki dia bermesraan dengan anak klien nya di ruangan nya" tutur sang ayah penuh ke khawatiran.


"Aku juga udah tahu tabiat buruk nya itu, Pa. Teman nya Kak Will juga korban nya"


"Oh ya?" sambung Mama nya


"Iya, kasian kan?"


"Kalau gitu kamu harus hati hati, Naina. Biasanya buaya kayak gitu engga akan berhenti mengejar mangsa nya sampai dia mendapatkan nya" ujar sang Mama dan Naina hanya mengangguk mengerti.


Dan setelah makan malam, Naina kembali ke kamar nya.


Ia teringat ucapan Jacob yg mengatakan Juan takkan berhenti sampai dia mendapatkan apa yg dia mau, begitu juga dengan Mama nya yg mengatakan hal serupa.


"Kalau memang dia akan terus ngejar aku sampai dapetin aku, maka aku harus bergerak lebih dulu" gumam Naina sambil berfikir keras bagaimana membuat Juan berhenti mengincar nya.


"Menghindar percuma, dia akan punya seribu cara buat dekatin aku. Kalau gitu aku engga boleh menghindar, justru aku harus mendekat. Ya, benar..." Naina tersenyum miring dengan pemikiran liar nya "Aku yg harus deketin dia dengan cara yg berbeda, dia harus memandang ku dengan cara yg berbeda pula"


▫️▫️▫️

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2