
Devano memberi tahu Dominic tentang ancaman Agus, ia benar benar marah. Untuk pertama kalinya selama hidup Devano di peras seseorang. Saat ini kedua nya sedang ada di ruangan Devano.
"Menurut saya, sebaiknya turuti saja permintaan Agus, Taun. Karena pernikahan mu di pertaruhkan" Saran Dominic yg
"Maksud nya?" Dominic dan Devano langsung mendongak saat mendengar suara Sarah yg entah kapan masuk ke ruangan Devano karena tak terdengar suara pintu yg terbuka.
Sementara Sarah, sepulang nya sekolah ia sengaja mampir ke kantor Devano karena ia tak punya kegiatan apapun dirumah. Dan saat mendengar ucapan Dominic, tentu Sarah sangat terkejut.
"Om, apa maksud pernikahan kami di pertaruhkan?" tanya Sarah sambil berjalan masuk. Sementara Dominic dan Devano sedang berfikir keras mencari jawaban dari pertanyaan itu.
"Bukan apa apa, Sayang" jawab Devano "Come here..." Devano melambaikan tangan nya, memberi isyarat pada Sarah untuk mendekat. Dan Devano juga memberi isyarat pada Dominic untuk pergi. Dominic pun beranjak pergi.
"Kamu nyembunyiin apa sih, Dev?" tanya Sarah antara khawatir dan juga penasaran.
"Aku engga nyembunyiin apa apa" jawab Devano dan ia menarik pinggang Sarah hingga Sarah jatuh di pangkuan nya "Aku kangen..." ucap Devano dan ia menyusupkan wajah nya di ceruk leher Sarah. Menghirup aroma khas Sarah yg sangat manis dan memabukan.
Sarah menjauhkan diri dari wajah Devano. Ia menangkup pipi Devano dan memaksa Devano mendongak menatap nya.
"Kamu nyembunyiin sesuatu, aku liat kamu uring uringan beberapa hari ini" ujar Sarah "Dan jelas jelas tadi aku dengar Om Dom mengatakan pernikahan mu di pertaruhkan" lanjut nya dengan mata yg berkaca kaca. Entah kenapa, saat mendengar ucapan Dominic tadi Sarah merasa sangat takut. Takut terjadi sesuatu dengan pernikahan nya, takut ia kehilangan Devano, karena Sarah sudah sangat mencintai Devano.
"Sayang..." lirih Devano membelai pipi Sarah dengan lembut. Kemudian ia mengecup sudut bibir nya dengan mesra "Hanya..." Devano memutar otak untuk memberikan alasan yg masuk akal "Kamu salah dengar aja tadi" ucap nya lembut namun tentu Sarah tak percaya.
Dan tiba tiba kini Sarah yg menelusupkan wajahnya di leher Devano, ia memeluk Devano dengan posesif.
"Engga tahu kenapa aku takut kehilangan mu, Dev" lirih Sarah yg suara nya teredam di leher Devano. Devano bisa merasakan hembusan nafas Sarah di leher nya. Ia pun melingkarkan tangan kekar nya di punggung Sarah dan membalas pelukan Sarah.
"Kita akan selalu bersama, Sayang. Aku engga akan kemana mana" ujar Devano "Tapi bagaimana jika kamu yg pergi, Sarah? Bagaimana jika aku yg kehilangan mu?" batin Devano berteriak takut.
Sarah melepaskan pelukan nya namun ia tetap duduk nyaman di pangkuan Devano.
"Janji?" tanya Sarah dan Devano mengangguk pasti "Meskipun usia kita terpaut jauh?" tanya nya lagi.
"Aku engga peduli soal usia, kamu adalah satu satu nya wanita ku dalam hidup ku" ujar Devano sambil tersenyum dan memberikan tatapan yg pasti.
"Bagaiamana kalau ada wanita yang dewasa dan seksi menggoda mu?" tanya Sarah lagi yg membuat Devano terkekeh.
__ADS_1
"Aku engga akan pernah tergoda oleh siapapun, karena hasrat ku, tubuh ku, hati ku dan bahkan ini..." Devano membawa tangan Sarah pada pusat gairah nya, membuat Sarah terbelalak kaget dan kemudian wajah nya pun merah padam "Hanya menginginkan mu" jawab Devano.
Sarah hanya bisa menggigit bibir bawah nya, dan pemandangan itu membuat Devano merasa panas dingin. Namun saat ia hendak meluncurkan ciuman di bibir merona Sarah, suara ketukan yg di susul suara Mia menggagalkan nya. Sarah hendak turun dari pangkuan Devano namun Devano mencegah nya sambil berseru menyuruh Mia masuk.
"Malu, Dev..." bisik Sarah saat terdengar pintu yg terbuka.
"Malu kenapa? Kamu kan istri ku" Ujar Devano.
"Tapi kan orang tau nya kita masih tunangan" balas Sarah yg tak di pedulikan Devano.
"Ada berkas yg harus di tandatangani, Pak" ucap Mia sambil berjalan masuk.
"Iya" jawab Devano. Sementara Sarah diam dan menyembunyikan wajah nya di dada Devano. Ia tak tahu apa yg akan Mia fikirkan tentang nya.
Mia pun menyerahkan berkas itu dan Devano menandatangani nya.
"Sepuluh menit lagi ada meeting dengan wakil perusahaan D'Arcy Group, Pak" ujar Mia.
"Sayang..." bukan nya menjawab, Devano malah memanggil Sarah "Kamu mau ikut?"
"Ya udah, tunggu aku di rumah. Malam ini aku engga lembur kok" ujar Devano yg membuat Sarah merasa kaku, ia melirik Mia sekilas. Sarah tak mengerti kenapa Devano tak berusaha menyembunyikan pernikahan nya di depan Mia.
"Mia, tolong antar Sarah" titah Devano dan Mia pun mengangguk patuh.
"Engga usah, aku bisa sendiri" ujar Sarah.
"Silahkan, Nyonya..." ujar Mia yg membuat Sarah semakin merasa aneh.
Ia pun berjalan keluar bersama Mia "Saya sudah tahu kalau kalian sudah menikah" ujar Mia setelah mereka berada di luar ruangan Devano. Sarah pun tampak terkejut dan menatap tak percaya pada Mia, sementara Mia hanya mengulum senyum "Saya tahu karena Pak Devano memakai cincin pernikahan, Nyonya. Dan tenang saja, saya mengerti jika pernikahan kalian harus di sembunyikan. Sebenarnya saya senang, karena sekarang Pak Devano berbeda, dia seperti lebih hidup dari pada sebelum nya"
Sarah tersenyum tipis mendengar penuturan Mia itu.
"Sarah saja, engga usah Nyonya. Dan jangan terlalu formal kalau sama aku, rasanya aneh" ucap Sarah kemudian dan Mia hanya mengangguk.
...... ...
__ADS_1
Sementara William yg sedang sibuk mengurus keberangkatan nya ke Paris, harus terganggu karena pesan teror itu lagi.
Kali ini, pesan itu berisi artikel yg memuat berita kejadian penyerangan terhadap William lima tahun yg lalu.
William semakin merasa ada masalah besar di balik semua ini. Dan penyerangan?
William tak ingat pernah di serang seseorang, yg William tahu ia kecelakaan lima tahun yg lalu di London.
Tapi artikel itu tak mungkin berbohong, apa lagi ketiak William melihat siapa dan dimana artikel itu di terbitkan. Itu tak mungkin rekayasa.
William hanya bisa memijat kepala nya yg terasa sakit, William mencoba mengingat kembali kecelakaan itu. Tapi hasilnya nihil, kepala nya malah semakin sakit seperti di hantam sesuatu.
William melihat foto foto gadis itu lagi dan William memaksakan diri mengingat wajah tak asing ini.
Samar samar William melihat bayangan seorang gadis yg duduk sambil mendengarkan musik, tapi dimana itu? Siapa? Dan kapan?
"Will..." Freya yg baru saja masuk ke ruangan William sangat terkejut melihat William yg tampak kesakitan sambil memegang kepala nya. Freya segera berlari "Will, ada apa?" tanya nya. William segera menutup laptop nya karena tak ingin Freya melihat foto gadis itu, William takut Freya salah faham.
"Kepala ku sakit, Fe" jawab William sambil meringis.
"Kita ke Dokter?" tanya Freya khawatir namun William menggeleng. Freya pun membawa William ke sofa dan membaringkan nya disana dengan meletakkan kepala William di pangkuan Freya.
Dengan lembut Freya memijat kepala William, ia berusaha menenangkan nya dengan sentuhan nya.
William pun perlahan merasa lebih tenang, walaupun kepala nya masih sangat sakit. Bayangan gadis di foto itu juga terus menari dalam benak nya.
"Aku mencintaimu, Fe" lirih William tiba tiba. Ia merasa takut, takut ia tak setia pada Freya karena bayangan gadis itu yg tak mau enyah dari benak nya.
"Aku juga mencintai mu, Will" jawan Freya. Ia mendaratkan kecupan hangat di kening William. Membuat hati William menghangat "Sekarang sebaik nya kamu coba tidur ya, biar sakit kepala mu hilang" pinta Freya. William mengangguk sambil tersenyum.
William membawa tangan Freya ke pipi nya, dan tidur dengan mendekap erat tangan Freya.
▫️▫️▫️
Tbc...
__ADS_1